WHITE

WHITE
Super Hero di hidup White.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Tidak terjadi apapun, Vero mampu mengendalikan diri dan menurunkan White ketika ia merasa suasana dan gejolak dalam dirinya meminta lebih. White bahkan tidak menolak ketika sentuhan-sentuhan menuntut jemari Vero menjamah tubuhnya, akan tetapi, Vero sendiri yang membatasi kegiatan mereka sebelum berlanjut ke tahap yang lebih jauh. White seolah larut dan melupakan prinsip hidupnya sendiri. Ia tidak bisa menolak pesona seorang Vero.


Hari berlalu begitu saja. Entah atas dasar apa, hubungan mereka menjadi dekat. White bahkan tidak lagi berfikir ingin lari dari Vero, karena laki-laki itu menggenapi janjinya. Ia menghidupi, mencukupi kebutuhan hidup White dengan sempurna. Mulai dari memberinya makanan enak, membelikan baju, make up, dan benda-benda lain yang diperlukan White untuk menjaga juga mempercantik diri serta penampilan, dan tidak tertinggal, Vero mengirimi rekening White dengan nominal yang cukup besar setiap dua hari sekali. Mendapat perlakuan seperti itu, White merasa tenang. Disamping kebutuhan terpenuhi, dia juga bisa membayar biaya penanganan papa nya tanpa kesulitan mencari uang.


Ponsel White bergetar singkat, tanda pesan.


White yang sedang menikmati waktu siang dengan sekantong camilan keripik kentang pedas, bangkit dan meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Nomor asing itu lagi.


Oh Wow, kamu terlihat semakin nyaman dengan kehidupanmu ya, tuan putri? Jangan anggap semuanya tanpa imbalan. Kau akan membayar mahal untuk semua hal yang kamu dapatkan hari ini, E.


Seketika itu juga, White menjatuhkan ponsel ke pangkuan. Teror ini semakin menakutkan, dan White sama sekali tidak mendapatkan petunjuk siapa pemilik nomor. Pemikirannya yang tertuju kepada Vero belum mendapatkan titik jelas. White tidak bisa memastikan karena ia tidak bisa menyentuh benda privat berisi informasi yang di pegang Vero.


Manik mata White bergetar takut. Ia berlari ke pintu depan dan memastikan sudah terkunci rapat. Memeriksa setiap jendela dan memastikan tidak ada celah dari si peneror itu bisa mengakses masuk kedalam rumah Vero begitu saja. White ketakutan.


Telapak tangan yang bergetar meraih ponsel dan mencari-cari kontak seseorang. Ia menghubungi nomor itu tanpa berpikir panjang. “Ed, kamu ada waktu? Aku ingin bertemu.”


Pada akhirnya, pesan itu berhasil membuat White keluar dari kediaman Vero.


Sedikit lagi, tunggu sedikit lagi, dia akan mendapatkan nektar yang membuatnya tidak bisa tenang beberapa waktu belakangan. Pollinator itu akan mendapatkan apa yang dia inginkan.


***


Eaden tersenyum ketika mendapati White berlari cepat menuju mobil Porche kesayangannya. Ketika White sudah duduk di kursi penumpang sisi kemudi, Eaden melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan sedang, meninggalkan kompleks mewah perumahan yang ditempati oleh musuh bebuyutannya.


“Ada apa, E? Kenapa wajahmu terlihat pucat begitu?” tanya Eaden. Dia baru menyadari ekspresi ketakutan pada diri White ketika gadis itu duduk tidak jauh darinya.


“Ed, bawa aku ke tempat ayah. Aku ingin melihat keadaannya hari ini.”


Dengan senang hati Eaden melajukan mobil mewah itu membaur bersama mobil lain, menggesa jalanan menuju tempat yang diharapkan White tanpa meminta imbalan. Untuk urusan White, dia rela meskipun tidak mendapatkan bayaran apapun. Oh, bohong. Dia akan mendapatkan itu suatu saat nanti. Dia akan mendapatkan balasan yang setimpal atas kebaikannya hari ini.


Sesampainya, Eaden membiarkan White menemui ayahnya di ruang ICU. Fred belum juga dipindahkan dari sana sebab kesehatannya belum juga mengalami kemajuan. Dua hari lalu kondisi Frederick juga sempat drop, dan membuat White menangis untuk pertama kalinya setelah dia disakiti bertubi-tubi oleh sang ayah.


Kini, netranya menatap tubuh yang kurus kering itu terbaring tak berdaya diatas brangkar rumah sakit dengan bebagai macam alat-alat medis yang menempel di tubuh yang seperti hanya terbungkus kulit itu, Frederick terlihat begitu rapuh hingga lagi-lagi White tidak kuasa membendung air mata saat menggenggam telapak tangan ayahnya itu.


“Selamat sore, Pa. Aku datang lagi.” sapa White lembut meskipun tidak mendapat jawaban. White meletakkan kepalanya diatas telapak tangan berkerut milik Fred, dan mulai mengatakan seperti apa hari yang dia lewati. “Aku takut, pa. Seseorang membuatku takut.” ucap White memulai cerita. “Dia mengancam White dengan kata-kata mengerikan. Dan White butuh papa untuk melindungi White, seperti dulu, saat White mendapat perlakuan tidak baik dari teman-teman White.”


Memang, White pernah menjadi korban penindasan di sekolah ketika duduk di bangku sekolah dasar. Dan ayahnya itu muncul menjadi super Hero dan membuat semua teman-teman yang merundungnya ketakutan dan tidak lagi berani mengganggu White hingga masa sekolah dasar berakhir.


“Kapan papa bangun dan melindungi White lagi? Menjadi super Hero dan juga tameng untuk White?” tuturnya parau, menahan air mata yang lagi-lagi ingin menetes. “Aku merindukan papa yang dulu. Papa yang menyayangi White dan juga Mommy. Papa yang menjadi pelindung untuk White dan juga Mommy, dan papa yang menjadi sumber kebahagiaan kami berdua.”


Kepala White kembali ia letakkan di atas telapak tangan ayahnya yang terasa dingin. “I Miss you, papa.”


Detik selanjutnya, EKG berbunyi cepat. Garis yang sebelumnya membentuk cengkok stabil, kini berubah menjadi garis cengkok dan sesekali garis berubah menjadi lurus bahkan putus-putus. White yang panik segera menekan tombol untuk memanggil pertolongan, dan tidak lama kemudian suster dan juga dokter berlarian dari arah pintu.


Tubuh White bergetar ketakutan. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan ketika melihat dokter dan para perawat bergerak cepat untuk melakukan pertolongan. White menggeleng, dia tidak ingin hal ini terjadi. White masih ingin bersama super Hero nya. White masih ingin ayahnya berada disini, dan membuat White merasa tidak sendirian.


Tak kuasa, White berjalan keluar ruangan meninggalkan kepanikan didalam sana. Air matanya menganak sungai, rambutnya ia remas hingga berantakan. Tubuhnya yang tersandar di tembok depan ICU, luruh ke lantai. White seperti kehilangan semangat hidup dan tenaganya.


“Papa...”


Eaden yang baru saja datang dari kantin rumah sakit dan melihat White yang terguncang didepan ruangan ICU, segera berlari menghampiri, mengguncang tubuh linglung si gadis, lantas membawanya kedalam pelukan.


“Tidak apa-apa. Papa mu pasti baik-baik saja. Dia pasti bisa melewatinya.” bujuk Eaden berusaha memberi ketenangan untuk White yang kini menangis di dadanya. Ada gelenyar aneh yang tidak di ketahui Eaden ketika mendekap White yang sedang menangis seperti ini. Entah apa itu, tapi Eaden yakin, ini bukan hanya sekedar perasaan iba. Rasanya lebih menyakitkan dari pada seseorang menyakiti fisiknya. Eaden ingin sekali membawa White dan membuatnya kembali tertawa, bukannya menangis seperti ini.


“E, tolong. Jangan menangis lagi. Semua kita serahkan kepada Tuhan.” tutur Eaden mendadak sok bijak. “Apapun yang terjadi, pasti itu adalah yang terbaik untuk papamu.”


“Aku akan sendirian jika papa meninggalkan aku, Ed.”


“Ssshh... ada aku.” sahut Eaden cepat, ia mempererat pelukannya. “Papamuakan baik-baik saja. Dan jika pun takdir berkata lain, aku yang akan menggantikan tugas papamu. Aku akan menjagamu seperti papamu menjagamu.”


Akan tetapi, kehadiran seseorang yang tidak disangka berhasil mengejutkan keduanya.


“Tidak! Aku yang akan menjaganya!” []



...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...