
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, bukan? Sekarang, beri aku uang sebanyak mungkin untuk mengganti semuanya. Mengganti yang kau renggut tanpa izin. Bayar aku dengan uangmu, biadab!
White ingat dia mengatakan itu semua di depan wajah Rottey setelah mengutuk dan juga mengancam pria tersebut. Biar saja, sekalian saja White mendapatkan gelar wanita murahan setelah ini. Dia tidak peduli.
Tak bersisa. Tidak ada lagi yang tersisa dalam hidup White. Ayahnya, ibunya, bahkan sekarang dirinya sendiri. Takdir masih belum berdamai dengannya dan memberi ujian semakin besar. Lalu, bagaimana hidupnya setelah ini? Bahagiakah?
White mantap lurus pada bentangan air yang tidak ia ketahui dimana ujungnya berada. Sorot lampu mercusuar sesekali berputar mengelilingi bentangan itu, menjaga keamanan sekeliling.
Hidung dan telinga White memerah karena udara dingin menerpa wajahnya, menampar dengan sangat keras seperti sedang mencoba mengembalikan kewarasannya. Bahkan, sesekali orang yang berjalan di sekitar jembatan utama itu menegurnya, melarang White melakukan hal nekad seperti melompat kedalam samudra dingin yang bisa menusuk tulang dan merajam hidupnya. Namun White hanya memberi isyarat kepada mereka jika dia tidak akan melakukan apapun, apalagi melompat bunuh diri. Dia hanya ingin duduk di pagar pembatas sambil menatap kosong ke arah lautan luas itu untuk menghilangkan rasa tidak nyaman pada hatinya yang telah lelah, mati rasa.
White akan mewujudkan janjinya menjadi wanita kuat, kepada mendiang sang ayah. Tapi dia tidak bisa mewujudkan janjinya kepada sang ibu untuk menjadi wanita bermartabat dan terhormat, karena dia sudah kehilangan keduanya. Martabat dan kehormatannya sebagai seorang wanita telah direnggut paksa oleh seseorang yang tidak dia harapkan.
“Kenapa tidak menjawab teleponku?”
Tanya seseorang disampingnya, turut mengedarkan pandangan pada bentangan luas lautan yang sesekali berkilat karena temaram sinar bulan dan lampu pijar mercusuar. White menoleh dengan pandangan kosong, lalu kembali menatap laut tanpa bersuara. Baiklah, menjadi pendiam mungkin lebih baik.
“Kenapa diam saja? Apa kamu sedang sariawan?”
“Ed, aku sedang tidak ingin bercanda.” sergah White. Dia sama sekali tidak ingin bergurau dengan kalimat-kalimat lelucon, karena perasaannya telah mati.
Beruntung, karena kehidupan jaman sekarang memiliki teknologi yang sangat maju. Bahkan untuk menemukan keberadaan seseorang, kita hanya perlu melacak melalui GPS yang tersemat pada ponsel orang yang dicari.
Eaden menekan pembatas sungai dengan kedua lengan tegak untuk membawa tubuhnya naik, lalu dia duduk di samping White, menatap ke arah yang sama dengan si gadis. “Ada masalah?”
Bukan hanya masalah, Ed.
White hanya menggumamkan itu didalam hati. Ia ingin mengunci rapat atas kejadian menjijikkan yang baru saja dia alami. Sedangkan Eaden, masih belum mau menyerah. Dia menoleh ke arah fitur ayu White yang terlihat datar, kosong, tanpa ekspresi, dan terlihat juga sebuah keputus-asaan yang begitu kentara.
Tangannya terulur begitu saja, menyentuh surai White yang terbang tertiup angin, lalu menyelipkannya dibalik telinga.
Hening sesaat, hanya suara desir angin dan debur ombak yang timbul dari arah laut. Hingga kemudian, suara parau White berbaur bersama alam bebas, menarik atensi Eaden untuk memasang indra perungunya lamat-lamat.
“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu putus asa?”
Eaden menoleh, ia melihat keputus-asaan di wajah White lebih mendominasi. Dan apa yang dia lihat itu entah mengapa membuat dirinya tersakiti. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan White? Eaden terus menerka, dia memberi jawaban dengan hati-hati. “Aku? Mungkin akan mengurung diri.”
White diam. Diam sekali sampai membuat Eaden terus memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain didalam kepalanya. “Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika kamu ingin mengakhiri hidupmu sendiri karena rasa putus asa yang sedang menguasaimu?” pertanyaan susulan yang di berikan White lebih mengejutkan, pasalnya, White terlihat ingin melakukannya.
“E. Katakan, ada apa?” tanya Eaden mulai khawatir. Ia belum pernah merasa setakut ini ketika mendengar seorang wanita mengeluh padanya. Tapi White? Mengapa gadis itu seperti begitu berharga untuknya?
White lagi-lagi diam tak menjawab karena Eaden tidak memberi jawaban untuknya. Maniknya menatap lurus, hidung, pipi, dan telinga yang memerah itu seperti sebuah isyarat jika White sedang tidak baik-baik saja.
“E, katakan padaku! Apa yang terjadi padamu?” tanya Eaden dengan nada naik beberapa oktaf. Ia bahkan mengguncang satu pundak White agar wanita itu kembali menyuarakan keinginan, pertanyaan, atau apapun itu, yang tentu saja tidak membuatnya hanya diam seperti itu, dan menakuti Eaden.
“Aku ... “ White menjeda, dia tercekat oleh salivanya sendiri yang tiba-tiba saja tertelan saat hendak menyuarakan isi hatinya yang mengerikan. “Aku, hancur.”
Eaden mengerutkan kening. Ada raut tidak suka yang diperlihatkan Eaden ketika mendengar jawaban White. “Apa maksudmu? Katakan dengan jelas!”
“Mommy pernah memintaku untuk menjaga kehormatan ku, tapi,” White kembali menelan ludah yang terasa seperti duri yang dijejalkan paksa untuk menusuk selaput tenggorokannya. Begitu sakit. “—tapi, aku gagal.”
Eaden membelalakkan mata. Ia sudah menduga hal buruk terjadi kepada White, tapi tidak menduga jika hal itu jauh lebih buruk dari dugaannya. Wajahnya mengeras, giginya bergemelutuk, dan kepalan tangannya merapat. Ia begitu marah mendengar hal tersebut meluncur dari bibir White. Mengapa ada orang setega itu menghancurkan gadis seperti White.
White tersenyum getir dalam tunduk. Ia merasa sedikit lega karena mengungkapkan beban berat dalam hatinya. “Kamu tidak perlu tau, aku akan membalasnya sendiri. Membuat hidupnya bagai di neraka.”
“Vero, apa dia orangnya?”
White menoleh kasar. Dia tidak menduga jika Eaden langsung mengarahkan tebakannya kepada Vero yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya.
“Jika iya, beri aku perintah, maka aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Dia tidak pantas hidup.”
White menggeleng, menyelami manik mata Eaden untuk meyakinkan laki-laki itu jika bukan Vero yang melakukan hal bejat itu padanya.
“Jangan melindungi dia, E. Aku ingin kamu—”
“Bukan.” sahut White cepat. “Bukan dia. Bukan Vero.” lanjutnya dengan nada sendu.
“Lalu siapa?!” teriak Eaden. Tidak peduli pada orang yang menoleh padanya, karena dia sudah kepalang emosi.
“Kamu ingin tau?”
“Katakan!”
White kembali mengedarkan pandangan ke arah bentangan samudra yang gelap dan berkilat-kilat karena bias cahaya bulan dan sorot mencusuar.
“Rottey.”
Amarah Eaden memuncak, emosinya menggelegak naik ke ubun-ubun, darahnya mendidih. Membayangkan pria tua itu meniduri White, membuat hatinya begitu sakit, tidak terima dan sangat marah.
“Laki-laki biadab! Terkutuk! Aku akan membunuhnya untukmu, E.”
White menggeleng. “Kamu tidak perlu mengotori tanganmu dengan membunuhnya untukku, karena aku, akan melakukannya sendiri. Jangan pernah melibatkan dirimu terlalu jauh untuk aku, Ed.”
“Kenapa?”
“Hanya tidak ingin. Aku tidak ingin kamu membuat dosa atas perbuatan yang seharusnya tidak pernah kamu lakukan.”
“Aku tidak peduli!” jawab Eaden menggebu-gebu. Ia bahkan lupa tujuan utamanya mendekati White. Dan perasaan yang timbul itu menjadi bumerang bagi Eaden sendiri. Dia seperti di bakar diatas api neraka dan ingin menyeret Rottey bersamanya.
White menyesal mengatakan itu kepada Eaden, karena laki-laki itu jelas akan berbuat nekad. Kepala White tiba-tiba jatuh di satu sisi bahu Eaden. “Tolong, jangan pernah lakukan hal itu, meskipun kamu menginginkannya.”[]
...🌼🌼🌼...
Mampir juga ke cerita Vi's yang lain ya...
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...