WHITE

WHITE
Feeling seorang ibu.



...Happy Reading All......


...Jangan lupa terus berikan dukungan untuk White ya......


...•...



WHITE by: VizcaVida


“Ya. Mama tau karena suami mama bekerja di bawah perintah pria itu.”


Hening sejenak tercipta, hingga kalimat lainnya menyambung ucapan Jessy. “Suami mama bekerja sebagai pengantar senjata api yang dipesan klien Eaden.”


White hampir saja terlonjak dari duduknya. Selama ini, dia memang berteman dengan Eaden. Tapi dia tidak pernah tau apa pekerjaan Eaden.


“Sayang, tolong dengarkan mama. Jauhi pria itu. Dia terlalu banyak berurusan dengan hukum dan dia di cap sebagai kriminal papan atas. Mama takut kamu berada dalam bahaya jika berteman dengannya.”


Ini, apa dunia sedang mengoloknya sekali lagi? White merasa dirinya sangatlah bodoh. Mengapa dia tidak pernah mencoba mencari tau apa pekerjaan Eaden sehingga laki-laki itu memiliki harta kekayaan yang bisa dianggap diluar nalar. Lalu, dia juga pernah mendengar jika Eaden sendiri yang mengatakan jika dia sering terjerat dengan hukum, tapi bisa lepas begitu saja karena papanya seorang polisi. Tapi, mengapa selama ini yang dilakukan Eaden justru kebalikannya? Pria itu sangat baik mau membantunya yang jelas-jelas hidup tanpa arah. Eaden baik padanya selama ini.


“Tapi, dia baik padaku, mam.”


“Eaden bukan pria baik sayang. Dia bahkan pernah tersangkut kasus pembunuhan seorang wanita di Bar. Tapi dia bisa lepas dan bebas begitu saja dari jerat hukum tanpa disangkut pautkan lagi dengan namanya.”


White membolakan mata. Kenapa Eaden tidak pernah bercerita?


“Berita itu seolah menghilang dari dunia begitu saja. White, mama minta, jangan lagi berhubungan dengan Eaden, karena dia sangat menakutkan.”


White mengangkat pandangan ke arah sang ibu, menatap dalam kearah pupil matanya untuk mencari sebuah kebohongan. Namun nahas, White tak menemukannya disana. Ibunya berkata jujur, apa adanya.


“Mungkin, dia baik kepadamu karena punya maksud.”


Benar. Kenapa tidak terpikir sejak dulu? White kembali membawa dirinya untuk mendekat pada sang ibu, meminta ibunya untuk sekali lagi memeluknya, kali ini dengan waktu yang cukup lama.


“White merasa tidak berguna sejak mama dan papa memutuskan berpisah,”


Nafas Jessy tercekat mendengar suara parau dan pelan yang keluar dari bibir White.


“Aku hidup terlunta dijalanan karena papa mengusirku, ma.”


Jessy mengusap punggung White dan mengecup beberapa kali puncak kepala putrinya itu. Dalam benaknya dia amat sangat menyesal, mengapa tidak membawa White saat dia pergi dulu.


“Aku makan seadanya. Mencari pekerjaan, tapi tidak ada yang berhasil, semua menolaknya.”


Jessy tengah menitihkan airmata. Ia membayangkan betapa kesulitannya hidup sang putri saat itu, dan dia malah memilih pergi dan tidak lagi mau peduli pada gadis cantik yang tak lain adalah darah dagingnya itu.


“Tapi, tiba-tiba muncul seorang wanita yang menawarkan pekerjaan padaku. Dia seperti malaikat yang dikirim Tuhan untukku, menolongku dalam kondisi mengenaskan tanpa sepeser uang.”


“Maafkan mama, nak.” pekik Jessy tak kuasa membendung kesedihan dari cerita White.


“Mama tidak perlu menyesal, keputusan mama pergi dari papa sudah benar. Karena jika mama tetap bertahan, papa mungkin akan terus membuat kita—”


“Maafkan mama.” sela Jessy lantas mengeratkan pelukannya pada White.


“Mama sudah mendapatkan maaf tanpa perlu mama minta.”


White ikut larut dalam kesedihan dan memeluk ibunya.


“Lalu, kamu mendapat pekerjaan?”


“Ya. Aku bekerja di sebuah Kasino yang cukup ternama dan tercatat dalam daftar dan mendapat pengawasan hukum. Dan disanalah aku mengenal Vero. Lalu, beberapa waktu kemudian mengenal Eaden.”


“Ingat pesan mama. Jauhi laki-laki bernama Eaden itu.”


***


Ketika Josh pulang, Jessy langsung menyambutnya dengan sebuah tarikan pada pergelangan tangan. Ia meneliti wajah lelah suaminya itu dengan segudang pertanyaan yang entah harus ia mulai dari yang mana. Jessy terlalu takut. Satu sisi dia tidak ingin mencampur adukkan ketakutan yang ia alami untuk White kepada pekerjaan yang sedang dilakoni sang suami. Namun sisi lainnya sebagai seorang ibu, dia tidak ingin White berada dalam bahaya jika mengenal Eaden semakin jauh.


“Kenapa sih, ada apa?” suara Josh dipenuhi tanda tanya. Dia baru saja pulang, tapi sudah ditarik seenaknya oleh Jessy dan dia merasa tidak nyaman.


“Eaden masih aktif di perkumpulan itu?”


Josh mengerutkan kening. Padahal, sebelumnya Jessy tidak pernah mempertanyakan hal seperti ini. Semua ini terlalu tiba-tiba, dan tentu saja mencurigakan bagi Josh.


“Kenapa tiba-tiba bertanya itu?”


“Jawab saja Josh. Ini penting untukku.”


Josh memijat tengkuk lehernya, lantas duduk diatas sofa dan bersandar disana. “Iya, kenapa?”


Jessy membulatkan kedua matanya. Otaknya sibuk menyusun pertanyaan untuk Josh, agar laki-laki itu tidak semakin menatap nyalang padanya.


“Sebenarnya kenapa sih, Je? Kamu ada masalah apa sampai bertanya tentang Eaden. Atau, jangan bilang kamu keluar rumah dan membicarakan banyak hal dengan para tetangga yang suka bicara sembarangan itu?”


Josh yang semula berwajah tenang, kini berubah lebih mengerikan. Tatapannya tajam menelisik dan mencari tau kenapa Jessy menanyakan hal itu kepadanya setelah sekian lama hanya diam dan biasa-biasa saja.


“Enggak. Aku tidak pernah pergi keluar tanpa tujuan. Apalagi sampai ngobrol sama tetangga.”


“Lalu, kenapa kamu tanya tentang Eaden secara tiba-tiba begini?”


Jessy menunduk. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apa boleh dia menyebut White sebagai alasan? Namun, dia mendapatkan jawabannya setelah beberapa detik terlewati tanpa sepatah kata.


“Karena White?” kalimat yang membuat Jessy seketika menegang, tubuhnya seperti dipaksa tegak dan kepalanya dipaksa menerima kenyataan. “Aku melihatnya beberapa kali bersama bos Eaden. Bahkan aku juga sempat melihat, putrimu itu pernah tinggal di rumah bos Eaden, saat itu.”


***


Diam karena memikirkan apa yang ia dengar dari sang ibu, White berusaha senatural mungkin agar Vero tidak curiga dan mencercanya dengan berbagai pertanyaan. Alhasil, suasana serasa canggung karena White terlihat kehilangan mood.


Namun, jangan sebut namanya Vero jika tidak pandai menukikkan situasi. Dia tiba-tiba menyalakan musik, menambah volume suara juga suhu pendingin mobil. White yang terkejut segera menurunkan volume lagu yang sedang diputar oleh pemutar musik mobil dengan gerakan spontan. Dia melirik sinis kepada Vero, lalu mengerucutkan bibir sambil menatap kearah jalanan yang mulai gelap. Semua perkataan ibunya terus berputar didalam kepalanya.


“Ada problem?”


White menoleh. “Nggak.”


“Jadi, kenapa wajahnya ditekuk begitu?”


Ucapan Vero sudah seperti seorang kekasih yang sedang mempertanyakan ekspresi kekasihnya. Eh, apa seharusnya begini saja? Tapi, apa White mau menerima dirinya sebagai kekasih?


Tiba-tiba Vero mengulas senyum termanis yang pernah ia miliki. “Ya sudah, jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya hilang.”


Tumben?


Mendengar kalimat godaan yang di ucapkan Vero, White mendadak tersipu. Pipinya merona, bibirnya terlipat kedalam karena dirundung rasa malu.


Terlalu percaya diri dan besar kepala?


Ya, sebut saja semacam itu.


Dan White tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tanpa tersipu-sipu malu, juga aura senangnya dengan mengatakan jika Vero—


“Gila!”


Vero tertawa keras mendengar kalimat kasar White. Mungkin, jika itu orang lain, White tidak akan peduli. Tapi yang mengatakan dirinya cantik adalah Vero, jadi dia harus berbangga hati dan melupakan sejenak hiruk pikuk kehidupan yang dilaluinya, dan merasakan euforia kebahagiaan karena mendapatkan sebuah pujian, ya meskipun hanya dengan nada bercanda, tapi tidak ada raut bercanda di muka Vero ketika mengatakan itu. Jadi, White percaya jika Vero memang menganggapnya cantik. Dan dia menyukainya. []