
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
White pernah menduga jika apa yang sudah tertulis untuk hidupnya, adalah hukuman atas apa yang pernah kedua orangtuanya lakukan jauh sebelum dia lahir kedunia, hukum karma istilahnya—kalau tidak salah. Mungkin, seperti itu. Hukum alam dan karma akan bekerja seperti itu, dan tidak akan pernah terbantahkan. Atau mungkin, ada alasan lain mengapa Tuhan menggariskan takdir semenyedihkan itu untuknya. Membiarkannya menanggung sebuah beban berat dikedua pundak ringkihnya, menjadikannya seorang gadis sebatang kara meskipun kedua orang tuanya masih hidup, dan menjadi salah satu manusia pendosa karena tameng hidup yang ia percayai telah membuangnya begitu saja tanpa belas kasih. Ya, White bersumpah akan menjadi daftar manusia pertama yang menolak dilahirkan kembali jika kehidupan selanjutnya memang benar-benar ada.
White menghela nafas, mencoba berlapang dada, menerima segala takdir yang lebih terlihat seperti kutukan. Apalagi ketika Vero berhasil menjebak dan membawanya pergi dari Kasino untuk mengikuti rencana apa yang akan dilakukan laki-laki itu, White semakin kacau, ia ingin menempuh jalan pintas yang tidak wajar untuk segera pergi dari dunia fana yang memuakkan ini. Namun disamping semua keluh kesahnya kepada hidup, sejumput harapan sangatlah White harapkan untuk menjadikannya berharga. Berharga sebelum ia dijemput sang pemilik benang merah kehidupan, dan membawanya menuju alam baka.
“Mengapa kamu melakukan ini padaku?”
Vero acuh. Ia hanya melebarkan langkah menuju dapur kecil yang letaknya tidak jauh dari ruang tamu. Ia mengambil sebotol pereda pengar dari dalam lemari pendingin, lantas menghabiskannya sekali tenggak.
“Karena kamu menolak jika aku memintanya dengan kondisi sadar.”
White mendecak sebal. Selain menyebalkan, ternyata Vero memiliki sifat licik melebihi seekor rubah betina. Konyol, tapi serial yang dilihatnya di salah satu acara drama televisi, begitu menggambarkan sosok Vero dimatanya.
“Caramu tidak gentle, bapak pejabat yang terhormat.” sindir White tak mau diam saja. Ia sudah muak, bahkan mual dan ingin sekali mengumpati wajah tampan Vero dengan kalimat paling hina di muka bumi.
“Yeah, I know. But I loved my way, when I bringing you come to my home.” cerocos Vero sembari menatap White yang masih berdiri tidak jauh dari ambang pintu yang sudah terkatup rapat.
Mau bagaimana lagi, Vero bahkan sudah mengirim pesan kepada madam Jo perihal White yang tidak akan kembali ke kasino untuk malam ini.
“Bicara yang jelas. Aku tidak mengerti bahasa alien!”
Ucapan White seperti sebuah lawakan yang membuat Vero meledakkan tawa menggelegar memenuhi ruangan. “Baiklah, aku akan bicara normal saja di depanmu, sweet heart.”
Langkah Vero kembali menuju dimana White berada. Apa dia perlu melakukan penyambutan? Lantas mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena White sudah bersedia, bahkan berbaik hati mau mengantarnya pulang?
Vero melirik White yang masih menatap sebal ke arahnya. Wajah rupawan gadis itu masih terlihat memukau meskipun dalam keadaan dipenuhi emosi jiwa. “Aku punya pereda pengar, banyak sekali di lemari pendingin. Minum saja jika kamu membutuhkan.”
“Fu*ck!! Menjauh dariku!” umpat White ketika telapak tangan Vero tiba-tiba menyambangi pinggangnya yang ramping dalam balutan gaun satin berwarna biru tua.
Vero terkejut, ia menarik tangan lalu mengangkatnya ke udara bersama kedua bahu mengernyit. White yang berada dihadapannya, sangat berbeda dengan E yang ia kenal di kasino.
“As you wish—ah, tidak, tidak.” Vero menggelengkan kepala, lantas memperbaiki ucapannya menjadi kalimat normal yang mudah dimengerti oleh White. “Seperti yang kamu inginkan, Sweet heart.”
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Aku punya nama.”
“Yang mana? White? E?” sahut Vero tak mau kalah. Baginya, White adalah partner beradu argumen—selain partner di meja judi, tentu saja.
Seperti sedang direndahkan, White malah menyunggingkan sebuah seringai tajam sembari melontarkan sebuah kalimat menantang. “Jika aku memilih E, apa yang akan kamu lakukan padaku, tuan Verous Bryan Bruddy?”
***
Pagi yang biasanya menyenangkan karena ia akan melihat saldo rekeningnya bertambah, harus dilalui White dengan des*ahan frustasi kala membuka mata dan melihat langit-langit bangunan yang begitu berbeda. Langit-langit rumah ini terkesan begitu mewah, dan juga elegansi yang tidak terbantahkan. Vero memiliki selera yang tidak main-main. Disana, di bawah langit-langit ruangan, ada sebuah lampu gantung yang harganya pastilah tidak murah. White berniat meminta secara cuma-cuma jika suasana hatinya tidak seburuk hari ini.
White bangkit dengan kepala yang sedikit berat. Ia memijatnya perlahan, lantas meraih jam tangan yang ia letakkan diatas nakas kamar tamu yang ia tempati saat ini.
Pukul delapan pagi, dan seharusnya Vero sudah tidak berada dirumah untuk bekerja bukan?
Semalam, Vero memang mengatakan jika White boleh melakukan apapun dirumahnya. Anggap saja rumah sendiri, begitu katanya semalam. Dan White akan mengamininya hari ini. Ia bangkit dari atas tempat tidur nyaman berukuran Queen, menyibak selimut, lantas turun dan berjalan menuju kamar mandi yang ada didalam ruangan ini.
Di dekat westafel, ada kimono dan bathrob berwarna abu-abu. Disampingnya lagi, ada setumpuk handuk berwarna putih bersih, lalu ada sabun mandi, satu sikat dan pasta gigi, dan satu botol sampo aroma vanilla.
Hah? Dari mana Vero tau jika merk sampo yang digunakan White, adalah merek yang tertulis pada botol kaca bening ber-abjad Hangul itu?
“Sial, apa dia mencari tau tentang aku?” rutuk White pada dirinya sendiri yang harus terlibat dalam kehidupan Vero.
Keinginan untuk bermanja-manja di dalam kamar mandi berbalur kemewahan itu tiba-tiba pergi begitu saja. White berlari menyongsong pintu kamar, berharap Vero masih ada, lalu ia bisa memakinya dengan umpatan-umpatan kasar sepanjang masa hingga laki-laki itu muak kemudian melempar atau menendangnya keluar dari rumah. Namun semua itu tinggal angan. Rumah sudah sepi, tidak ada siapapun, hanya terdengar bunyi detik jam dan pendingin ruangan yang berdesis lembut. Tidak jauh dari White berdiri, terdapat menu sarapan ala-ala western berjejer diatas meja makan yang membuat liurnya ingin menetes.
White menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada tanda keberadaan Vero, lalu ia berjalan mendekat, menarik satu kursi dan duduk manis disana. Ada pancake yang disiram sirup maple yang menggiurkan, ada juga Quiche, makanan semacam telur dadar namun diisi berbagai macam sayuran dan juga keju yang pastinya mengandung banyak gizi yang penting untuk kesehatan dan daya tahan tubuh White. Ada juga hashbrow dan segelas susu segar yang masih hangat, siap di minum. Waah...siapa yang membuat semua ini? Vero?
White menyunggingkan senyuman lebar, Ia tidak pernah menjadi tamu istimewa seperti ini. Lalu, buru-buru ia membalik piring, mengambil sepotong quiche lalu menyendok dan memasukkannya tanpa ragu kedalam mulut. Ah, satu hal yang tidak White ingat karena terlalu sibuk membenci dunia dan juga, Vero. Dia belum makan sejak sore. Ia hanya memakan beberapa biji kacang, lalu meminum Wine. Pantas saja perutnya bergejolak dan mau muntah saat bangun tidur tadi.
“Oh, kamu tidak mau menungguku? Apa kamu sangat lapar?”
White hampir tersedak kunyahan quiche yang beberapa detik lalu ia lahap dengan serakah ketika mendengar suara Vero tiba-tiba menyapa pendengar. Rupanya Vero belum pergi dari rumah, laki-laki itu bahkan kini duduk tanpa rasa canggung didepan White sambil membenarkan kancing kemeja di pergelangan tangannya.
“Bagaimana rasanya? Enak?” tanya Vero dengan raut wajah segar dan terlihat bahagia. Jangan lupakan, aroma musk yang menguar begitu menarik minat White—atau bahkan para wanita—untuk tidak melepas pandangannya dari laki-laki ini. Dia begitu menggoda, pada kenyataannya.
Kalimat Vero seperti sebuah sindiran menohok untuk White yang memang tidak tau diri. Seharusnya ia mastikan terlebih dahulu jika Vero benar-benar sudah pergi dari rumah sebelum memutuskan duduk dimeja makan dan menyantap sarapan ala western itu sendirian.
Dengan wajah memerah padam menahan malu, White mempertanyakan asal muasal makanan enak yang ia makan saat ini. “Siapa yang membuat? Anda sendiri, atau, pesan?”
“Tidak. Aku membuatnya sendiri.”
“Benarkah?”
Vero mengangguk. Ia lantas membalik piring dan mengambil menu yang sama dengan White, lalu menyantapnya setelah terlihat berdo'a dengan khusyuk.
“Anda pernah ikut les memasak? Mengapa makanan buatan anda lebih enak dari makanan restoran yang pernah anda belikan waktu itu?”
Vero tersenyum. “Waaah, ternyata kamu suka masakanku ya, nona E?”
White tidak menjawab, ia kembali menyendok quiche malu-malu tanpa melihat kearah Vero. Namun ucapan sedetik kemudian, Vero kembali menarik atensinya. Bahkan White nyaris tersedak untuk kedua kalinya ketika Vero berkata. “Aku dan kekasihku sering memasak berdua dirumah. Jadi mau tidak mau, aku jadi jago memasak, seperti dia.” []
......________......
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
See You.