
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
“Eummm, sepertinya lebih bagus di pasang diatas ranjang tidur tadi, sih.” gumam White pada dirinya sendiri sembari menilai kecocokan letak lukisan baru seharga 2,5 juta dollar yang ia dapat dari Eaden.
Tak menunggu lama, White dengan perlahan meraih kembali lukisan berukuran cukup besar itu untuk ia reset tempat dari ruang utama menuju kamar.
Belum sampai langkahnya menapak diambang pintu kamar, White dikejutkan oleh bunyi ketukan di pintu utama. White melirik jam dinding, dan jarum masih nyaman bertengger di angka lima sore. Lalu, ia meletakkan lukisan mahal itu di lantai, menyenderkannya pada tembok dan berjalan untuk membuka pintu.
Manik White terbelalak ketika melihat Vero berdiri di depan setelah pintu berhasil terbuka. “Kenapa datang kesini?” ketus White tidak ramah karena Vero memandangnya datar tanpa ekspresi sedikit pun.
“Kamu pikir apa lagi? Kamu harus kembali ke tempatku!” jawab Vero tanpa ba-bi-bu.
White berdecak sebal dan memutar bola mata malas. “Pak Vero. Bukankah semuanya sudah seharusnya berakhir. Aku tidak ingin lagi ikut campur dalam kehidupan keluarga Bruddy.”
“Kamu seorang pengkhianat yang sedang dalam incaran orang berbahaya.”
Mendengar ucapan Vero, White jadi teringat akan isi pesan yang ia terima kemarin. Sebuah pesan yang membuatnya bergidik ngeri.
“Jadi kamu orangnya?”
Vero mengerutkan kening. “Orang? Apa maksudmu?”
White tersenyum diujung bibir. “Lupakan. Aku akan memastikannya lain waktu.”
Vero menahan pintu yang kembali didorong oleh White, lalu melewati White begitu saja tanpa izin ketika memasuki ruangan sesak penuh perjuangan itu.
“Tolong keluar dari rumahku. Atau aku akan memanggil petugas keamanan dan memerintahkannya untuk mengusir anda, tuan Vero Bruddy yang terhormat.”
Vero tau ia lancang. Sebenarnya tidak ada dalam kamusnya mempermalukan diri sendiri seperti ini. Tapi Vero terpaksa, dia harus membawa White kembali kerumahnya sebelum sesuatu terjadi pada White di luar kendalinya.
“Kamu betah tinggal di tempat seperti ini?” tanya Vero sambil memperhatikan setiap detail ruangan sempit yang kurang akan pasokan udara segar itu.
Jujur saja, White merasa direndahkan. Apa maksudnya melakukan sebuah penilaian tentang tempat tinggalnya ini?
White menutup pintu, lantas berdecak sebal dan berjalan mendekat pada Vero. “Ya. Saya betah. Rumah kecil ini lebih nyaman dari pada istana anda.” ketus White sambil menunjuk dada Vero, lantas jari telunjuk itu ditarik paksa oleh Vero hingga tidak ada lagi jarak antara dia dan White.
“Meskipun begitu, bukankah kamu juga menyukai tinggal disana?”
White tidak bisa berbohong. Ia mengangguk tanpa memutus kontak matanya dengan Vero. “Ya. Karena aku mendapat makan gratis.”
Vero tersenyum, lalu melepas White dan berjalan menuju lemari pakaian gadis tersebut yang sialnya, mata nakalnya itu malah tertuju pada tumpukan brasier beraneka warna. “Kalau begitu, cepat kemasi barangmu. Kita pindah lagi kesana.”
“Tidak.” tolak White mentah-mentah. Ia ingat ancaman Rottey padanya, dan ia rasa harus berpikir dua kali jika harus sampai kembali tertangkap basah oleh pria paruh baya yang ternyata masih bugar itu. “Tolong. Jangan lagi mengganggu ketenangan ku. Aku hanya ingin hidupku kembali normal seperti dulu ”
Vero menarik tas koper yang ada di atas lemari pakaian, tidak peduli pada ocehan White yang terus menolak keinginannya membawa gadis itu kembali ke rumahnya.
“Berhenti berbuat seperti ini.” tutur White masih memelas agar Vero tidak lagi mencampuri urusannya. Tentang kesalahannya yang memberikan informasi kepada Rottey, White rasa sudah beres karena dia sudah meminta maaf dengan tulus. “Berhenti kataku!” tekan White tegas dengan nada naik beberapa oktaf. Vero tidak mau menggubrisnya sama sekali dan itu berhasil mematik kekesalan dalam diri White.
“Diam penghianat kecil! Kamu sudah membuat kesalahan fatal, dan tidak ada pilihan bagimu selain ikut bersamaku kembali kesana!”
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa. Kehidupanku disini. Dan akan tetap disini, sialan!!”
Okey, Vero menyerah. White memang keras kepala.
“Jika kamu tidak ingin ikut denganku ke sana, aku yang akan tinggal disini.”
White menatap lurus sosok Vero yang kini duduk diatas tempat tidur miliknya sambil mengayunkan kaki di udara.
***
Well, sudah menjadi hal lumrah jika semua keinginan Vero terpenuhi. Termasuk membawa White kembali ke rumahnya. Semua menjadi kenyataan tak terbantahkan.
Semalam, setelah bersikeras menolak, White yang sudah jengah memutuskan untuk mengikuti langkah Vero kembali kerumah pria tersebut. Meskipun ia mangkir dari pekerjaan, Vero berjanji akan mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.
White mengerjap, sinar mentari terlalu terang pagi ini. Oh tunggu, ternyata gorden kamar sudah terbuka, dan itu pasti Vero yang melakukannya bukan?
White menggeliat, meregangkan otot tubuhnya yang masih kaku setelah bangun tidur, lalu bangun perlahan. Ia meraih ponsel dan mendapati jam sudah menunjuk angka sembilan, Vero pasti benar-benar sudah berangkat ke kantor.
Kemudian, ponselnya bergetar singkat. Notifikasi e-banking yang memberitahukan jika ada penambahan saldo pada rekening White.
Dengan manik yang belum terbuka sepenuhnya, White menekan notifikasi tersebut, rasa kantuk yang sempat tersisa tadi langsung sirna kala melihat nominal yang tertulis disana. 3 juta dollar, tanpa melakukan apapun. Ah, lebih tepatnya hanya mengikuti Vero pulang kerumahnya, Vero mentransfer 3 juta dollar ke rekeningnya?
White bangkit saat itu juga, ia berlari menuju kamar mandi dan membasuh wajah beberapa kali dengan air demi mengembalikan kesadaran dan meyakinkan dirinya sendiri jika hal ini bukanlah mimpi kosong.
“Kenapa Vero mengirim uang sebanyak itu?” gumam White bingung, masih membiarkan titik-titik air jatuh didalam lubang westafel.
Padahal,
tanpa sepengetahuan White, Vero semalaman mencari tau tentang harga lukisan yang ngotot dibawa White bersama mereka. Laki-laki itu menaruh curiga jika lukisan itu adalah pemberian seseorang atau apapun, dan hal itu sangat mengganggu bagi Vero.
Hingga akhirnya dia menemukan dalam sebuah blog sebuah situs lelang lukisan, gambar yang sama dengan milik White tersebut ikut terpajang disana. Tentu saja beserta harga, dan nama peserta lelang yang berhasil memiliki lukisan tersebut dengan harga tertinggi.
“Eaden?” ucap Vero. Ia tau betul nama tersebut. Tidak akan pernah ia lupakan sampai hari ini. “Bagaimana dia bisa mengenal Eaden? Lalu mengapa aku tidak tau jika dia ada hubungannya dengan Eaden.”
Ada sebuah perasaan benci yang tiba-tiba menyeruak, naik sampai ke ubun-ubun. Bahkan Vero semakin ingin mengurung White agar tidak lagi bisa berhubungan dengan Eaden.
Diam-diam, dia mendatangi kamar White. Mencari ponsel dan mengetuk layar persegi pintar tersebut. Ada privasi yang menggunakan sidik jari White, namun semua itu terlalu mudah sebab White terlelap. Vero menempelkan jari-jari White, hingga kunci itu terbuka.
Tak mau membuang waktu, Vero segera menggulir dan mencari nama Eaden di kontak ponsel milik White. Tapi nihil, gadis dihadapannya itu tidak memiliki nomor Eaden. Dan satu pertanyaan muncul dalam benak Vero, bagaimana bisa mereka bersama jika nomor ponsel saja White tidak memilikinya? Apa Eaden datang ke rumah kost White? Ah, mungkin opsi kedua menjadi jawaban tepat.
Vero menghapus jejaknya setelah mencari tahu di ponsel White. Lantas ia bergegas keluar sebelum gadis itu terbangun dan memergokinya berada didalam kamar tamu yang sedang ditempati White tersebut.
Setelah pintu kamar kembali terkatup rapat, Vero berjalan cepat menuju kamarnya sendiri dengan rahang mengeras dan wajah datar karena baru mengetahui fakta penting ini. Ia tidak menduga jika White berhubungan dengan Eaden.
Apa mereka berdua sedang merencanakan sesuatu?
Batin Vero menerka. Lalu, pada detik selanjutnya, Vero meninju geram di udara sembari mengumpat.
“Sial!!” []
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...