WHITE

WHITE
Alasan tidak masuk akal.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Aroma tanah basah bercampur paduan beberapa jenis bunga beraroma harum yang tersebar diatas tanah pemakaman menguar bersama desiran angin yang bertiup. Tidak ada orang-orang berjas. Tidak ada tetangga yang mengucapkan bela sungkawa, bersalaman, dan berbagi kesedihan untuk White. Bahkan tidak ada yang mau peduli atas kepergian ayahnya. Itulah point intinya.


Mungkin jika itu dulu, orang-orang pasti akan datang berbondong-bondong untuk mengucap dan mengirim karangan bunga sebagai bentuk bela sungkawa pada Frederick. Namun kenyataannya sekarang, tidak ada yang peduli. Apa lagi Mommy nya. Pemakaman itu dilakukan tanpa arak-arakan mobil mewah dan juga perhatian masyarakat yang tertuju pada dia, melainkan hanya dihadiri oleh White, Vero, Eaden, dan beberapa petugas makam yang di bayar untuk menggali tanah kubur untuk Frederick.


Tapi setidaknya, White sangat bersyukur karena ada dua orang yang mau mendampingi dia untuk mengantar papa nya ke peristirahatan terakhir.


Memang tidak penting semua itu bagi White. Yang terpenting, dia ada disini, melihat papanya tidur panjang dengan sangat tenang.


“Ayo kembali.” ajak Eaden, yang ingin membawa White kerumah dan menghiburnya disana.


White diam tidak memberi tanggapan. Dia hanya menatap lurus pada batu nisan bertulis nama sang ayah. Wajahnya pucat pasi, dan matanya membengkak akibat tangis, serta bibir dan hidungnya memerah karena tadi sempat menangis lagi ketika sang ayah di masukkan ke dalam liang lahat.


Dan satu umpatan keras Eaden ucapkan dalam hati ketika ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar. Seorang klien meminta bertemu untuk membicarakan distribusi senjata api yang hendak di beli dalam jumlah cukup banyak. Eaden tidak bisa menolak, untuk itu dia berpamitan terlebih dahulu kepada White. Tidak lupa meminta gadis itu untuk pulang kerumahnya jika memang hal itu di butuhkan.


Kini, tinggallah Vero disana. Memperhatikan punggung sempit bergaun hitam yang masih tidak mengalihkan pandangannya dari nisan sang ayah. Vero ingin mendekat, ingin memberi ketenangan kepada White, sama seperti yang dilakukan Eaden. Namun selalu ia tepis karena rasa bersalah yang timbul pada dirinya sendiri tentang kejadian dirumah sakit tempo hari.


Ia tidak bisa menyapa White terlebih dahulu. Dia hanya diam memperhatikan, hingga suara parau White mendahului menyapa perungu nya. “Kenapa tidak pulang? Pemakaman sudah selesai, kamu bisa pulang. Terima kasih sudah datang dan maaf jika papa punya salah sama kamu.” tutur White, masih tidak mau mengangkat wajah dari nama sang ayah.


“Aku akan disini, sampai kamu lelah dan pergi.”


Tentu saja. White tau betul jika Vero itu keras kepala, sama seperti dirinya. Untuk itu, White memutuskan menoleh, memperlihatkan wajah sembab dan menyedihkan itu kepada Vero. “Kalau begitu, duduklah. Jangan berdiri seperti patung begitu. Aku tidak mau kamu memintaku memijit kakimu sesampainya dirumah nanti.”


Apa ini sebuah petunjuk jika White akan pulang bersamanya? Mendadak hati Vero berjingkrak bahagia setelah mendengar ucapan White.


“Oh.” jawab Vero singkat, lantas turut berjongkok disamping White, dan memperhatikan pada satu titik sama dengan yang dilihat White saat ini.


“Aku memang membenci papa, tapi lebih spesifik dalam artian, aku membenci sikapnya yang berubah, bukan orangnya.”


Vero diam. Saat ini, dia hanya ingin menjadi pendengar bagi White yang terlihat tertekan. Vero hanya ingin beban yang di pikul gadis itu terlepas dari bahu ringkihnya.


“Semua kenangan bersama papa, selalu aku simpan dengan baik. Aku tidak ingin melupakan kenangan dimana papa menyayangi aku dulu.


“Papa juga pernah bilang, jika aku harus menjadi wanita yang kuat jika sudah besar, dan aku ingin mewujudkan sekarang.” White menjeda, dia mengambil nafas kelewat besar, lalu menghembuskannya.


Vero memberanikan diri untuk meletakkan telapak tangan besarnya diatas kepala White, mengusap surai se-harum Vanilla dan selembut sutera itu penuh perhatian. “Papamu pasti bangga padamu.”


White mengangguk lemah. “Mungkin. Tapi aku tidak yakin. Aku pernah menyakiti hati papa dengan tidak mengirim uang, lalu aku memberi nama kontak telepon papa dengan kata yang tidak seharusnya. Aku menyesal.”


Vero tersenyum lembut. “Setidaknya, sekarang tuan Frederick tidak lagi hidup tersiksa seperti itu. Benar kata Eaden, Tuhan menyayangi papamu. Untuk itulah, Tuhan membawanya kembali agar dia tidak berlarut-larut menderita di dunia.”


White kembali menoleh, dan kali ini pandangan mereka beradu. White mendapati senyum manis Vero yang sangat dia sukai, kemudian laki-laki itu menyelipkan untaian Surai yang tertiup angin di balik telinganya. “Boleh aku mengatakan sesuatu disini?”


White mengangguk dengan sebuah simpul senyum.


Vero menghentikan telapak tangannya tepat diatas kepala White, seolah ia sedang bersumpah didepan makam Frederick. “Aku, akan menjagamu dengan segenap hati dan ragaku, White Abbey.”


Hati White mencelos ketika melihat gurat kesungguhan diwajah Vero. Dia tidak bisa berkata-kata, semua kalimat yang hendak ia suarakan itu mendadak terhenti di kerongkongan. “Aku bersedia mengemban tanggung jawab atas mu yang sudah lepas dari papamu.”


Manik White mengerjap, ia sekuat tenaga menahan rasa haru yang ingin meluap menjadi sebuah tangis, namun semuanya gagal ketika Vero melanjutkan setelah mendaratkan satu kecupan singkat di bibirnya. “Kau adalah tanggung jawabku. Aku mencintaimu.”


Ungkapan itu membuat hati White merana, namun bahagia. Seorang Vero mencintainya, lantas apa itu semua nyata?


Tapi, tanpa mereka berdua ketahui, ada kehadiran orang lain disana. Seseorang yang juga menginginkan White, tentu saja selain Vero dan Eaden. Seseorang yang diam-diam mengagumi gadis sebatang kara itu tanpa alasan. Telapak tangannya mengepal, ia tidak suka melihat tatapan cinta yang White berikan kepada Vero. Dia bahkan bersumpah akan mendapatkan White secepatnya. Ya, dia bersumpah atas nama Tuhan untuk semua itu.


Vero membuka kunci rumah melalui interkom. Dia bahkan mempersilahkan White untuk masuk terlebih dahulu kedalam rumah sebelum dirinya. Keduanya saling tatap, lalu melempar senyuman satu sama lain dengan malu-malu.


White luluh, dia mulai berharap banyak kepada Vero, dia mulai membuka hati dan meletakkan perasaannya untuk laki-laki yang dulu begitu ia benci. Dan Vero, dia tidak bisa mengkhianati perasaannya sendiri. Dia mencintai White. Perasaan benci yang semula mendominasi, kini berubah menjadi rasa cinta.


“Aku akan memasak makan siang untukmu.” seru Vero saat mengingat jika White belum makan sejak semalam karena terpukul atas kepergian ayahnya. Kini, gadis itu terlihat lebih tenang, lelah, dan Vero dapat menebak jika White tidak akan menolak ucapannya itu.


Sebuah anggukan menjadi jawaban menyenangkan bagi benak Vero, kemudian keduanya melangkah masuk bersama-sama. Namun, apa yang mereka lihat kali ini begitu mengejutkan. Rottey duduk manis di ruang tengah, di sofa sambil melihat acara televisi tentang pasar saham yang sedang ramai di bicarakan di kalangan pengusaha dan sibuk dengan persegi pintarnya di tangan.


Tepat bersamaan dengan itu, ponsel White bergetar. Sebuah pesan lagi, dan itu membuat White semakin tidak nyaman.


Kamu akan menjadi milikku. Selamanya.


Lantas, Rottey berdiri untuk menyambut kedua anak manusia itu dengan sebuah senyuman hangat.


“Hai, Ve. Hai,” ia sengaja menggantung, berpura-pura sedang mengingat nama seseorang yang berdiri di samping putranya itu. “—E?”


Baik Vero maupun White masih tidak menunjukkan ekspresi apapun selain menatap lurus pada presensi Rottey yang kini berjalan dan berdiri didepan White. “Aku turut berbela sungkawa atas kepergian Frederick, E.” katanya, sambil menyodorkan telapak tangan didepan White. Gadis itu terlihat bingung, pasalnya, Rottey terlihat begitu bersemangat. Begitu juga dengan Vero, dia tidak tau sejak kapan ayahnya itu setuju dengan kehadiran White di rumahnya. Padahal, setau Vero, orang yang paling menentang White berada disini adalah dia, ayahnya, Rottey.


Alih-alih mendapat sambutan dari White, Rottey malah mendapatkan sebuah pertanyaan dari Vero. “Darimana papa tau password rumahku?”


Rottey mengernyit. Dia menatap tidak suka pada wajah Vero. “Apa kamu lupa, kamu sendiri yang memberitahu papa beberapa waktu lalu.” jawab Rottey yang membuat Vero menautkan alis.


Kapan?


Vero mengingat kapan terakhir kali dia bertemu papanya, tapi semuanya nihil. Vero rasa dia bertemu dengan ayahnya, terakhir ketika laki-laki itu tau keberadaan White, lalu mengusir White dari sini. Setelah itu mereka tidak lagi bertegur sapa atau bertemu untuk membicarakan hal basa-basi.


“Kamu lupa?” tanya Rottey, mencoba memaksa Vero untuk kembali mengingat-ingat sesuatu. “Itu tidak penting.” lanjutnya sambil menatap White dengan sebuah seringai yang membuat bulu kudu White meremang takut. “Yang terpenting, papa tidak akan tinggal diam karena kamu membawa gadis itu kembali kesini.”


“Pa—”


“Papa akan sering datang kesini tanpa kalian duga. Dan papa akan datang kesini untuk memastikan, jika White tidak melakukan apapun padamu, dan kamu tidak melakukan apapun kepada White.”


Vero mengerjap. Mulutnya nyaris menganga mendengar penuturan Rottey yang tentu saja tidak masuk akal itu.


“Karena papa tidak suka, melihat White bersamamu!”[]



...Hayo tebak, siapa kira-kira orang yang ada di pemakaman?...


...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...