
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Seperti pepatah gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. White tidak bisa mengelak jika sekejam apapun Frederick padanya, dia tetap putrinya. Laki-laki itu tetap ayahnya, tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu, sampai mati pun akan tetap sama. Semua kebaikan dan keburukan tentang sang ayah, sudah terekam dan terpatri dalam ingatan White.
White datang ke rumah sakit yang merawat Frederick beberapa hari ini. Nama penjamin pasien di dalam ruang ICU tersebut adalah Eaden. White sampai tidak enak hati atas kebaikan pria tersebut padanya.
Dari balik bentangan kaca luas yang menampakkan sosok kurus terbaring tak berdaya dengan berbagai alat bantu yang menancap di tubuhnya, White sebenarnya ingin menitihkan airmata. Ia tidak bisa melihat keadaan sang ayah yang sangat menyedihkan. Begitu menyayat satu sisi hatinya. Bahkan, laki-laki itu belum membuka mata sejak ia terbaring disana. Ditambah lagi ketika tadi mendengar sebuah informasi yang ia terima dari salah satu perawat, jika sebelum pria itu jatuh koma, pria itu sempat memanggil nama White, dan juga sempat mengatakan maaf berkali-kali, White tidak sampai hati.
Satu kebencian besar yang menyelimuti hati White perlahan memudar, sirna. White ingin meraih tubuh ringkih yang dulu adalah sosok yang sangat ia kagumi itu, sebelum ada kata terlambat. White dirundung bimbang. Ia tidak ingin kehilangan, tapi dia juga tidak ingin terus menerus menerima perlakuan tidak layak dari ayahnya sendiri yang sempat ia sumpahi agar cepat...tolong, lupakan!
White bisa sampai di rumah sakit ini karena Eaden yang memberitahunya. Pria itu tidak serta Merta menelantarkan Frederick. Dan sekali lagi, White berhutang budi pada Eaden.
“Apa anda anggota keluarga pasien, nona?” tanya seorang perawat kepada White hingga nyaris terlonjak karena terkejut bukan main.
“I-iya.”
“Apa anda yang bernama White?”
White hanya mengangguk ragu. Ia tidak tau keputusan ini benar atau tidak, tapi White tidak ingin menyesal. Dia tidak ingin menjadi manusia terlalu munafik, dia ingin memeluk ayahnya meskipun sangat membencinya.
“Ah, silahkan ikut saya ke dalam. Saya perlu memberitahu dan menjelaskan beberapa informasi dari dokter tentang keadaan pasien, kepada anda.” ajak sang suster yang tanpa penolakan sedikitpun dari White. Langkahnya tergerak maju dengan ragu sama seperti raganya, pikiran White juga tak kala rancu. Ia membenci Frederick, tapi dia juga tidak ingin menyesal jika ayahnya itu pergi meninggalkannya tanpa ia ketahui kapan akan terjadi.
Sesampainya didalam, suster itu mengecek kondisi fita*l dari Frederick yang setiap hari mengalami penurunan. Denyut nadinya menurun sejak sehari yang lalu, Kata dokter yang menangani, pihak keluarga harus rela jika sewaktu-waktu pasien ini dipanggil sang pencipta.
“Ayah anda mengalami penurunan denyut nadi dan jantung sejak sehari yang lalu. Kami juga sudah memberikan pertolongan terbaik kami, seperti yang tuan Eaden minta.”
Eaden? Mengapa dia tidak memberitahu White tentang permintaannya itu.
“Kalau saya boleh tau, apa tuan Eaden saudara anda?”
White tidak tau harus menjawab apa. Dia takut Eaden akan marah jika White tiba-tiba menganggapnya sebagai saudara. “Dia, teman baik saya, suster.”
Suster cantik itu mengangguk. Lalu ia berputar dan berdiri di samping tiang yang diperuntukkan menggantung cairan koloid yang dialirkan pada tubuh ayahnya, untuk mengecek volume tetesan cairan tersebut. “Beberapa hari lalu, dokter sudah memberitahukan kepada tuan Eaden jika kondisi pasien terus menurun.”
White meremas tepian baju yang ia kenakan. Ia takut sekali mendengar informasi ini. Ia takut kehilangan. “Lalu, kapan papa saya bisa sadar dari keadaannya yang sekarang?”
Suster menatap sejenak ke arah White, lalu menulis sesuatu pada kertas yang berada diatas clipboard. “Semua tergantung kondisi fita*l ayah nada, nona. Jika dia mengalami kemajuan, bisa dipastikan ayah anda akan mampu melewati masa kritis dan beliau akan sadar.” terang suster yang kini mencatat angka yang terpampang di EKG.
Setelah selesai, suster itu mengusap satu lengan White. Tersenyum ramah dan memberi sebuah solusi. “Untuk itu, beri dukungan kepada ayah anda, nona. Beri stimulasi pada permukaan kulit, sering-seringlah menyebut nama dan mengajaknya ngobrol meskipun beliau tidak menjawab anda secara langsung. Beri dukungan agar dia mampu bertahan, dan juga berjuang demi kesembuhannya.”
White tidak mengangguk, tapi memilih menoleh untuk melihat sang ayah yang terlihat begitu tenang. “Saya akan mencobanya, suster.”
“Saya harus melanjutkan tugas saya memeriksa pasien lain. Jadi, jika anda membutuhkan bantuan, silahkan tekan tombol hijau itu. Kami akan segera datang memberi pertolongan.”
White mengangguk. Ia menatap kepergian sang suster, lalu kembali menyorot sendu wajah ayahnya. Laki-laki yang telah membuatnya terlunta, kini terbaring tidak berdaya. Laki-laki yang sudah menyakiti fisiknya, kini tak mampu bersuara. White ingin sekali mengatakan jika dia sangat menyayangi ayahnya itu. Tapi sudut hatinya yang terdalam menolak melakukan itu. Sudut hati tersebut seolah menjadi benteng kuat untuk menolak simpati yang hendak White berikan kepada sang ayah.
Lalu, diantara bentuk beep EKG, dan suara seribu nafas ayahnya yang terasa berat, White berbisik. “Pa, I Miss you.”
***
White bersiap pulang kembali ke rumah Eaden dan hendak berpamitan serta berterima kasih atas semua kebaikan pria tersebut sudah bersedia menolongnya. White menunggu Uber yang beberapa menit lewat ia pesan. Akan tetapi, mobil yang berhenti di depannya, membuat White ingin lari tunggang langgang.
Beruntung, bersamaan niatnya melarikan diri, Uber yang ia pesan datang. Ia pun berjalan cepat menuju mobil yang berhenti di belakang mobil Range Rover hitam yang entah mengapa bisa tau keberadaannya disini. White menyesal berurusan dengan keluarga Bruddy, sirkel mereka tidak main-main.
“Ikut aku!” titah Vero tak terbantahkan sambil memaksa White mengikuti langkah kakinya menuju mobil. Hal itu justru membuat pengemudi Uber keluar dari kendaraan miliknya karena mengira Vero merebut pelanggannya.
“Woy. Jangan main ambil dong. Dia penumpang saya!” teriaknya sambil menunjuk White yang kini diam.
Vero yang sebal, melepas cekalan pada pergelangan tangan White, berjalan mendekat pada pengemudi Uber, merogoh saku celana dan mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet. “Saya bayar lebih. Jangan ganggu saya. Saya sedang ada urusan dengan gadis itu.” tegas Vero dengan sorot tidak bersahabat, kemudian berjalan meninggalkan si pengemudi Uber, dan berlari mengejar White yang hampir melarikan diri dengan taxi.
“Shi*t!!!” umpatnya terang-terangan, dan beruntung karena Tuhan menciptakan dan menganugerahkan sepasang kaki jenjang dan panjang, hingga dia tidak kehilangan gadis itu lagi.
“Kamu, jangan membuat darahku mendidih, E. Ikut bersamaku.”
White yang sempat menolak pun akhirnya ikut masuk kedalam mobil milik Vero.
Hening, tidak ada percakapan apapun hingga beberapa menit lewat. White pun tidak berniat mengatakan apapun pada Vero, termasuk dia yang tidak pulang ke rumah Vero hampir satu minggu lamanya.
Berbeda dengan White, Vero sebenarnya sudah tidak ingin berlama-lama diam menunggu White mulai berbicara.
“Kenapa tidak pulang?!”
“...”
“Jawab aku, kenapa tidak pulang?” tanya Vero sekali lagi dengan nada frustrasi. Ia sebenarnya tau apa yang sedang terjadi, tapi dia ingin mendengarnya terlebih dahulu dari White.
“Kamu tidak perlu tau,”
“Aku berhak tau!!” bentak Vero mengejutkan White hingga gadis itu terlonjak diatas kursi penumpang.
White tersenyum miris. Ia hanya ingin bebas, seperti ketika dirinya bersama Eaden. “Aku lebih berhak menyimpan semua masalahku sendirian. Dan kamu, tidak memiliki hak sama sekali untuk tau.”
Vero meremas surainya putus asa, kemudian menoleh kearah White dan menautkan pandangan tajamnya pada bekas lebam dan luka yang masih belum hilang di wajah White. Telapak tangannya terulur begitu saja, dia mengusap satu sisi wajah Snow yang sedikit menampakkan warna hitam kebiruan. “Kenapa tidak datang kepadaku? Kenapa memilih orang lain?” ucap Vero pilu. Ia hanya ingin White menjadikan dirinya tempat menumpahkan kebahagiaan dan kesedihan gadis itu.
Vero sudah gila?
Ya, katakan saja seperti itu. White yang berhasil membuatnya menjadi sosok berbeda dari Vero yang sebelumnya.
“Apa maksudmu?” tanya White sembari tertawa mengejek. Ia heran saja, mengapa Vero bisa bersikap seperti itu. Apa laki-laki itu memiliki kepribadian lain?
“E. Jadikan aku orang yang kamu butuhkan dalam hidupmu. Aku mohon.”[]
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...