
...Hai Reader baik hati semua......
...Update nih,...
...jangan lupa dukung White dengan cara like, tinggalkan komentar positif, dan juga masukkan White kedalam list favorit kalian ya......
...Happy reading.....
...•...
WHITE by: VizcaVida
Ujung-ujung jarinya mengetuk persegi kayu berukuran 4×5 M yang di singgahi beberapa jenis senjata api berbeda jenis. Isi kepalanya berisik, hatinya berdenyut nyeri bak membengkak dua kali lipat, jantungnya memompa darah terlalu cepat. Pandangan Eaden tiba-tiba kabur. Atensinya pecah. Dia tidak dapat berfikir jernih setelah mendengar kabar jika White hamil, di tambah lagi penyebab semua porak-poranda pikirannya adalah Rottey.
Tiba-tiba matanya tertuju pada satu senjata mematikan yang biasa digunakan oleh tim penembak jitu. Perlahan, ia menarik senjata itu dari tempatnya. Karabiner 98 kurz, senjata yang sudah diakui dan dipergunakan oleh salah satu penembak jitu terkenal yang sempat memecahkan rekor dengan tembakan 345 orang, berhasil memikat hati Eaden untuk menjadi temannya beraksi kali ini.
Ya, seharusnya Rottey bisa dibidik dengan senjata itu dari jauh, jika pengawalnya tidak bisa ditembus.
Senyuman mengerikan terbit di bibir Eaden. Tatapannya kini lurus kedepan, menatap arah televisi yang sedang memuat berita tentang suntikan dana yang diberikan oleh Rottey kepada salah satu pembangunan yayasan sosial dan tempat rehabilitas mental yang ada di beberapa titik kota. “Seharusnya, dia yang lebih pantas masuk panti rehab itu.” gumamnya mencebik. “Ah, tidak. Si tua itu lebih pantas masuk ke alam baka. Lalu, di panggang di neraka.”
Eaden mengarahkan senapan itu ke sana, kearah televisi. Lalu, tanpa diduga-duga peluru sudah melesat, dan televisi berlubang, padam. Senyap, bahkan Josh yang berada diluar ruangan tidak mendengarnya. “Kali ini, kamu akan benar-benar mati ditangan ku, bajing*n tua.” gumamnya, sambil mengusap senjata api di tangannya bangga.
Setelah itu, Eaden berdiri, berjalan menuju satu sudut bangunan, dimana disana ada beberapa foto yang terpajang. Dia berdiam diri dan berdiri menatap tajam pada satu titik dimana foto seseorang turut andil dalam misi penyingkiran yang akan dia lakukan sebagai bayaran atas kehancuran hidup White. “Tapi, ada satu benalu lain yang harus aku singkirkan terlebih dahulu.” tangannya terulur, mengusap foto Kelly disana. “Jika kamu berfikir aku akan menurut dan ikut menjalankan rencana busukmu dengan dalih aku pernah menjadi orang yang paling mencintaimu, kamu salah besar. Aku sama sekali tidak tertarik karena dirimu. Aku hanya ikut rencana itu, karena aku ingin membawa wanita yang akan kau sakiti, itu pergi. E pantas bahagia dari pada dirimu.”
Jangan ditanya sebesar dan seluas apa kadar kesetiaan Eaden jika sudah meletakkan hatinya pada seseorang. Dia akan rela mati terlebih dahulu untuk melindungi orang yang disayangi. Dan orang yang beruntung saat ini adalah White. Mendadak, satu ide muncul. Kasino.
***
“Ada apa menghubungiku?” tanya Kelly, sedikit heran karena Eaden tiba-tiba meminta bertemu, dan konyolnya lagi, laki-laki itu berkata jika ingin merundingkan sesuatu dengannya.
Kelly menggeleng, lalu mengangkat gelas berisi cocktail dari meja bartender. “Bukan begitu. Aku cuma ingin tahu apa yang ingin kamu bicarakan dengan aku.”
Eaden terkekeh, lantas mengambil gelas wine dan menyesapnya sedikit. Rasanya sangat pekat. “Masih tentang kesepakatan yang kita buat, dua hari yang lalu.”
Kelly menajamkan pandangan. Tidak seharusnya Eaden mengajaknya bertemu ditempat se terbuka ini jika ingin membahas tentang rencana itu. Seharusnya dirumah saja, agar tidak ada yang mendengar. Tapi, sudah terlanjur. “Ada apa dengan itu?”
Eaden menarik satu sudut bibirnya, menatap dan mengunci tatapan Kelly hingga tak bisa sedikitpun berpaling darinya. Dan inilah Eaden. Dia dengan sisi intimidasi yang kuat, dan tidak ada seseorang yang bisa menolak apapun yang ia kehendaki. “Jauhi dia, pergi sejauh mungkin, atau kamu akan menerima hal buruk yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.”
Kelly tertawa sumbang. Ada sedikit congkak pada nada bicaranya. “Kamu mengancam ku, Ed?”
“Tidak. Aku akan melakukannya jika kamu tidak melakukan apa yang aku katakan satu detik yang lalu.”
Kelly terbelalak. Sejauh mana Eaden berubah? Mengapa dia tidak mengetahui perubahan Eaden yang seperti ini. Yang dia tau, Eaden memang sosok yang keras kepala dan nekad, tapi dia tidak akan pernah mau mengancam dirinya seperti ini.
“Ed...”
“Lakukan apa yang aku katakan. Kamu akan aku lepaskan. Atau, kau ingin mati bersama si Bruddy itu?”
Mata Kelly semakin membola. Dia tau Eaden memendam dendam kepada Vero, tapi apa akan sejauh itu? Saling membunuh?
“Ed, ada apa denganmu?”
“Kell, aku beri kamu satu kesempatan. Tinggalkan negara ini dan bersembunyilah di tempat barumu. Jangan pernah lagi hadir hanya untuk mengusik kehidupan White.”
Bulu kuduk Kelly merinding. Ia menatap pada kesungguhan Eaden ketika berbicara dan menyebut nama White dalam pembicaraan mereka. “Ed, bukankah kita sudah membuat keputusan untuk menyingkirkan wanita itu?”
“Dan yang terjadi, sebelum kamu berhasil menyingkirkan wanita bernama White itu,” Eaden sengaja menjeda, ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Kelly dan menodongkan sebuah senjata api dari balik jaket kulit yang di kenakannya, tepat di tulang rusuk Kelly. Wanita itu seketika beringsut takut. Tubuhnya bergetar hebat hingga bibirnya yang semula begitu percaya diri ingin menyingkirkan White, kini harus bergetar karena ketakutan. Lantas Eaden melanjutkan kalimatnya dengan berbisik tepat ditelinga wanita itu. “Aku akan menyingkirkan dirimu, terlebih dahulu. Ingat itu! Jadi, angkat kopermu dan pergilah yang ja....uh dari pandanganku. Dengan begitu, aku anggap kita impas, dan kamu selamat.” []