
...Happy Reading All......
...Jangan lupa untuk memberi apresiasi kepada WHITE ya,...
...Thank you...
...•...
WHITE by: VizcaVida
Mengetahui apa yang tengah terjadi antara papanya dan Eaden, Vero mengambil cuti dan berniat mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu. Atau setidaknya, jika memang terjadi sesuatu, dia bisa menjadi pelindung bagi papanya.
Vero tau, keputusannya ini begitu memicu banyak hal yang akan berdampak pada dirinya sendiri dan tentu saja bagi White. Wanita yang susah payah ia buat percaya padanya itu, mungkin akan berbalik membenci dirinya. Tapi ya, kembali lagi, dia tidak ingin terjadi hal buruk kepada papa nya, satu-satunya keluarga yang ia miliki di dunia ini. Ia ingin laki-laki itu tetap ada di atas pijakan dan menghirup udara yang sama dengannya, meskipun Vero sendiri tidak suka dengan sikap papanya itu.
“Setidaknya, aku akan berguna, sebagai anak. Papa tidak akan bangga, tapi aku akan bahagia bisa menjaganya.” gumamnya tulus. Ia tau, jika budi harus dibalas, meskipun seharusnya dia tidak perlu melakukan itu. Rottey adalah ayahnya, dan sudah seharusnya menjadi kewajiban sang ayah membesarkan seorang anak. Namun Vero berada pada kasus yang berbeda. Ayahnya menikahi mamanya atas keinginan orang tua mereka dulu. Selama sang mama mengandung, Rottey tidak peduli.
Bahkan sampai Vero lahir kedunia pun, papanya itu tidak pernah mau tau bagaimana anak laki-laki nya itu tumbuh dan menjadi dewasa. Dia hanya memberi uang sebagai jaminan hidup yang dianggap sebagai bentuk sayang dan kebahagiaan yang diberikan. Padahal, setelah Vero tau makna sebuah rasa sayang, Vero sadar, semua bukan tentang uang. Yang dilakukan ayahnya itu hanyalah sebuah upaya untuk membalas budi karena sang mama sudah melahirkan dirinya kedunia. Dan sekarang, menjadi sebuah keharusan untuknya, untuk membalas budi sang ayah. Vero akan membayar semua kebaikan papanya selama ini.
...***...
Lusa, adalah hari ini. Hari dimana sebuah nasib dipertaruhkan. Antara berhenti, atau terus berjalan, antara gelap atau terang, antara bernafas atau tidak, dan antara hidup atau mati. White datang dan duduk menunggu kedatangan Eaden di salah satu ruangan VVIP yang ada di kasino milik Joanna. Dengan gerakan gelisah yang membuat gesturnya tidak nyaman, White mengenakan dress hitam tanpa lengan dan berimple di bagian bawah. Perutnya masih rata, sesuai usia kehamilannya yang menginjak tiga bulan.
Hingga ia dapat menghirup aroma parfum kesukaan Eaden yang selalu berhasil membuat mualnya reda, White menoleh ketika sosok laki-laki itu berjalan dan tersenyum ke arahnya.
“Cantik.” puji Eaden sambil meraih puncak kepala White dan mengusapnya sekali.
White meremat sepuluh jarinya karena khawatir jika dia tidak akan bisa membawa Eaden menuju sebuah kemenangan. Ia tidak yakin jika permainan ini akan berjalan fair, mengingat Rottey adalah orang licik. Selain itu, Rottey akan bermain bersama Tessa, yang notabenenya adalah maskot kasino yang selalu bisa menyenangkan kliennya. Berbeda dengan dirinya yang hanya bisa berharap mujur.
“Nggak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja.”
Eaden datang seorang diri tanpa ditemani orang-orang kepercayaannya. Ia hanya tidak ingin membuat Rottey curiga dan berakhir berantakan. Eaden berharap hari ini dia dan white dikelilingi oleh keberuntungan agar wanita itu mendapatkan kebahagiaan yang sudah direnggut dan dihancurkan paksa oleh Rottey.
“Kita akan menang, dan si tua itu akan hancur didepan mata kita. Anakmu akan mendapatkan haknya, dan kalian akan hidup bahagia.”
Mendengar itu, airmata White tiba-tiba meleleh. Ia tidak menduga jika Eaden akan memperjuangkan dirinya sampai sejauh ini. Teringat kembali apa yang ia baca dari surat perjanjian yang sudah dipersiapkan Eaden untuk Rottey jika memang dirinya akan berakhir kalah.
Isi surat perjanjian itu, semuanya menguntungkan bagi White. Lalu, bagaimana dengan Eaden? Mengapa laki-laki itu tidak memikirkan dirinya?
“Ed, mungkin aku adalah bagian dari orang-orang yang sama seperti mereka. Tapi, terima kasih sudah memperjuangkan anak yang ada di dalam kandunganku ini. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kita tidak kalah. Dan Rottey akan membayar semuanya.” ucap White dengan nada rendah bersamaan ekspresi yang berubah dingin.
Eaden kembali mengulum senyuman, ia menatap lembut lalu menundukkan kepala demi mengalihkan air mata yang entah mengapa tiba-tiba ingin mengucur begitu saja dari kelopak matanya. “Ya. Menang atau kalah, aku tidak apa-apa, E. Setidaknya, anak dalam kandunganmu itu akan mendapatkan haknya.”
Beberapa menit kemudian, ruangan tersebut terdengar sedikit berisik oleh kedatangan Rottey dan dua pengawal, serta wanita yang ia sewa malam ini untuk menemaninya bermain bersama Eaden.
Akan tetapi, tawa bebas dan lengan yang merangkul pundak seorang wanita itu tiba-tiba saja teralihkan oleh kehadiran seseorang yang sama sekali tidak pernah ia duga. Setaunya, dari informasi yang ia dengar dari Vero, White sudah tidak lagi bekerja di Kasino ini. Tapi, mengapa malam ini wanita yang mampu membangkitkan adrenalin dan birahinya itu ada disini? Bersama Eaden pula? Apa Eaden membayar mahal untuk bisa membuat white bersedia kembali kesini?
Rentetan pertanyaan itu terus bermunculan di dalam kepala Rottey, hingga semuanya menguar kala suara Eaden menyapa perungu.
“Welcome Mr. Rottey. Silahkan duduk, kita bicara-bicara ringan dulu, sebagai pemanasan.” sambut Eaden, kemudian menunjuk kursi yang berseberangan dengannya dengan telapak tangan yang ia biarkan terbuka. “Aku juga sudah memesan minuman untuk kita, sebentar lagi pasti datang.”
“Kenapa wanita itu ada disini.” kata Rottey. Sebagai seorang pria, dia tidak suka jika ‘miliknya’ bersama orang lain.
Eaden mencoba bersikap biasa. Ia tau mengapa Rottey berkata demikian. “Ah, maksud anda, E?” tanya Eaden kepada Rottey yang kali ini membawa bantalan duduknya ke arah kursi mewah tanpa memutus pandangan dari White dengan sorot tajam mengintimidasi. “Bukankah saya sudah pernah bilang? E itu teman saya. Jadi, saya meminta dia menemani saya untuk bermain.”
Ada sedikit rasa senang melihat raut wajah Rottey yang tidak bersahabat. Terlebih, laki-laki itu terlihat sedang menahan emosi yang meletup-letup.
“Apa hak anda bicara seperti itu, tuan Rottey” kali ini, White yang berbicara dan berhasil membuat laki-laki berusia lebih dari setengah abad itu mencaci dan mengumpat dalam hati. Jika tau ada White, dia akan menolak bermain bersama Eaden.
“Sudahlah tuan Rottey,” Eaden menyela, juga memberi isyarat jika dia tidak ingin menunda permainan lebih lama. “Seharusnya tidak ada masalah dengan kehadirannya disini.” tegas Eaden yang juga bisa Rottey lihat dengan jelas, ada tawa sarkas di bibir White untuknya.
“Dimana Joanna?” tanya Rottey tiba-tiba. Manik mata berkerut itu masih belum mau terlepas dari sosok White yang ada disisi Eaden.
Ada rasa takut dalam benak White ketika Rottey menatapnya seperti itu. Dia bahkan ingin lari saat ini. Tubuhnya bergetar takut, kedua telapak tangannya mengepal kuat karena perasaan lain yang terus bermunculan demi menyiksa batin White.
Eaden menghentikan kegiatannya mengambil beberapa chip yang tersusun di atas meja poker. Ia sedikit mendongak demi mendapati sosok Rottey yang ada dilain sisinya. “Ada urusan apa anda mencari madam Jo, tuan Rottey?”
Rottey menyunggingkan senyuman sarkas, menatap dalam penuh ancaman kearah Eaden. “Aku ingin bermain dengan wanita disampingmu itu, Ed.”
Saat itu juga, otak Eaden seperti dibakar. Emosi yang sedari tadi ia tahan, ingin sekali ia tumpahkan saat ini juga. Akan tetapi White menahannya. Wanita itu memberi isyarat agar Eaden tidak terpengaruh atau terpancing akan semua tindakan Rottey. Pada akhirnya, Eaden kembali duduk dan mengatur nafas yang sempat memburu.
“A~h. Bukankah Anda sudah membayar mahal untuk wanita di samping anda itu, tuan?”
Rottey mengalihkan pandangan kepada sosok Teressa yang memang sudah ia bayar sesuai dan selama permainan mereka akan berlangsung. “Aku bisa membatalkan tanpa menarik uangku darinya.”
Eaden tersenyum. Apa ini saat yang tepat mengatakannya? Bahkan White sendiri tidak mengetahui rencana ini. Eaden merencanakannya sendiri. “Waah, ternyata seorang panutan yang banyak dieluhkan masyarakat ini, punya sisi brengsek juga, ya?” cibir Eaden, mencoba memancing kemarahan Rottey.
“Aku hanya manusia, Ed. Bukan malaikat.”
“Ya aku tau itu, tuan Rottey. Tapi, kenapa anda bisa menyembunyikan itu dengan sangat apik, tuan Rottey yang bijaksana?”
Rottey mengerutkan alisnya hingga hampir menyatu. Lantas ia menyunggingkan senyuman lain yang lebih mengerikan. “Kau tau jawabannya, nak.”
Eaden melipat kedua lengannya di dada, kepalanya mendongak demi mendapati presensi White yang saat ini terlihat kaku. Wanita itu terlihat begitu khawatir dan takut. Eaden refleks meraih telapak tangan White dan mengusapnya lembut, seperti sedang mengatakan, tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja.
Ya, setidaknya itulah harapan White saat ini. Dia hanya berusaha untuk membuat hatinya tetap tenang, meskipun semua kemungkinan terburuk sedang berkelebat didalam kepalanya. Termasuk salah satu isi surat perjanjian yang ditulis oleh Eaden sendiri.
Pihak pertama rela menyerahkan semua yang ia miliki untuk mendapatkan hak pihak ke tiga dan calon anaknya. Bahkan nyawa sekalipun.
...[]...
Jangan lupa mampir juga,
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....