
...Sudahkah kalian menepati janji hari ini?...
...White Update nih,...
...Jangan lupa beri dukungan untuk cerita ini ya......
...Happy reading pembaca White tercintaaah.... ❤️...
...•...
WHITE by: VizcaVida
Setelah berhasil membuat Kelly bergetar ketakutan, Eaden berencana menemui White dan memintanya untuk pindah kerumahnya, sekalian memberi tau kepada wanita itu akan sebuah rencana yang bisa membantu mengangkat beban berat di pundaknya nanti.
Begitu pintu rumah terbuka, Nathalie terlihat sedang sibuk dengan console stick di PS5 yang ia beli beberapa waktu lalu. Sebenarnya Eaden tidak keberatan dengan keberadaan Nathalie, namun lelaki itu takut jika sikap buruknya akan berpengaruh kepada sang adik. Buktinya, beberapa hari yang lalu, gadis usia belasan tahun itu berani menodong White dengan senjata api.
“Pulang? Aku pikir sudah lupa jalan pulang.”
“Heh, anak kecil. Jangan ngomong sembarangan. Atau aku akan mengirim mu ke Antartika sana, biar bibirmu yang suka bicara kasar itu jadi beku.”
Bukannya takut, gadis itu malah tersenyum geli melihat wajah kakak tirinya yang sedang mengancamnya. “Ed, kamu pikir aku takut? Kamu kirim ke kutub Utara pun aku sanggup bertahan hidup disana.”
Eaden mendorong kepala Nathalie hingga terantuk bahu kursi, dan gadis itu berteriak kesal karena karakter game yang sedang ia perankan, kalah. “Awas kamu Ed....!” jerit si bungsu mengancam karena geram. Sudah menghabiskan waktu lima jam untuk bermain game ini, namun ia harus kalah hanya karena Eaden datang dan menoyor kepalanya. “Sh*IT!!” umpatnya keras, yang berhasil membuat Josh langsung menoleh dan menggelengkan kepala tidak percaya ketika hendak pergi ke gudang untuk mengecek stok senjata pesanan klien.
Eaden yang sudah masuk kedalam kamar dan menguncinya, bersiap menyusun strategi yang akan ia mainkan di kasino. Tapi, sebelum itu, dia harus meminta dan memberitahu White agar wanita itu mau bekerja sama dengannya. Tidak ada pertumpahan darah, jika Rottey bersedia menuruti keinginannya. Tapi, jangan berharap banyak jika laki-laki tua itu berulah dan banyak tingkah, Eaden tidak akan segan melepaskan pelatuk dan menggiring peluru menembus dada si tua sia*lan itu.
Eaden menunggu White menerima panggilan darinya. Dia menaikkan kedua kakinya di atas meja, menggerakkan kursi putarnya ke kiri dan ke kanan sembari menyusun rencana yang harus matang dalam hitungan hari, lantas meminta White untuk bersedia membantunya.
“Halo,”
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, E.”
“Eum. Katakan saja.”
“Bukan ditelepon, E. Nggak menutup kemungkinan akan ada yang menyadap pembicaraan kita, atau mencari-cari rekaman untuk—”
“Baiklah. Katakan dimana tempatnya.”
“Aku akan menjemputmu di depan pintu masuk kompleks. Temui aku disana, besok pagi.”
Semalaman , Eaden tidak bisa memejam dengan tenang. Otaknya masih bejibaku memikirkan bagaimana cara menyingkirkan Rottey dari muka bumi. Ia ingin membalas semua perbuatan Rottey yang biadab kepada White.
“Haaah...” dengusnya lelah. Eaden memang tipikal orang yang tidak akan berhenti berfikir jika belum menemukan solusi untuk masalah yang sedang membebat dirinya. Dia bahkan rela menanggalkan jam tidurnya jika diperlukan. Namun masalah kali ini begitu rumit. Semua melibatkan perasaan. White yang sedang mengandung, Rottey yang menjadi sorotan masyarakat akan kebaikannya, Kelly yang pernah memikat hatinya, dan juga Vero, yang pernah menjadi sahabatnya. Semua yang terlibat adalah orang yang pernah membuatnya melibatkan perasaan.
Lelah berfikir, Eaden kembali berdiri. Dia berniat keluar kamar untuk bermain PS5 nya bersama Nathalie. Setelah pergi sebentar ke dapur untuk meneguk minuman, ia segera bergabung dengan Nathalie di sofa ruang tengah. Gadis itu masih sibuk bermain PS 5, terlihat tidak lelah sama sekali.
Eaden membanting tubuhnya di sisi Nathalie, membuat gadis itu menoleh sekilas dengan tatapan sengit. “Ngapain kesini. Gara-gara kamu, aku kalah tadi.”
Gadis ini terlalu to the point. Eaden heran, seperti apa dan bagaimana cara sang mama tiri mengasuh nya dulu. “Ngomongnya yang baik. Aku ini kakakmu, lho.” ketus Eaden mencoba tegas, meskipun sebenarnya dia gemas melihat ekspresi Natha yang sedang berjuang melawan zombie.
“Kakak tapi nggak pernah nengok adiknya. Malahan, adiknya yang datang nengok si kakak. Apa dia bisa disebut seorang kakak?”
Eaden terdiam. Ucapan Natha tidak ada yang salah. Jika dulu Eaden sangat marah saat Nathalie lahir kedunia karena merasa gadis kecil itu sudah berhasil merebut semua kebahagiaannya, sekarang dia malah bersyukur, karena gadis itu sangat menggemaskan. Dan satu lagi, mereka memiliki watak yang hampir sama.
“Ya bagaimanapun, aku jauh lebih tua dari pada kamu. Jadi, kamu wajib menghormati orang yang lebih tua.” jawab Eaden yang sama sekali tidak digubris oleh Si adik. Kemudian dia bangkit dan mengambil console stick lain yang ada diatas meja, lantas bergabung dalam permainan yang sedang di tekuni Nathalie.
“I don't care.”
Eaden masuk ke permainan, dan Nathalie memanyunkan bibir sebal. “Jangan kacauin usaha aku lho, ya?”
Eaden tersenyum lantas mulai menembak satu persatu zombie tanpa kesulitan. Berbeda dengan Eaden yang terlihat pro, Nathalie malah terlihat seperti amatiran yang—memang—amatir.
Keduanya sibuk menatap layar televisi sebesar hampir separuh tembok ruangan itu dengan ekspresi serius. Hingga tiba-tiba terbesit ide untuk mengajak Nathalie bicara dan meminta pendapat jujur dari gadis belasan tahun itu. Siapa tau bisa jadi pertimbangan 'kan?
“Tuh, musuh. Masa dibiarin lepas gitu aja?” gumam Eaden membuat Nathalie berdecak sebal.
“Kalau aku kalah, terus mati, kamu bakalan nangis nggak?”
Tau apa gadis itu tentang ucapan Eaden?
“Ya udah. Kalah, ya kalah aja.”
“Nangis nggak?” tanya Eaden masih memaksa hingga membuat gadis itu frustasi dengan menghembuskan nafasnya yang kelewat besar.
Nathalie mendengus kesal. Benar-benar kesal pada level maksimal. Kakaknya ini kenapa sih? Aneh deh.
“Ya udah. Karena kamu maksa, aku bakalan nangis. Nangis bahagia karena kamu kalah dan mati.”
Eaden tersenyum mendengar jawaban itu. Ia lantas meraih puncak kepala Nathalie dan mengusapnya penuh sayang. Semoga kamu nggak menyesal.
“Ya udah kalau gitu. Mulai hari ini, puas-puasin main dan lihat wajah kakak.”
“No, I won't!”
“Nath,”
“You Jer*k!! Aku jadi kalah tuh!” kesal Nathalie karena Eaden terus saja mengganggunya, lalu membuat dia kalah lagi. Ia menunjuk-nunjuk layar televisi dengan wajah cemberut penuh amarah. “Sebenernya, kamu mau ngomong apa sih, Ed?!”
“Janji sama aku, kamu jadi anak baik buat papa kita, dan juga mama mu.”
“Kenapa memangnya?” tanya Nathalie penasaran kenapa kakaknya ini tiba-tiba membahas hal seperti ini.
“Ya, kalau kamu baik, orang lain akan baik padamu.”
“Tau.”
“Dan—” Eaden menjeda perkataannya, membiarkan tertahan sebentar di ujung lidah, kemudian menarik nafas berat dan tersenyum sambil mencubit gemas pipi Nathalie. “—jangan bilang papa aku pernah ngomong seperti ini ke kamu.”
“Hey, kamu lagi aneh deh Ed. Memangnya kamu mau kemana?”
“Nggak kemana-mana sih. Cuma ngasih tau kamu saja. Jangan ngomong aneh-aneh di depan papa tentang aku. Atau kamu akan disebut pembohong.”
“Dan juga, kalau aku pergi jauh dan kemungkinan nggak kembali,”
“Ed. Jangan ngomong aneh-aneh. Aku takut.” sahut Nathalie sambil menggosok kedua lengannya heboh.
“Tolong jaga papa untukku.” []
Mampir juga di cerita Vi's yang lain juga. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....