
...Update nih kakak-kakak Reader,...
...Jangan lupa meninggalkan jejak dukungan untuk White ya...
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
^^^31 July, 2022^^^
Perjanjian ini dibuat oleh Eaden Gyutta Klarkson (selanjutnya disebut pihak pertama), untuk tuan Rottey Bruddy (selanjutnya disebut pihak kedua), untuk White Abbey (selanjutnya disebut pihak ke tiga) sebagai kesepakatan mutlak yang sah oleh hukum karena diterima dan ditandatangani dalam keadaan sadar oleh ketiga belah pihak bersangkutan.
Adapun isi surat perjanjian adalah:
1. Jika memang terbukti kalah, pihak kedua harus mengumumkan dan mengakui dimuka publik, jika dia telah melakukan pelecehan yang mengakibatkan seorang wanita hamil diluar nikah karena perbuatannya.
2. Pihak kedua harus menyerahkan sebagian harta kepada si calon bayi, karena ada hak si calon bayi disana.
3. Pihak ke dua tidak akan pernah ikut campur dalam konteks mengganggu kehidupan pihak ke tiga, setelah menandatangani surat perjanjian ini.
Dan poin ke empat lah yang membuat White sebenarnya tidak setuju dan dengan amat sangat berat hati mau menandatangani surat tersebut. Bunyi perjanjian tersebut adalah,
4. Pihak pertama amat sangat rela melakukan apapun kepada pihak kedua jika memang terbukti kalah tanpa kecurangan, yang mengacu pada poin pertama. Bahkan nyawa sekalipun.
Surat perjanjian ini ditulis dan disetujui dengan sadar oleh ke tiga belah pihak.
Tertanda,
Eaden Gyutta Klarkson
(Pihak pertama)
Rottey Bruddy
(Pihak kedua)
White Abbey
(Pihak ketiga)
Semua itu Eaden tulis dari hati yang paling dalam. Meskipun anak yang ada didalam perut White adalah benih dari orang yang sangat ia benci, Eaden tau, jika bayi itu tidak salah apapun. Bayi itu tidak berdosa.
“Sebelum permainan dimulai, bisakah anda berhenti menatap E dengan tatapan binal anda, tuan Rottey? Saya tidak nyaman.” skak Eaden tepat sasaran. Rottey yang merasa tersentak akhirnya menurunkan pandangan kepada Eaden yang sekarang mengambil sebuah lembaran kertas dan juga sebuah pena dari balik jaket yang ia kenakan, lalu mendorong ke hadapan Rottey.
Laki-laki tua itu memincingkan mata, alisnya hampir menyatu, dan tatapan lurusnya begitu mengintimidasi. “Apa ini?” tanyanya.
“Surat perjanjian. Silahkan dibaca dan dipahami.” terang Eaden sambil menyesap mocktail yang baru saja disuguhkan oleh seorang bartender pria bermata sipit dan berwajah tampan bak aktor negeri gingseng.
Beberapa detik lewat, Rottey mengangkat pandangan kearah White dengan sorot terkejut beserta bola mata yang terlihat membola. Kemudian, dengan suara sedikit bergetar, Rottey bertanya. “Poin satu. Apa benar begitu? Kalian tidak sedang mempermainkan aku, 'kan?”
Eaden terkekeh geli melihat ekspresi wajah Rottey yang memang muakkan. “Kenapa? Terkejut?” tantang Eaden. Lalu meletakkan ponsel disisi kanannya, tanpa Rottey dan pengawalnya tau jika Eaden menyalakan aplikasi rekam suara. “Bukankah anda memang bajingan, hingga orang lain tanpa segan meminta itu diatas sebuah perjanjian?” lanjut Eaden berhasil membuat raut wajah Rottey berubah mengeras. “Poin satu, itu harus dan wajib aku tulis.”
“Fu*ck you, Ed!” umpat Rottey membuat beberapa pasang mata yang belum pernah melihat sisi Rottey yang seperti ini, mendadak menggigil takut. Namun tidak dengan Eaden. Dia sama sekali tidak gentar dengan nyali menciut. Adrenalinnya justru terpacu, dan dia ingin membuat Rottey semakin geram.
“Ya, ya. Silahkan. Jangan lupa bubuhkan tanda tangan anda setelah ini.” ucap Eaden, bersama meraih satu keping koin lalu mendongak kearah White yang membuat Rottey semakin terbakar api cemburu. Ditambah lagi, disana, didalam perut White ada janin miliknya yang sedang tumbuh. Jadi, Eaden tidak berhak atas White nya.
“Okey. Aku turuti keinginanmu.” ucap Rottey tegas dengan sematan sebuah senyum miring yang mengerikan. “Kamu, jangan menyesal kalau kalah, Ed.” tukasnya berapi-api, meraih pena yang sudah disodorkan Eaden bersamaan dengan surat perjanjian itu, lantas membubuhkan tanda tangannya diatas materai.
Sah. Surat perjanjian itu bisa dijadikan senjata kuat untuk jalur hukum jika Rottey tiba-tiba mengubah haluan untuk ingkar.
“Tentu, aku tidak akan menyesal, karena meskipun aku kalah dan menjadi budak seorang bajingan seperti anda,” Eaden menjeda, ia sekali lagi mengarahkan tatapannya ke arah White yang terlihat mulai menahan air mata. “...karena White dan anaknya akan tetap menerima hak mereka, tanpa bisa anda sentuh, tuan Bruddy.”
Rottey benar-benar kehabisan kesabaran. Ia berdiri, menggebrak meja penuh angkara, lalu menunjuk wajah Eaden sambil berkata, “Kamu, akan berakhir di tanganku. Catat itu!”
—
Permainan sudah berlangsung selama satu jam lamanya. Baik pihak Eaden maupun Rottey, masih bertahan dengan pencapaian masing-masing.
Dari pihak Eaden, White berusaha terus memberikan arahan kepada Eaden agar permainan tersebut dimenangkan oleh mereka. Sedangkan disisi lainnya, Teressa juga terlihat tegang karena tidak ingin membuat Rottey kalah dalam permainan ini, sebab nama Rottey menjadi taruhannya. Rottey sendiri terlihat tidak tenang. Ia tidak suka nama baiknya dipertaruhkan seperti ini. Apalagi kenyataan tentang kehamilan White yang baru ia ketahui, jika sampai seluruh penduduk kota tau, ia akan berubah kacau. Reputasi baik yang selama ini ia jaga akan jatuh dan hancur tak bersisa.
Hingga akhirnya, aura ruangan berubah mencekam. Teressa yang semula duduk di samping Rottey berusaha turun perlahan untuk menjauh. Sedangkan Rottey sendiri menyorot Eaden yang tengah berbahagia dengan senyuman merekah yang ia berikan untuk White dan tentu saja...calon anaknya.
Tiba-tiba saja Rottey tertawa membumbung, menarik atensi semua makhluk hidup yang ada didalam sana, termasuk Teressa yang tidak berhasil membawa kemenangan untuk Rottey. Teresa bahkan mengumpat dalam hati, mengapa ia harus ikut terlibat dalam masalah pelik yang tidak pernah ia duga seperti ini. Ia hanya takut jika dia akan menjadi salah satu orang yang akan kehilangan nyawanya malam ini karena tidak bisa memuaskan Rottey dengan sebuah kemenangan. Apalagi hal ini menyangkut reputasi dan harga diri seorang Rottey.
“Apa aku harus memanggil wartawan untuk semua ini?”
Eaden menghapus sedikit demi sedikit tawa di bibirnya. Ia mengubahnya dengan sebuah senyuman disudut bibir. “Why not? Silahkan.”
“Kalau begitu, apa aku harus membaca isi surat perjanjian ini keras-keras didepan wajah anda, tuan Rottey?” cebik Eaden semakin membuat suasana hati Rottey kacau balau.
Jika sebelum permainan dimulai Rottey percaya diri bisa memenangkan permainan karena menyewa Teressa yang notabenenya adalah maskot kasino, kali ini Rottey seperti dijatuhkan dari mulut tebing yang tidak bisa menyelamatkan tubuhnya dari amukan batu di dasarnya. Rottey akan benar-benar hancur jika melakukan itu. Jadi, satu-satunya cara adalah...
“E, kamu ingin anakmu itu mendapat pengakuan, 'kan?” tanya Rottey, sinis.
Anakmu? Ya, seharusnya memang disebut hanya anakku!
Tidak menjawab, White hanya diam dan menatap lurus penuh kebencian dan rasa jijik ketika bayangan laki-laki itu menyentuhnya kembali berkelebat didalam memori terkelam dalam ingatannya.
“Jika itu yang kamu inginkan, aku bisa membuat Vero yang akan menjadi ayah dari janin didalam kandunganmu itu.”
SH*IIIT!!! MANUSIA BIA*DAB! PERGI DAN JADILAH KERAK NERAKA SAJA AGAR SEMUA DOSAMU SIRNA!
White mengepalkan tangan kuat-kuat.
“Vero? Hey pak tua. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kebia*dabanmu! Jadi, jangan bawa-bawa Vero ke—”
“Kenapa? Dia anakku, dan dia berhak membalas semua kebaikan yang sudah aku berikan selama ini.”
Speechless, mungkin itu yang kini tergambar pada raut wajah Eaden dan juga White. Apa maksudnya membalas budi? Jika Eaden membenci Vero karena laki-laki itu pernah mengadukan dirinya ke polisi hingga menjadikan dirinya seorang manusia yang hidupnya kacau, Eaden salah besar. Vero tidak pantas dibenci.
“Apa maksud anda?” tanya Eaden mengerutkan kening.
Rottey menepuk tangannya dua kali sebagai euforia atas kemenangannya yang berhasil membuat Eaden terkejut bak keledai bodoh yang siap di berondong tembakan. Rottey tertawa sekali lagi sebagai bentuk kebahagiaan hatinya.
“Oh ayolah, Ed. Kamu pasti tidak diam saja kan? Apa kamu tidak mencari tau sebab Vero tiba-tiba melaporkan dirimu ke polisi?”
Pasti desakan Rottey. Eaden paham sekarang. Dan Eaden sadar, dia sudah salah besar membenci Vero bertahun-tahun tanpa mencari tau akar masalah mereka.
“Anak itu berhutang nyawa ibunya padaku,”
Hutang nyawa? Ibunya? Memangnya, apa yang terjadi selama ini?
Eaden mengerutkan keningnya cukup dalam. Dia tidak menduga Rottey lebih kejam dari pada seorang pembunuh seperti dirinya.
“Go to Hell, Rottey Bruddy!!” geram Eaden sembari meraih revolver dari balik jaket yang ia kenakan, lantas menodongkan senjata itu didepan wajah Rottey yang sontak membuat dua pengawal turut mengangkat senjata untuk melindungi sang tuan, dan sekretaris pribadi Rottey yang turut mengambil ancang-ancang.
“Hey, hey. Apa kamu lupa apa yang terjadi di taman waktu itu? Ayolah, Ed. Jangan membuat dirimu sendiri sakit karena tindakan bodohmu dengan menodongkan senjata padaku.” tutur Rottey, mengingatkan Eaden akan kejadian memalukan itu, dan tentu saja berhasil membuat beberapa pertanyaan muncul dalam kepala White. Jadi Eaden pernah bertemu Rottey? Lalu, apa luka saat itu karena perbuatan Rottey?
Eaden tak menggubris kalimat profokasi yang terus di koarkan oleh laki-laki tua bernama Rottey. Ia sudah muak sekali dengan laki-laki itu.
“Jika kamu nekad,” lanjut Pria tua itu tak kenal lelah berbicara. “...nyawamu yang akan melayang kali ini.”
Terlanjur basah, Eaden memutuskan untuk sekalian saja menceburkan diri. Toh, surat dan sebuah rekaman yang ia buat diam-diam sudah menjadi bukti dan juga senjata kuat untuk White mengajukan tuntutan di pengadilan—jika seandainya dia tidak selamat malam ini. “Anda pikir, saya takut?!” tantang Eaden menarik pelatuk revolvernya dengan gerakan terlampau pelan hingga semua kemungkinan dapat mendengar suara gemeretak besi berputar. Dua pengawal turut mengambil langkah, siap melepas peluru dari tempatnya jika Eaden berani berbuat macam-macam pada Rottey.
Namun tidak disangka sama sekali oleh Eaden, jika White tiba-tiba berdiri didepannya, menjadi tameng untuknya.
“Anda ingin mendengar satu hal dari saya, tuan Rottey?”
Rottey terdiam, wajahnya mendadak datar. Matanya menatap lekat pada sosok White yang kini mulai mematik sebuah perasaan kecewa didalam dadanya. Kemudian matanya turun ke perut White, dimana kehidupan lain dari dirinya sedang ada disana. Selama ini, belum ada yang berhasil membuat hatinya melunak seperti saat ini. Seperti dia melihat White dan calon anaknya.
Ditengah rasa ingin menggapai dua ‘belahan jiwanya’ itu, Rottey tersentak akan ucapan White.
“Eaden akan menjadi bagian hidup saya. Jadi, jika anda ingin merenggutnya dari saya, jangan pernah berharap itu terjadi sebelum anda berhasil menyingkirkan saya dari hadapannya!”
Rottey mengeratkan rahang. Wajahnya murka penuh angkara. Urat di wajah dan lehernya menyembul kentara. Hatinya serasa disiram gasolin dan di patik api, membuatnya terbakar hebat hingga sulit berfikir dan melepaskan apapun yang bisa ia katakan karena pengaruh rasa sakit hatinya. “Pergilah bersama-sama ke neraka!” []
Jangan lupa mampir juga,
—Vienna (Fiksi Modern)
—Another Winter (Fiksi Modern)
—Adagio (Fiksi Modern)
—Dark Autumn (Romansa Fantasi)
—Ivory (Romansa Istana)
—Green (Romansa Istana)
—Wedding Maze (Fiksi modern)
Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.
...See You....