WHITE

WHITE
Membocorkan Informasi.



...Happy Reading......


...Jangan lupa dukungannya ya,...


...•...



WHITE by: VizcaVida


Mommy nya dulu selalu mengajari untuk menghargai sesama, saling menghormati, berbagi, bersikap bijaksana, dan mengagungkan sosok wanita, sebab wanita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang pandai menyembunyikan dirinya yang rapuh dibalik sebuah senyuman. Wanita adalah sosok yang harus dihargai karena mereka, rela bertaruh nyawa untuk menghadirkan sebuah kehidupan selanjutnya kelak. Wanita adalah sebuah permata.


Sebab itulah, Vero memiliki sifat penyayang, bijaksana, dan juga sangat menghargai seorang wanita—meskipun dia menyembunyikan semua itu dibalik wajah dingin yang ia miliki. Dia ingin menjaga seorang wanita dengan sungguh-sungguh, mereka ibarat kaca yang tidak akan bisa terlihat elok jika sudah hancur. Dia tidak ingin menghancurkan masa depan mereka. Dan jika pun itu terjadi, Vero akan mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Namun saat ini, semua kekacauan yang terjadi bukan dia yang menimbulkan. Tapi sang ayah. Untuk itulah, dia akan meminta izin kepada sang ayah untuk mempertanggung jawabkan semuanya, tentu saja tanpa memberitahu jika White sedang mengandung calon kehidupan baru berdarah Bruddy. Ia tidak ingin White terpuruk, untuk itu dia ingin mengikat White dengan sebuah janji suci.


“Tidak! Papa tidak akan merestui kalian berdua.” seru Rottey ketika Vero menyampaikan itikad baik untuk rela mengganti posisi ayah untuk anak di dalam kandungan White.


“Pa, tolong.” pinta Vero bersungguh-sungguh.


“Kamu pikir, papa mau melepaskan putra satu-satunya yang papa miliki untuk wanita seperti dia?!”


“Memangnya papa menganggap E seperti apa? Wanita murahan?”


“Ya. Pada kenyataannya memang seperti itu. Dia mau menerima bayaran dari laki-laki yang menidurinya, apalagi jika bukan murahan namanya?”


Vero menggeleng tidak percaya dengan ucapan ayahnya sendiri. Yang menjadi tanda tanya besar dalam hati Vero saat ini, sejak kapan papanya menjadi liar seperti itu?


“Pa,” panggil Vero dengan nada parau, ia melepas pijatannya dari pelipis lantas menunjukan sorot mata sendu kepada sang ayah. Semua ini terjadi di luar akal sehat, terlalu tiba-tiba hingga membuat Vero frustasi. “—bukankah papa yang sudah menghancurkan dia? Aku hanya ingin mempertanggung jawabkan apa yang sudah papa lakukan. Aku berusaha mati-matian untuk menjaga dia, tapi papa menghancurkan E begitu saja.”


“Papa akan setuju, jika Kelly yang menikah denganmu.”


“Aku tidak akan menikah dengannya!” tegas Vero tak ingin di bantah. Dia sudah meneguhkan hatinya untuk melupakan, dan juga merelakan masa lalunya bersama Kelly. Dia hanya ingin merajut masa depan, dan orang yang Vero inginkan berada disisinya adalah White.


“Kenapa?”


“Dia tidak baik untukku, pa! Tolong, jangan paksa aku menikah dengannya.”


Roonie—mommy nya— pernah mengatakan jika suatu saat nanti, Vero akan mengerti arti sebuah perasaan tulus. Jika dulu, dia begitu tulus namun dikhianati, saat ini dia memberanikan diri untuk kembali tulus memberi perasaannya kepada seseorang, dan berharap dihargai. White adalah orang itu, orang yang berhasil membuat dirinya berani kembali menapaki sebuah perasaan yang hampir ia musnahkan dalam daftar hidupnya.


“Jadi, di mana Jessy Coric saat ini berada?”


***


Eaden mengotak-atik sebuah aplikasi tertanam di ponselnya. Aplikasi yang bisa menentukan keselamatan juga menjamin hidup dan matinya.


Beberapa hari yang lalu, dia memberi akses untuk Kelly—meskipun sekarang, dia sudah menulis nama wanita itu kedalam daftar blacklist—yang membuat wanita itu bisa hadir di rumahnya. Seperti yang sudah dia katakan sebelumnya, dia tidak sengaja menekan tombol Yes ketika aplikasi tersebut mempertanyakan kehadiran sosok Kelly yang sama sekali belum pernah terbaca oleh sistem palang pintu keamanan.


Kali ini, berbeda. Dia memiliki satu nama yang ingin dia hapus dari daftar blacklist. Yakni Vero.


Setelah mendengar tawaran Kelly kemarin, tiba-tiba terbit sebuah ide didalam kepalanya.


Bagaimana jika dia setuju dengan ajakan Kelly bersekutu? Apa salahnya mencoba? Mungkin dia tidak akan rugi, hanya tinggal berhenti jika dia rasa tidak menguntungkan. Begitu, mudah bukan?


Eaden membuka aplikasi pesan berbalas. Dia mencari daftar nama di kotak pencarian. Dia mengetik huruf K, dan nama Kelly muncul di urutan ketiga setelah dua nama kliennya.


Maniknya menerawang tentang segala keinginan untuk segera menekan papan Keyboard, dan mengirim pesan dengan topik yang beberapa waktu lalu mereka berdua bahas. Simbiosis mutualisme.


“Haruskah?” gumamnya, mempertanyakan kesungguhan pada dirinya sendiri tentang keputusan yang hendak ia ambil. Sekali lagi, ini pasti mudah. Dia hanya tinggal pergi ketika Kelly mulai berlagak. “Ough, come on dude. Kamu bukan seorang pecundang. Bagaimana kamu bisa tertarik dengan tawaran murahan seperti itu?”


Namun pada akhirnya, dia seperti menjilat ludah sendiri. Dan lebih parahnya, dia membuat kesepakatan yang jelas-jelas akan menyakiti White. Eaden terjebak bersama masa lalunya, Kelly.


Ah tidak, tidak. Semuanya tidak akan semudah itu.


Kamu dirumah? Bersama Vero?


White yang membaca pesan itu mendes*ah lelah. Kenapa sekarang? Jika Eaden ingin melampaui Asian kekesalan pada Eaden, White dengan suka rela akan berbohong.


Untuk apa? Aku sedang istirahat dikamar. Vero dikamarnya sendiri.


Sekitar sepuluh menit lewat, tidak ada balasan. Akan tetapi, ponsel White berdering tanda panggilan masuk.


“Kenapa?” tanya White dingin.


“Tolong berikan ponselmu kepada Vero.”


“Untuk apa?”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya.”


“Ed, jika kamu ingin berbicara Vero dengan tujuan tidak baik, aku tidak mau memberikan panggilan darimu padanya.”


“Aku janji tidak akan terjadi apapun. Aku perlu bicara dengannya. Ini sangat genting.”


“Baiklah, tunggu sebentar.”


White menuruni ranjang dengan gerakan perlahan. Benar kata Vero, janin yang ada didalam kandungannya adalah anugerah terbaik dari Tuhan, jadi dia harus menjaganya dengan baik.


White berjalan tertatih karena kepalanya yang masih berdenyut nyeri menuju kamar Vero. Sesampainya, White mengetuk sebanyak tiga kali, pintu berderit terbuka, dan Eaden bisa mendengar percakapan singkat White ketika bersama Vero dengan sangat jelas. Keduanya berbicara dengan nada rendah dan lembut.


“Halo,”


“Hey, apa kabarmu teman?”


Vero tersenyum kecut. Sejak kapan mereka kembali berteman?


“Baik. Ada apa?”


“Aku ingin memberitahu satu hal penting padamu.”


Vero diam tidak menjawab, dia mendengarkan kalimat Eaden dengan seksama.


Mungkin, jika suasana keduanya dalam keadaan normal dan baik-baik saja, Vero pasti percaya dengan apa yang dikatakan Eaden. Tapi, posisi mereka tidak baik. Mereka seperti pasangan musuh yang tidak pernah bisa dipertemukan, kemudian di persatukan kembali menjadi teman.


“Kamu pikir aku akan percaya? Mana ada orang membuat kesepakatan jahat, mengatakan itu kepada calon korbannya?” jawab Vero setelah mendengar apa yang dikatakan Eaden padanya, tentang perjanjiannya dengan Kelly. “Jangan membuat nama Kelly semakin buruk dimataku, Ed.”


Mendengar nama Kelly, White menoleh kasar. Meskipun jaraknya dengan Vero cukup jauh untuk mendengarkan apa yang dibicarakan laki-laki itu melalui sambungan telepon, tapi mendengar nama Kelly keluar dari bibir Vero, membuat White mau tidak mau harus mencuri dengar dan mencari titik pembicaraan keduanya.


“Memangnya kenapa? Kelly memang ingin kamu kembali padanya. Dia menawariku sebuah kesepakatan simbiosis yang saling menguntungkan. Aku menerima, dan sekarang aku dengan baik hati memberitahukan padamu, jika Kelly memiliki tujuan jahat kepada White demi mendapatkan dirimu.” terang Eaden panjang lebar, membuat kening dan kedua alis Vero berkerut. Wajahnya yang semula biasa saja, kini terlihat mengerat.


“Apa aku harus percaya kepada orang yang beberapa tahun terakhir ingin mencelakai ku?”


“Terserah.” jawab Eaden enteng, namun kemudian melanjutkan. “Jika kamu memang tidak percaya kepadaku, biarkan White pergi dari sana. Biarkan dia datang kepadaku, agar aku bisa melindunginya lebih baik darimu. Menjaganya lebih dari nyawaku sendiri, lebih dari apa yang dilakukan seorang Bruddy,” Eaden menggantung kalimatnya, mencoba memancing emosi Eaden agar dia mau melepaskan White untuknya tanpa harus terjadi hal-hal yang tidak di inginkan kepada wanita itu. “—yang malah menghancurkan masa depannya.”


“Stop!! Kamu tidak tau apapun, Ed.”


“Aku cukup tau, karena E mempercayai aku.”


Kini, dengan sorot tajam dia mengalihkan pandangan kepada White. Lalu kembali menatap kearah dimana jendela yang tersiram cahaya bulan samar.


“Berhenti menyakitinya, dan serahkan E kepadaku. Aku akan melindunginya jauh lebih baik dari pada dirimu.” []