WHITE

WHITE
Terjawab.



...Hai, apa kabar hari ini?...


...Semoga kalian selalu dalam lindungan-Nya. Jangan lupa selalu berikan dukungan untuk White ya,...


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Berbekal nekad, White datang menemui Eaden. Ia tidak ingin berprasangka buruk sebelum mendapatkan informasi yang lebih akurat. Ibunya memberitahu karena mungkin, dia menebak tentang keterlibatan suami barunya dalam pekerjaan yang di berikan Eaden yang tentu saja berurusan serius dengan sistem hukum negara. Begitu juga tentang jual beli manusia dan juga wanita, White baru mendengarnya jika Eaden termasuk dari golongan orang menakutkan seperti itu, tapi sekali lagi, White perlu membuktikannya sendiri.


Langkahnya terhenti di balik pagar rumah Eaden ketika melihat segerombolan orang yang masuk kedalam sebuah mobil Van dengan beberapa peti yang sepertinya berat dan terbuat dari besi. White menatap dari balik pagar, dan mencoba mencerna situasi. Beberapa saat kemudian, Eaden muncul dengan pakaiannya yang selalu nyentrik dengan Hoodie yang sepertinya memang menjadi ciri khasnya.


Apa itu sebuah cara untuk menyembunyikan identitasnya?


Tiba-tiba pikiran itu berkelebat di kepala White. Mobil Van mewah berwarna gelap itu melintas, melewatinya begitu saja, namun ada satu orang yang tengah mendapati keberadaannya. Wajahnya familier dan White yakin pernah melihatnya tapi entah dimana.


Setelah itu, White merogoh tas selempangnya dan mengirim pesan untuk Eaden. Aku ada didepan rumahmu, tapi kamu pergi bersama orang-orang. Jadi, apa aku boleh masuk?


Tak butuh waktu lama, Eaden membalas. Masuk saja, password rumah masih sama.


Tidak ada yang mencurigakan, Eaden masih tetap sama seperti Eaden yang ia kenal selama ini. White menggelengkan kepala dan berjalan masuk melewati pintu gerbang yang kali ini dijaga dua orang bertubuh besar yang terlihat menyapanya dengan bungkukan tubuh dengan sudut lima belas derajat.


“Tuan Eaden sedang ada pekerjaan penting, nona.” ucap salah seorang pria yang berkepala plontos dan berwajah sangar, namun berbicara sopan kepada dirinya yang bahkan baru pertama kali ini melihat dan bertatap muka.


“Ah, iya. Aku sudah mengirim pesan padanya. Dia menyuruhku masuk kedalam.” jawab White sambil menunjukkan isi pesan berbalas yang baru saja ia lakukan bersama Eaden ke hadapan wajah penjaga itu.


Pria itu mengernyit. Karena setaunya, boss nya itu tidak pernah membagi tau pin rumahnya kepada siapapun. Bahkan ayah kandungnya sendiri sekalipun.


“Kalau begitu, silahkan nona menunggu tuan Eaden didalam saja.”


White mengangguk dan kembali mengayunkan kedua kakinya ke depan pintu rumah Eaden yang sudah dapat ia tebak, sangat amat aman dan tidak mudah dijangkau orang. White tiba-tiba mengingat sesuatu, tentang pembicaraannya dengan Vero dua malam lalu. Tapi, ia mencoba mengesampingkan semuanya, lalu kembali merogoh ponselnya.


Kamu pulang jam berapa?


Mungkin Eaden adalah orang yang tidak bisa lepas dari persegi pintar, oleh sebab itu White dengan cepat mendapatkan jawaban dari pesannya yang ia kirim—pikirnya. Aku pergi keluar agak lama. Nyamankan saja dirimu dirumah. Jika bosan, kamu bisa memakai PS5 yang baru seminggu lalu aku beli. Masih baru, dan game nya seru.


Senyuman mendadak terbit di bibir White karena Eaden seperti seorang salesman yang sedang mempromosikan sebuah produk playstation keluaran terbaru agar seseorang tertarik untuk membeli.


“Oh, baiklah. Ayo masuk dan mencari makanan ringan, baby.” tutur White penuh kelakar sbip mengusap perutnya.


Dan wow, mata White hampir melompat keluar ketika melihat seorang gadis berpenampilan sedikit berantakan dengan rambut dicepol tinggi dengan helaian yang turun beberapa, mengenakan kaos Eaden yang kebesaran di badannya, melipat kedua kaki diatas sofa yang ia duduki sembari memakan semangkuk besar sereal di atas pangkuan, ketika White sudah berhasil masuk ke dalam.


Tidak kalah terkejut dari White, gadis itu juga membolakan mata atas kehadiran orang lain dirumah ini. “Siapa kamu?” tanyanya ketus dengan wajah serius. “Kekasih Eaden?”


White mengerutkan kening melihat sikap gadis tidak memiliki sopan santun ini. Buru-buru White mengambil ponsel dan sekali lagi mengirim pesan.


Ada orang di rumahmu. Siapa dia?


Cukup lama ponselnya diam, White masih melihat lurus pada gadis cantik yang kini tanpa sungkan berlari ke area counter dapur dan membuka lemari pendingin, lalu mengambil sekotak besar jus dan membawanya kembali diruang tengah dimana televisi sedang menyala dan semangkuk sereal menantinya.


“Duduk saja dulu. Jangan berdiri dan melihatku seperti maling begitu. Jika kamu kekasih Eaden, kamu tidak perlu cemburu padaku. Aku—”


Cerocos gadis muda itu terhenti ketika White berseru cukup keras dengan ponselnya. “Halo.”


“Dia adik tiri ku. Namanya Nathalie.”


Eaden terkekeh diseberang telepon, sedangkan yang bersangkutan yang disebut Tarzan sudah keranjingan tidak terima. Matanya membola sempurna dan berdiri memangkas jarak dengan White.


“Ya sudah. Aku ada urusan penting dan jangan mengirim pesan lagi karena aku tidak akan membalas dua jam kedepan. Jadi bersenang-senanglah dengan primata yang baru lepas dari hutan dirumahku. Bye.”


Setelah panggilan berakhir, gadis bernama Nathalie itu berujar ketus. “Hey, kenapa menyebutku Tarzan padahal kenal saja tidak?!” ucap Nathalie didepan wajah White penuh kemarahan dan rasa tidak terima. “Eaden yang telepon? Padahal dia sendiri yang bilang jangan mengganggunya, tapi kenapa dia malah menelepon mu saat melakukan transaksi penting?” Natha menajamkan mata, menatap White dengan tatapan menelisik. “Kamu pasti sangat spesial buat Eaden!”


Natha memutar tubuh, kembali membanting dirinya diatas sofa. “Padahal aku adiknya, kenapa dia membeda-bedakan dan menganggap orang lain lebih penting sih!” rajuknya sambil menghentak lantai tanpa memikirkan White yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Lalu, gadis itu kembali meraih mangkuk serealnya dan memasukkan ke dalam mulut hingga penuh. “Aku tunggu sampai kamu datang. Aku remukkan tulangnya tanpa sisa.”


White ingin menyemburkan tawa, namun ia tahan mati-matian. Gadis bernama Nathalie ini polos dan lucu. Lihat saja, badannya kecil dan ingin meremukkan Eaden yang bertubuh kekar. Mustahil.


Dulu, White pernah berkata kepada mamanya jika ingin memiliki seorang adik perempuan agar dia punya teman bermain. Dia selalu menagih mamanya setiap malam ketika Jessy membacakan dongeng pengantar tidur untuknya. Tapi Jessy hanya berjanji, janji, dan janji, hingga White beranjak remaja dan lupa dengan keinginannya. Mengingat hal itu, White ingin sekali tertawa konyol didepan gadis berusia belasan tahun didepannya ini. Gadis itu cantik, wajahnya imut, dan memiliki sedikit kemiripan dengan Eaden. Kata Eaden itu adik tirinya bukan? Tidak menutup kemungkinan gen sang ayah yang mendominasi.


“Oy nenek sihir. Kenapa kamu tidak bisa tersenyum?”


White sampai terkejut ketika dirinya sudah mendapatkan julukan baru sekarang. Nenek sihir? Bukankah berlebihan? Jadi, beruntung saat itu mamanya tidak mengabulkan permintaan dan memberinya adik, atau jika tidak, adiknya akan memanggil dirinya dengan sebutan yang sama.


“Apa maksudmu?”


“Bukankah impas? Kamu menyebutku Tarzan, dan aku memanggilmu nenek sihir. Impas.” cerocosnya tak kenal lelah. Sumpah, White sampai lelah mendengar suara yang tidak kunjung berhenti bicara itu.


“Kenapa Eaden suka dengan wanita pelit senyum sepertimu?”


“Aku bukan—”


“Ah, mungkin dia tertantang untuk menjinakkan seorang nenek sihir.”


Ah, bisakah White mengikat bibir gadis itu dengan karet gelang agar tidak terus bercerocos seperti bebek?


White menghela nafas dan berharap anaknya kelak tidak seperti gadis ini jika memang berjenis kelamin perempuan. Tiba-tiba White terpaku sendiri. Sejak kapan dia bisa menerima anak dalam kandungannya? God, sepertinya dia harus benar-benar bertemu Rottey dan mengatakan yang sebenarnya.


Kakinya beranjak menuju counter dapur dan mencari gelas untuk mengambil minuman dingin.


“Aku kira, kamu salah satu wanita yang sering disewa Eaden. Ternyata posisimu lebih dari itu ya?”


White meremat gelas, ia bahkan hampir tersedak oleh minumannya sendiri atas perkataan Natha. Dalam benak dia bertanya, Mengapa kalimat kasar itu muncul dari bibir gadis seusia Nathalie? Apa dia memang tau semua tentang Eaden? Jika iya, White harus mengorek banyak informasi dari dia. Ia lantas berjalan mendekat pada Nathalie dan duduk di kursi samping yang tidak begitu jauh jaraknya.


“Memangnya kenapa? Apa kakakmu sering membawa wanita pulang?”


“Entahlah. Aku tidak tau.” jawab Natha enteng sembari mengedikkan bahu acuh.


“Kamu tau pekerjaan kakakmu?”


Nathalie menoleh kasar. Dia bahkan mendengus keras seolah lelah karena pertanyaan primitif yang diberikan White.


“Jadi, kamu tidak tau pekerjaan Eaden?”


White hanya diam dan menatap lurus ke arah Nathalie. Berharap keinginannya untuk tau tentang seorang Eaden terpenuhi.


Diamnya White menjadi jawaban untuk Nathalie. “Aku harap kamu tidak terkejut dengan apa yang akan kau katakan.”


White terperangah ketika menunggu informasi yang akan disampaikan Nathalie. Ia harus mendengarnya dengan cermat, tanpa satu pun yang terlewat.


“Kakak tiriku itu, seorang kriminal. Dia juga menjadi penjual senjata api, juga sering menjadi perantara untuk laki-laki gila nafsu yang menginginkan wanita!” []