
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Ternyata, Eaden mengajaknya ke sebuah museum seni yang sedang mengadakan lelang lukisan. White sedikit tercengang sebab lelaki tipikal Eaden adalah seorang pecinta seni. Pasalnya, dengan tato dan penampilannya yang terlihat urakan, Eaden tidak layak disebut kolektor, atau lebih tepatnya, tidak terlihat seperti kolektor pada umumnya yang memiliki vibes casual era 80an yang tidak ada sama sekali pada diri Eaden.
Jam masih terlalu pagi dari acara, Eaden mengajak White berkeliling di area museum untuk melihat-lihat pajangan gambar dari pelukis terkenal yang hendak di lelang.
“Setiap gambar, memiliki makna dan tujuan berbeda-beda yang ingin disampaikan si pelukis.” tutur Eaden memberi penjelasan singkat kepada White, karena White terlihat bingung saat mendapati sebuah lukisan yang berupa coretan-coretan berantakan dengan berbagai macam warna.
White memperhatikan Eaden yang sedang menjadi kurator dadakan didepan audience VIP nya, White.
“Lalu, apa makna lukisan ini?” tanya White ingin tau. Karena ia baru pertama kali ini mendatangi museum setelah beberapa tahun lalu mengikuti kegiatan study tour yang diadakan sekolah. Itupun bukan museum seni, melainkan museum sejarah.
Eaden memindai sejenak, lantas menyentuh ujung dagu dan menggosoknya dengan ibu jari. “Mungkin pelukisnya sedang jatuh cinta, atau sedang berambisi terhadap sesuatu.” jawabnya tidak pasti, namun berharap jawaban itu benar, karena setaunya, ia pernah membaca sebuah artikel dan ulasan yang menyebut makna seperti itu terhadap sebuah coretan. Setidaknya seperti itu yang dia tau.
“Ternyata wawasan kamu terhadap seni tidak sempit ya?”
Eaden mendadak berubah menjadi es untuk beberapa detik. Ia memandangi White yang memakai kaos kebesaran berwarna putih ketika melewatinya begitu saja. Entah mengapa, tiba-tiba muncul sebuah rasa bangga dalam benaknya saat White memuji pengetahuan kecilnya tentang makna sebuah gambar.
Lalu, Eaden mengikuti langkah White untuk melanjutkan melihat-lihat lukisan lain. Ia berdiri dibelakang White dan tidak segan menjawab setiap pertanyaan yang White ajukan padanya. Sesekali dia membual, sesekali dia menjawab dengan benar, dan sesekali dia menjawab ala kadarnya. Eaden hanya berharap White tidak menertawakan jawaban yang ia katakan. Atau White pura-pura tidak tau, dan menguji pengetahuannya.
“Menurutmu, mana yang berkesan?” tanya Eaden meminta pendapat. Seperti yang ia katakan sejak awal, bahwa tujuannya mengajak White adalah untuk meminta pendapat gadis tersebut.
“Masih banyak lukisan yang harus kita lihat. Jadi bertanya-nya nanti saja.” ketus White tak peduli jika nanti Eaden akan menjambak rambutnya dari belakang.
“Aku ingin ikut lelang hari ini.”
Langkah kaki White terhenti.
Lelang? Bukankah lelang ini akan bersaing dan unjuk harga?
White memutar tubuh. Memperhatikan lurus-lurus penampilan Eaden dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Memangnya, berapa isi kartu debit mu?” ada nada tidak biasa dari pertanyaan tersebut yang menyentil harga diri seorang Eaden.
Ah, apa wanita sial*an ini sedang merendahkan aku? Apa perlu aku menyebut nominalnya? Sepertinya perlu, agar dia semakin yakin padaku.
“Eummm...” Eaden berfikir, kali ini mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. “Tujuh juta dollar, mungkin?” jawab Eaden berpura-pura dan memasang wajah tidak pasti, padahal ia tau betul jika isi saldo pada kartu debitnya lebih dari itu.
Seketika itu, White terbelalak. Ia tidak menduga uang Eaden sebanyak itu. Kartu ATM yang ia miliki tidak ada apa-apanya, tidak sebanding dan tidak bisa dibandingkan.
Okey, White salah. Seharusnya dia juga sudah bisa menebak saat melihat dari kendaraan apa yang di pergunakan pria ini ketika datang ke area kost nya tadi. Harga mobil itu saja bisa untuk bertahan hidup selama bertahun-tahun.
“Sombong!” tukasnya, malu. Akan tetapi Eaden tertawa sedikit lebar hingga kembali memperlihatkan dua lesung pipi di setiap sisi wajah berfitur tegas itu.
“Tadi penasaran dan bertanya, lalu mengapa menyebutku sombong saat aku menyebut nominalnya?”
White tidak peduli. Ia melipir dan pergi meninggalkan Eaden yang terdengar masih tertawa dibalik punggungnya.
Lalu, langkah White terhenti ketika melihat sebuah lukisan yang bermakna dalam baginya. Seorang ibu, menatap anak dalam gendongannya sembari tersenyum lembut dan penuh kasih. Ia ingin sekali menyentuh lukisan tersebut, menyalurkan keinginannya untuk bertemu sang ibu yang sudah hampir lima tahun tidak pernah ia lihat.
“Kamu suka lukisan ini?” tanya Eaden membuyarkan lamunan White.
Bukannya memberi jawaban, White malah bertanya kembali pada Eaden. “Kalau lukisan ini, apa maknanya?”
Eaden tersenyum, dia jadi merindukan ibunya yang sudah pergi ke nirwana. “Sebuah kasih sayang. Kenapa? Kamu menyukainya?”
White kembali merotasikan bola mata, menatap dengan sorot rindu yang teramat sangat, lantas ia mengangguk. “Ya. Aku menyukainya.”
***
“Baiklah, lukisan selanjutnya.”
Muncul gambar yang tadi sempat mematik rasa penasaran dalam benak White. Sebuah lukisan corat-coret. Beberapa orang mulai memasang harga. Eaden yang ditatap White dengan tatapan yang seolah berkata, ‘Mengapa diam saja, katanya mau ikut lelang, uangmu juga banyak?’ itu membuat Eaden mengedikkan bahu.
Eaden mengangkat papan, menyebut nama, dan menyebut nominal. “Satu juta dollar.”
Semua menoleh. Eaden dengan enteng mengedikkan bahu. Ia memang menginginkan lukisan itu, jadi nominal yang ia sebut tidak ada apa-apanya. Sang Auction juga sempat freez, seperti yang lain, tercengang.
“Kenapa?”
Auction berdeham, lantas menginterupsi dari angka satu hingga tiga. Tidak ada yang berani menawar lebih tinggi, dan palu diketuk. Lukisan itu jatuh ke tangan Eaden begitu saja setelah sempat terjadi perebutan harga yang berbeda tipis, namun penawaran tinggi dari Eaden, mampu membungkam semua orang, tanpa berani menambah nominal lagi. “Lukisan itu untukku.” bisik Eaden dengan senyuman bangga, yang mendapat respons sebuah gelengan kepala dari White.
“Selanjutnya.”
Lagi-lagi, suara Auction menarik perhatian seluruh peserta lelang. Sebuah lukisan yang begitu bermakna menurut White. Lukisan yang memperlihatkan sebuah bentuk kasih sayang seorang ibu dan anak. White menginginkan itu.
Para peserta berebut harga. Pertarungan nominal yang sengit. Tidak ada yang mau melepas karena lukisan itu memang indah dan memiliki makna yang begitu dalam.
Sekilas, Eaden memperhatikan wajah White yang terlihat cemas. Dia bahkan tersenyum ketika melihat White yang sedang cemas itu menggigit bibir bawahnya dan meremas ujung pakaiannya ketika Auction hampir menyebut angka tiga sebagai penutup harga.
Dan kini, angka berhenti di nominal 1,5 juta dollar. Auction mulai menghitung. Tepat ketika angka tiga masih menggantung di kerongkongan wanita berusia setengah abad itu, Eaden mengangkat papan miliknya. “2,5 juta dollar.”
Wow. Angka yang fantastis.
Step tiga. Buat dia benar-benar jatuh terpesona kepadamu. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan segalanya.
Eaden menoleh pada sosok White yang kini sedang menatapnya. Keduanya saling tatap hingga Auction menyebut angka tiga, dan menyebut dengan lantang nama Eaden sebagai pemilik.
White hampir menangis ketika Eaden menepuk bahunya sambil berkata. “Kalau lukisan itu, untukmu. Simpan dan jaga dengan baik karena harganya tidak murah, Okey?!”
White mengangguk. Ia tidak tau harus berterima kasih dengan cara apa karena Eaden sudah memiliki segalanya.
“Aku harus menggantinya dengan apa?”
“Mengganti? Mengganti apa?” tanya Eaden sembari mengerutkan kening. Tidak lagi peduli pada lukisan-lukisan lain yang sedang di pertontonkan pada layar lebar berwarna putih didepan sana, Eaden hanya perlu membuat White terpesona akan dirinya, dan sepertinya berhasil.
“Uang untuk menebus lukisan itu.”
Eaden tertawa tanpa suara. “Tidak perlu. Lukisan itu aku berikan gratis untukmu.”
Tanpa disangka, Eaden menerima sebuah rengkuhan hangat dari sosok White. Ia mengerjap, bahkan ternganga karena terkejut.
“Terima kasih, ya.”
Eaden dan White menjadi pusat perhatian beberapa orang. Lantas Eaden yang menyadari itu segera menarik diri. Hatinya yang beku, perlahan mencair. White membuatnya seolah berharga, terlepas dari kehidupannya yang suram dan keras selama ini.
“Tidak perlu berterima kasih. Ini aku berikan sebagai hadiah untukmu yang bersedia menemaniku hari ini.” Eaden memeriksa ekspresi White, dan tidak menangkap kecurigaan apapun dimatanya. “Tapi, jika suatu saat aku membutuhkan bantuanmu, kamu bersedia bukan?” []
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....