WHITE

WHITE
POLLINATOR (2)



...Adegan dewasa dan mengandung unsur kekerasan....


...21+...


...Protect your self....


...•...


...•...


...Peringatan, bab ini tidak bertujuan untuk memberi pengaruh buruk kepada siapapun. Jadilah pembaca bijak, jangan mengabaikan peringatan yang ditulis di bagian teratas....


...Othor kerja keras Guys....


...untuk itu,...


...Jangan lupa like, komentar, hadiah, Vote, serta tambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan saat update chapter terbaru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Tau tidak sayang? Harga diri seorang wanita itu, terletak pada kehormatannya. Jika kamu bisa menjaganya hingga kamu hidup dalam ikatan sakral bersama orang yang kamu cintai, maka kamu berhasil menjadi seorang wanita bermartabat. Seorang wanita terhormat.


Petuah sang ibu yang ia dapatkan diusia tujuh belas tahun, dimana hubungan sang ayah dan ibunya itu sedang berada diujung tanduk, nyaris hancur di meja hijau, hanya tinggal menghitung mundur.


White memegang teguh, ia akan menjadi wanita terhormat seperti yang dikatakan Jessy. Dia akan menjaga kehormatan yang di embankan dan di percayakan Tuhan kepadanya. White tidak pernah melewati batas susila jika menjalin hubungan dengan seorang laki-laki. Dia membatasi sungguh pergaulannya, hingga teman-teman sebayanya menganggap dia sok suci. Padahal, dia hanya ingin hidup seperti yang sudah dikatakan oleh sang ibu, menjadi wanita terhormat.


Namun hari ini, semuanya seolah berubah hancur, porak-poranda, dan tak bersisa ketika Rottey menyusuri setiap inci tubuhnya tanpa belas kasih. White sama sekali tidak tau jika hari buruk itu akan menimpa dirinya sekarang. Laki-laki itu tanpa segan merenggut apa yang seharusnya tidak patut untuk dia inginkan. Terlalu biadab melebihi seekor binatang, sampai White tidak menemukan satu kata yang pantas untuk menyebut laki-laki yang tengah menggagahi tubuhnya, mencari kepuasan sepihak, tanpa memikirkan masa depan White.


Sebelum singgah dan bertandang ke rumah Vero, Rottey sempat menelan sebuah pil yang ia beli dari seseorang tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Timothy. Dia sudah merencanakan ini jauh-jauh hari setelah tau White kembali kerumah Vero. Rottey tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi. Dia tidak ingin Vero—putranya sendiri—memiliki White-nya.


White-nya?


Menggelikan, tapi Rottey memang menginginkan gadis itu sejak pertama kali melihatnya pulang dari Kasino dengan pakaian minim yang memperlihatkan seluruh bentuk dan liuk tubuh si gadis yang terlihat begitu menggiurkan. Membuat jiwa laki-laki Rottey yang sudah lama terpendam, seperti terpatik kembali. Sebuah keinginan menyentuh tubuh wanita dalam senggama kembali muncul saat melihat White.


Rottey menelan pil itu satu jam sebelum Timothy menjemputnya di tempat kerja, lalu mengantarnya ke rumah Vero. Rottey bahkan berharap saat perjalanan, dia tidak gagal dan berakhir mengenaskan.


Dan kini, semua keinginan Rottey menjadi nyata. Rottey mendapatkan White, seperti yang ia harapkan.


Suara desah*an menjijikkan yang terus menyapa perungu White, membuat gadis itu mual, ingin memuntahkan semua isi lambung didepan wajah pria bernama Rottey itu. Pria yang menggagahinya tanpa belas kasih. Pria yang merenggut kesuciannya begitu saja demi memenuhi nafs*u binatangnya.


White tidak mau menangis, karena memang tidak pantas untuk ditangisi. Air mata hanya akan membuat laki-laki biadab itu merasa menang. White hanya bisa menyakiti dirinya sendiri dengan mencengkeram pahanya yang tidak terbalut apapun. Dia meremasnya hingga kesepuluh kuku itu menancap dan membuat kulit putih pualam miliknya mengelupas, mengeluarkan darah.


Belum puas kah dunia mempermainkannya? Belum bersediakah takdir berhenti memberinya ujian? Bahkan dia harus kehilangan kehormatan yang ia jaga mati-matian setelah kehilangan sang ayah.


Ayah...


Seharusnya dia ada disini. Menarik tubuh laki-laki biadab ini, lantas menebas kepalanya hingga putus karena berani menyentuh gadis kesayangannya.


Mendadak, hati White seperti dicabik. Ia merasakan hujaman kasar Rottey pada area pribadinya yang begitu ngilu. Ia menahan sakit dan rintihan itu di tenggorokan hingga uratnya nyaris meledak. White membungkam bibirnya rapat-rapat agar tidak bersuara sedikitpun. agar tidak bersuara sama menjijikkannya dengan Rottey, yang terus menyebut namanya tanpa henti ketika raut di wajah laki-laki tersebut menggambarkan jika sedang mendapatkan sebuah kenikmatan dari tubuh White.


White ingin sekali berteriak didepan wajah pria tua itu dengan sebuah pertanyaan nyata tentang ‘dimana hati nuraninya saat ini?’ dengan suara lantang, karena tanpa White duga, Rottey dengan teganya mengotori hidup White, merenggut dan menghancurkan masa depan yang gadis itu coba susun dengan harapan indah. Atau jika boleh, White ingin berteriak keras tepat di gendang telinga Rottey agar dia sadar dan berhenti melakukan kebejatan yang menyakitkan untuk White.


“Tidak! Aku tidak akan menghentikannya sebelum aku mendapatkan kepuasan!”


“Bajing*an!!!” umpat White keras-keras tanpa mau menutupi kebencian mendalam yang tertanam dihatinya. Ia bersumpah, Rottey akan mendapatkan hukuman yang lebih kejam dari pada semua derita yang ia sematkan pada diri White saat ini.


Mati. Ya, Rottey pantas mendapatkan itu.


Tiba-tiba, White menyebut nama seseorang dalam diam.


Vero,


Nama itu begitu saja berkelebat, dan berharap panggilan itu didengar, lantas pria itu muncul dan menghentikan semuanya sebelum benar-benar terlambat dan hancur.


Akan tetapi semuanya menguar begitu saja. Vero tidak muncul meskipun White memanggilnya berkali-kali. Laki-laki itu seolah menulikan rungu, dan tidak peduli pada permohonan White yang menginginkannya hadir saat ini juga. Padahal, semuanya mustahil karena Vero tidak ada disana. Tidak ada dirumah mewah yang saat ini berubah menjadi neraka untuk White.


Hingga tepat setelah membalik tubuh White dalam posisi tengkurap, lalu ditarik kebelakang secara paksa, Rottey mendesak kuat sebanyak tiga kali, White merasakan Rottey sedang mereguk kepuasannya seorang diri disana. Laki-laki biadab itu tanpa berpikir logis, melepaskan semua bukti gaira*hnya didalam diri White, didalam rahim White yang seharusnya bukanlah tempat yang tepat dan pantas untuk ia renggut dari sang takdir yang terikat benang merah kehidupan bersama White dimasa depan. Benang merah itu sudah diputus paksa, oleh orang yang sama sekali tidak pernah White harapkan. Rottey Bruddy.


White meremat kuat sprei yang sudah kusut dan beberapa bagiannya terdapat noda merah, dengan posisi tengkurap dan didekap oleh Rottey. Nafas laki-laki itu memburu, begitu juga White yang sudah dia perlakuan dengan amat sangat tidak pantas.


Lantas, dia membisikkan kalimat lain yang menurut White sangat menjijikkan, tepat ditelinga White.


“Aku mencintaimu, E.”


Hati White seperti dihantam gada, hancur tak bersisa. Dia tidak pantas mengucapkan itu. White tidak sudi, barang secuilpun tidak, ketika laki-laki itu menginginkan dirinya membagi perasaan untuk dia, laki-laki yang sudah menghancurkan diri dan masa depan White begitu saja tanpa rasa iba.


White tertawa miris. Dia yang sudah hancur, tidak takut mati. Dia siap dihabisi oleh Rottey saat sebuah kalimat yang tersusun di dalam otaknya, lalu dengan lantang White berkata, “Aku tidak sudi mencintai laki-laki seperti dirimu, biadab!” jawabnya penuh penekanan, terutama pada bagian akhir kalimat yang ia ucapkan.


Rottey bangkit, manarik diri dari senggama, lantas menatap tajam pada sosok White yang menggeliat bangkit, memposisikan diri untuk duduk. “Kau akan hancur karena berani menyentuh White Abbey, putri Frederick Abbey.” tegasnya dengan sorot mengancam tak kenal takut. White bahkan tidak menduga, jika neraka sebenarnya adalah Rottey, laki-laki yang menakutinya dengan teror serta ancaman melalui pesan singkat tiada henti. Bukan Eaden, apalagi Vero. Ia sudah salah menerka dan merutuki kebodohannya sendiri atas itu.


White mengusap bulir keringat di keningnya secara kasar, bahkan duduk bersila tanpa peduli penampilannya yang kacau, area pribadinya yang perih serta nyeri, dan tubuhnya yang tidak berbalut apapun itu, tepampang jelas di depan mata Rottey. Percuma jika ia malu Lantas berlari mencari kain untuk menutupi setiap inci kulitnya yang terpapar tanpa helaian benang, semua sudah hancur, Pria di hadapannya itu yang membuat kehidupan White menjadi kacau balau.


Lantas, White kembali menyorotkan maniknya pada sosok Rottey penuh dendam dan benci, White terbahak congkak—untuk menutup pilu hatinya yang tak berbentuk. Diatas duduknya dia berkata. “Hidupmu akan berubah jadi neraka di tanganku, tuan Rottey.” []



...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...