
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Mungkin alasan kali ini terlalu realistis hingga Vero melepasnya pergi begitu saja dari rumah mewah itu. Namun satu sisi lain dalam diri White sempat berharap jika Vero kembali memungutnya, lalu memberinya makanan enak tanpa bayar seharian, juga membelikan pakaian mahal untuknya bekerja.
Meski tidak ada hubungan apapun, White tak lantas melepas Vero dengan membiarkan uang laki-laki itu tidak berkurang sedikitpun. Dia teguh pada pendirian untuk mengeruk harta laki-laki yang sudah ia anggap sebagai mangsa.
White berjalan di area pejalan kaki. Jam menunjukkan angka dua pagi dan White baru saja mengakhiri pekerjaannya di tempat madam Jo. Seperti biasa, gang tersebut masih ramai. Didominasi oleh pemuda-pemuda yang sedang ngobrol bersama teman-temannya, jalanan tidak pernah sepi. Tempat ini seperti sudah menjadi pusat berkumpulnya orang-orang pecinta udara malam.
Ponsel White bergetar, nomor tidak dikenal. White sempat mengernyitkan dahi ketika ada yang menghubunginya di jam seperti ini. White merasa tidak nyaman. Setidaknya dia bukan wanita yang mau menerima panggilan dari orang yang tidak dikenal, lalu berbincang cuap-cuap tidak ada arah, lalu menjurus pada hal-hal yang sangat di jaga oleh White selama ini. S*EKS. (bacanya, hilangkan tanda petik)
Tidak mau peduli lagi, White memasukkan ponsel ke dalam saku Hoodie dan membiarkannya terus bergetar. White tidak akan peduli, dan tidak akan pernah mau peduli.
Sampai dia disadarkan oleh tepukan dibahu yang membuatnya berjengit kaget.
“Oh astaga.” sebutnya sambil mengelus dada ketika melihat Eaden di belakang tubuhnya. “Kenapa kamu ada dimana-mana, sih?”
Eaden hanya menjingkatkan bahu. “Memangnya kenapa? Aku baru saja selesai bertemu teman di sana,” jawabnya sambil menunjuk salah satu kedai minuman hangat. “Lalu melihat kamu. Ya sudah, aku sapa aja dari pada nanti dikira sombong.”
Sumpah, White tidak melihat Eaden disana, tadi. Tapi pria ini tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.
“Kamu tinggal di daerah sini?” tanya Eaden sembari mencoba memeriksa lokasi, kepalanya menengok ke kanan dan kiri secara bergantian.
“Ya. Aku tinggal dirumah kost itu.” jawab White sambil menunjuk rumah kost yang memang terlihat lebih menonjol dari bangunan sekitar, lantas ia kembali mengambil langkah. Sedangkan Eaden, masih mengekor dibelakang yang justru membuat White semakin tidak nyaman. “Kenapa masih mengikutiku?”
“Anak gadis tidak baik jalan sendiri malam-malam begini. Jadi aku antar sampai tujuan.”
White menggeleng tak percaya dengan jawaban Eaden. Tipikal romantis dan manis—pikir White tiba-tiba menyimpulkan—karena selama ini belum ada laki-laki yang berbicara seperti itu kepadanya, bahkan Vero yang selalu berada disekelilingnya pun enggan bicara manis seperti yang dilakukan Eaden. “Baiklah pak pengawal. Antar aku sampai tujuan dengan selamat.”
Eaden tersenyum, mengangkat lengannya dengan gestur memberi hormat. “Siap, komandan.”
Dan bersamaan dengan gelak tawa yang tidak bisa White bendung di kerongkongan, sepercik rasa hangat menyelimuti hatinya. White merasa dilindungi dan dihargai oleh seseorang, tanpa meminta pamrih.
Step satu, buat dia percaya padamu.
***
White membuka mata dengan sebuah senyuman. Tubuhnya terasa ringan, dan suasana hatinya begitu menyenangkan. White merasa lega karena bisa kembali ke tempat asalnya, dan tidak lagi mau berurusan dengan Vero.
Ia bangkit, duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Ada beberapa notifikasi pada e-banking miliknya. Ada beberapa pesan singkat yang sejak semalam belum ia buka, dan ada dua panggilan tidak terjawab dari nomor tak dikenal. White mengusap wajahnya kasar, kemudian melempar ponsel diatas kasur dan bersiap menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan sarapan. Namun langkahnya terhenti ketika ponsel itu kembali bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk yang ia lihat berasal dari nomor sama yang menghubunginya semalam.
Dahinya berkerut tajam. White bertanya-tanya siapa yang sedang mempermainkannya seperti ini? Atau, memang nomor seseorang yang sedang ada keperluan penting?
White kembali meraih ponsel tersebut, menatapnya sekilas, lalu menggeser tombol hijau untuk mengetahui siapa pemilik nomor ini.
“Akhirnya kamu menjawab teleponku.”
Suara ini begitu familiar. Siapa ya?
“Siapa kamu?!” tanya White tegas.
“Tidak perlu tau, tapi kau akan jatuh ketanganku.” ucap seseorang di seberang telepon membuat bulu kuduk White berdiri. Peneror, ini pertama kalinya White mendapatkan telepon dari seorang peneror.
“Sinting!!”
White mengakhiri panggilan sepihak. Dengan jantung yang masih berdegup kacau, ia menuruni ranjang, memutar langkah dan membuka gorden kamar agar cahaya matahari menghangatkan ruangannya. Akan tetapi, tatapan White malah tertuju pada sebuah mobil yang White tau betul harga mobil tersebut tidak kalah mahal dari mobil Lamborghini Aventador. Porche 911 turbo s berwarna agate grey metallic terparkir cantik di bahu jalan. White juga melihat seseorang melambaikan tangan dengan senyuman lebar ke arahnya. Tidak salah lagi, itu Eaden. Tapi untuk apa pria itu sudah unjuk kekayaan pagi-pagi buta begini? Padahal, lima jam yang lalu dia juga ada disini untuk mengantar White pulang.
White memutar langkah. Ia berniat turun dan memperingatkan Eaden untuk tidak lagi mengusik dirinya. Ya, setidaknya begitu. Karena semakin Eaden memberi perhatian lebih, White akan semakin berharap, yang tentu saja akan membuatnya semakin jatuh dan terpuruk dalam kisah hidupnya sendiri.
White berjalan ke arah Eaden yang sudah berdiri diluar mobil, duduk di bagian cup depan mobil sembari memainkan ponsel. Pria itu mengenakan pakaian santai. Kaos polo hitam lengan pendek yang memperlihatkan tatoo sebuah tulisan memanjang di area lengan, dan celana pendek selutut warna senada, juga sepatu kulit boots setinggi mata kaki berwarna coklat.
“Oh, hai E.” sapanya dengan senyuman tak kalah cerah dari sinar matahari pagi.
“Ada perlu apa? Kenapa pagi-pagi begini sudah menggangguku?” tanya White dengan suara parau. Bahkan White tidak peduli dengan penampilannya yang terlihat awut-awutan karena belum membasuh wajah dan menyisir rambut yang ia Cepol sejak semalam.
“Hanya ingin mengajakmu ke sebuah tempat. Aku ingin meminta pendapatmu.”
White mengerutkan alis. Ia tidak tau mengapa Eaden yang baru ia kenal tempo hari seperti sedang memaksa dekat dengannya. “Pendapat? Memangnya apa yang perlu aku beri pendapat?”
Eaden tersenyum jumawa. Ia mengusap satu sisi lengan White. “Mandi dan dandan dulu. Pipimu ada iler tuh.”
Seketika itu White mengusap dua sisi pipinya. Sia*lan memang Eaden ini. Tapi entah mengap, interaksi ringan seperti ini terasa manis bagi White. Seolah Eaden adalah orang yang sudah mengenal dan menjadi teman baiknya sejak lama.
“Sial*an!!”
Eaden tertawa lebar mendengar umpatan terang-terangan White didepannya.
“Ya sudah. Cepat, aku tunggu di mobil.”
Wah, benar-benar gila. Sejak kapan White menjadi penurut dan manis seperti anjing piaraan tetangga kost begini? Ia beranjak begitu saja kembali kerumah lalu bergegas memilih pakaian dan membersihkan diri. Ya, itu semua ia lakukan diluar kesadarannya. White sedang tidak sadar hingga menuruti Eaden, yang kini membawanya entah kemana.
“Pakai sabuk pengamannya. Aku tidak mau berurusan dengan papa.”
White ingat, pria ini pernah bilang jika papanya seorang polisi.
“Memangnya, papamu akan memberi surat tilang juga kepada putranya sendiri?”
Eaden mengangguk membenarkan. “Tentu. Kata papa, aku ini bengal, jadi tidak pantas diberi ampun.”
White menertawakan kalimat Eaden yang terdengar lucu. Benar sih, penampilan Eaden memang tidak Serapi, dan terhormat seperti Vero. Tapi setidaknya, berada di samping Eaden membuat White perlahan-lahan merasa nyaman.
“Kata papa juga, aku ini bahaya lho, E.”
Step dua, buat dia nyaman berada di sekitarmu. Jadilah teman dekat yang dia butuhkan.
“So, berhati-hatilah denganku, E.”[]
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....