
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Sejak menjalin hubungan dengan Kelly, Vero tidak pernah sekalipun menyakiti, atau berbuat curang seperti menjalin hubungan dengan wanita lain di belakang wanita itu. Vero benar-benar menjaga dan menyayangi Kelly dengan tulus.
Tapi, semenjak Kelly membunuh calon bayinya tanpa izin, Vero berubah 180 derajat. Dia jadi hilang rasa, bahkan tidak bisa memaafkan kesalahan Kelly meskipun rasa cintanya kepada wanita itu masih begitu besar. Vero tidak pernah menyinggung apapun jika berhubungan dengan Kelly didepan ayahnya.
Dan kini, semenjak mengenal White di Kasino, Vero seakan mendapat dan menemukan hidup baru. Setelah terpuruk karena kehilangan darah dagingnya dari Kelly, Vero menemukan cara untuk menyembuhkan luka di hatinya itu. White, gadis yang kerap ia panggil dengan nama E itu berhasil menarik minatnya untuk kembali mencoba makna cinta yang sempat tumbang, karam karena kebencian.
Namun, apa yang dilihatnya kali ini begitu menyakiti satu sisi benak laki-laki pada dirinya. Ia melihat Eaden—sahabat yang kini menjadi musuh—sedang memeluk gadis yang menjadi harapan besar hatinya. Vero meradang, ia bahkan ingin meluapkan segala emosi yang memenuhi raganya. Ia ingin menghantam laki-laki yang membawa White dalam pelukannya itu dengan pukulan bertubi-tubi agar Eaden sadar dan tau, jika White adalah miliknya.
“Tidak! Aku yang akan menjaganya!”
Eaden dan White menoleh bersamaan. Keduanya terkejut akan kehadiran Vero yang tanpa mereka duga, sudah berada di sini, tanpa di minta. Apalagi Eaden, dia terkejut bukan main ketika Vero bisa menemukan keberadaan White. Padahal, dia sudah memilih rumah sakit yang paling sulit ditemukan, meskipun pada pencarian map di ponsel sekalipun. Ia bahkan melarang White untuk memberitahu dimana papanya dirawat.
Tatapan mata Vero sempat berlabuh dan berlabuh sebentar di manik White, hingga gadis itu memejam perih dan kembali ke dalam rengkuhan Eaden, hati Vero semakin nyeri. Ia tak mampu berjalan mendekat karena sosok yang kini mendekap White, pria yang saat ini menatapnya dengan sorot benci yang teramat sangat. Eaden yang telah ia sakiti dulu, dan membencinya hingga sekarang.
Eaden sendiri tidak mengerti mengapa mereka bisa bertemu dalam situasi seperti saat ini. Seolah takdir sedang bermain-main dengannya, ingin mengoloknya, dan ingin menyaksikan sekali lagi Vero mendapatkan segala yang ia miliki.
White, gadis dalam dekapannya itu harus ia dapatkan agar Vero putus asa pada hidupnya sendiri. Lalu, dia akan bahagia melihat Vero menderita, memohon ampun, atau memilih mengakhiri hidupnya sendiri karena merasa tidak ada lagi harapan untuknya hidup. Ya, setidaknya itu adalah mimpi Eaden, harapan Eaden, bahkan sumpah yang ingin ia wujudkan apapun caranya. Termasuk mengorbankan White yang sudah masuk kedalam jerat perangkap permainannya.
Eaden tersenyum disudut bibir, sejenak merasa bangga karena White lebih memilihnya. Dan menyaksikan Vero meremat dan mengepalkan telapak tangannya, adalah hiburan tersendiri bagi Eaden.
“Oh, hai, Ve.” sapa Eaden basa-basi, yang bisa diartikan oleh Vero sebagai sebuah cibiran untuknya.
White mengangkat sedikit kepalanya hingga kedua maniknya muncul dari balik Hoodie hitam yang dipakai Eaden. “Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu, teman?” dia harus menjadi peran utamanya. Ya, Eaden berambisi untuk menjadi pemeran utama dalam skenario yang dia buat.
Alih-alih menjawab sapaan Eaden yang menurutnya tidak penting, Vero menatap sendu pada sosok White yang juga sedang menatapnya lama. “White, kemarilah.” pinta Vero, yang tidak mendapatkan apapun. White tetap diam dalam pelukan Eaden.
“Untuk apa? Apa kalian memiliki hubungan spesial?”
“Apa peduli mu, Ed?” tanya Vero penuh dengan nada sarkastik. Dia tidak ingin berlama-lama atau paling buruknya beradu fisik dengan Eaden dirumah sakit lantaran memperebutkan seorang wanita.
“Wow, sensi sekali?” ucap Eaden menantang. “Kamu masih seperti dulu, Ve. Dimana kekasihmu yang sangat kamu cintai itu?”
White mendongakkan wajah demi menatap Eaden. Dari tempatnya berdiri, Vero bisa melihat dengan jelas bagaimana tatapan White seperti sedang terluka dan juga menerka ketika mendengar pertanyaan yang muncul dari bibir Eaden.
“Sudah aku katakan, apa peduli mu tentang hidupku. Sekarang lepaskan pelukanmu dan biarkan dia pulang bersamaku.”
Eaden mengarahkan sorot matanya pada wajah ayu White yang sedang tergenang airmata. “Kamu ingin pulang bersamanya?”
“E, ayo pulang bersamaku.” pinta Vero lembut. Dia tidak tau mengapa White terlihat begitu kacau dan datang kerumah sakit ini. Vero sama sekali tidak tau duduk permasalahannya. Vero tidak tau jika Frederick sedang dalam situasi buruk. Yang ia tau hanya White yang sedang berada dalam dekapan Eaden yang membuat dirinya menutup mata dari semua kenyataan. Hingga White sekali lagi menggeleng padanya, dan Vero mendapati Eaden tersenyum puas, membuat benak Vero pias. “E—”
“Aku bilang tidak!!” sentak White yang semakin membuat Vero terbelalak. Sepasang mata indah milik White kembali berair. “Kenapa kamu memaksa sekali?”
“E, kamu sudah berjanji untuk tidak menolak saat aku mengajakmu kembali. Ayo, kita pulang.” Vero tetap kukuh dengan tujuannya.
“Jangan pernah memaksanya untuk selalu ikut bersamamu. Dia punya kehidupan yang—”
Kalimat Eaden menggantung karena Vero tanpa segan melayangkan bogem mentah di wajah Eaden hingga laki-laki itu tersungkur dilantai. White yang terkejut membolakan kedua mata dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. Apa laki-laki selalu menggunakan cara itu untuk menyelesaikan sebuah masalah?
Terdengar decakan kesal dari bibir Eaden. Presensi itu bangkit dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah, lalu berjalan menuju Vero untuk membalas semua rasa sakit yang dipendamnya selama ini. Eaden ingin menghantam wajah tampan laki-laki yang sudah mengacaukan semua harapan dan masa depan yang ia susun dengan indah. Ia ingin membuat mantan temannya itu jera, atau bahkan kehilangan nyawa jika perlu. Ini kesempatan tanpa melibatkan White, dan dia tidak akan menyakiti gadis itu semakin jauh.
“Sial!” umpat Eaden tak menyembunyikan kemarahan pada raut wajahnya. Dia sudah bersiap melayangkan pukulan di rahang Vero, namun punggung sempit White berhasil membuatnya berhenti telak. White membelakangi, menghadap Vero dan berkata dengan nada rendah. “Papa sedang berjuang didalam sana,” tutur White pilu sambil menunjuk kearah ruangan ICU yang terlihat dipenuhi kepanikan. tatapan matanya berubah kuyu, dan nada suaranya berubah sendu. “Tapi kenapa kamu datang ke sini hanya untuk unjuk keegoisan.”
Vero menggeleng lemah. Dia tidak tau.
“Sebaiknya kamu kembali. Aku tidak akan lari. Aku akan kembali setelah melihat papa baik-baik saja. Aku janji. Jadi aku mohon, jangan membuat keributan”
“Maaf.” sergah Vero menyesal.
Hingga derit pintu terbuka menarik atensi ketiganya. Seorang dokter muncul dari balik pintu dengan wajah penuh sesal, melepas topi hijaunya dengan gerakan putus asa, lantas berkata, “Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan tuan Frederick.” []
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...