
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, dan juga Vote. Serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Meskipun menyakitkan, White tetap berada disini, dirumah Vero. Ada seutas benang tak kasat mata yang mengikatnya bersama Vero, hingga dia tidak bisa lari dari laki-laki itu. Meskipun ia sebenarnya sangat ingin pergi dan terlepas darinya.
Pagi ini, dia ber-inisiatif untuk mencari tempat tinggal baru agar lebih leluasa memikirkan bagaimana cara membuat sakit hatinya terbayar lunas. White sudah terlihat baik-baik saja seperti yang dia katakan, namun tetap saja, hatinya begitu hancur hingga dia tak mampu lagi harus membuat ekspresi seperti apa lagi, selain tersenyum.
Namun Vero menahan kepergiannya sekali lagi. Pria itu dengan mudahnya tau jika White memiliki keinginan untuk angkat kaki. Vero memaksa White untuk duduk bersama menikmati roti panggang dengan selai kacang kesukaan laki-laki itu. White menurut, dia ikut duduk dan menikmati sarapannya. Ada segelas susu juga di depannya, Vero yang membuat.
“Disini saja. Tidak perlu pergi jauh hanya untuk menyusun rencana.” sergah Vero sambil mengunyah roti didalam mulutnya.
Apa Vero sudah gila? Mengapa dia mendukung White yang ingin mencelakai Rottey?
“Jangan berfikir aku gila karena membiarkan kamu akan berbuat jahat pada papa ku. Papa bersalah, kamu berhak mendapatkan keadilan. Dan aku bisa membantumu membawa kasus ini ke rana hukum.”
White lupa akan satu hal, Vero juga memiliki kuasa yang tak terbantahkan. Sekali saja Vero mengajukan laporan, pasti semua akan di proses tanpa menunggu besok. Apalagi melibatkan Rottey, yang tidak lain ayahnya sendiri. Orang yang membenci dan ingin melihat keluarga Bruddy hancur, akan bersorak dan bertepuk tangan bahagia menyambut berita tersebut.
“Aku bisa membantumu, tanpa harus kamu lari dari sini. Jangan lakukan itu.” Vero kembali memasukkan potongan roti panggang yang masih hangat itu kedalam mulut. “Aku ada di pihakmu, E. Aku tidak akan berpihak pada orang yang salah. Meskipun orang tersebut adalah ayahku sendiri. Jika dia salah, dia pantas mendapatkan hukuman.”
Hati White tiba-tiba terasa hangat. Semburat merah tiba-tiba memenuhi pipinya. “Aku akan melakukannya sendiri, tanpa bantuan darimu yang bisa menghancurkan nama baikmu sendiri.”
“Jangan keras kepala. Kamu tau aku tidak akan menawarkan sebuah kesepakatan untuk kedua kalinya. Lagi pula, ini juga menyangkut diriku. Aku yang membawamu datang ke rumahku, dan aku memiliki tanggung jawab penuh atas kesejahteraan hidupmu.” lanjut Vero berbicara, tanpa mau mengangkat pandangan sedikitpun ke arah White. Ia tau, dirinya akan menjadi anak durhaka dan tidak tau terima kasih jika sampai benar-benar mengajukan perkara ke pengadilan atas perbuatan keji ayahnya. Nama baik keluarganya akan hancur tak bersisa. Ia rela, asalkan kebenaran terungkap dengan adil.
White menatap lurus pada fitur wajah Vero yang terlihat begitu tampan dalam balutan kemeja biru langit dan dasi selegam malam melilit lehernya. Tidak lupa aroma musk khas seorang Vero yang selalu nyaman di hidung White. Astaga, seharusnya White meletakkan hatinya pada pemuda ini. Mempercayakan semua masa depannya yang sudah hancur itu pada ketulusan yang terpancar dari manik bulat nan indah tanpa bisa di sangkal.
“A-aku akan ke Kasino malam ini.” pamit White dengan nada takut-takut, suaranya terbata, dan jantungnya mendadak berdegup berat.
“Untuk apa?” tanya Vero, masih tidak mengangkat pandangan dan sibuk memotong roti membentuk dadu.
“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan madam Joanna.”
“Pamit sekalian. Bilang jika kamu sudah menikah dengan Vero, jadi kamu tidak mendapat izin bekerja di tempat itu lagi.” jawabnya santai sambil melirik sekelebat pada sosok White.
Entah karena malu atau ingin marah, wajah White berubah merah. Dia yakin Vero hanya mengatakan sesuatu yang menurut laki-laki itu biasa saja. Tapi, mengaku jika menjadi nyonya rumah di tempat tinggal Vero, bukankah berlebihan?
“Tidak. Untuk apa aku mengaku sudah menikah denganmu. Memiliki hubungan saja tidak?!”
Vero tersenyum lembut. Ternyata, membuat White tersipu itu sangat mudah. “Lalu kenapa? Biarkan saja madam Jo tau, kalau sekarang ada orang yang menanggung hidupmu dengan—”
Mendadak Vero menghentikan kalimatnya. Ia pikir, kalimat yang hendak ia ucapkan itu tidaklah patut didengar White. Wanita itu mungkin masih membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan rasa tidak nyaman dan traumah yang muncul akibat ulah biadab ayahnya sendiri.
White menganga tidak percaya. Semenyedihkan itu kah dirinya? Tapi, apa salahnya, yang terpenting, dia bisa hidup enak dan mendapat uang jatah bulanan tanpa harus bekerja dan menemani laki-laki hidung belang.
Bunyi sendok yang beradu dengan piring hingga berdenting sedikit keras, menjadi akhir dari pembicaraan keduanya. Vero mengusap mulutnya, meminum jus apel kesukaannya, lalu bersiap berdiri. Dia harus bekerja, mencari uang dengan sungguh-sungguh karena sekarang, ada nyawa lain yang harus ia tanggung. Ada perut lain yang harus ia beri makan.
“Aku harus berangkat sekarang. Password rumah sudah aku ganti, dan kombinasinya sudah aku kirim di ponselmu. Lebih baik jangan meninggalkan rumah, dan abaikan siapapun yang datang kesini. Jangan pernah membuka pintu untuk siapapun. Mengerti?!”
White mengangguk paham. Tentu saja, dia tidak mau mengalami keburukan untuk kedua kalinya. Detik ini dia berangsur membaik karena Vero mendukung dan selalu membuatnya sedikit demi sedikit melupakan kejadian nahas itu. Tapi tidak juga berarti White lupa, dia hanya ingin berusaha berdamai dengan dirinya sendiri, menerima takdir, dan percaya kepada Vero. Percaya jika Vero akan melindunginya dari Rottey.
“Ya.”
“Dan satu hal lagi.” Vero memberi ultimatum yang tegas kepada White. “Aku akan mengantarmu ke Kasino, jadi jangan pergi tanpa aku. Paham?!”
“Y-ya.”
Kemudian, Vero meraih jas hitamnya yang tadi dia letakkan di kursi tidak jauh dari tempatnya duduk, mengenakannya didepan White, lantas menenteng tas kerjanya, lalu menatap White dengan manik mata berbinar lembut dan penuh kasih. “Aku berangkat. Jaga dirimu baik-baik.”
White mengangguk. Melepas kepergian Vero dan berdo'a agar tidak ada siapapun yang akan mengganggunya hari ini. Setidaknya sampai Vero datang.
Tapi,
ponselnya tiba-tiba berdering nyaring dari arah kamar. White berlari terburu untuk mengetahui siapa yang menghubunginya sepagi ini, bahkan Vero saja mungkin masih berada di garasi dan belum pergi dari kawasan rumah.
Vero.
Nama si penelepon.
Jantung White berdegup acak. Apa ini yang disebut jatuh cinta lagi? White berdehem untuk mengatur intonasi suara, lantas menggeser tombol hijau yang melompat-lompat. “Ada apa lagi?”
Diam sedetik, pantas suara sayup rendah dan begitu lembut menyapa White sebagai jawaban.
“I Love You.”
Sial. Seperti mendapat serangan panik, wajah White terasa panas, dan tanpa diminta, dia berlari kearah jendela, membuka sedikit Gorden agar memberi celah untuknya mengintip keluar setelah panggilan itu di putus sepihak oleh Vero. Deru mesin mobil perlahan menjauh, mobil hitam mengkilat mahal itu keluar dari pelataran rumah dan Vero menghilang dari pandangan.
Senyuman White mengembang sempurna bersama semburat merah seperti tomat matang memenuhi kedua pipinya. White belum pernah merasakan perasaan sehangat ini. Dia heran sendiri mengapa berlagak menolak, padahal, dia juga merasakannya. Sebuah perasaan menggebu yang membuat degup jantungnya berubah dengan ritme tidak masuk akal ketika melihat sosok itu, sosok Vero yang masih terus ia sangkal keberadaan dihatinya.
“I Love you...too.”[]
...🌼🌼🌼...
Semoga suka ya...
...See You 💕...