
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Suara sorakan kemenangan, teriakan frustasi kalah, aroma alkohol yang pekat, asap rokok, serta para wanita dan laki-laki yang saling menggoda satu sama lain meskipun tidak saling kenal, tempat ini semakin lama semakin ingin dijauhi oleh White. Ia tidak ingin hidup di dunia gelap seperti ini. Tapi kenyataan dengan kejam menghempasnya kembali tenggelam dalam suram. White tidak bisa pergi begitu saja. Hidupnya belum bergerak lebih baik. Jadi dia memutuskan untuk bertahan sedikit lebih lama, lalu pergi jika memungkinkan.
Hari ini, tamu VVIP sudah membooking beberapa wanita selain dirinya. White sengaja menolak bookingan yang ia terima dari madam Jo. Hari ini dia ingin tenang sebentar, tanpa membuat otaknya mendidih karena memberikan instruksi angka yang memang sulit diprediksi ke-akuratannya. White ingin berhenti sejenak dan menikmati batang rokok yang menyala, tanpa gangguan dan sentuhan nakal pria-pria brengsek pada permukaan kulitnya.
White menguarkan asap dari dalam mulut, ini kali keduanya mencoba nikotin tersebut dalam rongga mulutnya. Ia menelisik kembali kebelakang, tentang bagaimana kehidupannya yang berantakan selama ini.
Dia tertawa kecil, namun terasa masam dan juga pilu. Bagaimana bisa Tuhan memberikan kehidupan seperti ini kepadanya? Bagaimana bisa takdir digariskan seperti ini pada benang merah kehidupannya? White tersiksa, tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima.
“Arrggh, SHI*t!!” umpatnya frustasi dengan intonasi rendah ketika wajah sang ayah kembali datang. “Bagaimana bisa aku lahir dari benih orang seperti dia.” bahkan menyebut namanya saja, White enggan. Pria berkedok ayah itu benar-benar memuakkan bagi White.
Ia mendengus, lantas melihat bara api rokoknya sudah mendekati putung pada apitan telunjuk dan jari tengahnya. Ia tidak peduli ketika mengubah toilet pegawai itu menjadi ruangan penuh asap seperti sedang kebakaran, yang ia harapkan hanya sebuah ketenangan hati ketika ia menyesap nikotin yang terasa manis itu.
White menekan sisa api di tepian closet, lalu menekan tombol agar air menggiringnya menuju tempat yang seharusnya, lantas merapikan diri, dan tidak lupa menyemprotkan parfum kesukaan dan mengunyah permen agar sisa nikotin di bibirnya turut sirna.
Langkah White kembali terhenti, disusul sebuah umpatan lumayan keras ketika seseorang menggedor pintu ruangan.
“E. Cepat keluar. Si pembuat onar datang mencarimu ”
“Arrrrgh, sialan! Mengapa hidupku tidak bisa tenang sebentar saja?” gumamnya, lantas berjalan menuju pintu utama toilet, dan mendapati madam Jo berdiri disana.
“Vero datang mencarimu!”
“Laki-laki sial*an itu tidak pernah membuat hidupku tenang!” ucapnya terang-terangan didepan madam Jo, lantas melewati wanita itu begitu saja menuju galeri poker di lantai bawah.
Dan benar saja, Vero sudah duduk disalah satu sofa, menyilangkan kaki dengan wajah angkuh dan kedua tangan terbuka lebar di bahu sofa. Tidak lupa pula, mata-mata genit dan ingin tau menatapnya intens. Termasuk orang-orang yang ingin mencari keburukan keluarga Bruddy, dan mengunggahnya ke portal internet atau sosial media mereka. Tapi sepertinya itu tidak lagi masalah untuk Vero. Ia terlihat tidak peduli sama sekali dengan orang-orang yang sibuk membicarakan atau mengambil gambarnya tanpa izin. Dia memiliki kuasa, dan bisa memusnahkan foto yang beredar itu kapan saja, sesuai keinginannya.
White berdiri didepan Vero, melipat kedua lengan didepan dada. “Kenapa anda kesini lagi tuan? Bukankah kesepakatan sudah dibuat? Anda tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan saya lagi setelah saya setuju tinggal disana.”
Vero mengangguk paham. Ia tau, hanya saja dia sedang ingin bermain hari ini.
“VVIP sedang penuh. Jadi ayo bermain disini saja, bersama cecunguk-cecunguk berdompet tipis seperti mereka.”
Aih, menyebalkan. White memutar malas kedua bola mata, lantas berdecak kasar. “Siapa yang anda sebut cecunguk, tuan kaya raya?”
Vero menghentikan langkah dalam balutan pantofel mengkilat nan mahal yang bertengger apik di kakinya. Ia memutar tubuh dan mendapati ekspresi geram di wajah White, serta tatapan tajam dari madam Joanna yang berdiri tidak jauh dari White. “Mereka datang kesini dengan tujuan sama seperti anda. Jadi jangan pernah memilah tingkatan hidup mereka untuk dibandingkan dengan anda!”
Oh God. Dia akan mati ketika sampai dirumah Vero nanti. Bagaimana bibirnya itu bisa lancang berkata demikian, sedangkan dia sendiri seorang penjilat? White akan menyesali ucapannya nanti, ketika sampai dirumah Vero. Dia berjanji akan meminta maaf dengan dalih tidak ingin kehilangan pelanggan di tempat kerja. Lalu, dia juga akan berkata, jika dia hanya diam saja tidak melakukan pembelaan pada orang-orang yang memang sama seperti ucapan Vero itu, madam Jo akan memarahinya, begitu sekiranya isi otak White yang sedang ribut memikirkan alasan untuk ia berikan kepada Vero nanti.
Vero tersenyum sarkas di sudut bibir. “Why?”
White diam tidak ada jawaban. Ia tidak ingin memperkeruh suasana, dan berjalan mendekat kearah Vero. “Okey, Okey. Silahkan pilih mejanya. Aku akan menemani anda.” ucapnya sambil mendorong bahu lebar Vero dan menepuknya beberapa kali dengan tujuan menenangkan emosi yang sepertinya hendak terbit diwajah laki-laki sial*an itu.
***
“Tuan muda masih tetap datang kesana, tuan. Bahkan, tuan muda mematikan seluruh CCTV yang terpasang dirumahnya. Jadi, saya tidak bisa memantau apa yang terjadi dirumah tuan muda.”
“Besok pagi, antar aku kerumahnya.”
Timothy terangguk tanpa bisa membantah. Ia terlanjur patuh dan tidak bisa sedikitpun berkhianat pada tuannya itu.
Keesokan harinya, sama seperti yang sudah menjadi keinginan Rottey, Timothy mengantar pria itu kerumah Vero. Tanpa sepengetahuan si pemilik rumah tentu saja.
Keadaan rumah Vero masih sama seperti yang pernah ia lihat ketika terakhir kali datang kesini. Rottey tidak menaruh curiga, sampai dia berdiri didepan teras rumah Vero dan mendapati high heels tergeletak begitu saja di pelataran rumah.
Rottey bisa menebak jika itu bukanlah milik Kelly, sebab wanita yang menjadi pujaan hati putranya itu tidak menyukai warna gelap. Sedangkan sepatu ber-hak tinggi itu memiliki warna gelap sempurna.
Lengannya terulur mendekati bel rumah. Menekannya satu kali dan menunggu apa yang akan muncul dan terjadi selanjutnya.
Nihil.
Dia menekan tombol sekali lagi, sampai ia mendengar bunyi kunci pintu diputar, dan handle di tekan kebawah. Pintu terbuka. Harapan Rottey, Vero yang akan muncul dengan wajah berantakan dan tubuhnya penuh dengan bekas ciuman wanita yang dibawanya pulang.
Tapi semua itu tidak benar. Asumsinya salah. Dia melihat sesuatu yang lebih mengejutkan dari pada bayangannya tentang sang putra yang tidur bersama seorang wanita. Gadis yang ia temui beberapa waktu lalu, berdiri dihadapannya, mengenakan kemeja milik Vero yang kebesaran ditubuh rampingnya. Wajahnya terlihat lesu khas orang lelah dan mengantuk. Namun sedetik kemudian ekspresi gadis itu seperti dipaksa berubah pias ketika menyadari kehadirannya disini.
“Tu—tuan Bruddy?” pekiknya sedikit terkejut.
“Apa yang kamu lakukan disini? Dimana Vero?”
White beringsut. Dia ingin mengatupkan lagi daun pintu walau harus ia lakukan dengan berjuang sekuat tenaga. Ia lupa akan pesan Vero sebelum berangkat kekantor tadi pagi. ‘Pastikan melihat intercom terlebih dahulu sebelum membuka pintu’. Bodoh. Dia memang bodoh. Bagaimana bisa melupakan informasi sepenting itu?
White mengulum bibir bawah, membasahinya sekilas demi mencari alasan. Otaknya bekerja keras, dan matanya bergerak gusar karena tatapan Rottey masih memaku padanya.
“Sa-saya—”
“Tinggalkan rumah ini dan jauhi Vero. Atau aku akan melakukan hal tidak terduga yang akan membuatmu menyesal seumur hidup!”[]
...🍃🍃🍃...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
See You.