
...Happy Reading All......
...Have You a Great Day...
...•...
WHITE by: VizcaVida
Sekitar pukul sembilan pagi, Eaden sudah memarkir Bugatti Centodieci putihnya tak jauh dari pintu masuk kompleks tempat tinggal Vero. Dia akan bertemu White dan akan membicarakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang berhubungan dengan White dan juga hidup matinya.
Eaden sengaja membawa mobil barunya karena tidak ingin orang-orang dari keluarga Bruddy menangkap basah dirinya ketika bertemu dengan White, karena bisa saja kecerobohan itu akan menjadi duri untuk rencana yang sudah ia mantapkan semalam suntuk, setelah bermain game bersama Nathalie.
Lima menit lewat dari jam janji, Eaden dapat melihat sosok White berjalan di kejauhan. Mengenakan dress hijau tua dan sweeter rajut warna putih tulang, serta rambut di Cepol asal ke atas, membuat penampilan wanita itu terlihat cantik dan dewasa. Melihat penampilan seperti itu saja, membuat senyuman terbentang luas di bibir Eaden. Ya, tidak perlu sulit menerbitkan senyuman Eaden, hanya perlu melihat White, ia sudah pasti akan tersenyum manis yang jarang sekali ia tunjukkan kepada orang lain. Bahkan papanya sendiri.
Setelah menempelkan kartu akses ke sebuah alat pendeteksi, palang terbuka dan White melenggang keluar. Eaden melihat White yang menoleh ke berbagai arah, mungkin sedang mencarinya, pikir Eaden.
Lalu dengan sengaja Eaden membunyikan klakson mobil yang kemudian menarik perhatian White. Eaden melambai dari dalam mobil, dan White berjalan menghampiri. Bersamaan dengan White berdiri di sisi mobil, pintu terbuka. Tanpa basa-basi White masuk.
“Mobil baru?” tanya White sambil memasang seatbelt di tubuhnya.
“Apa tidak terlalu kencang? Aku bisa mengendurkan itu jika kamu merasa nggak nyaman.”
“Nggak aku baik-baik saja.” seru White tak mau merepotkan karena dia memang baik-baik saja, seatbelt tidak terlalu mengekang, dan dia nyaman.
Mobil mulai melaju perlahan, bergabung bersama pengguna jalan lain yang memenuhi jalanan sedikit padat pagi ini, hingga mobil Eaden benar-benar menjadi pusat perhatian karena begitu mencolok. “Sepertinya aku salah mengambil mobil, tadi.”
White tertawa. “Kamu mau pamer? Jadi yang kamu maksud ingin bicara penting itu, kamu mau menunjukkan mobil baru mu ini?” canda White tanpa memutus senyuman yang sejak tadi membingkai wajahnya.
“Ya enggak lah, E. Untuk apa aku pamer? Ini masih nyicil tau.”
“Bohong! Wajahmu kentara sekali bohongnya.”
Eaden terkekeh sambil menggaruk pelipisnya yang memang gatal. Ia lantas memutar balik kemudi dan membawa White ke suatu tempat yang membuat wanita itu dirundung rasa penasaran. “Kita kemana? Bukan kerumah kamu?”
“Dirumah ada Nathalie. Aku takut dia mendengar obrolan kita.”
“Memangnya, kita mau bicara apa?”
Untuk beberapa saat, Eaden membiarkan pertanyaan White menggantung di udara. Ia perlu menyusun kalimat agar White bisa menerima apa yang hendak ia bahas nanti. Ia ragu jika White akan setuju dengan rencananya, tapi apa salahnya mencoba?
Jika memang White akan menolak rencana yang ia susun semalam, Eaden akan bergerak sendiri, tanpa melibatkan White sama sekali.
“Rottey. Aku akan membicarakan sebuah rencana yang sudah aku susun semalam. Dan aku harap kamu setuju nanti ”
Hingga kini mereka sampai disebuah restoran makanan Jepang yang memang disediakan private room dan sering di gunakan orang penting untuk bertemu membicarakan bisnis, misi rahasia, atau para pengusaha kaya yang bertemu Kliennya seperti yang biasa dilakukan Eaden. Namun hari ini berbeda karena dia membawa White, bukan untuk berbisnis.
Mereka masih menjadi pusat perhatian karena mencolok. Eaden merutuki kebodohannya karena ia kini justru menjadi tontonan orang karena mobil sialan itu. Ia pikir, membawa mobil itu akan mengalihkan perhatian atau mata-mata keluarga Bruddy yang mungkin sedang mengawasi gerak-geriknya sejak kejadian hari itu. Rottey memiliki kuasa, dan tidak menutup kemungkinan semua itu sedang terjadi sekarang.
Sesampainya di meja resepsionis resto, Eaden menyebutkan nama kemudian seorang pramusaji mengarahkan keduanya ke ruangan yang berjejer dan ada penutup di setiap ruangan kedap suara itu. Berbeda dengan situasi diluar, di ruangan privat ini begitu sepi.
“Silahkan.” kata sang pramusaji sembari menggeser fusuma selebar mungkin agar Eaden dan White bisa masuk kedalam ruangan tanpa kesulitan.
“Terima kasih.” ucap White dan Eaden bersamaan ketika wanita itu berjalan dibelakangnya yang kini menuju tempat duduk. Pramusaji itu menata beberapa guci kayu berisi kudapan, beberapa gelas kecil yang juga terbuat dari kayu di atas talam, disusul sebuah teko berisi air mineral yang bisa mereka minum dan makan bersama kudapan sambil menunggu hidangan datang.
Setelah pramusaji itu keluar, tanpa sengaja tatapan Eaden dan White bertemu. Agak canggung, tapi White bisa mengatasi situasi seperti ini. “Jadi, apa yang akan kamu bicarakan sampai-sampai ngajak aku makan di tempat se-private ini?”
Eaden meraih teko dan mengisi gelas kayu itu dengan air, lantas meneguknya hingga tandas. Ia gugup bahkan sebelum mengatakan rencananya kepada White. Beberapa spekulasi tiba-tiba ingin merobohkan rasa percaya dirinya didepan White. Terutama yang paling keras berteriak di dalam kepalanya adalah, bagaimana jika White menolak rencana yang dia buat, dan memilih melindungi Rottey, karena bagaimanapun laki-laki brengsek itu adalah ayah dari bayi yang sedang di kandungnya.
Eaden mendadak skeptis. Dia menekan lututnya dibawah meja, lalu mendengus pelan. “Aku, ingin mengatakan sebuah rencana padamu.”
White mengerutkan kening. Rencana? Rencana untuk apa?
“Rencana?”
Eaden mengangkat wajah. Dia menatap White dan mendapati ekspresi penuh tanya pada raut wanita itu. “Ya, rencana. Untuk Rottey.”
White semakin tidak paham, tapi juga penasaran. “Memangnya, rencana yang bagaimana?”
See, bahkan tebakan Eaden mungkin saja akan benar. White pasti akan keberatan dan menolak idenya. Kenapa dia jadi bodoh begini? Dimana otaknya yang biasa berfikir cepat jika sedang terdesak? Eaden merutuki dirinya sendiri yang sekarang lemah didepan White.
Eaden meremas ujung celana jeans pendek yang ia kenakan, ia melipat bibirnya kedalam seperti orang bodoh, lalu mulai membuka mulutnya sekali lagi.
“Kasino. Aku ingin mengakhiri semua rasa sakit hatimu di Kasino.”
Kasino? Apa maksud Eaden?
White bertanya-tanya dalam hati. Jadi maksudnya, Eaden akan menantang Rottey di meja judi?
“Kamu ingin taruhan dengannya? Menggunakan aku sebagai objek taruhan?”
Eaden menggeleng. Bukan itu maksudnya. Dia hanya ingin White memberikan arahan agar dia menang, dan bisa mengajukan satu permintaan yang amat sangat berat untuk Rottey, jika lelaki tua itu kalah.
“Nggak, bukan gitu maksudku, E.”
Beberapa makanan khas Jepang di turunkan dari troli. Dan beberapa hidangan itu mengundang mual di perut White, lalu memaksa White menahan nafas agar tidak berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perut yang belum diisi apapun sejak pagi. Pagi tadi dia menolak tawaran baik Vero untuk membuat sarapan, dengan dalih akan makan diluar bersama teman. Namun sekarang dia menyesal karena tidak sarapan, dan juga menyesal karena tidak memberitahu Eaden tentang makanan yang bisa membuatnya ingin muntah.
Hampir lima menit pramusaji itu menata hidangan yang ada di dalam mangkuk-mangkuk kecil dibatas meja. Sushi, makan itu adalah pusat mual White. Dia ingin menyingkirkan dan membuang makanan itu dari depan matanya.
“Kenapa?” tanya Eaden khawatir melihat wajah White yang berubah pucat.
“Aku mual melihat Sushi.” jawabnya cepat.
“Okey, aku akan singkirkan makanan itu dulu.”
Eaden buru-buru berdiri dan membawa sushi keluar ruangan. Setelah beberapa menit ia kembali dan mendapati White masih duduk diam ditempat nya tanpa mengambil satu hidangan apapun. “Kenapa tidak di makan?”
“Aku menunggu kamu, Ed.”
Oh Okey, Eaden rasa dia akan tersipu karena ucapan itu.
“Kita sarapan dulu. Setelah itu kita bicarakan lagi rencana itu.” titah Eaden tidak ingin dibantah, lalu mulai mengambil beberapa menu makanan yang sudah dipesannya tadi.
—
“Jadi, bagaimana maksudnya? Apa maksud dari rencana mu itu, Ed?” tanya White ketika perutnya sudah terisi penuh.
“Itu...maksudku, aku perlu kamu membantuku bermain disana. Aku nggak ngerti sama sekali soal poker.”
“Tapi kenapa kamu malah nantang Rottey di meja judi? Kalau kamu kalah, kamu akan habis di tangan—”
“Itulah tujuanku memintamu menemaniku, E. Aku percaya padamu.”
White menggigit bibir bawahnya ragu. Dia tidak sehandal itu. Dia bisa saja mengarahkan Eaden menuju kemenangan, tapi tidak di pungkiri dia juga bisa saja membuat kesalahan yang akan membuat Eaden dalam masalah. Ada Teressa disana, wanita itu jauh lebih berpengalaman dari dirinya.
“Aku, tidak bisa Ed. Aku tidak mau menggiring kamu masuk ke jurang kehancuran. Jadi, jangan pernah datang ke tempat itu. Lupakan rencana konyolmu itu, Ed.” tegas White, berharap Eaden berubah pikiran dan tidak lagi memikirkan cara agar dirinya bisa membalas rasa sakit hati kepada Rottey. White dengan sangat yakin jika Eaden melakukan semua ini demi dirinya.
“Ada satu permintaan besar yang akan aku minta pada Rottey jika aku menang.”
Pernyataan Eaden membuat atensi White lagi-lagi tertuju pada laki-laki itu. Otaknya tak lagi bisa berfikir mencari cara untuk memanipulasi Eaden agar tidak lagi melanjutkan rencana gila itu.
Melihat ekspresi White, Eaden bisa tau jika wanita itu jauh lebih penasaran dari sebelumnya.
“Tapi, apa yang akan kamu lakukan jika kamu kalah, Ed?”
Eaden diam beberapa saat. Tatapan matanya tidak mau beralih sedikitpun dari wajah White yang sudah berubah sendu. “Aku akan mempertaruhkan diriku, demi kebebasanmu.”
Eaden mengeluarkan secarik kertas dari balik Hoodie hitamnya, menyorongnya hingga berhenti tepat didepan White. “Semua sudah aku pikirkan dari lama. Tentang masalahku sendiri dengan keluarga Bruddy. Mungkin terdengar jahat karena menggunakan kesempatan saat dirimu terluka seperti ini, E. Tapi maaf, hanya kali inilah kesempatan itu ada, dan aku tidak mau menundanya lagi. Tolong baca semua isi surat yang sudah aku buat dan tanda tangani itu.”
White meraihnya. Telapak tangannya bergetar ketika mengangkat cetakan tinta hitam diatas putih itu. Lalu beberapa saat kemudian, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia menggeleng menolak sambil membawa tatapan matanya pada Eaden. Namun laki-laki itu hanya mengulas senyuman hangat yang tulus. “Kamu akan bebas, tidak peduli aku kalah atau menang.”
White tergugu. Dia kehabisan kata-kata setelah membaca beberapa pasal yang menjadi permintaan Eaden jika ia kalah dalam permainan itu.
“Aku percaya padamu, untuk itulah aku memintamu menemaniku sampai semua ini selesai.”
White semakin menguatkan gelengan kepalanya. Ini tidak akan terjadi jika dia tidak membuat Eaden masuk kedalam kehidupannya. Ini salahnya sudah membuat sosok baik hati itu harus rela menjadikan dirinya sendiri sebagai taruhan agar dirinya bahagia. Ini jauh lebih tidak adil dari pada kehidupan yang sudah ia jalani selama ini.
Lalu, dengan sorot hangat dan lembut yang terpancar dari binar manik Eaden, White mendengar kalimat itu. Kalimat pengakuan yang begitu menyayat hati White karena baru menyadarinya sekarang.
“Aku, mencintaimu, White.” []
...🍃🍃🍃...
Cerita akan memasuki konflik besar. White sudah tau perasaan sesungguhnya seorang Eaden padanya. Siapa yang akan di pilih White?
Stay tune terus ya...
Mampir juga di cerita Vi's yang lain. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....