WHITE

WHITE
Dark Day.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


“Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan tuan Frederick.”


Kalimat itu sukses membuat White luruh diatas lantai rumah sakit. Luka yang ia terima dari pukulan sang ayah beberapa waktu lalu, yang masih terlihat jelas bekas-bekasnya, menjadi kenangan terakhir untuknya bersama laki-laki yang pernah membuat dia seperti hidup di neraka.


White memang membenci ayahnya, tapi dia juga tidak ingin kehilangan laki-laki itu, karena White akan merasa hidup sendirian. Ibunya pergi entah kemana, dan sekalipun tidak pernah memberi kabar tentang keberadaannya sejak berpisah dengan Frederick.


White meringkuk, membuat lipatan tangan diatas lutut, lantas menyembunyikan wajahnya di cela yang tercipta. Dia menangis tergugu, menyesal karena tidak bisa berada di samping sang ayah pada detik terakhir pria kebanggaannya itu menghembuskan nafas. White bahkan menyesal karena memilih pergi dari sisi ayahnya dulu.


Seorang gadis kecil berlari kedalam pelukan lengan ayahnya yang kekar. Ia tersenyum bahagia ketika bahu sang ayah telah menjadi sandaran kepalanya. Gadis kecil itu menghirup aroma khas sang ayah ketika pulang dari tempat kerja.


“Kenapa ayah pulang terlambat?”


“Ayah bekerja sayang, untuk Mommy, untuk putri cantik papa.”


“White tidak suka papa pulang terlambat. White ingin papa cepat sampai dirumah dan bermain bersama White. Mommy juga pergi meninggalkan White dengan bibi Betty. White bosan, White ingin bermain bersama papa dan Mommy.”


Gadis kecil itu merasakan punggungnya diusap lembut. Dia semakin beringsut dalam pelukan ayahnya yang terasa begitu nyaman. “Iya, papa janji akan pulang cepat.”


Tapi apa, semua itu tidak terwujud. Ayahnya tidak menepati janji. Yang didapatkan White hanyalah sebuah janji kosong, karena setiap hari, berlalu sama saja. Ayahnya yang pulang malam, bahkan semakin larut. Mommy nya yang juga sibuk dengan rutinitas dan dirinya sendiri. Hingga White berusia delapan belas tahun dan masih menunggu janji yang diucapkan ayahnya itu terwujud, White malah mendapat sebuah kenyataan yang semakin membuatnya terpuruk.


Pertengkaran, barang-barang pecah, suara umpatan dan cacian satu sama lain, tidak pernah luput dari Indra pendengaran White yang sudah menyibukkan diri didalam kamar sambil mendengarkan musik bervolume cukup keras hingga gendang telinganya nyaris pecah.


Malam itu, dia mendengar Mommy nya menyebut nama wanita lain, dan juga perjudian yang tidak pernah terlewat pada malam-malam ayahnya. Sebaliknya, Frederick juga mengatakan jika Jessy berselingkuh tanpa mau mengakui itu.


Alhasil, beberapa bulan cekcok mulut, bahkan Frederick tidak segan memukul Jessy, Mommy nya itu melayangkan gugatan cerai. White terkejut bukan main. Dia bahkan sempat depresi memikirkan kedua orang tuanya yang tidak menemukan titik terang, lantas memutuskan berpisah.


Lalu, dalam kondisi diambang perpisahan, bisnis yang dijalani Frederick mulai mengalami penurunan drastis. Pendapatan perusahaan terus menurun, PHK besar-besaran tidak bisa dihindarkan, hingga Frederick yang masih berusaha membuat bisnisnya berjalan itu meminjam uang di Bank, bahkan Rottey Bruddy yang notabenenya orang penting diantara orang-orang terpenting negeri, tidak luput dari incaran Fred untuk mendapatkan pinjaman uang.


Fred membuat jaminan yang tidak bisa ia tepati karena perusahaan benar-benar tidak lagi bergerak untuk menghasilkan. Ditambah lagi Fred yang ketagihan bermain judi dan wanita, membuat uang yang seharusnya bisa untuk mencicil hutang, menjadi terbuang sia-sia tanpa guna di meja judi.


Fred dan Jessy dinyatakan resmi bercerai, kemudian tepat satu bulan setelah itu, bisnis Fred gulung tikar. Laki-laki itu putus harapan. Otaknya buntu, lalu mengusir White yang merengek ingin masuk ke perguruan tinggi. Fred bahkan tidak lagi mau peduli dengan hidup yang akan dijalani putrinya itu. Yang ada hanya memenuhi hasrat, dan keinginannya bermain di meja judi dengan sisa uang yang ada di tabungannya.


Semuanya hancur tak bersisa, bahkan keluarga menjadi korban.


Jessy yang sudah bercerai dari Fred, memutuskan menikah dengan laki-laki yang disinyalir menjadi selingkuhannya ketika masih bersama Fred. Kemudian pergi ke tempat suami barunya tanpa mau membawa White bersamanya. Jessy seperti lepas tangan dan tidak mau ambil pusing menanggung hidup White setelah memutuskan melepas nama Abbey, dan hidup bahagia bersama suami barunya.


White?


White tidak lagi ada dalam daftar hidup mereka. Gadis kecil beranjak dewasa itu dibiarkan hidup sebatang kara. Kelaparan, bahkan tidur di gang yang sepi hingga makan nasi pemberian orang yang iba kepadanya.


Sejak itu, White yang sudah menamatkan pendidikan sekolah menengah atas, mencoba mencari pekerjaan dengan keadaan seadanya, melalang buana kesana-kemari mencari lowongan dan menitipkan daftar riwayat hidupnya di beberapa perusahaan, pabrik, bahkan pertokoan. Tapi tidak ada satupun yang menanggapi semua lamaran pekerjaan yang ia sodorkan. Hingga pada titik terlemah dalam diri White, dia putus asa. Ingin mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat ke sungai. Dia hanya berharap tidak akan ada yang menemukannya karena di makan ikan besar, atau buaya.


Perlahan-lahan, White menerima semua takdir yang ditulis Tuhan padanya. Dia juga sudah melupakan Mommy yang membuangnya, dan juga Papa yang mencampakkannya.


Pahit, tapi White tetap berusaha tersenyum manis. Menutup semua lukanya seorang diri. Menggesa perjalanan hidup yang tidak terasa indah jika di bayangkan. Semua karena keserakahan. Semua karena keegoisan. Dan semua karena kedua orang tuanya.


Sekarang, White tidak ingin kehilangan. Meskipun ayahnya tidak pernah menorehkan sebuah kata penyesalan beberapa tahun terakhir, tapi White tetap tidak ingin laki-laki itu meninggalkannya begitu saja didunia ini.


“Papa...” panggilnya, pilu.


Eaden mendekat lebih dahulu, sekali lagi membawa tubuh White dalam pelukan, dan semua itu sukses membuat Vero menyesal karena tidak bertanya terlebih dahulu kepada White, hingga membuat gadis itu tidak peduli kepadanya.


“E, kamu tidak sendirian.”


“Mengapa papa meninggalkan aku, Ed? Tidak bisakah dia lebih lama disini? Aku tidak apa-apa jika harus ia pukul setiap hari. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” kata White disela tangisnya yang pecah.


Eaden membawa tubuh rapuh White untuk berdiri. Dia memegang kedua bahu White memberi kekuatan. “Hei, dengarkan aku.”


White menghentikan tangis, dia menatap Eaden sambil mengusap kasar air mata yang masih tidak mau berhenti keluar dengan suara Isak tangis tertahan. “Listen to me. Mungkin, ini adalah pilihan terbaik untuk papa mu, E. Tuhan menyayanginya. Untuk itu, Dia tidak ingin papa mu menderita lebih lama disana.”


White mengangguk, namun suara tangisnya kembali terdengar, sangat menyayat dalam hati Vero.


Kini, White bisa sedikit lega, menerima kepergian ayahnya setelah mendengar apa yang dikatakan Eaden. Tuhan menyayangi ayahnya, untuk itu ayahnya tidak akan lagi menderita terlalu lama.


Ia memutar tubuh menghadap bentangan kaca, dimana didalam sana, alat-alat medis sudah dirapikan, lalu seorang suster menaikkan selimut untuk menutupi tubuh ayahnya yang sudah tidak bergerak. White mengulurkan lengan, mengacungkan jari telunjuk dan menyentuh kaca. Ia menahan kuat-kuat hatinya yang kembali terasa sakit dengan sebuah helaan nafas besar. Ia akan berusaha rela, meskipun hati kecilnya menolak.


Dulu, ayahnya pernah menolak ketika White memanggilnya dengan sebutan Papa. Laki-laki itu ingin White memanggilnya Ayah, dan sampai semua keburukan terjadi, hal yang menjadi keinginan ayahnya itu tidak pernah terwujud. White mengingatnya dengan pasti, mematri ucapan ayahnya itu pada laci memori indahnya yang paling rahasia.


“Aku akan sangat merindukan senyuman mu, Ayah.”[]



...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...