
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, dan juga Vote. Serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Hidupnya tidak jauh berbeda dengan bidak poker yang diputar dan menunjuk angka acak yang tidak pasti. White tidak bisa menentukan berapa angka yang pas untuknya, untuk hidupnya yang bahkan kini tidak lagi memiliki nilai.
Orang-orang tidak tau, bagaimana dia menjalani semua cobaan yang datang silih berganti tiada henti. White sempat pesimis dan ingin berhenti, namun mati membuatnya takut, saat itu. Saat dirinya masih berharga dimatanya sendiri.
Namun saat ini, bisakah semua yang ada pada dirinya dianggap berharga?
I want to life with you, forever, no matter what you look like, E. I'll try my best to make you stay by my side. I love you, more than I loved my self. I want to stay with you, as your named, White, With E.
Hingga kalimat itu datang menyapa perungunya, White bangkit. Dia berdiri dengan tungkai yang masih lemah. Berjalan tertatih menahan kesakitan pada dirinya sendiri, lantas memutar kunci dan menarik turun kenop pintu.
Presensi Vero menyapa penglihatannya yang buram akan air mata.
White,
Whit E,
Dua namanya disebut oleh laki-laki yang kini memandangnya sendu. Sorot matanya terluka, dan bibirnya bergetar dan sesekali terdengar suara tangis tertahan di kerongkongannya hingga membuat laki-laki bernama Vero itu berkali-kali menelan salivanya kasar.
Lantas, Vero mengusap kasar wajahnya sendiri, mengalihkan tatapan matanya dari mata merah penuh air mata milik White. Bibir laki-laki itu mengatup, lantas satu tangannya berkacak pinggang, dan satu tangan lain berhenti dibibir untuk menutupi lengkungan tangis yang menggetarkan birainya. Vero menangis. Ini adalah tangisan pertamanya untuk seorang wanita.
White yang selama ini ingin dia lindungi, kini terluka parah yang bahkan dia sendiri tidak yakin bisa memberi kesembuhan. Janji yang dia ucapkan diatas makam ayah gadis itu hanya hanya sebuah omong kosong, karena dia sama sekali tidak bisa mewujudkan dan juga menepatinya.
Hingga pada menit lain, Vero kembali menguatkan diri untuk menatap wajah sendu White yang masih datar ketika meneteskan airmata. Gadis itu terlihat sangat terpukul hebat.
“Ma—”
Belum selesai mengatakan permintaan maaf atas nama dirinya dan sang ayah, Vero sudah terlebih dahulu dihentikan oleh lengan White yang menggantung diudara dengan telapak tangan terbuka tegak ke arahnya. “Tidak ada yang perlu dimintai maaf.”
“E, aku—” Vero menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia tidak sanggup berkata-kata setelah tau apa yang dilakukan ayahnya kepada White.
Ya, Vero melihat semuanya. Dia sudah memeriksa seluruh rekaman CCTV ketika tidak melihat White dirumah dan keadaan kamar White yang berantakan. Dan tentu saja noda merah yang ada di atas sprei berwarna cream yang tadinya bersih, begitu mencabik hati Vero.
“Sekarang apa lagi? Aku sudah merasa baik setelah ayahmu mengirim banyak uang ke rekeningku.” ucap White dengan nada pilu. Mengatakan kalimat tidak patut meskipun hatinya terasa hancur bagai di hantam meteor langit yang tidak memberinya kesempatan untuk sekedar menghindari rasa sakit lalu berlindung ke suatu lembah bernama kebahagiaan.
“E...”
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena aku baik-baik saja.” tegasnya, selalu memotong kalimat yang hendak Vero katakan.
“Shi*t!!” umpatnya tajam. Vero berjalan cepat menuju sebuah nakas yang diatasnya ada sebuah guci berisi bunga hias. Dia meraih dan membantingnya hingga pecah tak berbentuk. Kepingan-kepingan itu berserakan kemana-mana, dia tidak peduli. Sekali lagi dia mengusap kasar wajahnya. Dia menangis keras tanpa rasa malu. Dia jauh lebih malu atas perbuatan ayahnya. “Kenapa seperti ini?” lirihnya disela tangis. Ia merutuki kebodohannya karena memaksa membawa White kembali ke rumahnya. Dia menyesal, seumur hidup. Sedangkan gadis itu, hanya menatap lurus, datar dan kosong.
“Aku yang akan bertanggung jawab atas perbuatan biadab nya!”
Kacau, semua isi kepala White berubah kacau. Vero bahkan tidak menangkap sedikitpun kebahagiaan di mata dan bibir wanita yang sedang tersenyum dalam tangis di depannya.
Sepanjang hidup yang ia jalani, White pernah mempunyai keinginan untuk membuat seseorang jatuh cinta dengan tulus padanya. Saat itu, dia mulai membandingkan setiap rasa yang hadir padanya. Sebuah kasih atau simpati, sebuah harapan atau angan, dan sebuah cinta atau canda, semua itu berhasil ia bedakan dengan baik. Dia tidak mau seseorang mempermainkannya dengan mengatas namakan cinta.
Dan mungkin yang dia tangkap dari gestur Vero kali ini, adalah salah. Dia melihat ketulusan, tapi itu bukan sebuah perasaan tulus seperti yang dia harapkan. Semua terlukis hanya seperti sebuah simpati, juga rasa iba karena orang terdekatnya telah melakukan hal buruk kepada dirinya.
Aku ingin hidup bersamamu, selamanya tanpa memandang seperti apa dirimu.
Itu hanya sebuah frasa, dimana seseorang sedang ingin menenangkan orang lain yang sedang terpuruk, dan tidak baik-baik saja.
Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membuatmu tetap berada di sisiku.
Kalimat ini sebuah simpati.
Aku mencintaimu, lebih dari mencintai diriku sendiri.
Mungkin ini hanya perasaan semu yang akan menghilang begitu saja seiring berjalannya waktu. Ya, setidaknya begitulah asumsi yang ada dalam benak White Abbey saat ini. Dia begitu ketakutan dan ingin membenarkan asumsinya sendiri.
“Kalau begitu, gunakan aku!” sahut Vero cepat yang mematik atensi White untuk terkunci pada wajah tegas si pria. “Gunakan aku, semua kekayaanku, bahkan hidupku, jika memang aku harus membayar semuanya. Jangan pernah pergi kepada orang lain. Hanya aku.”
Air mata kembali lolos dari kelopak mata White. Ia pikir, Vero pasti merasa bersalah atas kelakuan ayahnya yang tidak beradab dan juga tidak punya norma itu. Vero merasa bersalah, untuk itu dia merelakan dirinya menggantikan posisi ayahnya yang begitu dibenci White.
“Benarkah?” tantang White, dengan nada sumbang dan tangis yang masih belum mau mereda.
“Ya.”
White menghapus semua senyum diwajahnya. Lalu, dengan sorot dendam yang begitu membara, dia berkata. “Jangan menyesal memintaku melakukan hal itu. Karena aku tidak akan berhenti sebelum kamu dan keluargamu benar-benar hancur!” []
...🌼🌼🌼...
Mampir juga ke cerita Vi's yang lain ya...
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...