WHITE

WHITE
Belenggu.



...Happy reading. Jangan lupa beri dukungan kalian ya...🥰...



WHITE by: VizcaVida


Ada kalanya, setiap keinginan itu merasa menuntut untuk dipenuhi. Mereka akan mendorong diri kita untuk berbuat, atau mencari sesuatu yang bisa mewujudkan keinginan tersebut. Bahkan tidak sedikit yang memilih kecurangan sebagai jalan pintas agar semuanya tercapai, seperti yang mereka harapkan.


Tidak jauh berbeda dengan manusia-manusia lain, Kelly pun demikian. Dia diam-diam kembali menginginkan Vero setelah pertemuan kembali mereka malam itu yang melibatkan perasaan. Bahkan mereka hendak mengulangi kejadian masa lalu yang tentu saja mengingatkan Kelly pada sebuah penyesalan karena membuat Vero kecewa.


Kelly kembali dari luar negeri setelah menghilang hampir enam bulan lamanya, lebih tepatnya setelah menggugurkan calon anaknya bersama Vero, dan lari dari kenyataan yang membuatnya harus diusir dari hati Vero.


“Aku bisa membuat Wanita itu menjadi milikmu, begitupun sebaliknya.” lanjut Kelly, masih menatap lurus pada manik Eaden, mencoba meyakinkan. “Anggap saja Simbiosis mutualisme. Aku untung, kamu juga untuk.”


Ada raut tidak terima yang muncul pada ekspresi wajah Eaden. White tidak pantas ia sakiti lebih jauh. Cukup sampai disini, karena gadis itu sudah hancur meski bukan karena dirinya.


“Aku tidak tertarik. Aku bisa membuat E berada di sisiku, dengan caraku sendiri ”


“Tapi Vero menyukainya, Ed. Dia tidak akan melepas wanita itu untukmu.”


“Aku tidak peduli. Aku akan merebut E dari tangannya. Sama seperti yang dia lakukan padaku dulu.”


Eaden terkejut karena kalimat itu muncul begitu saja hingga Kelly membolakan kedua matanya terkejut.


“Sorry. Aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Tapi aku benar-benar tidak tertarik dengan kesepakatan simbiosis mutualisme yang kamu tawarkan, Kell.” lanjut Eaden sambil membuang muka menghindari tatapan Kelly. “Silahkan kamu pulang jika sudah selesai. Maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Lain kali, jangan pernah datang lagi kesini.”


***


Bosan. White merasa begitu bosan dengan hari-hari yang ia jalani secara monoton. Vero membelikannya banyak camilan, menyediakan jaringan internet super kencang, juga fasilitas-fasilitas lain yang lebih dari kata cukup. Seperti saat ini, White berusaha menghilangkan kebosanan dengan berenang di kolam belakang rumah Vero. Tidak ada orang lain selain dirinya, dan tadi, dia juga sudah membeli bikini secara online yang bisa di antar saat itu juga.


Ia berenang dari ujung ke ujung, mencoba menghapus kebosanan yang merengkuhnya utuh.


Cuaca lumayan terik. Sebenarnya dia ingin berkunjung kerumah Eaden. Tapi mengingat pesan Vero, dan juga suara wanita yang tadi dia dengar ada dirumah Eaden, White mengurungkan niat dan memilih berendam air jernih ditemani segelas jus strawberry kemasan, dan juga keripik kentang. Ia mencoba membangun hidupnya menjadi normal kembali seperti sebelum kejadian memilukan itu menimpa dirinya.


Selama hidup bersama keluarganya dulu, White sering menghilangkan rasa bosan dengan berenang seperti sekarang. Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan sampai kulit tangan dan kakinya mengkerut.


Mendadak, dia merindukan rumah ayahnya dulu dan segala fasilitas mewah yang ada. Dia juga merindukan ayah dan ibunya. Tapi, ngomong-ngomong, dimana ibunya saat ini berada? Mengapa tidak pernah menghubungi White sekalipun, meski White tidak pernah mengganti nomor lama.


White menepi, meraih jus strawberry dan menyesap pelan. Kulit tangannya sudah mulai keriput karena terlalu lama berada di dalam air, dan juga, beberapa pesan masuk dari nomor misterius masih mengganggunya meski Rottey sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Nomor berbeda, dan nomor yang sepertinya saling terhubung.


“Sebenarnya, apa yang di inginkan orang ini? Lalu, siapa dia? Bukan Rottey?”


White memeriksa isi pesan tersebut sekali lagi. Sebuah pesan berbunyi, Jauhi Vero, atau kau akan berada dalam masalah besar.


Mungkin, orang yang mengiriminya pesan itu adalah orang yang mungkin punya rasa terhadap Vero.


Oh, tunggu.


Rasa?


Apa pemilik nomor ini seorang wanita?


Benak White dipenuhi dengan rentetan pertanyaan tentang sipemilik nomor asing tersebut. Ia bahkan berfikir jika pemilik nomor ini adalah mantan kekasih Vero yang sempat datang dan 'bermain' hari itu.


White menekan tombol panggil. Nomornya aktif, akan tetapi tidak ada jawaban. Malah sebuah pesan kembali masuk. Penasaran dengan ku? Dasar wanita munafik!


White bertanya-tanya, sebenarnya apa salah yang ia lakukan hingga sampai mendapat olokan seperti itu? Mengenal saja tidak. Lalu, dengan jari-jari bergetar, White membalas. Kamu siapa? Apa salahku sampai kamu mengolokku seperti itu?


Bagaimana jika aku menolak? Bahkan Vero saja tidak pernah bercerita tentang dirimu.


Tidak ada balasan, membuat White ingin menghubungi nomor itu sekali lagi. Lantas menegaskan jika orang tersebut salah jika menyebutkan munafik. Selama ini, White selalu bersikap jujur dan apa adanya.


Semua rasa penasaran itu terpaksa ia tanggalkan ketika suara Baritone milik Vero menyapanya. White menoleh sebentar, mendapati presensi Vero yang bersandar di bibir pintu dengan kedua lengan terlipat didepan dada, dan juga sedang menatapnya lekat.


Lantas, White melirik jam yang ada disudut kiri ponsel. Pukul lima sore. Sudah hampir tiga jam dia berenang. Setelah menyadari jika semuanya cukup untuk hari ini, White menarik diri keluar kolam. Ia berjalan hati-hati menuju sebuah kursi santai yang bisa dipergunakan untuk rebah, dalam balutan bikini hitam yang melekat erat di tubuhnya. Kemudian ia meraih bathrobe dan mengenakannya.


“Kamu pergi keluar untuk membeli bikini?”


White gugup. Dia lupa jika Vero adalah pengamat yang jeli. “Aku membelinya online. Saat itu mereka menyediakan jasa kirim kilat, lalu aku tertarik dan membeli satu untuk aku pakai berenang selama tinggal disini.”


Vero mengangguk tanpa memutus pandangan. Terutama pada dua gundukan besar didepan dada White yang terlihat mengkilat karena bias cahaya yang menerpa kulit putih bersih dan basah itu. Langkahnya yang lebar, membawanya cukup cepat untuk berdiri dihadapan White.


“Sudah berapa lama kamu berenang?” tanya Vero, membuat White mengerutkan kening, tidak paham akan pertanyaan Vero. “Bibirmu biru.” lanjut Vero yang tidak lagi bisa menahan kekehan saat menatap wajah panik White ketika melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Sebenarnya, tidak tiba-tiba sih, memang sudah biasanya Vero sampai dirumah jam sekian.


“Aku juga tidak tau jika berendam selama itu dikolam. Hampir tiga jam.” jawab White, meletakkan ponselnya diatas meja yang berada disisi kursi santai.


“Kamu, baik-baik saja? Apa hari ini menyenangkan bagimu?”


Vero menelengkan kepala, dia mengamati wajah White yang masih pucat, dan menunggu jawaban apa yang akan dikatakan wanita itu.


“Baik. Tidak ada apapun hari ini. Setidaknya, sampai hari ini.”


White sangat menyukai moment seperti ini. Moment dimana Vero memperhatikan dirinya. Namun semua itu harus ia tepis secara bersama dengan hatinya yang kembali mengkerut. Ia tidak pantas dengan Vero. Ia tidak pantas mendapatkan sebuah kebaikan dari orang yang tidak ia sukai, dan ai juga harus menyangkal semua perasaan yang timbul tanpa dia minta ketika melihat Vero didepanya saat ini.


Lengan Vero terulur, ia meraba kening White, memastikan wanita itu baik-baik saja seperti yang dia katakan setelah berenang selama tiga jam.


“Okey. Mau makan malam apa?”


Well, sebaiknya White mulai menjaga jarak dan juga hatinya. Atau dia akan terjerembab di lubang kesedihan sama yang akan kembali menghancurkannya.


“Apa saja.” tukasnya cepat, kemudian menunduk meraih ponsel. Satu pesan lain terlihat pada display ponselnya, nomor yang masih sama.


“Aku akan membuat spaghetti, kamu mau?”


“Eumm. Apa saja akan aku makan selagi gratis.”


Vero tidak menyangka jika senyumannya akan terbit semudah ini ketika mendengar kelakar tidak seru dari White. “Okey. Cepat kamu ganti baju sebelum masuk angin. Nanti kita makan malam dirumah saja sebelum ke kasino.”


White yang hampir melupakan keinginannya untuk bertemu Joanna, hanya mengangguk dan berlalu sambil menatap ponselnya. Ia membuka dan membaca isi pesan tersebut.


Rottey.


Aku butuh kamu. Temui aku di Hotel Five. Aku akan membayar mahal dirimu.


Satu hal, jangan biarkan Vero tau jika kita bertemu.


[]



...See youđź’•...