WHITE

WHITE
Mau aku bantu?



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


White diam membeku, benar-benar diam hingga menyerupai manequin cantik yang dipergunakan Vero untuk mengelabui para gadis yang ingin duduk di kursi kosong disisi kursi kemudi. Apalagi ketika Vero mengulurkan tangan dan mengusap satu sisi wajah dengan lembut dan penuh perhatian, White seolah menemukan sandaran baru. Vero menjelma menjadi sosok sempurna yang ingin ia jadikan tempat berbagi kesedihan dan beban berat yang ia pikul seorang diri.


“Mengapa kamu pergi dariku dengan keadaan seperti ini?” tanya Vero lembut.


“Tidak. Aku tidak apa-apa. Dan tolong biarkan aku pergi sebentar untuk mengurus sesuatu.” jawab White, menyingkirkan telapak tangan Vero dari wajahnya dengan gerakan kasar, kemudian bersiap melepas seatbelt.


“Kalau begitu, biarkan aku yang mengantarmu.”


White menghentikan jarinya yang sedang menekan pengunci seatbelt, ia menoleh ke arah Vero dengan sorot tidak suka. Vero terlalu ikut campur dengan kehidupannya, dan tentu saja itu berdampak tidak ada hasil menyenangkan seperti yang dia harapkan.


Vero menyalakan mesin mobil,


“Aku tidak suka sikapmu yang berlebihan seperti ini, Tuan Bruddy junior. Aku hanya ingin menemui seseorang, berterima kasih, lalu aku berjanji akan kembali ke rumahmu. Tapi tolong, biarkan aku pergi seorang diri.”


Mungkin ini bagian dari rencana yang disusun White dan Eaden, menurut Vero.


Mengesampingkan egonya, Vero tidak menginjak pedal persneling dan menoleh pada sosok White yang terlihat sudah hampir digulung emosi. Vero mengerti jika ini mungkin privasi bagi White, tapi dia begitu penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi antara White dan Eaden.


Vero membuang nafas kasar, kesempatannya untuk mengetahui kebenaran tempat tinggal Eaden pun kandas. Ia mengangguk dan membiarkan White keluar setelah mendapat sedikit penjelasan dan juga janji. Tentu, White sudah berjanji akan pulang ke rumahnya setelah urusannya selesai, dan janji itu Vero pegang dengan teguh. Jadi, jika hari ini White tidak pulang, dia akan benar-benar nekad menyusul White.


“Okey. Aku tunggu dirumah.”


***


“Bagaimana keadaan papa mu, E?”


Siapa lagi, Eaden yang bertanya. White baru saja sampai di rumah laki-laki itu, dan tanpa diminta sekalipun, Eaden langsung menanyakan kabar Frederick.


“Kata perawat rumah sakit, kesehatannya menurun.” jawab White sekenanya, sesuai kenyataan. Namun tidak bisa menyembunyikan sebuah kesedihan dimatanya, membuat Eaden sedikit menyesal sudah membuat laki-laki pecundang itu terbaring tidak berdaya di rumah sakit. “Dokter juga mengatakan, aku harus bisa menerima kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada papa.” lanjut White sembari melempar tubuhnya diatas sofa, bersandar dengan kepala mendongak ke langit-langit ruangan sembari memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat. Lebih tepatnya, bukan hanya kepala, dan pelipisnya yang terasa berat, terutama hatinya, dia belum rela kehilangan laki-laki itu. Ia ingin mengulang kata ’belum puas membalas sakit’ dalam benaknya. Namun yang ia rasakan justru berbeda, ia tidak ingin kehilangan dalam arti yang sebenarnya. Dia tidak mau sosok sang ayah benar-benar pergi dari dunia dan meninggalkannya sendirian.


“Maaf—”


“Ini bukan salahmu, Ed. Aku justru berterima kasih kamu sudah membawa papa ke rumah sakit dan menulis namamu sebagai penjamin biaya disana.” sahut White tidak mau semakin membuat suasana hatinya teredam sedih. “Aku sudah meminta perawat disana menjadikan aku penjamin biaya, jadi aku akan membayarnya perlahan-lahan padamu. Hutangku padamu sangat banyak, Ed.”


Mendengar suara parau White yang terlihat menahan tangis, Eaden berjalan mendekat, mengusap satu sisi pundaknya, mencoba menenangkan White yang kalut. “Kamu tidak perlu mengganti apapun.”


Ingat tujuanmu, Ed! Gadis ini adalah umpan mu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan!


Satu sisi dirinya kembali berbisik, mengingatkan Eaden akan tujuan awalnya membuat gadis itu jatuh dalam rengkuhannya.


“Terlalu banyak kebaikanmu padaku, Ed. Aku tidak bisa diam saja. Aku janji akan mengembalikan semua uang yang kamu—”


“Sudah aku katakan, tidak perlu! Jadi tidak perlu memikirkan apapun! Jalani hidupmu saja, dan jangan pernah memikirkan apa yang sudah aku lakukan padamu!” sentak Eaden tidak ingin tergiring kedalam lubang yang akan membuatnya tenggelam dalam kelam, sekali lagi.


Mendengar itu, seketika ekspresi Eaden berubah melembut. Ia menurunkan pandangan, dan berdiri kasar setelahnya. “Ya. Karena kamu terus saja menyebut uang dan juga balas budi, padahal aku tulus memberikannya padamu.”


Eaden pergi, meninggalkan White yang tersenyum hangat melihat punggung lebar Eaden yang menjauh, dan berhenti di kitchen island yang letaknya dekat dengan ruang keluarga dan ruang tamu. “Dia menggemaskan saat marah.” gumam White pelan, tidak ingin sang empu besar kepala.


Baiklah, White rasa sudah saatnya dia berpamitan.


“Aku rasa aku harus pergi sekarang, Ed!” kata White dengan nada sedikit dibuat ceria. Ia berdiri, menepuk kedua pahanya dengan telapak tangan seolah melepas semua bebannya dan siap menghadapi kehidupan yang entah akan semakin runyam, atau berubah bahagia karena Tuhan berbelas kasihan padanya. Ya, semoga saja.


Disisi lain, Eaden yang mendengar pamit White, mengehentikan telapak tangannya yang hendak meneguk air dingin untuk menghilangkan perasaan gugupnya. Lengannya mengambang diudara, ada sedikit rasa kecewa membayang. Dia akan sendirian lagi setelah White keluar dari rumahnya. Lalu, tanpa membalik badan, Eaden memberi izin. “Eumm.” jawabnya singkat dan pasti White bahagia mendengarnya. Tidak ada alasan baginya menahan White lebih lama berada di sisinya. Atau tujuannya akan terbongkar sebelum berhasil membayar lunas semua sakitnya selama ini kepada Vero.


Sebenarnya, Eaden merasa menjadi pecundang karena melibatkan White yang tidak menau apapun tentang masalahnya dengan Vero. “Kembali ke rumah Vero?” kali ini dia membalik badan dan menyandarkan panggulnya di meja memasak didekat westafel.


“Ya. Aku juga akan mencari apartemen atau rumah sewa baru. Setelah itu aku akan keluar dari sana jika memungkinkan.”


Eaden memutar lidahnya didalam mulut. “Tinggalkan keluarga Bruddy sebelum kamu semakin terpuruk, E.” ucap Eaden, memberi peringatan entah untuk yang keberapa kali kepada White.


“Ya. Aku sedang berusaha, Ed. Tapi aku tidak pernah lepas, Vero selalu menemukanku. Hari ini, dia datang ke rumah sakit dan memaksaku ikut dengannya kembali. Tapi aku menolak, dan berjanji akan kembali kerumahnya setelah urusanku selesai.”


“Vero menemui mu di rumah sakit?” tanya Eaden memastikan dengan kening berkerut dan gengaman yang menguat pada gelas yang sedang ia bawa.


“Ya. Dia tiba-tiba ada didepan rumah sakit dan memaksaku untuk ikut. Tapi seperti yang kamu lihat, aku berhasil lari, tapi tetap saja aku harus kembali padanya. Sialan sekali bukan?” gerutu White tak terima dengan senyuman masam di sudut bibir karena Vero selalu berhasil membuatnya terkekang.


“Kamu harus melakukan sesuatu sebelum benar-benar hancur ditangan keluarga Bruddy, E.”


“Apa maksudmu Ed?”


Eaden terdiam sejenak. Ia berjalan mendekat dan berdiri didepan White yang masih menatapnya. “Mau aku bantu?” []



...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...