
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
White menekan password di pintu rumah Vero. Dia memutuskan kembali, dan menahan bantuan yang di tawarkan Eaden.
Setelah pintu itu terbuka, White tidak melihat siapapun di ruang tamu. White sedikit trauma dengan apa yang dia lihat beberapa waktu yang lalu, ketika Vero dan seorang wanita yang sedang melakukan percintaan mereka diruang tengah, dan White tidak ingin hal itu terulang.
“Aku pulang...” teriaknya, memastikan jika memang ada sepasang manusia yang sedang bercumbu atau apapun itu namanya, mereka bisa mengakhiri sejenak karena mengetahui kehadirannya. “Aku pulang...” ucap White sekali lagi, kepalanya mengintip ke segala sudut.
Tidak ada sahutan. Rumah Vero masih sepi, dan hampir semua lampu sudah menyala. Bisa dipastikan pria itu sedang pergi keluar setelah sempat berada dirumah.
Mendapati rumah benar-benar kosong, White memilih duduk di sofa. Kepalanya masih pusing, dan dia pikir duduk sejenak sambil memijat pelipisnya akan sedikit berguna untuk mengurangi rasa nyeri yang membuatnya putus asa itu. Lalu, ucapan Eaden kembali berkelebat didalam ingatan. Tentang sebuah bantuan, apa maksudnya? Bantuan apa? Pergi atau lari dari keluarga Bruddy? Atau yang lainnya?
Frustasi dengan rasa nyeri yang tak kunjung reda, White berusaha mencari kotak obat dirumah Vero. Dia butuh Aspirin untuk meredakan kepalanya yang tegang. Hingga akhirnya dia menemukan kotak P3K itu menempel didekat sebuah meja yang dipergunakan untuk meletakkan foto-foto keluarga Bruddy.
Di beberapa pigura yang berdiri diatas meja, terdapat beberapa foto Vero, mulai dari ia balita, hingga dia lulus kuliah dan menjadi orang hebat seperti sekarang. White sempat tersenyum menahan gemas ketika melihat foto masa kecil Vero. Pria itu memang mewarisi gen terbaik dari kedua orang tuanya. Vero memiliki ketampanan nyata sejak dia masih kecil. Telapak tangan White masih terus menyusuri deretan foto-foto itu hingga maniknya bermuara pada sebuah album memori SMA. White sudah menduga jika itu milik Vero, ia pun mengangkutnya menuju sofa. Melihat-lihat disana sembari tersenyum-senyum sendiri melihat wajah teman-teman Vero yang terpajang didalam album.
“Mereka terlihat bahagia.” gumam White memberi tanggapan pada tampilan wajah yang menyuguhkan senyuman di setiap lembarnya. Lalu, White berhenti membalik halaman ketika melihat nama Eaden disana. “Eum? Eaden? Dia satu sekolah dengan Vero?” White mempertajam maniknya hingga yakin jika itu memanglah Eaden yang dia kenal.
Eaden Gyutta Clarkson, adalah teman sekolah Verous Bryan Bruddy. Tapi keduanya tidak pernah mengungkit seperti tidak pernah saling mengenal. White sampai heran, sebab dia dekat dengan Eaden, tapi laki-laki itu sekali saja tidak pernah mengatakan jika dia mengenal Vero.
“Apa hubungan mereka dulu tidak baik?” gumamnya mencoba menebak.
Tiba-tiba pintu terdengar dibuka, dan langkah sepatu yang beradu dengan lantai menyapa Indra pendengar White. Kemungkinan besar Vero yang akan muncul, membuat White melompat seketika untuk mengembalikan album yang ia ambil tanpa izin itu kembali ke tempatnya.
Dan benar saja, Vero muncul dengan kantong plastik berlogo toko makanan siap saji yang cukup terkenal.
“Kamu sudah pulang?”
White mengangguk. Dan sebelum Vero mencerca dengan pertanyaan mengapa dia berada di sini, White mendahului. “Kepalaku pusing, dan aku mencari kotak obat.”
“Sudah ketemu?” tanya Vero sembari melepas jaket hitamnya pantas meletakkan plastik berisi dua box bergambar ayam di atas meja.
“Sudah.” bohongnya, “Aku juga sudah meminumnya.” jawab White santai lalu berjalan menuju ruang tengah dimana Vero berada.
“Makanlah. Setelah itu tidur, jangan datang ke Kasino!”
Oh Come On, bagaimana dia bisa hidup bebas di samping Eaden, dan hidup terkekang bagai burung dalam sangkar bersama Vero. Padahal, dia ingin Vero memiliki sifat sama dengan Eaden yang tidak pernah membatasi apapun ruang geraknya.
“Aku butuh bekerja, jadi jangan memaksaku duduk-duduk santai dirumah sambil menikmati uangmu, tuan Bruddy junior.”
Kalimat tersebut membuat senyuman sinis Vero terbit. Bagaimana bisa gadis itu bicara demikian, padahal beberapa waktu lalu dia mengakui jika dia ingin mengeruk harta orang-orang kaya, lalu mencampakkan mereka.
“E, aku tidak keberatan kamu mengeruk uangku, tapi tolong berhenti dari tempat itu. Tidak menutup kemungkinan, jika banyak media meliput dan mengambil gambarmu diam-diam untuk menjadi konsumsi publik di blog berita internet.” terang Vero, mencoba memberikan penjelasan real agar White mau menuruti tanpa paksaan.
“Sebenarnya, kamu hanya takut reputasimu buruk, bukan?” tanya White membalik keadaan. Ia tau betul bagaimana sistem kerja dunia, yang kaya bahagia, yang miskin semakin menderita.
“Tidak, E. Aku benar-benar tidak ingin dirimu menjadi berita di portal internet karena aku.”
“Untuk itu jangan pernah menginjakkan kakimu lagi disana. Lepaskan aku, maka tidak akan terjadi apa-apa.”
Vero terpojok dengan jawaban White. Apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Mungkin selama ini, dialah yang menjadi sumber masalah. Tapi, ia tidak bisa melepaskan White begitu saja, apalagi setelah tau jika White berteman dengan Eaden.
Hening, Vero seperti kehilangan akal dan kata-kata setelah mendengar White berkata seperti itu. Ia membiarkan gadis itu duduk di sofa yang sama dengannya, lantas mengambil satu kotak nasi ayam yang baru saja ia beli.
“Terima kasih untuk makanannya.”
Vero meraih kotak yang tersisa, membuka lalu melahapnya sambil menjawab pertanyaan White dengan sebuah anggukan.
“Kamu mengenal Eaden?”
Bibir Vero yang semula mengunyah nasi dan ayam, terhenti beberapa detik karena pertanyaan White. Lantas dia mengangguk sekali lagi sambil kembali mengunyah makanan didalam mulutnya secara perlahan. “Kenapa?”
White menemukan topik yang tepat. “Kalian berteman dekat?”
Vero memperlambat gerakan mengunyahnya, ia menatap mata White, mencari sesuatu yang mungkin bisa ia jadikan jawaban untuk keputusannya memberi sebuah informasi pada White.
Muak dengan pertanyaan tersebut, Vero melirik ke arah White, lalu mengambil kesempatan untuk membawa White ke dalam pangkuannya ketika gadis itu hendak memakan nasinya lagi.
"Awh...” pekik White yang mendarat tepat diatas pangkuan paha sekal Vero. Lalu menahan tubuhnya agar tidak bertabrakan dengan Vero dengan kedua telapak tangan didepan bahu si pria.
“Sebenarnya, apa yang sedang kamu ingin tau tentang aku dan Eaden?”
“Tidak ada. Aku hanya sedikit terkejut saat tau kalian pernah kenal.”
“Eaden yang memberitahu ini padamu?”
White menggeleng. “Tidak. Aku melihat album SMA kalian, dan aku penasaran, mengapa kamu ataupun Eaden tidak pernah mengatakan jika kalian pernah saling kenal.”
Vero mendorong punggung White hingga gadis itu semakin menghimpit kan dadanya pada dada atas Vero. “Dari pada bertanya tentang hal tidak penting seperti itu, lebih baik makan saja nasi mu sebelum dingin.”
White menggeleng, ia menurunkan sedikit wajah dan bibirnya menyapa bibir Vero. Sebuah decapan terdengar ketika benang saliva mereka terputus. “Katakan saja.” titah White seduktif. Ia juga dengan berani menggerakkan pinggulnya diatas pangkal paha Vero, hingga laki-laki itu terlihat menegang penuh kejut. “Aku ingin tau, sebenarnya kalian berteman seperti apa.”
Vero kembali mendesis ketika pangkal pahanya mulai bereaksi, er*eksi.
“Aku dan dia, dulu berteman baik. Tapi akhirnya kami saling membenci karena satu alasan.”
“Apa itu?”
Vero menarik tubuh White semakin merapat. Ia mengecup dada White yang terbalut pakaian. “Aku merebut wanita yang dicintai Eaden, dan melaporkan Eaden ke polisi karena memperjual-belikan senjata api tanpa izin resmi, semuanya ilegal.”
White cukup terkejut mendengar hal itu. Namun ia tak lantas berhenti begitu saja. “Kamu jahat. Padahal Eaden itu pemuda baik, Vero.”
“Ya. Aku teman yang jahat baginya. Tapi, aku tidak akan membiarkan dia mengambilmu dariku.” []
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...