WHITE

WHITE
Mengumpan.



...Happy reading semuanya......


...Happy Week End day......


...•...



WHITE by: VizcaVida


“Selera yang bagus, kids.” puji Rottey sambil mengacungkan jempol didepan wajah Eaden setelah melihat Bugatti Centodieci milik Eaden yang terparkir di bahu jalan.


Ya. Mereka bertemu lagi, Eaden yang meminta bertemu. Dan Rottey pun menyanggupi. Ia datang bersama sekretaris dan juga dua ajudan bertubuh kekar, orang yang sama yang memukuli Eaden saat itu.


“Thank you.”


Rottey duduk di kursi tepat didepan Eaden. Mereka bertemu di sebuah club malam di ruangan privat. Eaden ingin menyampaikan maksudnya kepada Rottey, terutama menjalankan rencana yang sudah ia susun matang.


“Ada apa mengajak bertemu? Apa masih ada hubungannya dengan E?”


Tidak mungkin Eaden menjawab 'Ya' karena rencananya bisa berantakan. “Tidak. Aku hanya ingin mengajak anda bersenang-senang, tuan Rottey.” jawab Eaden tersenyum jumawa, tidak ingin menunjukkan kebenciannya yang sudah mendarah daging, agar Rottey masuk kedalam perangkap buatannya. Eaden ingin Rottey berjalan mengikuti arus yang ia buat, tanpa memberitahu untuk memakai pelampung karena diujung sana, ada arus kuat yang siap menghancurkan salah satu dari mereka.


“Bersenang-senang? Sepertinya menarik?” kelakar Rottey yang terbaca dengan jelas oleh Eaden bahwa tidak ada sama sekali ketulusan didalamnya.


“Tentu saja. Anda akan suka.”


Rottey menatap penuh telisik, namun Eaden dengan berani mengunci tatapan itu tanpa ragu. “Permainan apa?” tanya Rottey tajam dengan seringai diujung bibir.


Eaden menarik sudut bibirnya kesamping, bahu ia kedikkan seolah permainan itu akan sangat disukai oleh Rottey. “Poker?”


Rottey sedikit terkesiap, namun berhasil menyamarkan hal itu dengan mengambil gelas berisi cairan berwarna ungu gelap yang sejak kedatangannya tadi sudah tersedia di sana. Rottey sama sekali tidak takut Eaden akan meracuninya, karena tau Eaden adalah orang yang memegang teguh sebuah sportifitas. “Ah, aku tidak pernah memainkan itu karena aku benci meja judi.” jawab Rottey sedikit membuat Eaden khawatir rencana itu akan gagal. “Tapi, apa salahnya mencoba, bukan? Pasti akan sangat menyenangkan.”


Bingo!!!


Umpan yang dilempar Eaden sudah di sambar. Kini dia hanya perlu menarik kail secara hati-hati agar ikan tidak terlepas. Eaden hanya perlu meyakinkan agar Rottey mau bermain poker bersamanya. Tentu saja tanpa mengatakan apa maksud dan tujuan utamanya mengajak laki-laki tua biadab itu bermain di meja judi.


“Ya, anda akan senang dan puas karena hadiah yang di tawarkan juga jumlahnya tidak sedikit.”


“Jadi, kamu mau taruhan?” tanya Rottey memastikan. Ia menaikkan sebelah alisnya kearah Eaden.


“Ya.”


“Uang?”


Eaden tersenyum simpul. “Pasti akan lebih menyenangkan jika kita menyebutkan hadiah kemenangan di tempat bermain nanti.”


Rottey menyeringai lebar, bermaksud menggoda yang entah memang iya atau hanya canda. “Mobilmu saja, aku tertarik.” ucapnya sambil tertawa lantang. Bukan tidak sanggup membeli, tapi ada kesenangan tersendiri menggoda Eaden seperti yang dilakukannya saat ini.


Sepertinya laki-laki tua itu memang tidak tau sama sekali tujuan Eaden mengajaknya bermain poker, dan Eaden menanggapi kelakar tak berguna itu dengan sebuah tawa tipis diujung bibir. “Anda mau mobil itu? Nggak masalah.” jawab Eaden santai seolah mobil mahal itu tidak ada harganya untuk dia. “Jadi, anda mau bermain poker bersama saya?”


“Tentu. Kenapa tidak? Tentukan saja tempatnya.”


Eaden berpura-pura berpikir keras sembari mengetuk meja, seperti sedang menimbang sesuatu. “Aku yakin tidak ada tempat yang lebih bagus dari tempat milik madam Jo. Tapi, jika anda tidak suka, anda boleh memilih tempat lain.”


Ada raut terkejut yang sempat menghinggapi ekspresi Rottey, dan Eaden bisa melihat itu dengan jelas. Hingga Rottey kembali mengulas senyum dan mengangguk tau. “Ya. Disana memang tempat paling cocok karena legal. Jadi, ya sudah, disana saja. Lusa.”


Eaden mend*esah lega dalam hati karena Rottey sepertinya tidak curiga. Itu berarti actingnya lumayan bagus bukan, hingga orang sekelas Rottey tak menyadari apa yang sedang ada didalam kepalanya?


“Okey. jam sepuluh malam.”


***


Rottey tidak suka jika reputasinya di sentil, apalagi di jatuhkan.


Mengingat ucapan White hari itulah yang membuat ide gila itu tercetus didalam kepala Eaden. Ya, umpan sudah disambar, sebagian dari rencana sudah berhasil. Dan kini, Eaden harus menjalankan perannya dengan baik agar tidak terjadi kesalahan yang akan merugikan dan berakibat fatal bagi dirinya maupun White.


Eaden merogoh ponsel dari dalam jaket dan menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan White. Wanita yang memenuhi sebagian hidupnya. Wanita yang membuatnya jatuh cinta. Dan wanita yang membuat dunianya berubah 360 derajat, jungkir balik.


Nada sambung terputus ketika hampir berbunyi empat kali, berganti suara lembut sedikit serak di seberang. Eaden terkekeh. “Apa aku mengganggu tidurmu?”


“Tidak, ada apa?”


“Aku, berhasil mengajak Rottey untuk datang ke rumah poker madam Jo. Lusa, jam sepuluh malam.”


Jantung White seolah dipaksa berhenti berfungsi untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka jika hal ini akan benar terjadi. White sampai tidak bisa berkata-kata karena dalam benaknya kali ini, hanya bisa menangisi kecerobohannya.


“Ed...”


“Katakan, siapa pendamping bermain yang paling handal disana?”


White terdiam beberapa saat, mencoba mencerna kalimat Eaden dan berakhir kesal sendiri. “Maksudmu, kamu akan menyewa—”


“Ya. Setelah aku pikir-pikir, tidak aman jika kamu ada disana.”


“Tidak!” sahut White tanpa menunggu lebih banyak kalimat yang akan muncul dari bibir Eaden. White tidak akan membiarkan orang lain duduk di pangkuan Eaden dan menciumnya. Membayangkannya saja sudah membuat White terbakar api...


Ah, sudahlah. Yang terpenting jangan sampai Eaden bersama wanita lain. Egois, tapi White tetap tidak bisa menahan rasa aneh di hatinya yang membuat dia jadi uring-uringan.


“Kenapa?”


“Jika kamu ingin membayar wanita disana, aku tidak akan tinggal diam.”


Eaden terkekeh. Ada apa dengan White? Apa dia sedang cemburu saat ini? Pertanyaan tidak berdasar itu membuat Eaden tiba-tiba saja tersipu. “Lalu aku harus bermain sendiri? Lalu kalah dan mati ditangan Rottey?” kelakar Eaden.


“Tidak. Jangan pernah kalah, apalagi...mati.”


Jawaban White membuat Eaden terkejut dan lebih tersipu dari beberapa detik yang lalu. Jika dulu Eaden akan bersikap acuh, bahkan ogah-ogahan kepada White, sekarang berbeda. Lebih tepatnya setelah memberitahu perasaannya kepada White, rasa bahagia hingga membuatnya tersipu-sipu selalu muncul ketika wanita itu mengatakan sesuatu yang membuat dirinya merasa dianggap dan dihargai sebagai seorang manusia.


“Aku akan kalah jika main tanpa pendamping, E. Jadi beri aku solusi untuk masalah ini. Bagaimana agar aku tidak kalah?”


“A-aku yang akan jadi pendampingmu. Jika pun kalah, aku yang akan menanggung semua—”


“Tidak. Kita tidak akan kalah. Terima kasih sudah mau jadi pendampingku. Beristirahatlah, kamu pasti lelah.” tutur Eaden lembut penuh perhatian yang dibalas 'ya' oleh White. Seketika itu panggilan berakhir dan Eaden bersiap meninggalkan club malam itu dengan rasa campur aduk yang membuatnya tidak bisa berfikir jernih. White memutuskan untuk menjadi pendamping di meja judi. Lalu bagaimana jika Rottey geram dan—


“Apa yang sedang kau rencanakan untuk papaku, Ed?” []



Jangan lupa mampir juga,


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You....