WHITE

WHITE
Akhir dari perjalanan. (END)



...Selamat membaca semuanya......



WHITE by: VizcaVida


Hari berlalu begitu saja. Semua aset yang dimiliki Eaden, telah terjual seluruhnya. Eaden juga memberitahu kepada seluruh klien yang selama ini bekerja sama dengannya bahwa dia tidak akan lagi menjalankan bisnisnya ini. Beruntungnya, semua klien bisa mengerti dan beberapa juga mendukung keputusan Eaden.


Hingga tibalah hari ini, hari yang sudah ia persiapkan beberapa minggu lalu dengan penuh harap. Hari yang membuat debar jantungnya seolah tidak terkendali, hari yang akan terus ia ingat dan ia simpan selamanya dalam laci memori terindahnya.


Menikah dengan White, adalah mimpinya setelah ia merasakan sebuah perasaan yang lebih dari mencintai dirinya sendiri. Eaden begitu mencintai White dan bersumpah tidak akan membuat wanita itu menangis.


Disana, wanita cantik berbalut gaun pink lembut itu berjalan pelan dalam gandengan papanya. Ya, Eaden membiarkan papanya melakukan tugas mulia dengan mengamit lengan kecil White untuk sampai ditempatnya berdiri saat ini. Papanya sudah mengerti betul situasi yang terjadi saat ini, dan ia bangga kepada putranya itu karena Eaden menjadi laki-laki dewasa yang gentle.


Senyuman mengembang sempurna ketika jarak mereka sudah semakin terkikis. Wajah merah seperti buah tomat matang itu menjadi hal yang paling ia sukai saat ini. White sangat cantik dimatanya. Lebih tepatnya Dimata semua orang yang hadir untuk turut menyaksikan dan menjadi saksi janji suci yang akan mengikat keduanya.


Eaden memijat pangkal hidungnya, kemudian mengusap airmata yang memaksa keluar dari kelopak mata yang sudah memerah, dan menggigit bibirnya yang bergetar karena ingin menangis melihat bagaimana wanita yang ia sayangi kini berdiri dihadapannya, mengulurkan tangan agar ia sambut, dan tertunduk malu untuk ia lihat wajahnya.


“Jangan cengeng! Ingat kesulitan papa selama ini jika kamu berniat menangis didepan banyak orang. Malukan.” cebik sang papa dengan nada sarkas hingga membuat dua orang yang kini saling tatap itu terkekeh geli mendengar ucapan papa Eaden yang memang seratus persen nyata adanya. Eaden mungkin akan menyimpan memori kelam itu agar anak-anaknya kelak tidak tau jika ayahnya adalah mantan pembelot negara.


“Iya, papa.” jawabnya patuh, kemudian menatap lekat pada sosok White yang terlihat begitu indah didepan matanya. “I love you.” bisiknya sebelum pendeta meminta keduanya menghadap satu arah yang sama dan mulai mengikuti setiap kata yang benar-benar akan membuat mereka terikat sebuah janji sehidup semati dalam benang merah pernikahan.


...***...


Iringan musik klasik menjadi penghangat suasana resepsi yang diadakan tepat setelah ucapan janji suci keduanya telah di ucapkan. Hidangan mewah, dan juga nuansa yang klasik membuat seluruh tamu undangan menikmati acara.


Eaden tak melepas sedikitpun pelukannya dipinggang White. Ia tidak ingin ada orang lain menyentuh wanitanya itu. White milik Eaden.


“Mam,” panggil White kepada Jessy yang baru tiba bersama suaminya yang tak lain kini menjadi salah satu orang kepercayaan Eaden dalam bisnis barunya. Hotel dan restauran.


Jessy memeluk White dan menantu barunya, Eaden. Kemudian mengusap rambut hitam White yang kini di Cepol rapi dan disemati aksesoris seperti sulur bunga yang cantik. “Hiduplah bahagia, kalian berdua.”


Jawaban itu tentu saja membuat Jessy merasa lega, lalu menghadiahi Eaden dengan sebuah tepukan di satu sisi lengannya. “Ya. Aku percayakan anak kesayangan Mama padamu, Ed. Awas saja kalau sampai mama melihat White menangis. Mama akan suruh papanya White menghancurkan usahamu.”


“Mam, itu sama saja menghancurkan White.” ketus White membeberkan kenyataan. Mereka tertawa karena jawaban sarkas White.


Hingga acara sampai di penghujung dan ditutup oleh beberapa pesan yang menyentuh dari Eaden kepada pendamping hidupnya, White. Setelah keluar dari gerbang kayu tempat mereka menggelar pesta, White melempar bunga sebagai tanda jika acara benar-benar telah usai. Diikuti tepukan tangan riuh dan ucapan selamat, serta do'a baik mengiringi langkah mereka menjauh dan menuju mobil pengantin yang sudah disiapkan.


Eaden membuka pintu mobil Lexus RX hitam mengkilat yang pada bagian depannya dihiasi satu buket bunga warna-warni yang indah untuk White. Kemudian ia berlari kecil memutar menuju kursi kemudi, dan bersiap membawa White kerumah baru mereka di salah satu sisi kota yang tidak terlalu riuh akan hiruk-pikuk kegiatan kota. Rumah bergaya Eropa yang terlihat sederhana namun mengundang mata untuk tak lepas memandang.


“Welcome home, honey.”


Wajah White memerah seketika setelah mendengar panggilan baru dari Eaden untuknya. White semakin terkejut ketika telapak tangan Eaden menyentuh perutnya dan mengusap lembut disana. “Ini rumah baru kita, sayang.” katanya, yang membuat simpul senyum dibibir White tercetak. Eaden punya hobi baru sejak keluar dari rumah sakit, yakni mengusap perut sedikit menonjol milik White. “Daddy akan berusaha semaksimal mungkin untuk buat kamu sama Mommy nyaman di sini.”


White menindih punggung tangan Eaden dengan telapak tangan miliknya, kemudian meremasnya pelan. “Eumm, kami percaya sama Daddy.”


Eaden tersenyum sumringah, kemudian mencondongkan diri untuk meraup bibir White agar bisa ia kecup. Dan satu bait kalimat yang White ucapkan setelah ciuman mereka usai, berhasil membuat Eaden berdebar dengan wajah memerah dan salah tingkah. “Apa ada rencana honeymoon?” []



...🌼🌼🌼...


Terima kasih sudah mengikuti White hingga part terakhir. Terima kasih juga untuk semua dukungan yang sudah readers semua berikan untuk cerita White. Maaf jika ada alur cerita atau kata-kata yang tidak berkenan di hati para pembaca semuanya.


Mampir juga di karya lain Vi's ya...


Terima kasih.


...See you....