
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Vero sebenarnya cukup kesulitan ketika hendak masuk ke dalam kasino. Entah siapa yang memerintahkan, namanya seolah di black list di sini. Dia tidak diberi izin masuk, namun tetap memaksa dan sempat beradu otot dengan dua pengawal yang sedang berjaga di pintu masuk. Hingga Joanna datang dan meminta Vero meyakinkan dirinya untuk membiarkan dan memberikan akses untuknya menemui beberapa orang yang memang hendak menjadi tujuannya kali ini.
Sepanjang menyusuri koridor yang begitu familier dimatanya, Vero selalu di bayang-bayangi oleh mendiang sang ibu yang pernah meminta dirinya untuk menjaga sang ayah. Meskipun ya, dalam lubuk hati yang paling dalam, Vero ingin sekali berontak, menolak dan membiarkan ayahnya itu berbuat semaunya.
“Jika kamu sudah besar nanti, kamu harus membalas budi pada papa untuk semua yang papa lakukan hari ini, untuk ibumu.”
Kira-kira kalimat itulah yang membuat Vero merasa ada sengatan menyakitkan hingga langkah kakinya terhenti sejenak di ujung anak tangga teratas.
Ibumu? Bukankah seharusnya papanya itu tidak perlu lagi mengatakan hal itu? Ibumu? Seolah mereka hidup dalam lingkungan yang berbeda.
Jemari Vero jatuh diatas pegangan besi yang membujur dari sisi bawah hingga atas. Ia meremat kuat bulatan putih berkilat itu dengan rematan cukup kuat hingga otot tangannya nampak jelas.
Ibumu...
yang,
Lima belas tahun lalu,
Ketika hujan turun deras mengguyur di negeri orang, Vero menangis tanpa bisa berhenti barang sedetik. Disana, didalam sana, dua orang yang ia sayangi sedang berjuang untuk saling memberi kehidupan.
Ibunya, Sarah Dwynn, didiagnosa mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir yang mengharuskan wanita berusia empat puluh tahun itu harus mendapatkan transplantasi ginjal, dan kebetulan—yang tidak benar-benar kebetulan—papanya ada disana, sedang menjenguk untuk memastikan kondisi ibunya yang sudah hampir empat hari dirawat.
Biaya transportasi, pengobatan, dan juga biaya hidup Vero ketika menunggui ibunya yang mendapat perawatan diluar negeri, menjadi tanggungan Rottey. Dan menurut Rottey, sial hari itu untuknya, karena dia harus rela mendonorkan satu dari dua ginjalnya demi nama baiknya tetap bersih didepan khalayak umum. Dia tidak ingin jika orang-orang akan membuat berita dan spekulasi buruk tentangnya ketika sampai dan menginjakkan kaki di tanah kelahiran. Dia tidak mau di cap sebagai orang kejam yang tidak berperi kemanusiaan kepada istrinya sendiri, dan pada akhirnya harus rela.
Namun sebagai gantinya, “Kamu harus mau melakukan apapun yang papa minta. Kamu berhutang nyawa pada papa atas nama ibumu.”
Justru kalimat itulah yang Vero dengar pertama kali ketika papanya membuka mata. Vero yang saat itu masih berusia belasan tahun dan belum tau makna ucapan Rottey, hanya mengangguk meng-iyakan.
Dua tahun pasca donor dilakukan, Sarah kembali jatuh sakit. Dan hari itu juga Sarah harus kembali ke pangkuan sang pencipta. Dari situlah semua berawal. Bagaimana papanya mulai mendoktrin dirinya, bagaimana cara papanya memperlakukan dirinya didepan khalayak umum dan di rumah yang tentu saja sangat bertolak belakang, dan bagaimana pula laki-laki yang selama hidupnya ia anggap super Hero itu, mulai menunjukkan taring nya.
“Balas Budi mu pada papa. Semua yang papa lakukan untuk kamu dan ibumu selama ini tidak gratis. Kamu harus membayarnya suatu saat nanti.”
Begitu ucap sang ayah diatas tanah pemakaman sang mama yang masih basah. Dari situ juga, Vero mulai mencari tau tentang bagaimana awal hubungan papa dan mamanya dipersatukan. Ia tidak bodoh lagi seperti dua tahun yang lalu. Ia mulai mengerti dunia dan mencari kebenaran yang tentu saja memukulnya telak hingga tidak bisa berkata-kata.
Sarah Dwynn dan Rottey Bruddy, menikah karena kesepakatan bisnis. Bukan cinta dan kasih sayang seperti yang selama ini dieluhkan oleh sang mama.
“Sayangi papamu, lindungi dia, karena mama mencintainya, sama seperti kamu mencintai mama.”
Tanpa diduga, Vero menitihkan airmata. Bayangan mamanya yang kesakitan, dan juga senyuman wanita kesayangannya itu ketika menyebut nama sang papa yang sama sekali tidak menganggapnya, membuat hati Vero tersentak oleh rasa ngilu yang begitu menyakitkan. Lalu, untuk apa mereka menghadirkan dirinya kedunia jika memang tidak saling cinta? Dan lihatlah sekarang, Vero harus membayar lunas untuk semuanya.
Vero mengusap sisa butiran yang masih ingin tumpah. Dia laki-laki, dan pantang menangis untuk laki-laki, seperti yang pernah papanya katakan ketika dia menerima pukulan oleh temannya di bangku sekolah dasar waktu itu.
Vero kembali mengayunkan langkah. Kaki jenjang berbalut sepatu pantofel hitam itu bergerak gesit ketika melewati koridor yang sunyi. VVIP area memang tidak sering digunakan. Hanya orang-orang yang reputasi dan nama baiknya perlu dijagalah yang menggunakan deretan ruangan ini.
VVIP 204.
Vero mencari dan tidak butuh waktu lama untuk menemukannya. Langkahnya sontak terhenti ketika menemukan tempat tersebut. Telapak tangannya yang mendorong bilah pintu kaca itu mengambang diudara, dengan sedikit celah yang berhasil ia buat membuat udara mencekam dari dalam terhirup oleh penghidu. Vero dapat mendengar samar-samar pembicaraan mereka semua, termasuk bagaimana papanya berkata akan menjadikan dirinya sebagai ayah bagi anak yang sedang dikandung White.
Tunggu! White? Jadi, White juga ada didalam sana?
Vero sudah bersiap mendorong pintu, namun kembali terhenti ketika mendengar rentetan kalimat yang diucapkan oleh White. Ia menimbang keputusannya untuk ikut terlibat yang kemungkinan besar tidak diperlukan, sebab White lebih memilih Eaden dari pada dirinya. Tentu saja ini wajar, White punya hak untuk memilih dan tentu saja sebuah perasaan tidak bisa dipaksakan.
Akan tetapi, jawaban selanjutnya yang dilontarkan sang papa membuat rahang Vero menegas, ia lalu mendorong pintu tanpa berfikir panjang sekali lagi ketika papanya menginginkan White dan juga Eaden untuk pergi ke neraka.
Ketika pintu berhasil terbuka, matanya membola ketika melihat mereka semua sudah mengarahkan puncak senjata api ke arah satu sama lain, terutama Eaden yang bisa kapan saja melepaskan sebutir peluru di tubuh ayahnya.
“Hentikan!” titahnya tajam dan menarik perhatian seluruh pasang mata yang ada didalam sana, termasuk White yang terkejut akan kedatangan Vero. “Papa, aku sudah melarang papa untuk datang dan menolak ajakan Eaden untuk bermain di sini. Kenapa papa tidak pernah mendengar ucapanku?” teriak Vero frustasi dengan nada dingin.
“Karena aku adalah papamu.” sahutnya tanpa merasa bersalah dan masih saja egois.
“Pa, hentikan. Ayo kita pulang sekarang. Papa tidak tau jika diluar sana bisa saja ada wartawan yang menyamar dan mengikuti papa kesini. Reputasi papa akan hanc—”
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku jika E sedang mengandung anakku?” tanya Rottey menuntut. Ia tidak suka karena selama ini Vero menyembunyikan satu fakta penting yang seharusnya ia ketahui.
Vero hanya diam. Dia tidak memiliki jawaban apapun, karena memang tidak ada jawaban yang terbesit didalam otaknya kali ini. “Kamu sama saja seperti ibumu. Pengecut!”
Vero tersentak. Wajahnya terangkat angkuh begitu saja ketika mendengar papanya menyebut mendiang sang mama dengan sebutan rendah seperti itu. “Apa? Pengecut?” tanya Vero dengan nada kelakar yang sama sekali tidak lucu. “Sebenarnya, siapa yang pengecut diantara kalian? Papa bukan?”
“Kamu, dan ibumu!”
Vero berjalan cepat ke arah sang papa tanpa memutus pandangan. Ia sudah termakan emosi karena papanya masih saja belum mau menarik ucapannya dan menempatkan dirinya sendiri dalam kalimat itu. ‘Pengecut’, kata yang paling ia benci ketika papanya yang mengatakan.
Tinggi tubuh anak dan ayah ini hampir sejajar jika Vero tidak lebih rajin olah raga. Vero menatap nyalang pada bola mata abu-abu papanya, lalu berkata. “Jangan pernah menyebut mama dengan sebutan terkutuk itu.” tegas Vero yang sama sekali tak digubris Rottey.
“Lalu apa? Pecundang tidak tau malu? Atau pecundang tak tau balas Budi?”
Ini sudah keterlaluan. Vero mengepalkan telapak tangan, bersiap menghadiahi satu bogem mentah ke wajah tua tidak tau diri milik papanya itu, namun sekretaris pribadi papanya berhasil menghalau pergerakannya hingga Vero terhuyung ke belakang. “Jangan pernah melakukan hal buruk dan tidak terpuji seperti itu kepada ayah anda, tuan muda.”
“Bullshit!!!” umpat Vero terang-terangan yang sudah muak sekali pada sirkel papanya. “Kamu, akan menjadi orang pertama yang akan aku hancurkan jika ikut campur masalahku dengan—”
“Son, jangan begitu. Dia pemuda baik yang selama ini setia menemani pria tua yang hidup hanya dengan satu ginjal ini. Tidak seperti dirimu yang memilih lari dan pergi menjauh, bahkan tidak peduli pada papamu yang sudah tua ini.” tutur Rottey seolah ingin mengingatkan sebesar apa jasanya untuk hidup Vero dan ibunya dulu. “Ah, percuma aku hidup seperti ini jika pada akhirnya, mamamu itu mat—”
“Stop it!” Vero kembali berjalan dan memukul wajah Rottey hingga laki-laki itu jatuh terjerembab ke belakang.
Ditengah suasana mencekam dan pelik itu, Teressa berhasil membawa dirinya keluar ruangan. Ada sedikit rasa bersalah ketika meninggalkan White sendirian disana, namun ia harus mengambil tindakan. Teressa berlari menuju ruang ganti dan mencari ponsel yang ia simpan di tas. Dengan telapak tangan bergetar, ia menekan panggilan darurat yang menghubungkannya ke pihak berwajib.
Setelah mendapat tanggapan, dengan lugas serta suara dan tubuh yang bergetar hebat, Teressa memberi keterangan dan kesaksian atas apa yang ia lihat diruangan itu.
“Kami akan sampai dalam tiga puluh menit.”
Dan Teressa hanya bisa berharap jika semuanya belum terlambat. Termasuk keselamatan White yang sedang mempertaruhkan hidup dan matinya bersama janin didalam kandungannya. []
White sudah mau End' nih...
Kira-kira bagaimana nasib,
White,
Eaden,
Vero,
dan Rottey?
Kalian bisa sampein pendapat kalian di kolom komen. *jika berkenan
Jangan lupa mampir dan baca-baca cerita Othor yang lainnya ya Readers, setelah cerita ini tamat, Othor mau coba bikin cerita yang vibes nya lokal. Latarnya di dua kota besar Indonesia. Jadi, jangan lupa mampir dan beri dukungan ya...
...See you....