
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
Aku pernah mencintai seorang wanita. Sangat mencintainya hingga tidak pernah berfikir jika aku akan kehilangan dia. Aku mengalah, percaya, dan melakukan apapun untuk membuat dia tetap berada di sisiku.
Tapi, dia mengkhianatiku. Mengingkari kepercayaan yang sudah aku berikan kepadanya. Bahkan, dia tega membunuh calon anak yang merupakan darah dagingku. Saat itu, aku marah besar. Aku memutuskan hubungan dan tidak lagi peduli padanya meskipun dia memohon. Hingga akhirnya dia menyerah dan mengeraskan hatinya. Kemudian dia pergi meninggalkan aku yang patah hati. Aku berusaha mati-matian melupakannya dengan cara menghancurkan diriku sendiri. Aku sering menjejali tubuhku dengan minuman beralkohol yang sebelumnya belum pernah aku sentuh barang setetes. Aku datang ke Kasino untuk mencari kesenangan, bahkan aku juga sempat menyewa wanita bayaran untuk menemaniku di ranjang. Apalagi, selain sebagai pelampiasan kemarahan dan rasa kecewaku pada seseorang. Seseorang yang begitu aku sayangi dan kasihi.
Dan sekarang, seolah kembali dilempar ke masa lalu, aku tidak ingin kejadian itu kembali terulang. White, gadis yang menjalani takdir pahitnya itu, mengandung keturunan Bruddy. Namun bukan aku ayahnya, melainkan ayahku. Lucu bukan? Ah, tidak lucu sama sekali. Memuakkan.
Lalu, dia memintaku menjelaskan mengapa aku menahannya pergi dari rumah. Bukankah sudah jelas? Aku tidak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Wanita itu hamil, dan aku tidak ingin dia bernasib sama seperti calon anakku. Aku tidak ingin White berbuat seperti Kelly yang dengan tega membunuh anaknya sendiri.
Hatiku bak di porak porandakan oleh topan berkecepatan tinggi ketika melihat wanita itu berjalan mundur dengan telapak tangan menutup mulutnya. Aku ingin berlari dan memeluknya. Tapi, dia pasti sangat membenciku sekarang, karena ayahku.
“Sekarang, kembalilah ke kamar dan minum obatmu. Dokter Anne sudah memberi obat terbaik untuk calon anakmu.” pintaku lembut, tak ada lagi suara dengan intonasi tinggi.
Aku melihat dia menggeleng. Masih dengan mulut terbungkam tangannya sendiri. Aku juga hancur mengetahui kenyataan jika wanita yang akhir-akhir ini aku lindungi, sedang mengandung anak dari ayahku, yang berarti, dia adalah calon adikku. Aku tidak mau White meluruhkan janin tidak berdosa itu. Maka aku kembali bersikap lembut padanya. Menghalau semua rasa keras kepala dan keegoisan ku. Dan jujur, aku tidak ingin dia pergi meninggalkan aku, seperti Kelly meninggalkan aku, dulu.
“A-aku harus pergi dari sini.”
Aku melihat dia berjalan cepat menuju kamarnya. Didalam sana, dia sudah menarik koper dan membuka resleting koper yang sudah berada di atas ranjang setelah White melemparnya. Membuatku terkejut dan segera berlari.
Mengapa jadi seperti ini?
“Sudah aku katakan, jangan pernah pergi tanpa izin dariku!” geram ku, kesal bukan main saat melihat dia ingin pergi, lari dari kenyataan.
“No! Aku harus pergi. Lepaskan tanganku!”
Aku tidak peduli jika besok cengkraman ini akan meninggalkan bekas di pergelangan tangannya. Aku hanya tidak ingin dia pergi. Aku akan menerima dia. Apapun keadaannya.
“SHI**T!!” umpatnya tajam dengan bola mata menatap lurus dan mengunci tepat pada kedua bola mataku.
White mengumpat. Beberapa hari kebelakang, aku tidak pernah lagi mendengar dia mengumpat, tapi hari ini, semua seperti kembali ke batas minimum. Semuanya seperti sudah tidak lagi bisa dicegah.
“TETAP DISINI!” titahku tak ingin dibantah.
“TIDAK!” jawabnya, tak kalah keras kepalanya denganku. Selama ini, White sudah sedikit demi sedikit berubah. Tapi, setelah beberapa saat lalu aku tanpa sengaja menguapkan kenyataan pahit lain ke permukaan, dia seperti kembali menjadi White yang saat pertama kali aku mengenalnya.
“Masalah ini tidak akan berakhir hanya dengan kamu pergi dari sini, E. Aku mohon dengarkan aku!” pintaku tulus, benar-benar tulus dari dalam hati yang paling dalam.
Dia berhenti. Ucapanku berhasil menghentikannya. Kemudian dia menoleh dengan wajah yang sudah sangat berantakan.
“Berhenti bersikap sok pahlawan didepanku!”
Apa? Sok pahlawan? Harga diriku tersakiti karena ucapannya.
“Apa? Katakan sekali lagi!” pintaku, sembari melepas pergelangan tangannya dengan gerakan kasar hingga dia sedikit tertarik kedepan.
“Aku akan menggugurkannya!” lanjutnya sambil kembali mengeluarkan beberapa potong baju dari lemari.
“Apa?! Apa kau sudah gila?!” pekikku tak terkendali. Aku meraih kedua pundaknya, mencengkeramnya kuat ketika ingatan masa lalu kembali menyakitkan di seluruh inci ragaku.
“Aku tidak menginginkannya. Jadi untuk apa aku membiarkannya hidup didalam diriku?” jawabnya tegas disertai seringai tajam di sudut bibir sebelah kirinya.
“Jangan naif!”
“So, apa jalan keluarnya? Menikah dengan ayahmu? Aku tidak sudi!” tuturnya lagi. Dan aku tau bagaimana perasaannya saat ini. Aku juga tidak akan pernah setuju jika sampai White menikah dengan ayah.
“Please, dengarkan aku. Sekali saja.”
“Aku, aku akan mengakui janin itu sebagai anakku.”
“CRAZY! Fuc*king You, jerk!! What the Fu*ck!” umpatnya lebih parah, ia menjambak rambutnya sendiri. Dia bahkan mengatakan jika aku gila. Tapi aku tidak peduli. Lalu, lengannya yang lengah akan pengawasanku, bergerak mengarahkan bogem ke arah perut. Aku terbelalak, dan dengan gesit menahannya.
“E!! APA KAU GILA?”
“YA! AKU GILA! JADI BIARKAN AKU—”
Aku menghentikan semua perdebatan kami dengan sebuah ciuman. Aku menciumnya disela tangis kami berdua. Merasakan air asin yang menemani ciuman kami. Aku mencintainya, dan aku tidak ingin kehilangan dia. Aku ingin bersama White. Bersama E.
Janin itu tidak bersalah. Salahkan kami yang menjadi manusia pendosa.
Aku menciumnya lembut. Mengusap punggungnya perlahan agar dia kembali tenang, lalu aku melepas ciuman kami setelah merasakan deru nafas White kembali normal. Kami menyatukan kening, saling memejam seolah tidak ingin menyaksikan sebuah kenyataan pahit yang di hadirkan oleh takdir ketika kami membuka mata. Dia tergugu. Pilu.
“Maaf...” bisikku, parau.
White tidak memberikan jawaban. Dia hanya menangis tanpa suara. Tarikan nafasnya terdengar sangat berat, hingga membuatku tak kuasa dan meraih tubuh ringkihnya dalam pelukan yang aku harap berkenan. Aku harap dia merasakan ketulusanku.
“Maaf...” bisikku, lagi. “Maafkan aku.”
***
Aku menyuapkan sesendok bubur kearahnya. Pandangan White kosong kedepan. Dia sudah tidak menangis, tapi dia semakin membuatku takut. Aku takut, diantara diamnya, dia sedang memikirkan bagaimana cara agar dia terbebas dari semua takdir yang membelenggunya.
“Makan yang banyak. Agar kamu cepat sembuh.”
“Untuk apa?”
Kali ini, aku menghentikan pergerakan yang hendak aku buat. Aku melihat pada sorotnya yang kosong nyaris menyerupai sebuah gelas yang tandas tanpa air.
Aku menghela nafas samar sekali. Aku tidak ingin White mendengarnya sebagai dengusan. Lantas aku meraih kepalanya untuk aku usap lembut. White seperti segalanya bagiku.
“Agar dia sehat, dan tumbuh dengan baik didalam sana.”
“Aku tidak sudi merawat anak ini.”
Aku menyunggingkan senyuman lembut. Aku berharap dia akan merubah cara pandangnya pada janin tidak berdosa itu.
“Dia bukan sebuah kesalahan, E. Dia anugrah.”
White menoleh kasar, dia tidak setuju dengan pendapat ku, sepertinya.
“Tuhan baik padamu, untuk itulah dia mengirim malaikat kecil yang nanti akan menjaga dirimu. Membuatmu bahagia hingga kamu lupa akan rasa sakit yang selama ini mendera.”
“Aku membencinya!”
“No. Don't say anything when you feel bad. The baby is miracle, E. Ya, janin itu adalah keajaiban yang Tuhan kirim untukmu. Sebagai malaikat pelindung dan juga temanmu untuk menghapus semua kenyataan yang saat ini menghancurkan seluruh hidupmu. Dia adalah sebuah pertolongan untuk dirimu.”
White terpaku. Ia terlihat seperti sedang menimbang semua perkataan yang keluar dari mulutku.
“Dia bilang akan memberitahu keberadaan mama.” Katanya, tiba-tiba dan mengejutkan aku. “Dia bilang akan memberitahu dimana mama tinggal setelah aku memberi apa yang dia inginkan. Untuk itulah aku kembali membuat kesalahan dengan membiarkan dia menyentuhku sekali lagi. Meskipun aku tau, aku yang akan hancur sendirian.”
“Tidak. Kamu tidak sendirian. Ada aku.”
Aku berusaha terus meyakinkan jika dia tidak akan sendiri. Dia masih memiliki aku. Aku yang akan menerimanya dengan keadaan dan kondisi apapun. Aku yang akan tulus memberi perhatian untuknya. Aku yang akan merawat janin yang ada didalam kandungannya. Dan aku,
yang akan menyerahkan hidup dan matiku untuknya.
Untuk White. []