WHITE

WHITE
Tipu Muslihat.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Ponsel White berdering. Ia menoleh dan maniknya berkabut ketika melihat siapa nama dibalik panggilan suara tersebut.


Hell.


Nama yang ia cantumkan mewakili perasaan White dan juga perilaku orang yang menghubunginya saat ini. Ayah, memangnya siapa lagi? Tidak cukupkah dia membuang White? Tidak cukupkah dia membiarkan seorang gadis hidup terlunta tanpa kasih sayang dan perlindungan dari seorang ayah yang seharusnya menjadi tameng kehidupan seorang gadis seperti dirinya? Bahkan laki-laki itu tanpa malu menghubungi White, meminta balas budi karena telah menghadirkan dan membesarkan White hingga kini dianggap sudah mampu dan wajib menafkahi hidup sang ayah.


Rasa sakit dan luka dalam hatinya bak disiram air garam. White menggeser tombol, membiarkan orang diseberang sana mencaci, memakai, dan menyumpahi dirinya dengan kata-kata tidak pantas.


“Bit*ch?” tanya White ketika sang ayah memanggilnya dengan sebutan demikian. “Asal papa tau, aku tidak pernah menjual diriku kepada laki-laki!” geram White yang tentu saja tidak terima disebut dengan kata tersebut. “Tuan Abbey, mengapa anda memperlakukan putri anda seperti ini?” kata White terlanjur terluka.


“Dasar anak tidak tau balas Budi. Dimana akalmu sekarang? Aku sudah membesarkan dan membiayai hidupmu selama—” kesal Fred di seberang.


“Memangnya siapa yang ingin dilahirkan dengan takdir memuakkan seperti ini?” sahut White, ia tak tau kata-kata menyakitkan apa lagi yang akan dia terima hari ini jika tidak memotong kalimat ayahnya sendiri dengan tidak sopan seperti yang baru saja ia lakukan. “Tolong jangan hubungi aku lagi. Uang yang aku kirim seharusnya masih bisa untuk membiayai hidup anda untuk satu bulan kedepan. Tapi, sebagai balas Budi anda telah membesarkan saya dengan uang anda, saya akan mengirim anda uang lagi. Dan sekali lagi saya minta, jangan hubungi saya setelah ini. Anggap kita tidak pernah memiliki hubungan apapun.”


White mematikan panggilan teleponnya sepihak. Ia melempar ponsel mahal yang baru ia beli beberapa waktu lalu itu diatas kasur, lalu meringkuk diatas lipatan kakinya sendiri. Airmata terasa sudah mengering. Ia sudah tidak lagi mampu meneteskan liquid bening itu hanya untuk meratapi nasib.


Lagi-lagi takdir. Jika dia terlahir hanya untuk menerima takdir seburuk ini, jadi untuk apa dia ada?


***


“Tolong kirim berkas yang perlu tanda tanganku hari ini, ke ruangan ku sekarang.”


Vero mencoba fokus pada pekerjaan, meskipun yang muncul didalam otaknya adalah bagaimana cara meyakinkan E agar ikut dengannya. Gadis itu keras kepala dan mampu membuat kepala Vero pening.


Bagaimana tidak. Semalam setelah bertemu dan bersitegang didepan orang banyak, White masih menolak ikut bersamanya.


Tumpukan berkas, ratusan file yang perlu ia periksa, dan White...ah, kepalanya benar-benar akan meledak sekarang. Vero membanting tubuhnya pada sandaran kursi, meremat surai yang tertata rapi, lalu memejam karena pelipisnya turut terasa berat.


Sialan.


Pintu diketuk, dan sekretaris kantor muncul dari balik pintu berkaca tebal dengan logo pemerintahan yang tercetak tepat di bagian tengah.


Menegakkan punggung, Vero menatap kedatangan sang sekretaris dengan ekspresi datar. Berbanding terbalik dengan apa yang dilihat wanita paruh baya itu pada diri Vero.


“Anda sakit? Kenapa wajah anda pucat begitu, pak Vero?”


Vero tidak menduga jika memikirkan masalah seperti ini bisa membuat wajahnya memucat seperti zombie yang belum memangsa korban.


“Benarkah? Aku baik-baik saja kok?!” sangkalnya sambil mengulurkan tangan, meminta berkas dari tangan sekretaris. “Apa pak Tierre sudah menandatangani berkas yang kemarin aku ajukan?”


“Belum, pak. Pak Tierre bahkan tidak terlihat datang ke kantor hari ini.”


Telapak tangan Vero mengapung diudara. Bagaimana bisa berkas sepenting itu tidak direspon? Jika masih tidak di setujui, Vero yang akan terkena imbasnya.


“Baiklah. Kembali ke ruangan anda. Aku akan menghubungi jika ada hal penting.”


“Baik, pak.”


Gila. Otaknya butuh hiburan, dan E adalah orang pertama yang muncul dikepalanya.


Menerjang segala batas untuk pertama kalinya. Vero tidak peduli lagi jika ayahnya akan menggunakan White sebagai kambing hitam atau apapun. Yang ia perlukan hanya sebuah kebebasan. Otaknya terlalu rancu, dan disinilah dia berakhir. Di ruangan VVIP bersama gadis yang selalu menghantui kewarasannya akhir-akhir ini.


Bola kecil berwarna putih itu berhenti tepat diangka sepuluh, sama seperti apa yang di katakan White padanya. Kemenangan kembali datang, dan Vero tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibir manis White.


Permainan sudah berakhir. Bahkan Croupier sudah menyarankan kepada White untuk mengantar Vero pulang dengan taksi karena laki-laki itu berada diambang batas kesadaran.


Joanna datang. Ia melihat Vero yang terbaring lemah diatas sofa. Kemeja yang dikenakan laki-laki itu sudah berbau alkohol, dan kesadarannya telah musnah.


“Biar yang lain saja yang mengantar. Kamu tetap disini.” titah Joanna, takut jika Vero berbuat sesuatu kepada White, karena mereka sedang ada masalah yang cukup pelik.


“Tapi saya tidak bisa membiarkan orang yang sudah membayar saya, dan dengan seenaknya saya melimpahkan tanggung jawab yang seharusnya saya emban kepada orang lain.”


“Ini salahnya. Mengapa dia minum terlalu banyak dan mabuk.” ketus Joanna tak suka sambil melihat kearah Vero berada. Ia sudah terlanjur tidak suka dengan orang itu.


“Saya bisa menyetir mobil. Nanti kembalinya kesini, saya bisa naik taksi.”


“Tidak, E. Kamu akan berada dalam bahaya jika mengantar laki-laki ini pulang. Dia membencimu setengah mati.”


White tidak bisa menyangkal. Apa yang dikatakan madam Jo memang benar. Vero sedang membencinya, dan tidak menutup kemungkinan jika Vero akan berbuat sesuatu pada White diluar kesadarannya.


“Saya hanya akan mengantarnya sampai di pintu gerbang, Ma'am. Orang kaya seperti dia, mana mungkin tidak memiliki pelayan. Saya akan menyerahkan dia pada pelayannya untuk diurus ketika sampai.”


Percuma, berdebat dengan White tidak akan pernah menemui ujung. Gadis itu keras kepala dan selalu berpendirian teguh.


Tapi,


White melihat kembali alamat yang ia baca dari kartu tanda pengenal yang tadi sempat ia ambil dari saku jas dan dompet Vero. Tidak ada yang salah, tapi kenapa rumah itu sepi sekali?


White kembali melongok dari balik kemudi mobil, memastikan jika dia tidak mendatangi tempat yang salah. Sedangkan laki-laki ini, masih lelap dalam tidurnya tanpa peduli siapa yang membopong dan memapahnya sampai didalam mobil.


White mencoba peruntungan, siapa tau Vero tiba-tiba membuka mata, kesadarannya kembali, lalu dia bisa berjalan masuk kedalam rumah tanpa bantuan darinya. Akan tetapi, semuanya hanya harapan kosong. Vero bahkan tidur seperti batu, tidak terganggu dan tergerak sama sekali.


“Sial!!”


White melepas seatbelt, lalu turun dari mobil mewah milik Vero. Berjalan memutar menuju pintu mobil lain Diaman Vero berada. Dengan gerakan hati-hati, menahan beban tubuh Vero nyatanya seperti menahan sebuah gunung yang tidak bisa ia jabarkan seberapa berat laki-laki itu.


“Oh, ya ampun. Mengapa dia berat sekali?” keluhnya ketika memapah Vero yang berhasil ia tarik paksa dari dalam mobil, membopong dengan tubuh ringkihnya, lantas memasuki pekarangan bagian depan rumah berdesign Eropa itu dengan kaki terhuyung.


“SH*IT!!”


Ingin sekali White melepas papahannya, membiarkan laki-laki ini terjun bebas dilantai hingga amnesia dan melupakan dirinya se-ra-tus per-sen. Ya, White tidak akan rugi, meskipun sayang jika laki-laki setampan Vero akan melupakannya.


Oh, ayolah otak. Jangan berfikiran aneh-aneh. Laki-laki ini berbahaya.


White mengangguk meyakinkan diri. Lantas ia kembali menarik paksa tubuh kekar Vero hingga sampai diambang pintu utama.


“Arrrgggh...” teriak White geram ketika mendapati pintu tersebut menggunakan nomor pin. Tentu saja ia tidak akan tau, dan tidak akan bisa membuka jika laki-laki ini tak kunjung bangun. Sampai pagi pun dia akan berada disini, merasakan dinginnya udara di penghujung musim dingin, dan...


“Shi—”


Hampir mengumpat lagi, namun White dikejutkan oleh Vero yang tiba-tiba terlihat segar, bangun dari tidurnya, menekan pin pada interkom dengan kesadaran penuh, dan tentu saja, baik-baik saja. White ternganga tidak percaya saat sadar laki-laki itu berhasil mengelabuinya.


“Ternyata tenagamu boleh juga. Tapi, aku kasih saran, jangan terlalu sering mengumpat. Tidak baik untuk wanita cantik seperti dirimu.”


“Sialan!!” umpat White entah untuk yang keberapa kali. Tapi kali ini dia benar-benar kesal karena Vero berhasil mengelabui dan menjebaknya dengan mudah, tanpa syarat.


Vero mendorong pintu, memberi gestur selamat datang kepada White yang terlihat mengeratkan rahang dan mengepalkan tangan. Vero bahkan tertawa melihat wajah tegang White.


“Welcome to my world, sweet heart.” []