WHITE

WHITE
Aku ingin bersamamu.



...Sebelum baca, luangkan waktu untuk memberi dukungan kepada White ya......


...Happy Reading...🥰...


...•...



WHITE by: VizcaVida


“Apa itu?”


Eaden menyunggingkan seringai di sudut bibir. “Dia ingin—” Eaden menjeda kalimatnya, menatap Vero sungguh-sungguh dan kini bisa menangkap jika wajah laki-laki itu mengeras. “—Kelly ingin aku menjual E pada seorang gigo*lo kenalannya.”


Vero menahan napas. Wajahnya pias, giginya tiba-tiba bergemelutuk, dan kedua telapak tangannya yang berada diatas lutut mengepal erat.


Seperti itukah Kelly? Atau ini hanya akal-akalan Eaden untuk merusak hubungannya dengan Kelly yang sudah rusak menjadi semakin parah?


“Kamu pasti nggak percaya, tapi itu yang keluar dari mulut Kelly dua hari yang lalu, saat aku menyetujui kerja sama bersamanya.”


Vero tidak habis pikir, mengapa Eaden setuju membuat kesepakatan, sedangkan dia memberitahu dirinya akan hal yang akan menjadi tujuannya bersama Kelly? Apa Eaden memiliki rencana lain untuk White? Atau jangan-jangan...Eaden sedang menyusun rencana untuk menghancurkannya?


“Kelly juga bilang, jika Rottey sudah merenggut kegadisan E.”


Berbagai macam pertanyaan muncul di dalam kepala Vero, salah satunya darimana Kelly tau tentang hal itu?


“Kamu memberitahunya?”


“Actually, no. Aku tidak mengatakan apapun pada Kelly selain berbicara banyak hal tentang rencana-rencana bullshit yang muncul dari dalam otaknya yang nggak waras.”


“Ed, kau lupa pernah menyukainya?”


“Aku tidak pernah menyukai wanita mengerikan seperti dia.” sahut Eaden cepat, seolah bersyukur tidak pernah menjalin hubungan dan terjebak dengan satu ikatan bersama Kelly.


Vero mengulas senyum dikedua sudut bibirnya. Vero tau Eaden mengingkari ucapan dan kenyataan jika mereka memang pernah berseteru akibat wanita yang sama dimasa lalu. “Ah, baiklah. Anggap tidak pernah mengenalnya saja sekalian.”


Vero yang bertahan lama dengan Kelly pun harus berakhir kecewa, karena mengetahui satu sisi kelam yang paling kelam dari pribadi bertubuh molek itu. Kelly terlalu menakutkan untuk ukuran kepribadian seseorang wanita.


“Jadi aku harus memberitahu E?”


“Tidak. Cukup katakan saja padanya agar berhati-hati dan tidak menerima siapapun yang datang berkunjung kerumahmu. Termasuk Kelly.”


Vero mengangguk paham. Dia pasti akan melakukan itu. Apapun, demi keselamatan White dan juga calon anak yang ada dalam kandungan White. “Okey, aku paham. Dan sekarang aku harus pulang. E memesan sesuatu kepadaku, jadi aku harus segera memberikan kepadanya.”


“Oh, Wow. Kalian seperti pasangan pengantin baru saja? Seint*im itukah hubungan kalian?” tanya Eaden menelisik dengan mata menyipit.


“Kenapa? Keberatan?”


Eaden terkikik geli. Dia memang menginginkan White, tapi tidak akan berbuat curang, apalagi iri. Dia akan berusaha semampunya, sampai titik darah penghabisan, kalau perlu.


“Okey, Okey. Pulang saja.” kata Eaden dengan tangan dikibas-kibas sengaja untuk mengusir Vero, seolah laki-laki itu adalah suatu hal yang tidak patut dilihat terlalu lama dan bisa menimbulkan infeksi mata.


Setelah pergi tanpa pamit, Vero sampai dirumah lebih lama dari biasanya. Lebih tepatnya tiga pulu menit dia terlambat datang. Dan senyuman mengembang sempurna di bibirnya ketika melihat White duduk didepan televisi, melihat kartun kesukaannya. Semakin kesini, Vero semakin tau jika White masih suka menikmati tontonan anak-anak itu. Gambar dua dimensi yang sering ia lihat ketika duduk di bangku SD, kalau tidak salah.


“Oh, sudah pulang? Kenapa aku tidak mendengar suara pintu?”


“Kamu terlalu fokus dengan maruko.” cibir Vero sambil meletakkan susu hamil rasa coklat kesukaan White.


White terkekeh akan ucapan Vero, seolah dirinya adalah anak kecil sungguhan yang tidak terganggu sedikitpun saat fokus melihat kartun, yang pada kenyataannya memang seperti itu.


“Eum? Apa ini?” tanya White tidak tau apa yang ada didalam kantong plastik yang baru saja diletakkan Vero. “Eh? Bukannya masih ada?”


Oh, Okey. Vero tadi berbohong kepada Eaden, soal titipan barang yang ingin dibeli oleh White. Padahal, dia sendiri yang berinisiatif membelikan barang-barang itu tanpa White minta, tapi berkata jika White yang memesan.


“Buat persediaan. Siapa tau tiba-tiba habis dan kamu menangis histeris karena nggak bisa minum susu.”


White tertunduk malu. Dia ingat kejadian sekitar empat hari yang lalu, ketika susu dan cemilannya habis, dia marah-marah sampai menangis didepan Vero. Dan sekarang, laki-laki itu membelikannya tiga kotak susu dan beberapa buah, juga camilan kesukaannya.


Suasana manis seperti ini, White tidak ingin mengakhirinya. Dia ingin selalu berada di posisi ini, di detik ini, dan dia bahkan berharap waktu berhenti agar dia selalu merasa diperlakukan dengan baik seperti saat ini.


“Oh iya,”


Dua kata yang diucapkan Vero membuat semua lamunan White buyar. Membawanya kembali pada kenyataan jika waktu akan terus berputar. White membawa pandangannya menuju Vero yang sudah duduk bersandar di punggung sofa dengan lengan telentang dan kemeja di gulung diatas pergelangan tangan. “Aku, sudah menemukan keberadaan mamamu.”


Mendengar hal itu, sontak membuat binar mata White memancar, bibirnya tersenyum lebar karena terlalu bahagia. “Benarkah?”


Vero mengangguk. Ia lantas mengambil minuman kaleng dari dalam kantong plastik yang hampir dia lupakan. Membukanya hingga menimbulkan desis cukup nyaring dari dalam karena molekul karbonasi yang meluap, lalu meneguknya cepat, dan memicing karena efek dari minuman tersebut membuat mulutnya terasa seperti digigiti semut. “Eum. Hari Minggu aku antar kesana.”


White mengangguk, berdiri dan duduk di samping Vero untuk memeluk singkat tubuh kekar dalam balutan kemeja putih tulang itu. Mata Vero membola, dia tidak menyangka jika White akan seantusias itu. Lalu, pada detik selanjutnya, Vero tersedak oleh minumannya, dan batuk terpingkal. Merasa bersalah, White menepuk-nepuk pelan punggung lebar Vero, membantu agar batuknya segera mereda.


“Kenapa memelukku tiba-tiba begitu?” tanya Vero tak habis pikir.


“Maaf, aku terlalu senang sampai lupa kalau kamu minum itu.” terangnya sambil menunjuk kaleng minuman soda yang di genggam oleh Vero. “Jadi, aku akan bertemu mama?”


Setelah semua pengorbanan dan juga perlakuan tidak adil yang kamu terima, aku tidak akan membiarkan kamu tidak mendapatkan apa yang kamu inginkan, E.


Vero mengangkat telapak tangannya. Merapikan anakan rambut White yang jatuh didepan wajah, mengamati fitur wajah White lamat-lamat lalu tersenyum. “Ya. Aku akan mengantarmu kesana. Jadi kamu bisa melepas rindumu padanya.”


“Terima kasih. Aku sangat senang. Dan aku...berhutang banyak Budi padamu,”


“Tidak. Kamu berhak mendapatkan itu.”


Ekspresi senang di wajah White perlahan surut. Dia ingat, perjuangannya menahan perlakuan Rottey yang tidak pantas untuknya. White menunduk, ia memilih ujung kaos longgarnya, lalu berkata. “Ah, kamu benar. Aku berhak mendapatkan itu, setelah melakukan hal memalukan dan tidak—”


Vero menahan gerakan bibir White dengan jari telunjuknya yang menempel tiba-tiba. Vero menggeleng, lantas satu tangannya yang bebas menggenggam erat telapak tangan White. “Jangan bicara apapun. Kamu mendapatkannya, hanya karena kamu berhak mendapatkannya.”


White mengangkat pandangannya. Ia tau jika Vero akan selalu membuatnya merasa di hargai. Sebuah senyuman terkembang indah dibibir sewarna Cherry itu. “Ya. Aku mendapatkannya darimu. Dari usahamu, bukan dari siapapun. Dan aku ingin pergi bersamamu,” White meraih pipi Vero dan mengusapnya lembut. White baru menyadari jika wajah Vero sedikit lebih tirus dari sebelumnya. “Aku ingin menemui ibu, bersamamu.” mata White kini berubah berkabut, berkaca-kaca hendak menangis karena haru. “Terima kasih sudah melakukan yang terbaik untukku, Ve.”


Vero tersenyum, menahan semua rasa perih yang sedang menyergah hatinya. Lantas dia menangkup telapak tangan White dengan telapak tangannya yang besar. “Terima kasih sudah percaya padaku, E. Selamanya, percaya kepadaku, ya?”[]



Terima kasih sudah baca. Jangan lupa mampir di karya Vi's lainnya


...See You đź’•...