WHITE

WHITE
Taman Horizon.



...Sebelum mulai baca, yuk luangkan waktu untuk memberikan apresiasi kepada penulis dengan cara like, komentar, hadiah, dan juga Vote. Serta jangan lupa untuk menambahkan WHITE kedalam list favorit agar tidak ketinggalan jika cerita ini update chapter baru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Vero sampai di kediamannya ketika langit sudah berubah gelap gulita. Ada banyak kilat petir diluar, sesekali memperlihatkan gumpalan awan mendung berwarna abu-abu yang bersembunyi di balik kelamnya malam. Waktu sudah menunjuk angka sepuluh lebih, bahkan tubuh Vero semakin terasa berat. Semua lelahnya bertambah berkali-kali lipat saat kakinya menapak pada lantai rumah. Lalu, seperti yang selalu ia lakukan ketika sampai dirumah, dia akan mencari keberadaan White, memastikan wanita itu tidak pergi meninggalkan dirinya sendirian.


Nafasnya berhembus lega ketika melihat White bergelung di balik selimut tebal, dan suhu pendingin ruangan yang disetel begitu rendah. Mungkin gadis itu kedinginan, batin Vero.


Langkahnya mengayun begitu saja menuju presensi White. Ia stagnan, hingga sebuah senyuman terbit ketika melihat wajah damai White ketika tidur. Vero membawa tubuhnya yang letih untuk duduk pada tepian ranjang tanpa memutus pandang, ia meraih kening White, memeriksa kesehatan gadis itu, lantas mengalihkan anakan rambut yang berantakan menutupi separuh wajah White.


“Aku akan memperjuangkan kamu. Tapi, aku tidak bisa sekali lagi berjanji, aku takut tidak bisa menepatinya lagi. Maaf sudah membuatmu seperti ini, E.” gumamnya, pelan sekali nyaris menyerupai sebuah bisikan. Ia hanya tidak ingin mengganggu tidur nyaman White, dan tidak ingin membangunkan wanita itu dari mimpinya yang mungkin kini sangat indah. “Jika aku mengatakan, aku menginginkanmu, apa kamu juga menginginkan aku?”


Vero tersenyum hangat setelah mengatakan itu. Dia tidak yakin White akan diam saja saat mendengarnya menyatakan ungkapan yang ia pendam itu. Maka, opsi terbaik adalah mengatakan semua beban dalam benaknya ketika wanita ini terlelap. Vero mengusap Surai White pelan. “Jika kamu tidak mau, aku akan diam dan melihat bagaimana cara mu menyentuh kebahagiaan.”


Vero berdiri dengan gerakan lembut. Sekali lagi dia menatap wajah White. “Aku hanya perlu menjadi penjaga hatimu 'kan?”


Tepat ketika bunyi pintu terkatup menyapa perungu, White membuka mata. Sebenarnya dia belum benar-benar tertidur, tapi mendengar Vero datang, entah ide dari mana White memejamkan mata, membuat kelopak matanya terkatup tenang agar Vero tidak menaruh curiga. Dan tentu saja, dia mendengar semuanya. Vero yang berkata akan memperjuangkannya, Vero yang mengatakan jika dia menginginkannya, Vero yang berharap dirinya bahagia, dan Vero yang rela hanya menjadi seorang penjaga hati karena tidak mau menyakiti dirinya semakin jauh.


Seharusnya, White bahagia. Tapi entah mengapa justru ia menangis. Kalimat-kalimat Vero bagaikan sebuah perisai, namun juga pedang diwaktu yang sama.


White menarik selimutnya lebih tinggi. Ia mencengkeram kuat, menekuk tubuhnya dan menangis tanpa suara. Seharusnya, dia bisa menerima Vero, tanpa melihat nama Bruddy yang tersandung dibelakang nama pria itu, yang membuat hati White selalu ingin menolak keberadaan laki-laki yang tulus itu.


***


Dan disinilah Eaden sore ini. Di sebuah taman yang seiring berjalannya waktu telah ditinggalkan. Mainan yang mulai rusak dan berkarat, rumput-rumput yang mulai tumbuh liar tanpa ada satu orangpun yang mau mencabut dan merawat rumput lama yang dulu terlihat sangat indah. Taman Horizon, taman yang sering dipergunakan oleh segerombolan orang untuk memuaskan nafsu dengan kekasih, atau pacar gelap. Ya, seburuk itu fungsi taman yang dulu begitu indah dan juga memiliki kenangan terlampau indah, hingga Eaden tidak bisa melupakan kenangan masa kecil, lalu masa mudanya yang sering ia habiskan bersama Vero disini untuk menyelesaikan tugas sekolah bersama-sama, dan ditemani cup minuman yang mereka beli sebagai peneman suntuk.


“Selamat sore, Ed.” sapa Rottey yang baru saja tiba mengejutkan serta menarik atensi Eaden dari lamunan. Dia datang dengan setelan jas rapi berwarna hitam, dengan dua pengawal bertubuh gempal di sisi kiri dan kanan, dan satu orang yang terlihat masih muda yang bisa ia tebak bernama Timothy. Pria muda yang malang. Batin Eaden merutuki kebodohan pemuda itu dengan menghabiskan waktu menjadi asisten Rottey.


Eaden tersenyum miring, dia berdiri dari dudukan di salah satu kursi taman yang sudah rusak dan hampir roboh.


“Selamat sore, tuan Rottey.”


Enggan. Eaden tak mau lagi memanggil laki-laki itu dengan sebutan paman seperti panggilan itu terlalu berharga untuk manusia hina seperti Rottey.


“Jadi, kamu masih tinggal di sekitar sini?”


Eaden menggeleng. Dia hanya menyempatkan diri, benar-benar menyempatkan diri untuk datang ketempat ini demi bertemu Rottey. “Tidak. Hanya datang karena ada janji dengan anda.”


Rottey tertawa, dan tawa itu membuat Eaden ingin melayangkan bogem ke wajah tanpa rasa bersalah itu.


“By The Way, ada apa kamu mengajakku bertemu disini, Ed?”


Eaden menegakkan punggung. Sekilas dia menatap keberadaan dua orang bertubuh tak kalah tegap dari tubuhnya, dan terbesit satu pemikiran, ‘Ah, aku bisa mengatasi mereka berdua’ dalam benaknya. Eaden menyarangkan dua telapak tangannya pada dua saku celana boogie berwarna gelap yang dia kenakan, lantas mengangkat dagu sedikit congkak. “Sesuatu. Dan sangat penting.”


“Apa itu?!” cebik Rottey seolah-olah tidak tau apapun, meskipun ya, Eaden dapat melihat kebohongan itu hanya dari ekspresi wajah tua laki-laki yang menurutnya biadab itu.


“Tentang E. Tentang Vero.”


Ini dia,


“Ada apa dengan mereka berdua?”


Eaden menarik sudut bibirnya tipis, sebuah seringai muncul begitu saja. “Jangan berlagak bodoh, tuan Rottey. Anda tau maksud dan tujuan saya mengajak anda datang dan bertemu disini.”


Rottey tertawa sumbang. “Ingin membunuhku?”


Eaden menarik sudut bibirnya kebawah membentuk lengkungan, lalu mengedikkan bahu tanpa berpikir panjang. “Bisa jadi, jika anda tidak mau menuruti kemauan saya.”


Dua orang di sisi kanan dan kiri Rottey sontak menarik senjata api yang terselip di balik jas yang mereka kenakan.


“Oh, come on dude. I'm just kidding you.” canda Eaden sambil mengangkat kedua tangannya lebih tinggi dari kepala sambil mempertontonkan cengiran yang dibuat-buat.


Eaden mengumpat keras dalam hati. Sabar, dia hanya perlu menunggu umpan di tarik ke permukaan. “Kira-kira, apa ya?” tanya Eaden, berkelakar mengimbangi permainan Rottey yang berlagak bodoh.


“Coba aku tebak. Tentang E?”


Umpan ditarik, dan Eaden menghapus semua ekspresi yang ia tunjukkan dengan terpaksa sejak pertama datang. Ia muak harus bertele-tele seperti ini, tapi itu tidak membuatnya menyesal karena Rottey mulai menarik mata kailnya hingga ke permukaan.


Vero kembali mengarahkan satu telapak tangannya di belakang punggung, dan dengan cepat menodongkan sebuah revolver didepan wajah Rottey yang membuat dua pengawal pribadi yang tadinya menodongkan senjata kepada Eaden, menjadi gelagapan. Pasalnya, Eaden terlihat bersih, tidak membawa apapun. Tapi Eaden tidak sebodoh itu, dia sang predator, dan dia ingin memangsa.


“Anda, masih sama seperti dulu, tuan Rottey.”


Rottey mengangkat kedua tangannya ke udara, sama seperti yang tadi dilakukan Eaden. Matanya bergerak gusar, namun tidak mau membuat Eaden menangkap isyarat yang tengah ia buat kepada seseorang. Seseorang yang mungkin lepas dari pengawasan Eaden saat ini, Timothy.


“Semua orang mengagung-agungkan nama anda. Tapi sejujurnya, saya muak dan ingin muntah saat melihat anda muncul di layar televisi saya. Apa anda tau, tuan Rottey. Saya pernah menembak televisi saya hanya karena melihat anda didalamnya. Tepat dikepala anda.”


Sejujurnya, ada rasa takut dalam diri Rottey. Bagaimana jika Eaden tiba-tiba menarik dan melepas pelatuk hingga peluru benar-benar menembus kepalanya? Ini tidak bisa di lakukan dengan gegabah, atau dia akan kehilangan nyawa.


Buat kesepakatan. Ide itu tiba-tiba muncul dalam kepala Rottey yang memang tidak pernah lengah untuk menghadapi berbagai jenis manusia. Bahkan untuk orang sekelas Eaden pun, dia memiliki caranya sendiri untuk membuat semuanya berjalan sesuai keinginannya.


“Oh Wow. Apa aku harus bertepuk tangan untuk itu, Ed?”


“Silahkan.” tegas Eaden sambil mengambil satu langkah mendekat, dan dua orang di samping Rottey serempak menarik pelatuk. Namun itu tidak membuat Eaden gentar. White harus mendapatkan keadilan, walaupun harus berakhir dengan aroma bubuk mesiu dan beradu dengan bau anyir.


Rottey menepuk telapak tangannya satu sama lain. Sebuah tanda yang ia kirim untuk orang yang sudah berdiri dibalik punggung tanpa Eaden sadari.


Nahas, Eaden harus rela pelurunya menembak udara. Kemudian tangannya di arahkan kebelakang oleh Timothy hingga revolver yang ia genggam jatuh tak berfungsi.


“Brengs*ek! Bajing*an!! Bedeba*h!!!” umpat Eaden marah. Dia lupa jika ada tiga orang yang datang bersama Rottey. Dia salah langkah, dan dia siap kehilangan nyawa.


Timothy mengunci pergerakannya, menjatuhkan tubuhnya diatas rumput tinggi yang sudah agak mengering, lalu merasakan sebuah tekanan kuat pada kepalanya. Timothy menawan dirinya, dan dari sudut matanya yang terkapar di atas tanah berumput itu, Eaden dapat melihat Rottey sedang berjalan mendekat. Lantas menginjakkan sepatu diatas satu sisi wajahnya, berjongkok dan mengatakan sesuatu.


“Jangan bermain-main dengan paman, nak. Kamu masih kecil dan tidak boleh bertindak tidak sopan pada orang yang lebih tua.”


Eaden meludah. Persetan dengan ucapan Rottey.


“Oh wow. Aku merasa di rendahkan sekarang.” ucap Rottey dengan sedikit kelakar pada intonasinya. “Paman perlu memberikan sedikit pelajaran untukmu, agar kamu tidak mengulangi kebodohan ini.”


Rottey menakan sepatunya sekeras mungkin, membuat Eaden mengeratkan rahang untuk menahan rasa sakit yang timbul. Hingga pada menit selanjutnya, Eaden sudah terkapar bersimbah darah karena dihantam pukulan bertubi-tubi oleh dua pengawal Rottey. Wajahnya lebam, terluka. Bibir dan hidungnya mengeluarkan darah, perutnya kram akibat tendangan, dan dua kakinya terasa limbung karena sempat mendapat serangan tak kalah brutal.


Menatap kepergian Rottey dengan sorot penuh dendam yang semakin menjadi, Eaden bersumpah, di pertemuan selanjutnya, Rottey tidak akan mendapati dirinya di atas tanah. Dia akan mengirim pria arogan itu ke alam baka.[]



Kalah dulu Guys, 🤭


Semoga feel adegan Actionnya nyampe di kalian ya...


...🌼🌼🌼...


Mampir juga ke cerita Vi's yang lain ya...


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...