
...Happy Reading all......
...Jangan lupa terus dukung White dengan memberi like, komentar dan hadiah ya......
...Thank you...
...•...
WHITE by: VizcaVida
Berkendara bersama Vero memang membosankan. Bagaimana tidak, Vero hanya diam dan tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya ketika mengemudi. Laki-laki itu memilih berkonsentrasi pada jalanan aspal yang lengang, dari pada mengajaknya bercengkrama ringan. Sesekali dia menjawab telepon yang ditujukan padanya. Entah dari siapa, kantor tempatnya bekerja mungkin? Atau teman lamanya yang menanyakan kabar. Tapi setelah berbicara, suasana kembali hening. Hanya suara deru halus mesin mobil yang teredam, juga pemandangan di luar jendela mobil yang seolah berlari kebelakang, menjadi satu-satunya penghibur untuk kebosanan White.
Lalu, sudah tidak tahan untuk terus diam selama perjalanan, White tiba-tiba memecah keheningan. “Boleh aku menyalakan musik?”
Vero menoleh sekilas, lalu kembali menatap pada jalanan. “Boleh.”
White mendengus kesal. Mengapa tidak sejak tadi saja dia bertanya?
Lengannya terulur menekan salah satu tombol pada Dash board dan menyambungkan dengan bluetooth ponselnya. Memilih sebuah lagu kesukaan yang sering ia dengarkan akhir-akhir ini.
Berbagai cobaan yang datang bertubi-tubi, membuatnya lelah, dia bahkan terlihat seperti orang putus asa yang kehilangan arah dan melupakan dirinya sendiri yang dulu tidak pernah bersikap lemah. Kematian ayahnya, hancurnya masa depan yang tanpa ia duga dan tidak ia inginkan, serta perlakuan Vero yang memberikan perhatian tanpa henti, membuat White terpuruk, terbelit oleh rasa putus asa dan bersalah yang terus membayang.
“Sebenarnya dimana mamaku tinggal?”
“West Park Kondominium.”
White mengangguk. Punggungnya yang sudah nyeri itu harus bertahan paling tidak setengah perjalanan lagi, dua jam lagi dari sekarang. Dan White tiba-tiba merasa ingin ke toilet, namun urung bicara karena Vero bersuara.
“Aku sudah menghubungi mamamu sebelum kesana.”
“Kita bertemu dirumahnya?”
“Ya.”
Seperti anak kecil yang akan menerima hadiah akhir tahun, White bertepuk tangan satu kali, dan itu sukses membuat Vero menatapnya dengan sebuah tawa di bibirnya.
“Kamu tau, aku sudah menantikan ini sangat lama.”
Vero menoleh sekilas, tersenyum lembut lalu kembali melihat bentangan aspal yang mulai terlihat seperti fatamorgana di kejauhan.
“Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?”
Pertanyaan Vero sukses membuat wajah antusias White memudar. Bibirnya terkatup dan sedikit mengerucut. Benar, White harus memikirkan masa depannya. Lalu, tanpa sadar dia mengusap perutnya yang rata dengan gerakan membentuk lingkaran.
“Oh, maaf. Maksudku—”
“Tidak ada.” karena memang belum ada rencana apapun didalam otak White selain kebahagiaan hendak bertemu sang ibu.
Vero tersenyum sekali lagi. Melihat White yang lebih ceria, membuat moodnya stabil. Dia yakin, setelah ini White akan menerima kehadiran bayi yang ada didalam kandungannya.
***
Sesampainya di depan kondominium Jessy, Vero memberitahukan sekali lagi nomor unit milik wanita itu kepada White. Lalu membiarkan White menemui ibunya seorang diri. Memberi waktu untuk ibu dan anak itu melepas rindu satu sama lain.
“Aku jemput jam tiga sore.”
White menunduk melihat jam tangan. Sekarang pukul sebelas siang, lantas ia mengangguk, melepas seatbelt dari tubuhnya dan keluar dari mobil milik Vero. Tapi, ia lupa menanyakan satu hal, dan mengetuk kaca mobil.
“Kamu kemana?”
“Kemana saja. Nikmati waktumu bersama nyonya Jessy. Aku kembali nanti sore. Hubungi aku jika ada sesuatu.”
White mengangguk pasrah dan berjalan menyebrang untuk memasuki area kondominium. Sekilas ia berbalik dan mendapati mobil Vero mulai berjalan meninggalkannya.
Langkahnya ia ayunkan secepat mungkin menyusuri area parkir untuk mencari lift. Dia akan bertemu ibunya, dan itu adalah keinginan yang ia simpan beberapa tahun sejak kepergian sang ibu yang menghilang begitu saja tanpa kabar.
Lift berdenting ketika angka empat menyala di layar dua dimensi yang menempel disisi kanan Lift tersebut. White segera keluar dan bergegas mencari unit nomor lima karena di sanalah mamanya berada. Hatinya begitu riang, ia gembira.
“Satu...”
Ia berjalan lebih cepat.
“Dua...”
“Tiga...”
“Empat...”
Dan langkahnya terhenti di depan pintu bertulis angka lima. Senyuman mengembang sempurna seolah tidak ada beban apapun dipundaknya yang ringkih. White tidak sabar memeluk ibunya. Lalu dia menekan tombol bel.
Pintu terbuka dan sosok Jessy berdiri di depan nya. Senyuman yang begitu White rindukan terbentang jelas didepan mata, membuat mendung yang sedari tadi ia tahan, akhirnya turun.
“Masuk.” tutur Jessy lembut sambil menarik pergelangan tangan White.
Sungguh, White begitu merindukan sang ibu. Sakit hati yang pernah membusuk di dalam dirinya pun sirna, berganti rasa rindu yang menyeruak dan ingin di luapkan.
Langkah ragu menyelimuti kedua kaki yang menapak diatas lantai berkarpet biru tua seluas ruangan, lantas ibunya menarik White untuk duduk di sofa yang ada didepan televisi, memeluk anak perempuan satu-satunya itu penuh sayang.
“Maafkan mama sayang.”
Setelah menggantung kedua lengannya diudara kosong, pada akhirnya White membalas pelukan ibunya, menghirup aroma sang ibu yang sudah lama dia rindukan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Jessy setelah melepas pelukannya dan menangkup kedua bahu White sembari menatap lekat wajah cantik putrinya yang terlihat lebih tirus.
“Baik. Aku hidup dengan baik.”
Jessy membawa White kedalam pelukannya sekali lagi. Dia bahkan tidak menduga jika pertemuannya setelah beberapa tahun lewat, harus di perantarai oleh putra dari keluarga Bruddy.
“Vero yang mengantarmu kesini?”
White mengangguk.
“Ah, mama buatkan minum dulu ya.”
“Nanti saja, mam. Aku belum haus.”
Jessy kembali duduk disamping White.
“A-ada yang ingin White sampaikan kepada mama.”
Diantara ratusan keinginan yang bertumpuk di dalam hati White, ia justru ingin membagi satu kenyataan pahit itu kepada sang ibu. Ia berharap akan mendapatkan jalan keluar, setidaknya untuk dia sendiri yang akan mengambil langkah kedepannya untuk masa depan anaknya. Atau, ia justru harus kembali menengok kebelakang, mencari jalan pintas yang kelam, kemudian meluapkannya bersama emosi.
“Katakan. Mama akan mendengarkan.” jawab Jessy sembari menyelipkan anakan rambut yang jatuh menjuntai didepan wajah White.
Haruskah?
Apa hal ini harus dikatakan pada pertemuan pertama setelah berpisah?
Harusnya hanya bahagia, tapi apakah White boleh mengacaukan hari ini dengan mengatakan sebuah kenyataan pahit yang bahkan dia sendiri ingin melupakannya?
White memilin ujung pakaiannya, ia menatap lurus pada jari-jari kakinya yang ia tekuk karena kalut.
Satu sisi dalam dirinya memaksa untuk bicara, tapi satu sisi lainnya menolak. Berbagai macam kemungkinan muncul bahkan sebelum ia berani berbicara.
Bagaimana jika ibunya justru marah?
Bagaimana jika ibunya berubah jijik padanya?
Bagaimana jika dia harus kembali kehilangan ibunya?
Atau,
Bagaimana jika dia akan membuat luka baru pada dirinya sendiri karena ibunya mewujudkan semua pertanyaan diatas?
White kalut. Dadanya berdegup kencang. Ia bahkan ingin menangis dalam pelukan sang ibu, yang justru hal itu langsung ia tepis agar tidak melukai hati ibunya sendiri.
“Apa sayang?”
White terlonjak dari lamunan. Dia bahkan terlihat gugup dan cemas sekarang. Manik matanya berubah sayu, dan pikiran yang menekannya untuk bicara tentang hal itu, menguar begitu saja. Dia belum siap kehilangan ibunya lagi. Dia belum siap dibenci dan dipandang jijik oleh sang ibu.
“Pa-papa meninggal, ma.”
Ya, mungkin ini akan lebih baik. Memberi kabar duka lain selain tentang kehidupan pahitnya.
“Mama sudah mendengarnya dari Vero. Mama minta maaf tidak bisa datang ke pemakaman papa, ya sayang?”
White tersenyum getir. Ia tau posisi sang ibu memang sulit. Papa nya sendiri yang membuat semua keadaan berubah kacau seperti ini.
“Tidak apa-apa, mam. Vero dan satu teman White lainnya ikut mengantar papa ke peristirahatan terakhirnya.”
“Vero? Dan siapa?”
“Ada, teman. Namanya Eaden.”
Seketika itu juga, bulu kuduk Jessy merinding. Mengapa sirkel pertemanan putrinya begitu mengerikan. Jessy cukup tau siapa Eaden, karena suami barunya berhubungan dengan pria itu.
“Eaden?” tanya Jessy memastikan.
“Ya. Mama mengenalnya?”
Jessy terdiam. Dia menunduk dalam, lalu sedetik kemudian mengangkat kembali wajahnya dengan sebuah senyuman getir. “Ya. Mama tau karena suami mama bekerja di bawah perintah pria itu.”[]