
...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....
...Adegan kekerasan....
...20+...
...Diharap bijak....
...Terima kasih....
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Berlebihan.
Satu kata yang sejak tadi memenuhi pikiran Vero ketika mengingat bagaimana wajah penuh emosi milik White berhasil membuatnya dipukul mundur. Ya, dia memilih meninggalkan ruangan White, dan kembali ke kamarnya sendiri, membersihan diri, lalu merebahkan melepas penat yang mendera tubuh dan otak nya.
Vero menatap jam dinding. Setengah jam yang lalu ia mendengar pintu utama ditutup sedikit kasar. White meninggalkan rumah dan berkata jika dia pergi ke kasino, melalui sebuah pesan.
Pesan. Vero jadi ingin membuka dan membaca isi pesan itu sekali lagi.
Aku berangkat.
Memang tidak disebutkan secara spesifik, tapi Vero tau kemana White akan bermuara. Di Kasino milik madam Jo.
Tiba-tiba saja, sebuah senyuman terbit di bibir Vero ketika menyadari sebuah debaran aneh menyapa hatinya. White memang kasar dan keras kepala, tapi tidak tau mengapa, Vero mendapati sebuah kesedihan dan keputus-asaan yang mendalam pada tatapan mata gadis itu hingga membuat Vero selalu berusaha mengalah dan tidak ingin menyakiti White.
“Mungkin dia sedang merasa sendirian sekarang.”
Rasa benci dan marah kepada White menguar begitu saja ketika memikirkan sepasang mata sendu gadis itu. Vero tidak pernah menemui mata sendu yang berhasil di sembunyikan dalam binar bahagia oleh seorang gadis. White adalah orang pertama yang menarik minat Vero untuk selalu ingin tau tentang wanita itu.
Meskipun dia sangat mencintai Kelly dan tidak bisa melupakan wanita itu dengan mudah, White bisa mengubah semua pandangan tentang arti sebuah cinta yang selama ini menjadi pondasi kuat dalam hati Vero ketika menyukai seorang wanita. White berbeda, dia istimewa.
Sekali lagi Vero menatap isi pesan dari White, lalu dengan gerakan ragu menekan foto profil bergambar default itu. Vero tertawa. Dia sudah gila.
“Setidaonya, pasang foto bunga atau apapun yang bisa membuat orang lain tau jika pemilik nomor ini adalah manusi. Bukan gambar kosong seperti ini.”
***
White menghela nafas besar, ah tidak, terlampau besar saat madam Jo sudah mengoleskan salep pada beberapa luka sobek di wajahnya, juga memberikan tablet penghilang nyeri kepada White untuk diminum.
“Bagaimana bisa mereka memberi akses kepada binatang itu?”
White hanya diam saja mendengar ayahnya mendapat gelar baru dari madam Joanna. White baik-baik saja dan tidak tersinggung mendengar ayahnya disebut demikian.
“Lalu, bagaimana dengan kartu ATM mu, apa sudah di lakukan pemblokiran?”
“Sudah Ma'am. Aku meminta bantuan temanku, dan tadi juga sudah ada notifikasi dari bank jika kartuku sedang di blokir.”
Madam Jo mendengus lega. Ia miris melihat kehidupan yang dijalani White. Seberat-berat kehidupan lama yang ia jalani dulu, dia tidak pernah menerima tindak kekerasan seperti yang dialami White.
“Kita laporkan ke polisi agar kasus ini dilanjutkan ke pengadilan.”
White menggeleng. Dia meyakinkan kepada madam Joanna jika luka dan lebam itu akan membaik dalam beberapa hari kedepan, jadi tidak perlu membawa kasus ini ke rana hukum.
“Biar iblis itu jera, E. Bisa-bisanya dia memperlakukan putrinya sendiri seperti ini?” geram Joanna sambil menyentuh lebam pada pipi White yang semakin membesar.
“Tidak Ma'am. Mungkin aku juga bersalah karena kurang perhatian dan tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya bersama wanita-wanita bayarannya.”
Joanna terperangah. Gadis didepannya ini bukanlah manusia, dia malaikat.
“Pergi dan bersembunyilah. Aku yakin dia akan datang lagi dan membuat keonaran disini ketika tau kartu ATM mu tidak bisa dipakai.”
White mengangguk mengerti. Dia juga akan melakukan itu. Tapi masalahnya, dia tidak punya tempat tinggal, dan dia tidak mungkin pulang kerumah Vero dengan keadaan seperti ini.
White sempat tidak mengerti mengapa Eaden sebaik ini dengan memberinya izin tinggal. Pria itu juga mengatakan jika dia akan datang menjemput White di kasino tiga puluh menit lagi.
Nahas, sepuluh menit sebelum kedatangan Eaden, sang ayah kembali datang ke Kasino. Seperti yang dikatakan madam Joanna, Frederick membuat keonaran dengan menggenggam sebuah senjata tajam ditangannya agar tidak ada yang berani menghentikannya. Ia mencari-cari White yang tentu saja tidak bisa lebih lama bersembunyi. White berjalan dengan langkah terseok dan wajah membengkak ke lantai utama kasino, menatap lekat pada sosok ayah yang begitu mengerikan hingga mereka menjadi pusat perhatian.
“Kenapa? Tidak bisa diakses?” tanya White menantang hingga laki-laki itu semakin geram.
“Gadis murahan tidak tau malu. Mana balas budimu huh?!”
“Sudah cukup hidupku kamu sia-siakan karena menyandang nama Abbey pemberian darimu, tuan Frederick.”
Hampir seluruh pengunjung terkejut. Mereka baru menyadari jika White yang mereka kenal dengan nama E di kasino ini, adalah putri Frederick. “Sekarang, apa maumu? Membunuhku karena aku adalah putri yang durhaka karena menelantarkan ayah kandungnya sendiri? Putri kandung yang tidak bisa membalas budi dengan mengirim uang sebanyak mungkin untuk memuaskan nafsu bejad ayahnya sendiri? Waaah... Anda luar biasa, tuan!” ucap White pilu. Bahkan seluruh isi kasino berubah merinding ketika mendengar penuturan White.
Tanpa banyak bicara, Frederick melangkah dengan gelap mata, menjambak dan melempar White diatas lantai. Joanna yang mencoba menolong White, harus menerima sebuah pukulan keras yang membuatnya terjerembab bahkan nyaris pingsan.
“Fuc*king SHI*t!!” umpat White tajam dalam tunduk. Kemudian, dia mendongak dengan sorot menantang, melihat kearah Frederick yang sudah siap melayangkan tinju pada kepala dan tubuh White sekali lagi, berulang-ulang. Namun semua itu terhenti oleh sebuah genggaman tangan besar yang meremas dan memutar dengan cukup kuat. Seorang berpawakan tinggi besar berdiri di belakang Frederick dengan wajah nanar dan rahang mengerat sempurna. Tubuh dalam balutan Hoodie hitam dan tudung yang menutupi kepalanya itu manyorotnya tajam.
“Pecundang!!” ucapnya tegas dan tajam dengan intonasi suara rendah juga dalam. Ia tidak mau mendengar rintihan sakit dari mulut pria bernama Frederick itu. Dia hanya tidak suka saat melihat White sudah dalam keadaan menyedihkan seperti yang sedang ia lihat saat ini. Gadis cerewet itu mampu membuat satu sisi kejam dalam dirinya mencuat ke permukaan. Dengan kepalan tangan yang erat dan kuat, Eaden melayangkan bogem mentah kearah wajah pria dalam cengkeramannya. Sama seperti laki-laki itu, Eaden juga gelap mata. Ia meraih kembali Frederick yang sudah limbung, lalu melayangkan dua kali bogem ke arah perut dan wajahnya.
Miris, Eaden meluapkan kebenciannya yang selama ini memborok dalam hatinya kepada Frederick.
Hingga Eaden merasa cukup memberi pelajaran karena laki-laki itu sudah terbaring hanya dengan nafas saja, Eaden memutuskan berjalan mendekati White. Ia mengusap wajah lebam kebiruan yang terlihat menyakitkan bagi gadis itu, lantas berkata. “Maaf. Aku terlambat.”
***
Sesampainya di kediaman Eaden yang sempat ingin ia sembunyikan dari gadis itu, Eaden membantu mengusap pipi White dengan kompres air hangat dengan perlahan. Ia menatap sendu pada White, namun ekspresi yang muncul di wajahnya berbanding terbalik dengan perasaan, datar dimata White.
“Terima kasih sudah memberiku tumpangan. Aku janji akan pergi setelah sembuh.”
Eaden mengedikkan bahu. “Tidak masalah.”
Sial, mengapa justru kalimat itu yang keluar?
“Apa perlu aku menghubungi papa untuk menjebloskan laki-laki bajinga*n itu ke penjara bawah tanah?”
White menggeleng dengan tawa mencicit. “Tidak perlu, Ed. Dia pasti sudah jera mendapat pukulan seperti itu darimu. Aku tidak menyesal meminta pertolongan darimu.”
Bagus Ed, rencanamu berhasil. E sudah percaya padamu, dan sebentar lagi dendammu pada Vero akan terbalas.
Justru pemikiran itu yang muncul. Meskipun Eaden menolak memikirkan itu sekarang, tapi entah mengapa kalimat itu justru muncul untuk menutupi sebuah perasaan yang ingin Eaden elak.
“Tidak perlu sungkan. Aku akan menolongmu dengan senang hati. Jadikan aku orang pertama yang kamu ingat ketika kamu sedang kesulitan, E.” pinta Eaden. Entah tulus atau tidak, Eaden sendiri tidak tau, dan dia ingin berkali-kali menyangkal perasaannya sendiri.
“Ya. Aku akan melakukannya. Kamu akan menjadi orang pertama yang aku butuhkan, Ed.”[]
...🌼🌼🌼...
Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You 💕...