
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Satu bulan sejak aku menerima pesan itu, aku benar-benar menutup rapat diri, juga rumah Vero. Tak ku indahkan setiap bel berbunyi. Aku takut dia muncul dan menghancurkan aku sekali lagi. Aku takut dia memberikan sebuah ultimatum untukku menuruti kemauannya tanpa di bantah. Aku takut dia...
Semua kecamuk dalam benakku menguar bersama kepalaku yang menoleh ketika bel rumah kembali berbunyi. Tentu saja, aku kembali mendapatkan pesan hari ini. Aku bergerak gelisah meremas ujung pakaian yang aku kenakan siang ini.
Aku kembali menimbang tentang isi pesan yang dikirim untukku sejam yang lalu. Buka pintunya, aku akan memberitahu dimana ibumu berada saat ini.
Licik. Tapi aku butuh informasi itu. Aku merindukan mama. Aku ingin bertemu hanya untuk sekedar meletakkan kepalaku dalam pangkuannya yang sangat aku rindu sambil bercerita, mengatakan jika hidupku begitu berat dan sulit untuk dijalani sendirian.
“Bagaimana ini?”
Sejenak, terlintas sebuah keinginan dalam benakku. Aku ingin menghubungi Vero, meminta pendapatnya atau apapun itu agar aku memiliki pegangan. Tapi aku teringat pesan kedua yang dikirim Rottey untukku.
Jangan beritahu Vero, atau mama mu sebagai taruhannya.
God. Bagaimana aku sekarang? Rottey pasti sangat marah karena selama sebulan ini aku tidak pernah menanggapi semua pesan yang berisi tentang keinginannya kembali menjamah diriku.
Sialan si tua itu, tapi harus bagaimana aku sekarang? Mama terancam.
Aku melangkah gusar, mendekat kearah layar interkom, menakan salah satu tombol dan gambar Rottey muncul. Jantungku semakin bertalu, aku ingin lari, tapi aku adalah seorang wanita pecundang yang tidak ingin kehilangan sepeserpun keuntungan yang diberikan si pemilik rumah, dan juga... perhatian yang selalu membuatku merasa aman dan nyaman.
Ah, baiklah. Tidak apa-apa. Ini yang terakhir, dan aku tidak akan melakukan kesalahan lagi setelah mengetahui keberadaan mama.
Aku melangkah mantap menuju daun pintu, memutar kunci, dan membuka bilah pintu yang menjadi satu-satunya penyelamat untukku.
Senyuman itu, aku kembali melihatnya. Dia tersenyum sarat kemenangan. Di tangannya dia membawa sebuah kantung plastik yang aku sudah tau jelas apa isinya.
“Gadis nakal, mengapa mengabaikan aku, Hm?” ucapnya, kemudian berlalu melewatiku yang masih enggan untuk masuk. Apa ini kesempatanku untuk lari? Tapi, bagaimana nasib Mama nanti jika dia sampai dalam bahaya?
Aku menghela nafas, bergerak ragu untuk mengunci pintu, lalu mengikuti langkahnya masuk kedalam rumah Vero yang tidak lain putra si tua Rottey yang biadab itu.
Seperti yang sudah aku duga, dia tidak akan basa-basi apalagi menunggu sampai Vero datang. “Dimana kita bisa melakukannya?” tanyanya tak sabaran. Dan aku hanya menunjuk kamar tamu yang aku tempati, sebagai saksi kebiadaban laki-laki itu untuk menghancurkan aku kedua kalinya. “Cepat, aku sudah tidak tahan. Jam kerja Vero juga sebentar lagi akan selesai. Aku perlu mempercepat semuanya.”
Ingin sekali menangis mendengar itu. Mual yang beberapa hari ini menyerangku, datang kembali. Aku menutup mulut, menahan gejolak untuk memuntahkan isi perut seperti pagi ini. Bahkan, aku juga merasa pusing bukan main, kepalaku terasa berat dan berputar.
“Ayo?!” perintah Rottey sembari menatap lurus-lurus kepadaku yang masih belum mau beranjak dari tempat berdiri saat ini. “Kamu tidak ingin tau keberadaan ibumu?”
Lagi, dia menggunakan sisi lemahku sebagai senjata untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku berjalan masuk, melewati tubuh Rottey yang aku ketahui sudah dipenuhi gairah, sama seperti pertama kali dia menyentuhku dulu.
Semua terjadi begitu saja. Dia sudah menyatu dengan ku, mencari kepuasan dengan hujaman-hujaman kasarnya yang membuat aku mengeluh sakit. Dia tidak peduli, bahkan semakin bersemangat ketika mendengar rintihanku.
Biarlah. Sudah hancur, mau diapakan juga tidak akan bisa kembali utuh seperti semula. Aku tidak peduli jika tubuhku harus menjadi alat pemuas nafs*u binatang Rottey, asalkan setelah ini aku bisa bertemu mama.
Tapi sayangnya, saat semua sudah terjadi, pintu kamarku tiba-tiba dibuka. Sosok yang aku harapkan untuk tidak muncul, kini tengah menatap lurus dengan binar kecewa diwajahnya.
Vero, melihat semuanya. Melihat bagaimana ayahnya menggagahiku, padahal selama ini aku selalu dia lindungi dan aku juga sudah berjanji untuk menjaga diri. Aku melihat manik matanya berkilat sarat marah, namun dia tidak bisa melakukan apapun. Dia mengepalkan kedua telapak tangannya, membuatku terlalu malu menghadapi kenyataan dan tak sanggup melihat wajahnya. Aku membuang muka, bersembunyi di balik selimut saat Rottey mengumpat keras dan menarik dirinya dariku. Pria tua itu memungut pakaiannya, memakainya tergesa didepan mata Vero. Sedangkan aku? Aku menjadi seorang wanita pengecut yang bersembunyi dari kenyataan.
“Kenapa papa melakukan ini?” tanya Vero datar dengan nada suara paling rendah. Aku tidak berani menoleh, aku hanya mendengarkan obrolan mereka dari balik selimut tempatku bersembunyi. Namun, jawaban yang Rottey berikan, justru diluar ekspektasi ku.
“Kenapa? Papa membutuhkan wanita, dan kamu punya satu wanita simpanan yang bisa papa beri uang untuk menemani papa. Buat apa jauh-jauh mencari?”
“Papa sadar dengan apa yang papa katakan?”
“Sure. Papa sadar.”
“Aku bisa membawa semua ini ke jalur hukum, pa?!”
Aku terbelalak. Seketika itu juga aku menoleh. Aku harus melakukan sesuatu.
“Aku tau, kamu tidak akan melakukan itu jika papa tidak memberi ancaman, E. Aku lebih mengenal ayahku dari pada dirimu.”
Mendengar suara berat Vero, aku merinding. Dia memiliki aura intimidasi yang begitu kuat. Hingga mualku kembali datang. Aku duduk secara kasar, meraih selimut untuk membungkus tubuhku yang masih tak berbalut apapun. Mual kali ini benar-benar tidak bisa aku kendalikan. Aku ingin muntah, maka dari itu aku berlari ke kamar mandi tanpa peduli dua pasang mata yang memperhatikanku.
Dikamar mandi, aku memuntahkan semuanya yang ada didalam lambung. Tak bersisa, hingga cairan pahit mulai terasa. Tubuhku lemas, dan peluh memenuhi kening. Aku tidak tau seperti apa wajah dan penampilanku kali ini. Lebih tepatnya, aku tidak peduli. Suara diluar sana tidak terdengar lagi, tapi persetan, aku tidak peduli dengan mereka berdua. Aku seperti tidak lagi mampu menahan kedua mataku yang ingin memejam. Kepalaku berat juga pening, mataku tiba-tiba berkunang dan pada akhirnya, aku tidak tau lagi bagaimana aku bisa berada diatas tempat tidur dengan pakaian lengkap. Disini juga hanya ada Vero, dan seseorang yang sedang berdiri dan menulis sesuatu, lantas diberikan kepada Vero. Sesaat kemudian, Vero mengantarnya pergi keluar dari kamar, dan kembali beberapa menit kemudian.
“Maaf...” lirihku. Aku tidak tau lagi bagaimana cara membawa diriku yang terlalu mengecewakan ini. Vero pasti kecewa dan benci padaku.
Dia tidak memberi jawaban, tapi berdiri dan keluar kembali dari kamar. Saat itu terjadi, hatiku terasa perih. Aku ingin menangis dan merutuki kebodohan ku karena sudah mengkhianati kepercayaan yang dia berikan untukku.
Akan tetapi, belum sempat aku ingin menguras air mataku, Vero sudah kembali dengan segelas air putih di tangannya. Dia duduk di tepian ranjang tanpa berkata apapun, lalu membantuku bangun, memberikan air tersebut untuk aku minum.
“Aku akan pergi sebentar. Menebus obat di apotek. Jangan pergi kemana-mana sebelum aku tiba dirumah, mengerti.”
Aku menitihkan air mata, seharusnya aku paham kalimat itu karena aku sudah dewasa. Tapi mengapa aku bodoh dan mengingkari semuanya?
Sebuah anggukan aku beri untuk kalimatnya yang datar, hambar, seperti tidak ada lagi rasa hangat yang tersalur dari kalimat-kalimat yang dia ucapkan tadi pagi.
Dia pergi begitu saja. Dan aku, menunggunya dengan rasa cemas yang mengapung di atas kepalaku. Aku takut dia juga akan membuangku setelah ini. Aku tau, aku memang tidak berhak apalagi pantas tinggal disini. Tapi rumah ini, sudah begitu nyaman bagiku. Disini, aku merasa aman, dan tentu saja dilindungi. Vero selalu melakukan yang terbaik untukku, menjauhkan aku dari segala bentuk keburukan yang hendak dilakukan ayahnya padaku. Tapi apa balasanku? Aku malah mengkhianati kepercayaan yang dia berikan, dan tanpa malu melakukan hal itu didalam rumahnya, di depan matanya.
Hingga dua puluh menit larut dalam rasa bersalah, aku mendengar pintu kamar kembali berderit, lalu muncul sosok Vero yang meletakkan satu kantong obat yang baru saja ia tebus di apotek. Lalu, masih tanpa bicara atau menatap mataku, dia kembali keluar. Aku menyusulnya, dan berjalan menuju dapur dimana dia berada saat ini.
“Aku—”
“Kembalilah ke kamar. Kamu sedang kurang sehat.” tegasnya, memotong kalimat yang hendak aku katakan.
Lenganku terulur ragu, aku ingin dia melihatku, untuk itu aku ingin menyentuh lengannya sebagai isyarat. Tapi, dia menjauhkan diri. Ya Tuhan, Vero menjauhiku.
“Makan dan minum obatnya. Kemudian cepat tidur.” ucapnya sambil membawa piring berisi makanan siap saji yang mungkin dia beli ketika pulang tadi.
“Kamu menjauhiku?”
Berhasil. Dia berhenti, tapi masih tidak sudi menengok padaku. “Kamu menjauhiku, dan aku tidak ingin i—”
“Kamu sakit. Cepat kembali ke kamar. Aku sudah beli makan malam untukmu, cepat makan dan minum—”
“Berhenti.” teriakku. Aku tidak suka diabaikan. Tapi, aku memang manusia yang tidak punya malu. “Aku salah. Aku yang membuka pintu dan membiarkan papa mu menyentuhku. Jika kamu tidak terima, berhenti memberi perhatian padaku, dan aku akan pergi dari sini!”
Vero masih diam. Dia sama sekali tidak menoleh atau bergerak dari tempatnya berdiri. Aku tau, dia sedang digelung emosi.
“Aku akan pergi jika kamu memberikan izin.”
Aku ingin sekali Vero berbalik dan memperhatikan saat aku bicara. Namun, ketika semua itu terwujud, aku menginginkan sebaliknya. Aku melihat mata Vero yang basah oleh air mata. Tangannya bergetar seolah sedang ketakutan besar mendera diri nya.
“Aku tidak bisa membiarkan kamu pergi dari sini.” ucapnya, suaranya parau dan bergetar. Apa dia terluka separah itu? Aku keterlaluan sekali ya?
“Kenapa?!” desakku meminta penjelasan. Sebenarnya aku hanya terlalu malu karena sudah membuat Vero kecewa. Ya, hanya itu alasanku, tidak ada alasan lainnya. Lupakan aku yang pernah mengatakan jika aku mencintai pria tulus dihadapan ku itu. Anggap semua itu angin lalu. Cintaku tidak berarti apa-apa untuk dia yang sangat baik.
Vero menahan cengkraman jari-jarinya di piring yang sedang ia bawa. Tatapannya begitu lurus, dan rahangnya mengerat sempurna. “Kamu tidak perlu tau.” ucapnya lirih, tapi aku masih bisa mendengar suara tersebut.
“Katakan!” aku semakin kesal. Aku membentaknya, hingga membuat dia mengangkat wajah dan menatap pias ke arahku.
“Kamu hamil!!” Teriaknya tak kalah keras. Dia terlihat marah, dan aku seperti tergulung ombak dingin yang membuat seluruh nadiku membeku. Paru-paru seolah tidak lagi mau mengembang atau mengempis saat aku membutuhkan udara. Jantungku seolah ikut marah dan tidak ingin berdetak lagi untukku.
Aku mundur beberapa langkah, menutup mulutku tidak percaya dengan ucapan Vero.
“Kamu hamil, dan di dalam darah janin itu, mengalir darah Bruddy. Dia anak papaku!!” []
Jangan lupa Like, komentar, tambahkan ke list favorit. Dan beri hadiah dan Vote jika berkenan. Terima kasih.
...See You 💕...