WHITE

WHITE
Arti Balas Budi secara Harfiah.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Jangan ditanya seperti apa suasana makan siang antara Vero dan White setelah Rottey pulang. Keduanya diam dan sibuk tanpa menyentuh lasagna yang tersedia pada piring masing-masing diatas meja.


Vero memutuskan untuk tidak jadi memasak seperti yang ia janjikan kepada White. Moodnya tiba-tiba hancur setelah mendapati Rottey berada di rumahnya tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Ia memutuskan membeli makanan antar siap saji, setelah bertanya apa yang ingin White makan, siang ini. Lasagna menjadi pilihan, dan Vero mewujudkan itu.


Lalu, jika diingat-ingat lagi, darimana ayahnya itu tau password rumahnya yang baru? Seingat Vero, dia baru mengganti password tersebut beberapa waktu lalu tanpa memberitahu kepada siapapun, termasuk ayahnya.


Saat Vero bejibaku dengan isi kepalanya, White terlihat kehilangan selera makan. Kehadiran Rottey yang mengatakan bahwa dia tidak suka White bersama Vero, dan juga pesan dari orang misterius yang terus meneror dirinya. White tertekan bukan main.


“Kenapa tidak dimakan?” tanya Vero yang melihat White hanya mengaduk dan memotong kecil-kecil lasagna itu hingga menjadi sesuatu yang terlihat... menjijikkan. “Tidak enak?”


White tersentak, ia menunduk dan menatap lasagna nya yang memang sudah tidak berbentuk, lalu tersenyum kaku. “Tidak.”


Semua yang tergambar di wajah White menjadi jawaban atas terkaan Vero. Gadis itu sedang memikirkan sesuatu. Mungkin ucapan ayahnya tadi, atau sesuatu yang lain yang tidak bisa gadis itu katakan didepannya.


Vero meletakkan garpu diatas piring. Ia menumpu wajahnya dengan dua telapak tangan yang menyatu, lantas bertanya kepada White. “Katakan, ada masalah apa? Aku bersedia menjadi teman dan pendengar yang baik.” tutur Vero, sangat lembut tanpa membuat White merasa terganggu sedikitpun.


“T-tidak ada apa-apa kok. Aku hanya masih teringat dengan papa.”


Mungkin itu benar. Tapi satu sudut hati Vero menerka jika White sedang kalut, ekspresi wajahnya terlihat sedang khawatir dan ketakutan. “Apa karena ucapan papa tadi?” tanya Vero yang langsung mendapat perhatian dari White. Ini terlalu mudah ditebak. “E, jangan pernah terpengaruh dengan ucapan papa. Dia memang tipikal diktator yang tidak pernah mau harga dirinya tersentuh dan dipermalukan.” tegas Vero memberi pengertian agar White tidak perlu terlalu cemas untuk hal itu.


Lalu, apa tidak akan berdampak apapun jika White memberitahu Vero tentang pesan dari si peneror itu? Bagaimana reaksi Vero jika tau White mendapat pesan mengerikan yang terus mengganggunya akhir-akhir ini? Benak White bertanya-tanya pada dirinya sendiri, mencoba mencari titik temu agar Vero tidak salah sangka dengan berfikir jika White meminta dia untuk menyelidiki si pemilik nomor.


Bibir White hampir terbuka untuk mengatakan rahasia pribadi yang membuatnya ketakutan setengah mati itu. Namun semuanya kembali ia telan mentah ketika ponselnya tiba-tiba bergetar kuat. Nama Eaden muncul, dan dengan gerakan cepat dan tatapan takut-takut yang ia tujukan kepada Vero, White meminta izin sebentar untuk menjawab panggilan itu.


“Aku akan menerima telepon dulu.” ucapnya, berdiri dan menjauh dari meja makan setelah mendapat anggukan dan tatapan datar dari Vero.


White menuju kamar tamu dimana tempat itu selalu menjadi pelabuhan lelahnya saat tinggal bersama Vero. Ia menutup pintu tanpa mengunci, lalu menggeser tombol hijau pada display ponsel untuk berbicara dengan Eaden.


“Ada apa, Ed?”


Perbincangan ringan terjadi, hingga White kembali mendapat sebuah teguran dari Eaden. Laki-laki itu selalu mengingatkan kepada White untuk berhati-hati pada keluarga Bruddy, karena bagaimanapun, White bukan siapa-siapa disana. Vero bukanlah dirinya yang bisa menerima White meskipun ia juga berharap akan mendapatkan bayaran setimpal secara diam-diam untuk jasa kebaikannya itu.


“Kenapa tidak ke rumahku saja? ”


“A-aku tidak ingin berhutang budi semakin banyak kepadamu. Kebaikanmu sebelum ini saja belum bisa aku balas. Aku tidak ingin semakin membuatmu terbebani dengan diriku—”


Tiba-tiba, seseorang menarik ponsel White dari arah belakang. “Jangan hubungi dia lagi.” Vero mengakhiri panggilan Eaden secara sepihak, lalu mengembalikan ponsel kepada si pemilik, White a.k.a E.


Merasa tidak suka, White menatap sengit ke arah Vero. Moodnya yang sudah kacau, semakin hancur ketika Vero berbuat seenaknya dengan mengatakan kalimat sarkas itu kepada Eaden yang juga sudah bersedia membuka tangan, memberikan pertolongan selama ini kepadanya. “Apa yang kamu lakukan? Aku tidak suka kamu ikut campur urusan pribadiku.”


“Eaden itu bukan pria baik. Dia akan meminta balasan atas kebaikannya.”


Vero menatap tajam pada White. Harga dirinya tersakiti untuk kesekian kali. Lalu, dengan nada congkak dia berkata, “Katakan padaku, berapa jumlah uang yang kamu pinjam dari Eaden. Aku akan membayarnya lunas untuk membuatmu lepas darinya.” ucap Vero sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel untuk mencari aplikasi E-banking, lalu mentransfer sejumlah uang sesuai dengan yang dikatakan White.


White tersenyum simpul diujung bibir. Ia tidak suka dengan jawaban Vero. Itu terlalu berlebihan, dan sombong. Ini bukan masalah uang saja, ini tentang budi baik yang harus White bayar agar dia tidak merasa terbebani sampai mati.


“Lalu apa bedanya denganmu?” sahut White cepat, mendapat atensi penuh dari sosok Vero. “Jadi please, jangan berkata seperti itu tentang Eaden. Dia orang baik. Aku tidak peduli seburuk apa hubungan kalian dahulu, sebenci apa kamu padanya, kamu bebas menilai Eaden seperti yang kamu inginkan. Tapi aku sama sekali tidak melihat keburukan itu dari diri Eaden. Dia temanku. Teman yang sudah menolongku dalam berbagai kesulitan,”


“E. Berhenti menyebutnya orang baik! Dia sama sekali tidak seperti yang kamu kira.”


“Oh~jadi kamu bahkan ingin membatasi semua hal dariku. Bahkan privasi dan temanku?” sergah White penuh penekanan dan rasa sebal. Dia tidak mengira jika Vero akan se-over protective itu.


Seperti ujung mata pedang yang merobek sisi hatinya, Vero mencelos. Telapak tangannya mengepal hingga memutih. Dia tau White yang keras kepala, tapi sumpah, dia tidak ingin mengurung apalagi membatasi pergaulan White. Dia hanya tidak ingin White terlibat semakin jauh dengan Eaden yang bisa saja mendekati White dengan tujuan tertentu. Karena setau Vero, Eaden tidak hanya akan memberikan sesuatu dengan tanpa imbalan.


“Kamu bebas berteman sesukamu, selain Eaden.”


White tertawa getir, masam. “Memangnya kenapa? Sebenci apa kamu padanya hingga melarang aku berteman dengan Eaden?”


Pertengkaran ini tidak akan mendapatkan ujung jika Vero tidak memutusnya dengan sebuah jawaban pasti yang akan membuat White diam. “Dia ingin membalas dendamnya padaku, dan dia menjadikanmu umpan agar aku masuk kedalam perangkapnya. Puas?!”


Vero yang sudah kepalang Emosi, pergi begitu saja. Ia bahkan mengejutkan White yang masih berdiri ditempatnya karena membanting pintu dengan sangat-sangat keras.


Mungkin bagi White, alasan itu cukup kekanakan hanya karena menghubungkan masa lalu mereka berdua dengan masa kini. Tapi entah mengapa, ucapan Vero seolah berubah nyata, membuat satu pertahanan diri White memberi sinyal 'awas' agar membuat benteng pertahanan.


Untuk apa Eaden melakukan semua kebaikan selama ini? Mungkin tulus, mungkin juga seperti yang dikatakan Vero, laki-laki itu sedang merencanakan sesuatu karena tau dia mengenal Vero. Terlebih White sadar ketika Eaden juga tidak mengatakan jika dia mengenal Vero meskipun mereka saling tau. Berbeda dengan Vero yang mengatakan terang-terangan, Eaden terkesan lebih menutupi itu dengan sikap misterius berupa ‘budi baik’ yang mungkin akan dimintai balasan tanpa dia bisa menolak dengan dalih ‘balas budi’.


Bukankah begitu sistem kerja dunia? Budi harus dibalas jika memang tidak ingin orang lain menilai kita sebagai orang jahat yang tidak tau rasa terima kasih?


White berhutang dan dia harus membayar. Itulah makna kebaikan yang ia dapat dari Eaden selama ini, secara harfiah. Saling memberi dan menerima. []



...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...