
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
“Papa membuang ku.” kenang White, menatap langit dari balkon rumah Eaden sembari menikmati secangkir teh panas beraroma melati yang sedari tadi menggoda penghidu, bersama sang tuan rumah. “Dia lebih memilih wanita-wanita bayaran itu ketimbang mempertahankan bisnis perusahaan. Hingga akhirnya perusahaan gulung tikar, dan Mommy memilih pergi karena tidak bisa hidup susah.”
Eaden menatap lekat sosok White. Hidup White lebih miris daripada dirinya. Jika dia masih sering mendapatkan perlakuan baik dan pertolongan ayahnya, White malah mendapat perlakuan tidak pantas. Bahkan sang ayah dengan teganya menyakiti fisik putri semata wayang demi kesenangan, hingga White harus menerima gangguan pencernaan akibat tendangan keras yang mengenai lambungnya. Eaden mungkin terlihat buruk dimata ayah, atau bahkan keluarga dan orang-orang yang mengenalnya, tapi Eaden punya satu sisi kemanusiaan yang hebat. Dia tidak segan membantu siapapun yang pantas menerima bantuannya. Seperti White saat ini. Eaden rela memanggil dokter pribadinya hanya demi seorang gadis yang baru ia kenal beberapa waktu lalu.
“Sejak saat itu, aku hidup sebatang kara, Ed. Tidak ada yang mau menerimaku, bahkan paman dan bibi dari keluarga papa. Mereka benar-benar tidak ingin terbebani oleh hidupku.”
Ada sepercik rasa iba ketika mendengar cerita kehidupan gadis bernama White Abbey ini. Eaden tak bisa melepas pandangannya sedikitpun dari fitur wajah White yang masih membengkak kebiruan.
“Lalu, aku memilih pergi saja sekalian yang jauh. Tidak dilihat atau ditertawakan orang lain, dan juga tidak ingin melihat papa yang sudah membuat luka di hatiku. Kamu tau Ed, aku bahkan menamai papa dengan nama Hell pada kontak teleponku.” lanjut White sambil terkekeh geli. Ia terlalu konyol dan durhaka hingga menamai ayahnya sendiri seperti itu.
Tapi jangan salah, Eaden juga memiliki sifat dominan yang tidak bisa di usik. “Itu pantas. Dia bukan manusia.” sahut Eaden tanpa berpikir dua kali. Ia setuju dengan nama yang diberikan oleh White kepada pria pecundang yang tega menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri hanya untuk mengejar nafs*u dan kesenangan dunia. Eaden juga tidak menyesal memukul pria itu hingga nyaris mati, tadi.
White terkekeh. Dia lebih memilih tertawa dari pada menangis. Karena tidak ada hal yang patut ia tangisi, bahkan untuk takdir hidupnya sendiri. “Papa juga memiliki hutang di keluarga Bruddy.”
“...”
“Kamu pasti terkejut sampai tidak bisa berkata-kata bukan? Sama, aku juga begitu saat tau hal itu dari ayah Vero, Ed. Aku tidak menduga jika papa terjerat hutang cukup besar kepada keluarga mereka. Dan suatu ketika, tuan Rottey mendatangi dan membuat kesepakatan dengan ku.”
“Kesepakatan?”
White mengangguk. Sekarang, dia tidak lagi mau menutupi apapun dari Eaden. “Aku tidak bilang padamu jika aku tinggal dirumah Vero beberapa hari ini, kan?”
“What?!”
White kembali mengulum senyum di bibir merah mudanya yang sedikit robek. “Awalnya, tuan Rottey hanya memintaku untuk memberikan informasi kebenaran tentang keberadaan Vero disana, lalu dia memintaku untuk menjauhi Vero dengan jaminan hutang papa akan lunas.” terang White ketika tidak lagi ingin menyimpan cerita itu seorang diri. “Tapi, entah siapa yang memberi kabar, Vero mendengar jika tuan Rottey mendatangiku, lantas Vero membawaku pulang ke rumahnya, menahan ku di sana karena aku mengingkari kesepakatan yang sudah dibuat di Kasino. Ia bilang memberikan informasi kepada siapapun termasuk pelanggaran, meskipun itu ayahnya sendiri.”
Mendengar hal itu, Eaden diam-diam mengepalkan kesepuluh jarinya. Mereka terlalu jahat kepada White. “Tapi tuan Rottey tidak suka jika aku tinggal disana, berbanding terbalik dengan Vero yang ingin tetap menahan aku untuk tetap tinggal.”
“Dan kamu menurutinya?”
“Ya.”
Eaden menggeleng tidak percaya. Dia tersenyum miris akan kehidupan White yang bisa dikatakan tidak beruntung. Namun dia juga tidak ingin melepas White untuk menjadikannya sebagai umpan agar Vero merasakan rasa sakit yang menderanya hingga saat ini. “Seharusnya, kamu lari dari siapapun yang ingin mendekatimu, E.” peringatan seperti ini sudah sering di berikan oleh Eaden sebagai Clue, tapi White yang memang tidak tahu-menahu tentang persoalan yang terjadi antara Eaden dan keluarga Bruddy, membuat White bersikap tenang seperti biasanya, karena mengaggap Eaden adalah sosok orang baik yang bisa ia andalkan sebagai teman. “Termasuk aku.”
“Jadi, kamu juga akan mengusirku sekarang?” ucap White dengan mata menyipit penuh telisik. Dia bahkan menambahkan kelakar yang membuat Eaden tertawa. “Kamu orang baik, berbeda dengan mereka. Jadi jangan mengusirku dalam keadaan seperti ini.”
Orang baik...
Eaden menertawakan sebutan White untuknya. Orang baik yang terlalu baik hingga tega menyembunyikan maksud buruk tanpa diketahui si umpan.
“Kalau aku baik, Papaku tidak akan mencoret namaku dari kartu keluarga.”
White cukup terkejut, pasalnya Eaden tidak pernah menceritakan hal ini, dan selama ini, Eaden selalu bilang jika papanya selalu memberinya pertolongan jika ia dalam masalah.
“Aku sama saja dengan mereka, E. Jadi jangan tertipu dengan pesona dan kebaikanku saat ini. Bisa jadi, suatu saat nanti aku bisa meminta balas Budi seperti papa mu itu.”
Satu tepukan cukup keras mendarat di lengan Eaden, membuat laki-laki itu sedikit terjingkat karena kejut.
“Aku percaya padamu.” tutur White dengan senyuman dan binar tulus yang bisa Eaden baca dari mimik wajah gadis itu.
Sekarang, apa yang akan kamu lakukan Ed? Kelinci mu sudah masuk perangkap!
Bisik setan pada sisi kejam Eaden. Namun mendengar cerita miris dan pilu dari takdir kehidupan yang di bawa White selama ini, satu bisikan menyapa sisi lain dirinya.
Lupakan dendam itu, raih tangannya, dan berikan dia sebuah kebahagiaan. E gadis baik dan berhak bahagia.
Eaden membuang muka. Kini dia menatap langit yang mulai dipenuhi gumpalan-gumpalan awan putih yang bergerak menutupi sinar bulan.
“Bagaimana jika aku mengecewakanmu suatu hari nanti, E? Bagaimana jika aku tidak bisa menjadi teman yang baik untukmu?”
White menatap rahang tegas yang membingkai wajah Eaden.
“Aku mungkin terlihat cukup baik karena menolong mu disaat kamu terpuruk seperti ini. Tapi aku manusia biasa. Aku memiliki ambisi, ego dan juga kehidupan yang mungkin tidak akan membuatmu berpikir dua kali untuk pergi.”
White meringis ketika punggungnya menyentuh sandaran kursi. Ia kini mengarahkan pandangannya pada satu objek yang sama dengan Eaden. “Tidak apa-apa. Aku akan memaafkan, karena aku berhutang budi baik padamu. Anggap saja semuanya impas jika suatu saat nanti kamu berubah menjadi orang yang sama kejamnya dengan mereka yang sudah membuang dan menyakitiku. Bukan begitu? Terdengar adil kan?”
Dia malaikat berwujud manusia Ed, mengapa kamu tega menyakitinya?
Satu sisi dalam diri Eaden kembali memperingati. Kini Eaden kembali menautkan manik matanya pada sosok White yang masih menatap rasi bintang yang mulai muncul setelah awan-awan kelabu itu pergi.
“Jangan pernah segan melakukan apapun yang kamu inginkan. Aku bukan orang yang berhak membatasi atau melarang dirimu melakukan keinginanmu.”
Satu pukulan telak menancap di hati Eaden. Benar, bagaimana bisa White bersikap se-lapang dan setenang itu ketika semua beban dan keburukan tanpa henti mendera hidupnya.
“Hidup memang terkadang terasa kejam, seperti seorang penjahat yang memaksa kita untuk tunduk tanpa bisa berbuat apapun. Tapi, kamu bisa membalik fakta dan memberi balasan baik pada sebuah kehidupan yang menurutmu patut untuk menerima balasan setimpal agar kehidupan tau jika kamu orang yang tidak patut untuk disakiti. Mungkin hal itu akan muncul tanpa diduga ketika kamu sudah berada pada titik lelah, ketika kamu ingin menyerah. Setelah itu, kamu akan tau betapa berharganya dirimu sendiri.” []
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...