WHITE

WHITE
Kedatangan tidak terduga.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Kalau dipikir-pikir, kapan ya terakhir kali dia senyum-senyum sendiri saat membolak-balik laporan pekerjaan? Wah, Vero sendiri sampai lupa kapan hal itu terjadi. Tapi hari ini, seperti sebuah berkah atas do'a-do'a yang selalu ia panjatkan sebelum memulai sarapan pagi, Tuhan mengganti Kelly dengan White yang lebih menyenangkan. Gadis itu memuji makanan buatannya yang dulu selalu mendapat kritikan dari Kelly.


Memang, White kadang terasa seperti gadis liar, urakan dan tidak berpendidikan karena sering melontarkan kata-kata kotor serta umpatan kasar padanya. Tapi umpatan itu tidak berarti apa-apa, malah terdengar seperti sebuah pujian di telinga Vero.


Ah, ngomong-ngomong tentang Kelly, sedang apa ya mantan kekasihnya itu sekarang?


Vero tiba-tiba meraih ponsel yang sejak pagi teronggok diatas meja kerja dan tidak tersentuh sama sekali sejak ia membuka laporan pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini. Ia mengetuk layar sebanyak dua kali. Muncul foto dirinya yang sedang mengecup pipi Kelly yang tersenyum kearah kamera. Wallpaper itu sudah terpasang sejak mereka menjalin hubungan hingga saat ini, tanpa sekalipun Vero menggantinya, karena Kelly bilang, dia menyukai foto tersebut hingga Vero tidak ada niatan mengganti barang sedikitpun. Vero tipikal laki-laki setia jika sudah menyentuh urusan cinta.


Dulu, ia sangat memanjakan Kelly, menuruti semua keinginan gadis itu dalam hal apapun. Hingga akhirnya mereka semakin dekat, dekat hingga hubungan mereka yang semula hanya sebatas ingin kenal, menjadi sepasang kekasih.


Gaya berpacaran mereka juga terkesan tidak neko-neko. Vero menghargai Kelly seperti menghargai seorang ibu yang notabenenya juga seorang wanita. Tapi, malam itu menjadi malam yang rumit. Vero dan Kelly yang menghabiskan Wine termahal yang Vero punyai dirumah, harus bergumul dengan masalah pelik. Kelly yang tidak ingin diikat oleh hubungan selain sepasang kekasih, menolak tanggung jawab Vero yang ingin menikahinya. Hingga satu masalah lain muncul sebulan kemudian. Kelly hamil, dan wanita itu menggugurkan kandungannya tanpa sepengetahuan Vero.


Amarah Vero memuncak. Dia yang jelas-jelas mau mempertanggung jawabkan perbuatan 'tak sengaja' yang mereka lakukan harus rela kehilangan calon anak yang tidak pernah ia tolak. Meskipun Kelly tidak menginginkannya, bukankah membicarakan hal itu terlebih dahulu dengan Vero adalah pilihan terbaik? Bukannya mengambil keputusan sepihak dan memusnahkan janin yang tidak bersalah itu.


Sejak saat itu, hubungan Vero dan Kelly menjadi regang. Vero jadi tidak mempunyai feeling spesial kepada Kelly seperti sebelumnya, dan Kelly terkesan menjauh dan seperti menghilang tanpa kabar. Lalu pada akhirnya, Vero memberanikan diri menghubungi lebih dahulu dua bulan yang lalu. Mereka bertemu, dan mengambil keputusan untuk berpisah dengan jalan mereka masing-masing.


Namun siapa sangka, berpisah dengan Kelly membuat dampak besar pada kepribadian Vero yang dulunya begitu hangat dan murah senyum. Vero lebih sering mengkonsumsi alkohol, merokok, bahkan yang akhir-akhir ini ia lakukan adalah datang ke Kasino untuk bermain Judi bersama seorang wanita sewaan, dengan dalih sebagai pengalihan stress di dalam kepalanya. Kelly? Vero sendiri tidak tau, apa wanita itu juga merasakan hal yang sama dengannya atau tidak.


Mengingat kejadian kelam itu, Vero seperti kembali membuka luka lama. Dan yang paling membekas dan membusuk dihatinya adalah tentang bagaimana Kelly memusnahkan calon anaknya. Ya, Vero benar-benar bisa menerima dan merawat bayi itu seandainya Kelly tidak mau. Tapi semua kembali pada kenyataan jika harapannya itu hanya tinggal sebuah angan.


Telepon di mejanya berbunyi dan membuyarkan lamunan Vero tentang Kelly. Ponsel kembali ia letakkan dimeja, dan ia bergegas menyahut gagang telepon yang menghubungkannya dengan resepsionis dilantai bawah.


“Dengan departemen pajak, Vero bicara.” ucapnya memberi salam dengan nada ramah.


“Pak Vero, ada seorang wanita ingin bertemu dengan anda. Dia sedang menunggu di kursi tunggu pengunjung meskipun saya sudah mengatakan jika anda sedang sibuk.”


Vero menghela nafas. Ia mencoba bermain tebak-tebak keberuntungan, siapa tau Kelly yang datang dan mengobati rasa rindunya yang tiba-tiba muncul pagi ini.


“Siapa?”


“Nona E.”


E? Berani sekali dia datang ke tempat kerjanya? Vero yang terkejut hanya bisa memerintahkan agar resepsionis menyampaikan pada gadis itu untuk menunggunya.


Vero berjalan cepat, bahkan menekan-nekan tombol lift tidak sabaran meskipun ia tau Lift tidak akan langsung datang menjemputnya dan membawanya ke lantai dasar untuk menemui White. Lift masih naik dan baru sampai di lantai delapan. Sekali lagi Vero menekan-nekan tombol dan semua itu percuma. Ia bergegas menuju tangga dan berlari turun. Akan sangat berbahaya jika sampai seseorang melihat White dan mengenali wanita itu karena beberapa portal berita online sedang berisik membicarakan keluarga Bruddy, terutama Vero.


Nafas Vero teras panas. Sudah lama dia tidak berlari diatas treadmill dan tiba-tiba harus lari menuruni anak tangga dari lantai tiga ke lantai dasar. Wah, rekor terbaru yang ia capai hari ini adalah, berlari dengan kecepatan tak terhingga untuk menemui wanita kasino yang sedang menunggunya dilantai dasar.


Sial. Seharusnya dia menolak saja dan bilang jika dia memang sibuk dan tidak bisa diganggu. Tapi White seperti sebuah prioritas untuknya, saat ini.


Vero membungkuk dengan bertopang lengan pada kedua lutut. Nafasnya memburu, dan keringat bercucuran di keningnya. Ia bahkan rela menjadi tontonan para pegawai yang sibuk berlalu-lalang, karena dia memang tidak pernah melakukan hal memalukan seperti ini.


Vero menarik lengan White dan membawanya ke lobby yang cukup sepi dan jarang dipergunakan pegawai.


“Kenapa kamu bisa sampai disini?” tanya Vero, masih dengan nafas ngos-ngosan dan wajah dipenuhi bulir keringat. Gila saja, seorang Bruddy berlari demi wanita Kasino. Ah, ini benar-benar gila.


White menyodorkan sebuah dompet kulit berisi uang yang tidak seberapa, ID card, serta kartu-kartu limited yang tidak dimiliki oleh sembarang orang.


Vero menggelengkan kepala tidak percaya. Ia memang membutuhkan dompet tersebut, tapi tidak akan menjadi masalah besar meskipun ia tidak membawanya. Tapi White, dia malah berjuang susah payah datang dan mengantar dompet tersebut untuknya.


“Terima kasih. Tapi jangan pernah melakukan hal ini lagi, okey.” titah Vero. Nafasnya sudah teratur dan kini menaruh perhatian penuh pada sosok White.


“Kenapa?” tanya White lugu.


Vero tidak habis pikir, mengapa ada gadis semenggemaskan ini ketika ia bertindak bodoh yang memungkinkan dirinya terlibat masalah besar.


“E, aku bukan orang biasa yang bisa kamu temui setiap saat. Berbagai pasang mata yang memiliki tujuan berbeda menyorotku. Kamu akan terkena masalah jika melakukan ini lagi.”


White mengedik bahu acuh, seolah apa yang dikatakan Vero tidak sebanding dengan jalan hidupnya yang lebih mengerikan.


“Tidak masalah.”


“Tapi itu sebuah masalah untuk nama Bruddy, terutama Papa.”


White tercekat. Ia menganggap tidak masalah, tapi yang dikatakan Vero nyata didepan mata. Jadi, apa gunanya dia sekarang? Mengapa Vero justru membawanya pulang jika memang White bisa menimbulkan masalah untuk nama baik keluarga mereka? White masih mencari-cari jawaban pada manik Vero yang berusaha ia patri. Tidak ada jawaban, tapi White tau jika Vero memiliki tujuan untuknya.


“Kalau begitu, jangan pernah berurusan lagi denganku. Kita anggap kita tidak pernah melihat dan bertemu satu sama lain.” sergah White ketika putus asa tidak mendapat jawaban signifikan dan spesifik dari Vero. Jalan tebaik adalah saling melupakan. “Jangan pernah menghubungi madam Jo untuk memintaku menemanimu ketika kamu datang ke Kasino.”


Vero tertegun. Ia tidak menginginkan itu. Satu sisi dirinya menolak melupakan White begitu saja.


“Bye. Aku akan pergi dari rumahmu, jadi—”


Jangan. Jangan pergi.


“Kamu harus tetap disana jika ingin aku lindungi.”


Apa? Apa telinga White tidak salah dengar? Seorang Vero dari keluarga Bruddy menawarinya sebuah perlindungan? Kacau!


White yang sudah beranjak, kini kembali berbalik dan menatap presensi Vero dengan kedua alis yang hampir menyatu. “Apa maksudmu, tuan Bruddy?”


Vero membuang muka ke kanan. Ingatan masa lalunya bersama Kelly berhasil membuat moodnya tiba-tiba berubah drastis. Lalu dengan angkuh Vero berkata tegas. “Tidak! Kamu harus kembali ke rumahku, hanya itu jalan satu-satunya untuk melindungi mu dari papa!” []



Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


See You.