
...Yang penasaran siapa sesungguhnya yang disukai White, bisa di baca disini. 😉...
...Happy Reading......
...Jangan lupa selalu memberi dukungan untuk cerita ini ya......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Bagaimana sekarang?
Harus senang kah?
Sedih?
Atau bagaimana?
White terus berfikir dan belum bisa melupakan kata-kata Eaden yang diutarakan oleh laki-laki itu beberapa saat yang lalu. Kini, sunyi masih menemani White di rooftop Kasino milik madam Joanna. Ia sampai disana beberapa menit yang lalu, dan madam Jo menyambut kedatangan White dengan suka cita meskipun dia mendumal karena White tidak pernah lagi datang ke tempatnya ini setelah hidup bersama Vero.
“Aku kira kamu sudah nggak ada niatan datang kesini lagi.” kelakarnya disambut tawa oleh White.
“Bruddy melarangku, ma'am.”
“Iya, aku tau. Dia sedang kasmaran.”
White hanya bisa tersenyum getir. Pada kenyataannya bukan seperti itu. Hal yang terjadi sesungguhnya lebih pahit dari menenggak kopi tanpa gula. Dia belum ingin memberitahu yang sebenarnya kepada Joanna.
“Anda salah menebak, ma'am.” sangkal White disemati sebuah tawa lebar sambil meraih secangkir teh matcha panas yang baru di suguhkan oleh Joanna.
“Jadi, ada apa kamu kesini, E?”
White tersentak. Ya, dia memiliki maksud dan tujuan ketika tiba-tiba saja membawa langkah kakinya datang ke tempat ini. Pertama-tama, mari beritahu si pemilik Kasino ini tentang kehidupan menyedihkannya.
“Beberapa waktu lalu, aku mengalami hal yang buruk, ma'am. Sa~ngat buruk sampai aku sendiri ketakutan setiap kali mengingatnya.”
“Apa? Hal buruk apa maksudmu?” pekik Joanna yang ikut merasakan kepedihan yang terpancar dari binar wajah White.
“Aku—” suara White tercekat salivanya sendiri yang tiba-tiba meluncur ke tenggorokan. “Aku di tiduri seorang laki-laki. Kehormatan ku direnggut paksa tanpa belas kasih, tanpa perasaan.” kalimat yang terasa begitu pahit, namun White memaksa dirinya tetap kuat saat mengungkapkan itu. Lantas ia menatap lagi wajah madam Joanna dengan manik mata yang sudah basah.
Malang sekali nasib gadis ini. Madam Jo sampai ikut menangis sekarang. Ia bisa merasakan seperti apa pedihnya kenyataan dan takdir yang sedang menguji White. “Siapa yang melakukan itu? Bruddy?”
White mengangguk samar. Dia lantas mengulum bibirnya, lalu melipat bibir itu kedalam karena gugup dan rasa takut yang mulai merambat naik ke dalam sel otaknya.
“Diam-diam menghanyutkan. Ternyata Vero—”
“Bukan Vero!” sahut White cepat, membuat Joanna seketika melengos ke arahnya dengan kening berkerut tajam.
“Apa maksudmu? Kalau bukan Vero, lantas...” Joanna mendelik, mulutnya menganga lebar yang langsung ia sumpal dengan kedua telapak tangannya sendiri karena benar-benar tidak menduga siapa yang kini muncul di dalam pikirannya. “Rottey?!” pekiknya sembari meraih dan mengguncang satu lengan White yang ada di pangkuan wanita itu. Sedangkan White, menunduk dalam, memejam rapat dengan aliran air mata dari kedua pelupuk, dan menggigit bibirnya kuat menahan Isak, kemudian mengangguk.
“Oh my God, kenapa bisa begini?” tanya Joanna, mendongak menatap bentangan langit gelap demi menahan tumpahan air mata yang memaksa meluncur lebih deras.
“Aku—aku juga tidak mengerti mengapa dunia mempermainkan aku seperti ini, Ma'am?” jawab White terbata karena nyeri pada ulu hatinya mulai menghujam. “Dan sekarang, aku sedang mengandung anaknya.”
Joanna mengumpat keras diantara tangisnya. Ia bahkan bersumpah ingin membunuh Rottey jika bertemu. Laki-laki yang menjadi panutannya, laki-laki yang bersikap baik bak malaikat didepan semua orang itu, ternyata tidak lebih dari seorang bajingan.
“Aku memberitahu seseorang tentang kehamilanku. Aku juga bilang pada orang itu ingin membalas dendam dan menghancurkan Rottey. Tapi aku tidak sanggup melakukan itu karena Vero. Vero yang sudah berbaik hati mengayomi dan menghidupiku dengan amat sangat baik. Aku tidak bisa membalas budi yang sudah diberikan oleh putra dari si biadab Rottey. Dan semua seolah menjadi Boomerang untukku, Ma'am. Aku tidak bisa berbuat apapun, meskipun aku sangat menginginkan laki-laki itu musnah dari muka bumi. Semua karena kebaikan Vero yang terus menerus memaksa diriku untuk membalas semua kebaikannya.”
“Apa Vero tau, jika kamu hamil anak dari ayahnya?”
Getir, pertanyaan yang amat sangat menusuk relung White. Lidahnya kelu, Saliva yang meluncur melewati tenggorokan terasa begitu pahit. White hanya bisa mengangguk lagi dan lagi. “Dia bahkan bersedia menggantikan posisi ayahnya, menjadi ayah dari bayi ini.”
Joanna meraih tubuh kurus White, membawanya kedalam pelukan hingga mereka bisa berbagi kesedihan.
“Aku yakin, Tuhan akan memberikan kebahagiaan utuh kepadamu, setelah semua ini menemui ujungnya, E.”
“Temanku, ingin membalas sakit hatiku kepada Rottey.” ucap White datar, masih dalam pelukan Joanna. Namun setelah mendengar itu, Joanna langsung menarik diri dan menatap lurus pada mata White.
“Maksudmu?”
“Dia akan mengajak Rottey bertaruh dimeja judi.”
Joanna mengusap pipinya yang basah. Ia mulai memperhatikan dengan serius setiap ucapan yang keluar dari mulut White.
“Mereka, akan membuat kesepakatan besar yang menyangkut—” White tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia memilih meremat dress hitam yang ia kenakan, lalu menunduk pilu mengingat isi surat perjanjian yang di berikan Eaden tadi siang.
“E, kamu baik-baik saja 'kan?” tanya Joanna memastikan, karena melihat wajah cantik White yang mulai memucat. “E...”
“Aku—aku baik-baik saja, ma'am.”
Joanna meraih telapak tangan White dan menggenggamnya erat.
Ragu, namun White tetap harus memberitahu madam Jo tentang rencana Eaden yang akan bermain bersama Rottey.
“Aku—aku tidak baik-baik saja ma'am.” aku White pada akhirnya. Ia berkata sesungguhnya, karena dia tidak ingin kehilangan siapapun karena keegoisannya. Apalagi setelah mendengar pengakuan Eaden yang sangat tulus tentang perasaannya, mendadak White merasa jika dirinya adalah orang jahat yang sebenarnya. Eaden adalah orang baik yang tidak bisa meraih kebahagiaan dan berjuang seorang diri untuk bertahan hidup. Tapi White? Apa yang sudah dia lakukan selama ini? Dia hanya sosok lemah tidak berguna yang minta dikasihani. White mengolok dirinya untuk satu kelemahan itu. Dia tidak berguna, pantas saja ayah dan ibunya membuang dirinya begitu saja saat itu. Pikiran buruk itu terus menguasai seluruh isi kepala White hingga dia nyaris pingsan sebab merasa tidak sanggup lagi menahan suara tangisnya. Ia menumpahkan semua kesedihan yang selama ini berusaha ia pendam mati-matian. Tangisnya meledak, beban yang ia pikul telah mendorong orang lain ke jurang kehancuran.
“Aku memang nggak berguna. Aku sampah.”
“E, kamu wanita baik. Kamu bukan sampah, kamu adalah permata.” tutur Joanna meraih bahu White dan mencengkeramnya erat, mencoba memberi kekuatan. “Lihat aku!” titahnya. Joanna seolah bisa tau bagaimana terpuruknya seorang White. “Tenang dulu, Okey.”
White mencoba meredam tangisannya, mengais udara sebesar mungkin meskipun percuma dan berakhir kembali tersedu semakin kuat. Dadanya terasa penuh, dan tidak ada orang yang bisa ia jadikan tempat berlari, selain dirinya sendiri yang menyedihkan. Eaden sudah cukup dengan rencana mengorbankan hidupnya untuk White. Semua pikiran buruk yang akan terjadi kembali berkelebat.
“Aku, tidak ingin kehilangan siapapun.”
“Kamu tidak akan kehilangan siapapun.”
“Aku ingin Eaden bahagia.”
“Dia akan bahagia.”
White meletakkan kepalanya di bahu Joanna, menangis sekali lagi merutuki kebodohannya.
“Aku tidak ingin kehilangan Vero,” ucapnya sengaja menjeda ketika sosok lain muncul dalam bayangan kenangan yang akan terus membekas. White tidak mengerti perasaan apa yang selama ini muncul ketika melihat sosok Eaden didepannya. Bayangan rasa suka selalu ia tepis dan ia buang jauh-jauh agar dirinya tidak larut semakin dalam pada perasaan aneh yang terus bermunculan ketika melihat sosok Eaden. Euforia kebahagiaan selalu muncul ketika melihat Eaden, sangat berbeda ketika dia melihat Vero. Vero hanya membuatnya aman, tapi tidak dengan rasa nyaman seperti ketika sedang berada di samping Eaden. Bibir White bergetar karena tangis, lalu kalimat lanjutan yang ia ucapkan membuat beban hatinya sedikit terangkat. “Apalagi, Eaden. Aku tidak ingin Eaden menghilang dari hidupku.” []
...🍃🍃🍃...
Baru kali ini Vi's membuat second lead male menjadi pilihan lead female. Ah, semoga aja masuk akal dan nggak terkesan aneh apalagi ngelantur.
Jangan lupa mampir juga,
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....