WHITE

WHITE
Sama-sama Khawatir.



...Happy reading......


...Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan buat White ya......


...Thank you...


...•...



WHITE by: VizcaVida


Mungkin White tidak terkejut ketika mamanya yang bicara. Tapi saat ini, yang mengatakan hal tersebut adalah Nathalie. Gadis belia yang mungkin masih berusia kisaran 16 sampai 17 tahun, dan kalimat yang digunakannya terkesan...rancu?


Ah, seharusnya White tidak perlu terkejut akan hal itu. Mengingat Eaden yang juga sering mengatakan kalimat rancu dan juga ambigu. Tetapi, terlepas dari itu, White teringat akan satu istilah yang sering ia dengar ketika masih di Kasino dulu. Madam Jo sering mengatakannya, temannya yang bekerja berbeda profesi namun masih dalam lingkup yang sama. Gig⁰lo. Ya, madam Joanna sering menyebut Giovven dengan sebutan itu. Giovven adalah seorang Gig⁰lo.


Gig⁰lo?


Apa Eaden seperti itu?


Namun kalimat dari Nathalie tadi mengacu ke arah sebutan tersebut. Eaden mungkin tidak mengatakan pekerjaannya, tapi apa mungkin dia menjadi orang seperti itu?


Otak White sibuk membolak-balik semua informasi yang baru saja masuk kedalam kepalanya. Ia belum bisa menerima begitu saja dengan apa yang dikatakan Nathalie. Bisa saja gadis itu mengada-ada untuk membuatnya meninggalkan kakaknya. Karena, dari raut wajah yang ditunjukkan Nathalie sejak pertama mereka bertemu tadi, gadis itu seperti menolak kehadirannya. Ya... walaupun sekarang sudah lebih relax.


“Kenapa? Kamu terkejut?” tanya Natha dengan kalimat sarkas. “Sudah aku katakan, jangan terkejut, masih saja memasang wajah begitu.” lanjutnya mencebik dengan ekspresi kesal tiada tara.


White mengepal di balik pahanya yang menindih telapak tangan. Ia memang sudah mengantisipasi jika informasi dari ibunya itu betul adanya, tapi tidak mengira jika efek terkejut yang ia dapatkan justru lebih membuat jantungnya seolah berdebar dengan dentuman cukup menekan yang membuat aliran darahnya yang melewati urat nadi, berubah dingin.


“Kakakmu...menjual wanita kepada hidung belang?”


“Coba cerna kembali kata-kata ku tadi. Aku yakin kamu bukan orang bodoh.” tutur Natha sembari menyeringai disudut bibirnya yang sedikit belepotan kuah sereal yang ia makan.


“Nath, apa kakakmu juga—”


“Stop! Jangan mencari info tentang Eaden dariku. Dia bisa membunuhku jika sampai membuatmu kabur darinya karena aku.”


Benar. Tidak seharusnya White memanfaatkan Nathalie sebagai sarana untuknya mencari tau tentang kehidupan Eaden. Tapi rasa penasaran yang terus bercokol dihatinya membuat dia tebal muka, dan memasang muka tembok didepan Nathalie demi misinya yang nyaris sempurna.


“Kabur? Memangnya aku setan?”


“Bukan. Kamu nenek sihir.” cetus Nathalie setelah itu tertawa lepas dengan mulut terbuka lebar. Ternyata, berbicara dengan Nathalie itu lebih melelahkan dari pada harus berlari seluas gurun pasir di tanah Mesir. Sungguh. Ingatkan White untuk diam dan tutup mulut mulai detik selanjutnya. “Tapi, apa kamu benar-benar tidak tau Eaden itu seperti apa?”


White kembali terpatik semangatnya. Ia menatap lurus kearah Nathalie, kemudian menggeleng.


“Jadi, kamu juga bukan kekasih Eaden?”


Sekali lagi, White menggeleng. Namun apa yang ia dapatkan setelah itu lebih dari apa yang ia duga. Natha menodongkan sebuah revolver ke arahnya dengan sorot mata terancam. Gadis itu tidak main-main ketika menarik pelatuk dan bunyi putaran cylinder amunisi terdengar samar karena televisi sudah dimatikan beberapa menit lalu.


White merasa terkejut dan terancam sekaligus. Ia refleks mengangkat kedua lengannya dan berdiri karena Nathalie mendekat dan menodongkan senjata api itu tepat didepan tubuhnya.


“Jadi, kamu siapa? Mata-mata?”


Kecurigaan itu muncul begitu saja karena Nathalie merasa tidak aman. Firasat buruknya tentang White ketika pertama kali melihat kedatangannya tadi, kini berubah menjadi sebuah bentuk ancaman yang harus ia realisasikan. Jika perlu, dia menarik trigger saat ini juga demi keamanan jiwanya.


“Natha, aku bukan orang yang seperti itu. Aku bukan orang jahat yang berbahaya apalagi seorang mata-mata.” ucap White berusaha meyakinkan. Namun, jika gadis itu masih tidak percaya, dia menyerahkan semuanya kepada takdir. Mungkin hidupnya akan berakhir dengan cara seperti ini. “Jika kamu tidak percaya, kamu bisa menanyakan itu pada Eaden.”


“Kamu pikir aku bodoh? Eaden sedang tidak bisa di ganggu sekarang. Jadi, berhenti membual, pergi dari sini, atau aku akan—


***


Eaden telah menyelesaikan transaksinya. Semua sudah Clear dan kini dia harus segera kembali karena ada White dirumah yang sedang menunggunya. Entah kenapa, transaksinya kali ini sedikit menyulitkan dan memakan waktu. Tidak seperti biasanya yang hanya mengerahkan anak buahnya, kliennya kali ini lebih memilih dan meminta Eaden sendiri yang datang. Mau dilepas sayang, karena pembelian senjatanya lumayan besar.


Beberapa saat lalu, ponselnya menerima panggilan dari Vero yang menanyakan keberadaan White. Namun Eaden tidak memberikan jawaban apapun hingga panggilan itu diputus sepihak oleh Vero yang sepertinya kesal.


“Turunkan aku di sana.” kata Eaden sambil menunjuk sebuah halte yang tak jauh dari tempat Vero berhenti. “Kalian langsung ke gudang saja. Cek dan siapkan barang yang diminta Klien. Lalu hubungi aku.”


“Baik, boss.”


Mobil Van itu berhenti tepat didepan halte, Eaden keluar dan berjalan santai mendekat ke arah Vero berada sembari memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku celana yang ia kenakan.


Sesampainya tak jauh dari Vero berdiri, Eaden menyapa hingga membuat Eaden berjengit kaget. “Kenapa?” tanya Eaden.


“Kenapa kamu bisa ada disini?”


Eaden hanya mengedikkan bahu tanpa memberi penjelasan gamblang bagaimana dia bisa berada didepan Vero. Tidak penting, menurutnya.


“Kenapa wajahmu cemas sekali? White sudah dewasa Ve. Dia akan pulang tanpa kamu mencarinya seperti induk ayam yang kehilangan anak begitu.” cebik Eaden sedikit menyunggingkan seringai mengolok atas sikap Vero yang berlebihan.


“Kamu tidak perlu tau alasannya.”


“Kamu pikir aku akan menjual White seperti keinginan Kelly?”


Vero mulai menangkap inti pembicaraan. “Jadi White ada di rumahmu?”


“May be. Beberapa jam lalu dia mengirim pesan saat aku keluar karena ada urusan, memberitahu jika dia berada di rumahku.”


“Ponselnya tidak aktif.” kata Vero dengan nada sedikit tinggi.


Eaden yang tidak percaya akhirnya merogoh saku celana dan menghubungi White, dan ternyata benar, ponsel White tidak bisa dihubungi. Dengan gesit jemarinya mencari nomor kontak adik tirinya, Nathalie. Hanya butuh dua kali nada hubung panggilan itu sudah dijawab.


“Ada apa?” sahut Nathalie galak diseberang.


“Apa dia masih ada disana?”


“Ed, sebenarnya dia siapa mu?”


Eaden hanya diam, lalu menatap lurus kearah Vero yang juga sedang menatap kearahnya. Lantas kembali bersuara. “Aku cuma tanya, apa dia masih ada disana?”


“Tidak. Aku sudah mengusirnya.”


“Apa?!”


“Ya. Dia terlihat sedang mencari informasi tentangmu. Aku jadi tidak percaya dengan wajah lurus tipikal wanita baik-baik yang ada diwajahnya, dan mengusirnya pergi karena aku tidak ingin melesatkan peluru di dadanya.”


Eaden sempat terkejut dan terbelalak, tapi yang dilakukannya hanya berdecak sebal lalu memutus panggilan begitu saja. Ia memang tidak pernah terkejut dengan sikap Nathalie, tapi mengusir White dengan sebuah ancaman... itu bukan hal yang benar menurut Eaden.


“Dia di rumahmu?”


“Tidak. Sudah pergi.”


Vero mengumpat keras. Dia bahkan meremat frustasi rambutnya, kemudian berjalan memutar menuju pintu disisi kemudi mobil.


“Aku ikut.” pinta Eaden yang langsung duduk di samping kursi kemudi tanpa menunggu persetujuan dari Vero. Sedangkan Vero hanya berdecak tanpa mau memperpanjang masalah dan membiarkan Eaden ikut bersama mobilnya. “Kita cari kemana?”


Vero diam. Dia tidak menggubris Eaden dan memilih fokus pada bentangan aspal didepan mata. “Ke kasino?” lanjut Eaden masih belum mau menyerah meskipun diacuhkan. Namun kali ini Vero menoleh, dengan tatapan tajam yang lebih terbentuk sebuah gurat khawatir.


“Tidak.”


“Lalu kemana?”


Vero memutar kemudi untuk melaju di arah yang berlawanan. Melesatkan mobil Range Rover hitam itu dengan kecepatan lumayan tinggi. “Aku takut dia mendatangi papa.” []