WHITE

WHITE
Simbiosis mutualisme.



...Happy Reading All......


...•...



WHITE by: VizcaVida


I love you too.


Nyaris menyerupai sebuah bisikan.


White tidak pernah memimpikan hal ini akan terjadi padanya. Selama ini, baginya laki-laki itu sama saja. Maksudnya, tidak jauh berbeda dengan ayahnya dulu. Untuk itu dia menutup mata, telinga, bahkan hatinya untuk semua laki-laki yang berusaha mendekatinya.


Akan tetapi, setelah mengenal Eaden, bahkan Vero, ia mulai sadar jika masih ada orang baik di muka bumi ini. Meskipun, mereka memiliki cara mereka masing-masing dalam menunjukkannya.


Mungkin sudah terlambat, tapi mengapa Vero masih bersedia meletakkan perasaan untuknya? Apa ini hanya sebuah rasa iba karena Vero merasa bersalah. Bagaimana jika iya? Bagaimana jika Vero hanya iba padanya karena ayah laki-laki itu sudah menghancurkannya?


Mendadak, bimbang kembali menyerang White. Apa White pantas mengatakan itu kepada Vero? Vero itu baik, baik sekali hingga White terlena. Tapi, apa kebaikan itu tulus?


Setau White, Vero membawa dia kesini untuk menahannya agar tidak semakin menambah masalah dan menyebar informasi tentang Vero yang datang ke Kasino. Nama baik pria itu dipertaruhkan jika sampai informasi itu terendus media. Tapi—


Ponsel White kembali berbunyi. Nama Eaden muncul. Tanpa menunggu lebih lama jeritan ponselnya, White bergegas menggeser tombol berwarna hijau nya sekali lagi. Suara serak Eaden menyapa. Laki-laki itu seperti sedang menahan sakit. Suara Eaden tidak seperti biasanya ketika berada pada sambungan telepon.


“Kamu sakit, Ed?”


Hening sejenak, lalu suara serak itu kembali terdengar. “Eumm, aku jatuh dan terluka cukup parah.”


Jatuh? Terluka cukup parah?


White ingin segera berlari kesana, ke tempat Eaden berada dan memastikan pria itu tidak berada dalam kondisi yang buruk.


“Bagaimana kabarmu, E?”


Masih sempat Eaden menanyakan kabar White saat dia dalam keadaan yang cukup mengenaskan. Eaden yang hari itu nyaris mati, berhasil menghubungi salah satu kenalannya, lalu membawa dia kerumah sakit dengan riwayat data pasien kecelakaan tunggal. Eaden bersyukur karena dia tidak benar-benar mati hari itu. Dia bahkan belum menyentuh Rottey sedikitpun, dan karena kelengahannya pada sekitar dan hanya fokus pada satu tujuan, dia melupakan Timothy. Ah, bodoh.


“Aku, baik. Semakin membaik.”


Terdengar kekehan ringan dari seberang. “Syukurlah kalau begitu. Apa...karena Vero?”


White tiba-tiba kelu. Lidahnya seperti melilit dan tidak bisa memberi jawaban untuk pertanyaan yang diberikan Eaden.


“Ka-kamu bicara apa sih, Ed?”


“Ya, siapa tau Vero yang membuat kamu jadi lebih baik. Aku turut bahagia.”


White mengiyakan dalam hati, karena ya, Vero berpengaruh besar dalam pemulihan psikisnya. Laki-laki itu terus memberikan dukungan serta perhatiannya tanpa putus. Dia juga selalu memperhatikannya hingga dia kini mulai merasa baik-baik saja.


“Kamu masih di rawat di rumah sakit?” tanya White mengalihkan topik. Jujur, membicarakan Vero bersama Eaden sangatlah tidak nyaman bagi White.


“Tidak, aku dirumah.”


“Mau aku jenguk?”


Lagi, Eaden terkekeh akan sikap White yang menurutnya menggemaskan. Atau, dia saja yang sudah gila karena menganggap White yang seperti itu menggemaskan? Ah, sudahlah, yang terpenting, Eaden bisa mendengar suara White yang memang akhir-akhir ini begitu ia rindukan.


“Tidak perlu. Aku akan segera sembuh.” tegas Eaden kepada White agar wanita itu tidak benar-benar datang dan melihat keadaannya yang menyedihkan. Namun ditengah hening yang tercipta, tiba-tiba pintu kamar Eaden berderit, seseorang muncul dan membawa nampan obat serta bubur yang masih mengepulkan asap dan juga segelas air putih.


“Kau harus meminum obatmu sekarang, Ed.”


Suara sayup-sayup itu tertangkap pendengaran White. Seorang wanita, dan White yakin itu bukan suara pengurus rumah yang sering datang kerumah Eaden untuk bekerja. Suara itu masih terdengar sangat lembut, bukan suara wanita dewasa.


“Si...apa, Ed?”


“Ah, aku harus meminum obat dulu ya. Nanti aku hubungi lagi.”


Panggilan itu dimatikan sepihak oleh Eaden, lantas dia menatap lurus pada wanita yang kini sudah duduk di sisi ranjang, disampingnya. Eaden tidak suka keberadaan wanita ini. Dia begitu membenci, tapi tetap saja tidak bisa menolak ketika wanita itu memaksa untuk datang berkunjung kerumahnya.


“Siapa? Kekasihmu?” tanya wanita itu sambil mengambil bungkus obat, mengeluarkan butir demi butir, lalu mengulurkannya kepada Eaden bersama segelas air.


“Kenapa? Apa kamu takut aku mengacau?” tanyanya lagi, berkelakar dan memperlihatkan gestur tidak suka, seolah dia adalah orang yang akan merusak hubungan Eaden dan sang kekasih.


“Kell, tolong berhenti menggangguku. Setelah ini, cepat pulang.” titah Eaden, menoleh demi menolak suapan yang di berikan Kelly untuknya.


Ya, wanita itu adalah Kelly. Gadis yang pernah menjadi sahabat sekaligus wanita idaman bagi Eaden semasa sekolah, dan berakhir menjadi kekasih sahabatnya sendiri, Vero. Kenangan yang tidak ingin ia kenang karena rasa pahitnya masih begitu terasa.


Lalu, ketika melihat pemberitahuan di aplikasi ponsel yang terhubung dengan sistem keamanan di kompleks elite yang ia tempati, Eaden terkejut ketika melihat wajah Kelly yang terekam kamera keamanan dan meminta persetujuannya untuk melewati portal di bagian paling depan. Karena merasa terkejut, tanpa sengaja tombol Yes tersentuh, dan seketika itu juga portal memberi akses bagi Kelly untuk masuk.


Disinilah wanita itu berada. Didepan Eaden, membuatnya bubur dan merawatnya sejak dua jam yang lalu.


“Kell, tolong kembalilah.”


“Ed. Kamu sudah memberiku akses masuk kesini. Lalu sekarang kamu mengusirku? Kamu masih membenciku setelah kejadian itu?”


Eaden hanya duduk diam dan menatap lurus pada Kelly. Ada seutas rindu yang terbit begitu saja. Dia rindu Kelly yang cerewet padanya, seperti sekarang.


“Sudah aku katakan. Aku tidak sengaja menekan tombol Yes karena terkejut. Lalu kenapa kamu menyudutkan aku?”


Kelly tersenyum sekali lagi. Dia meraih puncak kepala Eaden dan mengacak Surai berantakan laki-laki itu. “Kamu masih sama seperti dulu. Mengapa kamu menggemaskan begini, sih? Bilang saja jika merindukan aku.”


“Kell, kamu terlalu besar kepala. Aku sama sekali tidak merindukanmu.” sangkal Eaden. Namun rona di wajahnya muncul, membuat Kelly meraih pipi itu untuk diusap lembut dengan telapak tangannya.


“Oh, come on...Kamu tidak bisa berbohong Ed.”


Baiklah. Sebaiknya mengalah dari pada urusan berdebatnya tidak berujung.


“Okey. Katakan. Apa tujuanmu datang kesini.” tanya Eaden. Ia tau peringai Kelly. Wanita itu tidak akan datang menemuinya tanpa sebuah tujuan. Kelly selalu begitu, sejak dulu.


Kelly tersenyum karena pada akhirnya Eaden luluh, dan umpan yang ia lempar berhasil ditangkap.


Lalu, Kelly menggeser bantalan duduknya untuk mendekat pada Eaden yang bersandar dikepala ranjang. “Kamu berhubungan dengan wanita yang tinggal bersama Vero?”


Eaden tercengang. Bagaimana Kelly tau tentang ini?


Oh, Sh*it!! Pasti si tua Rottey yang memberitahunya.


Eaden mengumpat didalam hatinya. Ia menduga Rottey pasti menceritakan itu kepada Kelly. “Kenapa kamu menanyakan wanita itu? Bukankah tidak ada hubungannya dengan dirimu?”


“Aku menawarkan kerja sama.”


Eaden tidak tau lagi bagaimana dia harus bersikap. Kelly yang ia kenal dulu begitu manis dan baik. Tapi sekarang?


“Kerja sama apa? Aku tidak membutuhkan itu. Lagi pula, aku tidak berhubungan dengan wanita yang tinggal bersama Vero.”


“Bohong!” sahut Kelly cepat. Raut wajahnya berubah datar di kuasai emosi yang tergambar begitu jelas dimata Eaden. “Aku tau, kamu hanya ingin menghindari ku demi wanita itu bukan?”


“...”


“Lalu, ini? Luka-luka ini, bukankah semuanya terjadi karena kamu bertemu si tua Rottey demi wanita itu?”


“Kell, katakan apa tujuan sebenarnya kamu bersikap seperti ini kepadaku.”


Kelly mendekat, mengecup bibir Eaden singkat tanpa izin, lantas kembali bicara. “Aku ingin Vero kembali padaku.”


Masih saja, dan tanpa perasaan Kelly meminta itu kepada Eaden. Tidak kah dia memikirkan perasaan Eaden ketika bicara seperti demikian?


“Gila! Mengapa kamu meminta itu padaku?!”


“Dan kamu akan mendapatkan wanita itu, serta melihat Rottey hancur. Bagaimana?” []



Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak ya...


See You💕