
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Pagi ini, entah seberapa berat beban yang akan menghadangnya, White harus tetap menjalani kehidupannya, menghadapi setiap hadiah yang takdir berikan kepada hidupnya.
White mengirim pesan kepada Vero, jika dia pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu yang penting. Vero sempat menyuruh White untuk menggunakan salah satu mobil yang terparkir di garasi, tapi White menolak. Ia lebih nyaman menggunakan kendaraan umum atau memesan Uber. Tapi untuk pagi ini, dia memilih bus untuk mengantarnya ke supermarket yang letaknya sedikit memakan waktu jika berangkat dari rumah Vero.
Sepanjang menapaki pedestrian area, White tiba-tiba dikejutkan oleh ponselnya yang bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tanpa nama. Entah mengapa, akhir-akhir ini banyak sekali nomor yang tidak ia kenali. Dengan wajah sedikit geram, White menggeser tombol hijau dan menunggu seseorang berbicara di seberang telepon.
“Hallo, E?”
White mengerutkan alis. E? Siapa yang memanggilnya E?
“Ini aku, Eaden.”
Perasaan gusar dan khawatir White menguar begitu saja setelah mengetahui siapa yang menghubunginya. Eaden bukanlah orang yang membuatnya terancam, ia malah merasa nyaman didekat pria itu.
“Oh, kamu. Aku kira orang iseng.” sahut White sedikit berkelakar.
“Kamu masih di rumahmu?”
White terbelalak. Dia ingat jika memiliki janji pagi ini dengan Eaden. “Shi*t!!” umpatnya tanpa sensor.
“Kenapa?”
“Tidak. Aku sedang di luar. Aku lupa ada janji denganmu, tunggu aku disana. Aku akan segera datang.”
White mengakhiri panggilan, dan memutar haluan untuk kembali ke rumah kost yang semalam ia tinggalkan, demi bertemu Eaden.
***
Hari berlalu begitu saja. Begitu cepat hingga Vero yang kini sudah hampir sampai di area kompleks rumah, harus kembali memasang wajah tidak mencurigakan di depan White. Ia masih butuh informasi untuk menyimpulkan hubungan White dengan Eaden. Dia harus memastikan, bukan hanya menduga.
Lantas, mobil merah yang ia kendarai sudah hampir mencapai pelataran rumah. Namun Vero sedikit dikejutkan oleh kehadiran mobil lain didepan rumahnya. Mobil hitam setinggi pinggang orang dewasa, Vero tau siapa pemiliknya.
Ia memutar kemudi memasuki pelataran, memarkir mobil di garasi dan turun dari sana sembari menatap lekat pada sosok yang sedang duduk di teras rumahnya sembari sibuk bermain ponsel.
Kelly. Ada angin apa wanita itu tiba-tiba muncul setelah hampir beberapa bulan hilang bak ditelan bumi.
Mendengar suara ketukan pantofel yang beradu dengan lantai marmer rumah, Kelly mengangkat pandangan dari layar ponsel menuju presensi Vero yang terlihat menatap nanar. Ia yakin Vero masih belum bisa memaafkan kesalahannya, tapi masa bodoh, Kelly hanya ingin datang dan memastikan sesuatu.
“Hai, Ve. Baru pulang kerja.”
Vero menyampirkan jas hitamnya di lengan kiri, lantas menekan bel rumah satu kali.
“Eumm. Ada perlu apa datang kesini, Kel?” tanya Vero masih enggan melirik pada Kelly yang kini melipat kedua lengannya didepan dada.
“Hanya ingin memastikan sesuatu.”
Vero terpancing. Ia menoleh sejenak, namun tetap, tatapannya nanar dan tanpa ekspresi sama sekali yang tergambar pada bingkai wajahnya yang sempurna.
“Memastikan sesuatu apa maksudmu?”
Kelly tergelak tawa. Vero masih seperti Vero nya yang dulu. Dingin, akan tetapi jika sudah mengenalnya, dia berubah menjadi pribadi yang manis, hangat, dan lembut.
“Apa kamu masih membenciku karena insiden itu?” tanya Kelly tiba-tiba, membuat Vero yang hampir menekan tombol bel rumah untuk kedua kalinya harus terhenti.
“Jadi, kamu ingin memastikan itu?”
“Bukan hanya itu.” sahut Kelly cepat, memangkas jaraknya dengan Vero, lalu meraih satu sisi lengan berotot Vero dan mengusapnya seduktif. “By the way, mengapa menekan bel? Bukankah kamu tinggal sendirian? Atau, kamu sekarang memperkerjakan asisten rumah tangga?”
Vero hanya diam tak menjawab lantaran emosinya mulai naik. Karena kehadiran Kelly, dan juga White yang tak kunjung membuka pintu rumah.
“Sial! Apa dia belum pulang?” umpat Vero sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi White. Namun kemarahannya semakin memuncak karena nomor gadis itu sedang berada di luar jangkauan. “Fu*ck!!” umpatnya lebih keras dari sebelumnya, yang hanya mendapat tatapan lurus dari Kelly. Selama mengenal Vero, Kelly tidak pernah melihat Vero segelisah ini. Vero selalu tenang dan tidak pernah berkata kasar apalagi mengumpat seperti yang baru saja ia lihat dan dengar.
“Siapa yang kamu hubungi, Ve?”
“Bukan urusanmu!” sahut Vero tajam menukik, Kelly nyaris menjerit karena terkejut. Vero nya ternyata berubah jauh. Dendam telah mengubah pribadi pria itu menjadi sosok yang mengerikan.
“Ve,”
“Ve,” panggil Kelly sekali lagi, dengan nada rendah dan sangat lembut. Ia lantas menarik lengan Vero yang sama sekali tidak menggubrisnya, lalu membuat sentakan kuat hingga tubuh kekar Vero berbalik arah menghadap dan manik mata mereka bertemu. “Kenapa kamu berubah seperti ini, huh?”
Vero tersenyum kecut. “Tanyakan pada dirimu sendiri. Mengapa aku sampai menjadi sosok yang menakutkan seperti ini.” tukasnya tajam, mengibaskan lengan Kelly lalu kembali mengambil langkah menuju kamar tamu. Mengecek ruangan yang ternyata memang kosong.
“Kamu membawanya pulang?!”
Langkah kaki jenjang Vero terhenti untuk kesekian kali karena ucapan Kelly yang lagi-lagi menarik gelegak amarah di yang mengalir pada setiap pembulu darah Vero.
“Wanita Kasino itu, kamu membawanya pulang dan tinggal bersama?”
Vero tidak menjawab. Dia hanya tidak ingin semakin terbawa emosi dan berakhir memperlakukan Kelly dengan tidak baik. Tapi, agaknya wanita itu tidak menyerah. Dia terus saja bertanya akan hal-hal yang membuat Vero tidak bisa lagi membendung amarah dan juga... rasa rindunya kepada Kelly.
Dia menyambar tubuh kecil itu, ******* bibirnya agar tidak lagi mengatakan sesuatu yang membuatnya kesal. Dan Kelly pun tidak tinggal diam. Dia juga masih menginginkan sentuhan Vero. Ia tidak bisa berbohong jika satu sisi dirinya terpancing untuk melakukan sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan, Se*ks.
Dengan gerakan buru-buru, Kelly membuka satu persatu kancing kemeja Vero, sedangkan Vero sendiri, mendorong tubuh Kelly menuju salah satu sofa terdekat yang ada diruang tengah, tanpa memutus benang saliva keduanya.
Setelah itu, Kelly dengan berani mengusap pangkal paha Vero yang ternyata perlahan-lahan terbakar gairah. hingga mereka berdua mendarat diatas sofa empuk untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh.
Sedangkan di sana, White yang berada di depan unit rumah Vero, memicing melihat mobil mewah yang terparkir didepan rumah pak pejabat yang membuatnya jengah setengah mati. Kemudian maniknya berputar menuju pintu rumah yang terbuka. Tidak biasanya rumah Vero terbuka seperti itu, hingga sebuah asumsi negatif muncul dan sepasang kaki berbalut jeans putih dan sepatu kets, membawa White berlari cepat untuk segera mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Namun, sebuah pemandangan mengejutkan menyapa penglihatan White ketika ia memasuki bagian tengah rumah. Disana, dia melihat dengan mata kepalanya, dua insan sedang bergumul panas diatas sofa. White menutup mulut tidak percaya ketika melihat sosok yang sudah hampir telanjang disana adalah Vero. Mungkin pemandangan itu tidak ada apa-apanya jika orang lain yang melihat, tapi ini adalah pertama kalinya White melihat hal seperti ini.
Ia ingin lari sebelum Vero mengangkat kepala dan menangkap basah dirinya yang sedang terpaku disana. Akan tetapi nahas, sesuatu yang ingin ia hindari terlanjur terjadi. Vero melihat keberadaan White, dan bangkit seketika dari sana. Meraih kemeja dan celananya dengan serampangan, lalu berlari kepada White yang sudah berdiri diluar hampir meninggalkan rumah dengan wajah memerah.
“Kenapa baru datang?” tanya Vero seolah-olah tidak terjadi apapun. Berbeda dengan White yang ingin sekali menghindari laki-laki itu.
“Ma-maaf menganggu. Sebaiknya aku pergi dulu. Nanti aku kembali lagi.”
“Tidak. Cepat masuk.” titah Vero tegas sembari meraih pergelangan tangan White dan menariknya masuk kedalam. White yang masih merasa tercengang, kini semakin mual ketika melihat wanita cantik yang tadi sempat membuat Vero hampir tidak berbusana, berdiri di balik punggung Vero dan menatap nyalang ke arahnya. “Masuk ke kamarmu. Kita bicara setelah ini.”
White tersenyum masam. Menatap Vero dan wanita cantik di balik punggung lebar laki-laki itu secara bergantian. “Memangnya apa yang perlu kita bicarakan? Tentang apa yang baru saja aku lihat?” White tertawa sedikit keras. “Tuan Vero, tidak perlu ada pembicaraan apapun. Aku juga tidak membutuhkan penjelasan apapun dari anda. Silahkan anda melakukan semua yang anda inginkan, sesuka anda. Karena ini adalah rumah anda.”
Ada rasa kesal yang tertangkap oleh Kelly dari nada bicara White.
“E...” panggil Vero memelas.
“Kita tidak ada hubungan apapun yang membuat hal ini perlu dijelaskan. Selamat malam.”
White berlalu, melewati dua presensi yang memaku di tempat masing-masing. Kelly menatap punggung lebar Vero yang terlihat layu. Pria itu sedang kecewa.
“Ve, maaf sudah membuat kesalah pahaman antara kalian berdua.”
“Tidak perlu meminta maaf. Sudah malam, pulanglah.” jawab Vero sambil membalik badan, berjalan melewati Kelly begitu saja untuk memasuki rumah.
“Paman Rottey harus tau, jika Vero kembali membawa gadis itu pulang.”[]
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...
Bonus Visual Kelly.