WHITE

WHITE
CASINO....



...WARNING!!...


...Terdapat adegan yang berhubungan dengan kekerasan dan darah. Dimohon bijak.Jika tidak nyaman dengan cerita sebagaimana yang disebutkan di atas, saran Othor skip saja ke bab selanjutnya....


...Terima kasih atas perhatiannya....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Suasana semakin mencekam ketika asisten/sekretaris pribadi Rottey turut andil dalam penyerangan kepada Vero. Tak tinggal diam, Eaden berlari setelah menyimpan senjata api nya, lalu berniat menarik Timothy menjauh demi menyelamatkan Vero. Namun semua urung terjadi lantaran dua pengawal pribadi Rottey kini ikut serta menyerang Eaden yang kini mencoba melawan. Tak terhindarkan, adu otot pun terjadi dan suasana semakin kacau. Lebih mencekam dari apa yang pernah di bayangkan oleh White.


Wanita itu terpaku dengan tubuh bergetar di posisi yang sama. Maniknya tak lepas dari sosok Eaden yang sedang berjuang melawan dua orang bertubuh tak kalah kekar dari milik Eaden sendiri. Mereka saling melempar pukulan, dan sesekali menghindar. White akan mencatat hari ini sebagai hari yang tidak akan pernah ia inginkan untuk terjadi kembali dalam hidupnya, jika memang kehidupan kedua itu ada.


“Berhenti.” ucap White, nyaris seperti sebuah bisikan yang tentu saja tidak akan bisa didengar oleh beberapa orang disana. Suara pukulan, dan suara umpatan saling bersinergi.


Untuk beberapa saat, waktu seolah dipaksa berhenti ketika White mengingat potongan ucapan Eaden kepadanya.


Aku mencintaimu, White.


Dan kalimat lain yang beberapa saat lalu ia dengar,


Jika memang keadaannya buruk dan tidak memungkinkan untuk kamu, tinggalkan kasino. Lari secepat kamu bisa ke rumahku. Aku menyimpan sebuah tiket di kamar, ambil dan tinggalkan negara ini. Selamatkan dirimu dan juga bayi dalam kandunganmu. Okey.


Setelah itu, White masih mengingat dengan sangat bagaimana bibir Eaden mengecup singkat bibirnya. White menitihkan air mata. Ia memang lemah, tidak bisa berbuat apapun dengan keadaannya saat ini. Tapi tidak apa-apa kan jika dia hanya berusaha menolong?


White berjalan penuh tekad menuju Eaden berada. Laki-laki itu sedang di kungkung oleh salah satu pengawal pribadi Rottey, dan sedang dihajar habis-habisan. Satu pengawal lain hendak menarik White namun terhenti karena tertimpa tubuh Timothy yang terpental karena pukulan yang dilakukan Vero.


Suasana semakin tidak terkendali, dan tentu saja...mengerikan.


White menarik satu meja kecil yang digunakan untuk mempercantik ruangan, lalu memukulkannya tepat di kepala pria yang sedang sibuk meninju Eaden. Laki-laki itu jatuh ke samping sembari memegangi kepalanya, mengerang kesakitan dan mulai terlihat darah yang mengucur dari satu sisi kepalanya.


“Sial!!” pekiknya, lalu bangkit dan berjalan cepat hendak menerjang White untuk melakukan pembalasan karena sudah berani menyakitinya. Namun terhenti karena Eaden lebih dulu bangkit dan melindungi White dengan memukul wajah pria itu sekeras mungkin hingga jatuh pingsan.


Demi apapun, White harus segera dibawa pergi dari sini. Suasana sudah sangat kacau dan jauh diluar dugaannya karena menjadi sangat runyam karena satu alasan yang mungkin akan terlalu jahat untuk ia katakan.


Eaden menarik White, bermaksud membawa White keluar ruangan dan meminta White pergi dari Kasino. Akan tetapi hal itu terhenti begitu saja ketika satu tembakan melesat mengenai satu kaki Eaden. Pengawal pribadi Rottey yang melakukannya.


Eaden jatuh tersungkur disamping White yang kini turut bersimpuh di samping Eaden. Lagi-lagi ia melihat lelehan cairan pekat mengalir dari pusat kaki Eaden yang menjadi sasaran tembak. White ketakutan, dan dia berharap ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menghentikan laju darah Eaden. “Lari!” ucap Eaden, mendorong tubuh White agar meninggalkannya. Namun White sama sekali tidak menggubris dan malah panik melihat darah yang mulai keluar dari kaki Eaden yang ditembus oleh timah panas.


Setelah berhasil membuat ikatan di kaki Eaden, tubuh White tiba-tiba berdiri. Seseorang memaksanya berdiri dari belakang. Rottey sedang menarik rambut White agar berdiri sejajar dengannya yang sontak membuat Eaden membolakan mata dan berusaha bangkit meskipun percuma karena Rottey dengan mudah menumbangkan tubuhnya yang memang sedang tidak berdaya. Satu tembakan, dan pukulan bertubi-tubi di tubuhnya, mampukah orang selain Eaden masih bisa bertahan?


“Kamu terlalu gegabah, Ed? Atau, kamu memang bodoh karena mengulangi kesalahanmu dengan tidak membawa pengawal atau apapun yang bisa membantumu di saat kesulitan seperti ini.”


“Jangan sentuh White!” ucapnya sambil kembali mencoba berdiri, namun gagal karena kini si pengawal pribadi Rottey berhasil menahannya.


“Kalian mau lari setelah membuat kekacauan seperti ini? Ah, pasti kalian akan melarikan diri dari negara ini, lalu berencana hidup bahagia berdua, right?”


Eaden mantap nyalang dan tajam pada sosok Rottey yang masih belum mau melapas Surai White dari genggaman kuatnya.


“Jangan harap itu akan terwujud selagi masih ada satu bagian dari diriku dalam tubuh wanita ini.”


Sumpah, demi apapun, Eaden ingin sekali menghancurkan Rottey saat ini juga. Ia ingin laki-laki itu bertekuk lutut didepan White dan meminta maaf. Atau jika perlu, Rottey harus kehilangan semuanya demi membayar perlakuan binatangnya yang sudah dengan sangat biadab menghancurkan kehidupan White.


“Kamu, adalah manusia paling rendah di atas dunia ini, yang pernah aku temui, Rottey!” tutur Eaden tak mau lagi menaruh hormat. Kebencian sudah naik sampai ke ubun-ubun. Untuk itulah, saat ini, Eaden meraih cepat senjata apinya dari balik jaket dan bersiap melesatkan satu selosong peluru ke tubuh laki-laki ini


Sialnya, pergerakan itu lebih dulu terbaca oleh Timothy dan secara bersamaan suara tembakan terdengar. Rottey jatuh terkapar diatas lantai dengan luka tembak di lengan.


Mengapa di lengan? Bukan di dada seperti yang sudah di petakan oleh Eaden sebelumnya?


Hal itu terjadi lantaran Eaden juga terkejut saat beberapa percikan darah menyapa kulit wajahnya. Di depannya, tak jauh darinya duduk setelah melakukan perlawanan terhadap pengawal Rottey, Vero terkapar bersimbah darah tanpa sebuah pergerakan. Mata Eaden membola, begitu juga White dan Rottey yang masih memiliki kewarasan untuk melihat darah dagingnya terkapar dikelilingi cairan pekat berbau anyir itu.


Rottey berteriak menyebut nama Vero berkali-kali. Ia baru merasakan bagaimana takut kehilangan. Ia meminta tolong kepada siapapun untuk segera memanggil ambulance sebelum terlambat, namun bersamaan dengan itu, segerombol polisi datang mengamankan keadaan, mengarahkan senjata kepada pengawal pribadi Rottey dan juga kepada Timothy, si eksekutor yang salah sasaran.


Eaden menarik tubuhnya sebisa mungkin untuk mendekat kepada Vero yang masih menunggu pertolongan. Suasana mencekam berubah riuh oleh kepanikan beberapa orang yang ingin tau mengapa tiba-tiba ada polisi datang ke tempat ini.


Hingga akhirnya jemari besar itu menepuk-nepuk wajah Vero yang sudah mulai memucat. Laki-laki malang yang menjadi alat dan juga tameng dari kebusukan sang ayah itu, nyaris kehilangan kesadaran namun Eaden terus memaksa agar Vero tetap membuka mata. Eaden menyesal sudah membenci Vero selama ini.


“Ve, kamu harus bertahan. Pertolongan akan segera sampai, Okey. Kamu harus bertahan.” pinta Eaden sambil menepuk-nepuk pipi Vero agar laki-laki itu terus terjaga. Eaden bahkan tidak peduli jika kini pakaiannya telah basah oleh darah Vero. “Ve! Bertahan!! Atau aku yang akan membunuhmu!” ancam Eaden karena panik sebab Vero seperti ingin memejamkan mata, pipinya mulai dingin, namun bibir laki-laki itu malah tersenyum dengan nafas yang seperti serangsur melemah. “Ve. Kamu dengar aku kan?”


“Jaga E dengan baik.” bisiknya disela nafasnya yang terembus berat. “Jaga bayi dalam kandungannya juga.”


“Please. Bertahan!” teriak Eaden tak peduli jika kini polisi mulai menarik tubuhnya untuk menjauh.


Disaat itu, ia melihat Vero mengangkat lengannya yang bergetar. Eaden berteriak memberontak agar lepas dari dekapan tiga polisi yang hendak membawanya pergi. Untuk pertama kalinya Eaden menangisi seorang Vero. Laki-laki itu bahkan menyerahkan nyawa untuk menyelamatkan dirinya yang selama ini selalu memendam benci. Ya, Eaden pikir dirinya adalah penjahat yang sesungguhnya.


Dengan manik matanya yang berkabut, Eaden bisa melihat jika Vero berkata,


“Bye,” []