
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Tadinya, Vero pikir dengan mematikan semua sistem CCTV bisa menjauhkan informasi keberadaan White yang tinggal bersamanya dari sang ayah. Tapi salah, Vero salah perhitungan. Hal tersebut justru mematik rasa ingin tau dari sang ayah, yang berakhir ayahnya itu mendatangi rumah dan menemukan White ketika dirinya sedang sibuk menjalani aktivitas.
Ia sudah berusaha meyakinkan White jika tidak akan terjadi apa-apa, tapi sia-sia karena White memaksa ingin kembali ke rumah kost nya dan tinggal dengan damai disana.
Vero menjumput Surai coklat madunya, merematnya kuat karena otaknya mendadak buntu dan tidak menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Ia menatap White yang saat ini berjalan hendak angkat kaki, namun lagi-lagi harus terhenti karena Vero menahannya.
“Kamu pikir papa ku akan diam saja setelah kamu pergi dari sini? Kamu salah E, papaku bukan tipikal orang seperti itu.” ucap Vero, mencoba peruntungan untuk terakhir kali. Jika memang White terus memaksa pergi setelah ini, terserah.
“Kalau perlu, aku akan menyewa apartemen baru untukmu. Jadi kamu bisa tinggal tenang disana.” lanjut Vero, masih kukuh dengan pendiriannya menahan White pergi.
Ini kenapa sih? Mengapa Vero memaksa sekali agar dia tetap berada dalam jangkauannya? Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan laki-laki itu? Atau lebih tepat, apa yang sedang di sembunyikan oleh keluarga Bruddy?
“Maaf, tapi kamu tidak perlu khawatir. Tuan Bruddy pasti tidak akan melakukan apapun setelah tau aku pergi dari sini.”
“Dan aku tidak mau berhenti mengunjungi Kasino!” tegas Vero memotong keteguhan hati White.
Fuc*king bastard.
White mengumpat keras dalam hati. Ditatapnya laki-laki itu lurus-lurus. Ia tidak tau mengapa justru Vero lah yang membuat semuanya menjadi sulit. Seharusnya, dia hanya perlu melepas White pergi, dan sudah. Semua akan kembali berjalan normal seperti sebelumnya.
“Apa kamu menyukai ku?” tukas White to the point. Berbelit-belit akan semakin membuang waktu, dan White akan menjadi gadis paling bodoh jika terus mempertahankan kehidupan seperti ini. Laki-laki bukan prioritas baginya. jadi, jika Vero menaruh perasaan padanya, itu urusan Vero pribadi, White tidak mau tau.
Vero terbelalak. Ia tidak tau jika perlakuannya itu diartikan sebagai suatu bentuk perasaan oleh White. Tidak. Vero hanya ingin papanya tidak menyakiti White, hanya i—
“Jika iya, maka lupakan. Aku tidak ingin mendapatkan cinta dari siapapun. Termasuk dirimu yang memang menurutku patut untuk diperjuangkan dalam hal kesempurnaan fisik.”
...tu.
Vero kembali diam. Patut diperjuangkan? Benarkah? Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Rentetan kalimat tertahan sempurna di kerongkongan yang terasa mengering dan tercekat. Entah mengapa, kalimat White begitu menyakiti sisi laki-laki nya.
“Aku tidak menyukaimu, E.”
“Bagus kalau begitu.” sahut White cepat tanpa berpikir panjang ketika mendengar kalimat itu melecut dari bibir Vero yang terlihat kaku. White menatap datar sambil menganggukkan kepala. “Kalau begitu, lepaskan aku, tuan Vero Bruddy yang terhormat. Biarkan aku pergi dan menjalani hidupku sendiri.”
Tidak ada harapan tersisa. White yang sempat ingin mendengar jawaban berbeda dari Vero, nyatanya mampu menjatuhkan angan itu dalam kenyataan dan sumpahnya pada diri sendiri. Kehidupan White memang sangat menyedihkan.
***
“Thank you so much Mr. Ponco.” ucap Eaden pada seseorang berpawakan tinggi dan bertato di lengan kekarnya. Mr. Ponco adalah pelanggan setia yang selalu membeli senjata pada Eaden. Keduanya sudah lama berhubungan dan menjadi kolega. “Jika nanti ada barang baru, aku akan segera menghubungimu.”
“Tentu. Aku akan sangat menunggu teleponmu. Hubungi aku sebagai orang pertama ketika barang itu mendarat disini.”
Eaden menepuk lengan berotot laki-laki itu, dan tersenyum senang sebab pelanggannya masih berharap banyak dan percaya kepadanya.
Jika di tanya mengapa dia tidak tinggal bersama orang tuanya? Eaden ini suka membikin ulah. Papanya seorang polisi, dan sering kali berakhir harus kembali dibuat malu oleh perilaku Eaden yang sungguh bertolak belakang dengan hukum. Menjadi pemilik dan penjual senjata ilegal, juga sering bermasalah dengan hukum karena membuat keonaran dengan sikapnya yang entah sejak kapan menjadi arogan, papanya mengambil keputusan untuk mengusir Eaden. Tidak ada pilihan lain saat itu, Ia memilih pergi, dan hidup seorang diri dengan menyewa apartemen, mengumpulkan uang sebanyak mungkin, kemudian membeli sebuah unit yang tidak terlalu mewah yang bisa ia tempati hingga sekarang.
Eaden bisa dikatakan beruntung, tapi juga tidak. Kehidupannya seperti digantung antara bahagia dan sengsara. Namun ia tetap menerima. Hidup seperti roda. Terus berputar, kadang di atas kadang di bawah. Tapi Eaden pernah datang satu kali ke tempat ibadah, mengucap syukur karena hidupnya sekarang lebih sempurna—sepertinya ia perlu datang lebih sering agar Tuhan semakin menyayangi dan melindunginya. Tidak kekurangan satu apapun meskipun tidak ada yang menaruh belas kasih padanya.
Dia bahkan membuat motto hidup sebagai pemacu adrenalin agar tetap bekerja dengan baik pada kehidupannya.
Semakin tegang, Semakin menantang.
Bagus bukan?
Eaden membuat motto itu dengan sepenuh hati, mengesampingkan belas kasih dan empati kepada orang lain. Dan lihat sekarang, dia bahkan bisa kuat dan bertahan dengan motto hidup yang ia buat, meskipun terkadang memang membutuhkan perlindungan hukum dari ayahnya yang ternyata masih peduli pada hidupnya yang setengah-setengah itu.
Sesaat kemudian, ponsel Eaden mendadak bergetar. Sebuah pesan singkat ia terima.
Dia bekerja di Kasino milik Joanna.
“Joanna?” tanya Eaden pada dirinya sendiri. Siapa yang tidak mengenal Joanna, wanita itu seperti artis yang terkenal di pelosok negeri. Bahkan Eaden yang notabene tidak pernah datang ke tempat perjudian pun tau siapa Joanna. Ia kembali membaca pesan selanjutnya.
Dan dia selalu menemani Vero disana.
Ini nomor ponsel White. Aku mendapatkannya dari Joanna.
“Umpan yang sempurna.”
Eaden tersenyum disudut bibir. Ia begitu senang karena benar-benar mendapatkan umpan yang akan membuat kawan lamanya bertekuk lutut di depannya. White, kunci dari semua dendamnya yang sudah membusuk selama bertahun-tahun. Gadis itu akan menjadi umpan sempurna yang akan membalas kebenciannya kepada Vero selama ini.
“Bruddy. Kamu akan mendapatkan ganjaran setimpal untuk tingkah memuakkanmu itu. Kamu akan menyesal seumur hidupmu.”[]
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
See You.