
...Happy reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
“Aku takut dia mendatangi papa.”
Eaden membenarkan firasat Vero, mengingat White memiliki sifat keras kepala dan terkadang sulit diatur. Tidak menutup kemungkinan jika White akan melakukan itu karena nekad. Entah atas dorongan apa, Eaden kembali meraih ponselnya, mencoba mengecek kembali setiap notifikasi yang masuk pada kolom pesan. Dan benar saja, ada satu pesan dari White sekitar dua jam yang lalu.
Jemarinya bergerak lincah diatas keyboard, mengetik balasan dengan cepat karena mendapati kata online di bawah nama White. Ia mengirimnya, dan dua centang abu-abu itu berubah biru detik itu juga. White sudah membacanya, dan kini, dia harus turun dari mobil Vero dan mencari taxi.
“Stop. Aku harus segera pulang.”
Permintaan mendadak Eaden sama sekali tidak mengundang curiga dalam benak Vero. Dia menepikan mobilnya begitu saja, dan hanya menyaksikan bagaimana Eaden keluar dari mobilnya tanpa sepatah kata, berlari untuk mencari taxi, seperti yang ia katakan, dan menghilang begitu saja dari pandangan.
Vero tak menaruh curiga karena menyangka Eaden mendapat informasi dari anak buahnya. Lantas ia memutuskan untuk pergi dari lokasi yang hampir berdekatan dengan kompleks elite tempat tinggal Eaden itu.
Sedangkan Eaden, sudah sampai dan turun dari taxi, melihat White yang duduk termenung di kursi besi yang ada ditengah terik. Eaden berlari, entah mengapa, kepalanya pening jika sesuatu itu berhubungan dengan White. Dia belum pernah merasakan hal seperti ini kepada wanita, sebelumnya. Hingga White hadir tanpa dia sangka sama sekali, lantas membuat dia kelabakan jika mendengar hal buruk terjadi pada wanita itu.
Nafasnya terengah dengan kening bercucuran keringat ketika sampai di hadapan White. Ia sedikit berjongkok dan menatap White dengan bibir menganga untuk mengatur nafasnya sendiri. Namun semua itu terbayar lunas oleh senyuman manis yang timbul dibibir White ketika melihatnya datang, dan itu membuat debar hati Eaden tak kalah hebohnya dengan degup jantung yang saat ini terasa seperti ingin meledak.
“Kenapa lari begitu? Bukankah kamu pergi bersama orang-orang dengan mobil Van mewah tadi?”
“Aku menyuruh mereka pergi.” jawabnya sembari tersenyum, namun terlihat seperti seringai di mata White.
White terkekeh. Pertanyaannya, kenapa?
“Kenapa kamu malah disini, E?”
White mengerucutkan bibir sebal karena kembali teringat akan sikap Nathalie padanya.
“Aku bisa mati jika terus ada di rumahmu, Ed.”
“Kenapa?”
White menghela nafas, kemudian menarik Eaden untuk duduk disampingnya. “Adikmu menakutkan. Dia menodongkan senjata didepan wajahku.”
Eaden cukup terkejut dengan hal itu. Nathalie menodongkan senjata, itu berarti dia mengambil salah satu koleksi senjata api yang ada dikamarnya.
Sial.
Kenapa adik tirinya itu masih senakal waktu usia anak-anak dulu?
Eaden segera mengenyahkan pikiran tersebut dan fokus pada White yang terlihat sedikit pucat. “Kamu nggak apa-apa? Kenapa wajahmu pucat begitu?”
White mengusap peluh yang hampir menuruni keningnya. Ia membasahi bibir bawahnya yang terasa kering, lantas menatap Eaden. “Benarkah? Apa aku terlihat pucat?”
“Ya. Bahkan kamu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Apa Vero tidak memperlakukan kamu dengan baik?”
No, bukan itu.
“Tapi, kenapa semakin kurus?”
White membekap mulutnya dengan dua telapak tangan, lalu berlari ke sisi lain tempat itu. Bersembunyi dibalik pohon besar, memuntahkan semua isi perut yang bahkan sudah tidak ada sisa apapun. Pahit, sakit, dan White juga harus menahan nyeri yang tiba-tiba saja muncul di area perut bawahnya.
Hendak berbalik ke tempat dimana Eaden berada, kini dia harus dikejutkan oleh sosok tinggi menjulang yang ada dibalik tubuhnya. White terkejut bukan main, tubuhnya menegang, bahkan terjingkat dan hampir melompat ketika mendapati Eaden berdiri dibelakangnya.
Setelah mengusap bibir, White berniat menyingkirkan Eaden dengan sedikit dorongan pada tubuh kokoh itu, namun nahas, lengan kurusnya dicekal kuat oleh telapak besar Eaden. Ia mendongak, mendapati wajah keras Eaden sedang menatapnya penuh telisik. Lidah White mendadak kelu, udara di sekitarnya mendadak pengab saat ini. Belum pernah White melihat Eaden semenakutkan ini. Ditambah lagi, setelah mendengar informasi jika Eaden memiliki sirkel yang mengerikan, buku kuduk White meremang, ia takut Eaden melakukan sesuatu diluar prediksinya.
“Kenapa melihatku seperti itu, Ed?” tanya White, mencoba menetralisir degup jantungnya yang merasa ketakutan. Bagaimanapun juga, tempat ini sepi, dan White hanya seorang wanita yang kekuatan fisiknya tidak seberapa, ditambah lagi kondisinya yang sedang mengandung, akan sangat mudah bagi Eaden jika memang memiliki niatan buruk untuk mengenyahkan atau menjadikan—
“Kamu sakit?” tanya Eaden dengan nada lembut, jauh dari semua asumsi buruk yang sedang berkelebat di kepala White saat ini.
“Ti-tidak. A-aku baik-baik saja.” jawab White gugup.
Eaden mempertajam tatapan pada manik mata White, menemukan sebuah kebohongan disana. “Ayo ke tempat dokter Kane. Kamu harus mendapat pertolongan medis. Kamu sedang tidak baik-baik saja, E.”
White menggeleng. Satu pertanyaan lain muncul dalam benaknya. Pertanyaan yang mungkin akan membuat Eaden berfikir jika dia memang tidak pantas untuk di lihat dengan tatapan hangat, melainkan tatapan lain yang seharusnya tersemat pada dirinya yang tidak lagi berharga. Tatapan jijik. Seharusnya begitu kan? Lalu, semuanya akan menjadi tidak adil jika White menyembunyikan semuanya dari Eaden, setelah semua kebaikan yang laki-laki itu berikan untuknya.
“Oh, baiklah. Aku harus bicara yang sebenarnya padamu, Ed.” lanjut White sembari menarik lengannya dari kungkungan telapak tangan Eaden.
Menatap punggung sempit White, tiba-tiba dada Eaden terasa penuh. Entah, Eaden sendiri tidak tau alasan nya. Lalu, dia mengikuti White yang kembali duduk diatas kursi besi yang masih terpapar sinar matahari menjelang sore.
White ragu, ia takut jika nanti Eaden marah, kemudian pulang membawa emosi bak gunung yang siap meledak, dan melampiaskan semuanya pada Nathalie. White tidak bisa membayangkan hal itu.
“Apa?” tanya Eaden tidak sabar. Lengannya bahkan terulur begitu saja untuk menyingkirkan helaian rambut White yang terbawa angin untuk ia selipkan di balik telinga wanita itu.
“Aku ingin tau yang sebenarnya.” pertanyaan White sukses membuat Eaden mengernyit dalam, seperti mempertahankan apa maksud White yang sesungguhnya. “Ingin tau tentang pekerjaanmu.” lanjut White, memaksa Eaden menarik diri dan menjatuhkan lengannya di sisi tubuh.
“Baik. Mungkin akan sangat melegakan jika kamu tau apa pekerjaanku yang sebenarnya.” sahabat Eaden dengan kepala terangguk beberapa kali. Sedangkan White, kini menatap laki-laki itu dengan intensitas penuh. “Aku,” ucap Eaden terkesan, karena ragu untuk memberitahu yang sesungguhnya. Akan tetapi, ia membulatkan tekad. Tidak peduli jika nanti harus dijauhi oleh White hanya karena pekerjaannya di dunia gelap terselubung. “Aku memasok dan menjual senjata api ilegal.”
White diam memperhatikan. Tidak ada rasa terkejut, yang ada hanya sisa rasa ingin taunya tentang seberapa jauh Eaden akan jujur padanya.
“A-aku juga pernah melakukan kejahatan yang melibatkan hukum, di penjara, lalu bebas tanpa syarat. Mungkin aku pernah bercerita tentang itu padamu diawal pertemanan kita, right?”
White mengangguk dan masih belum mau berpindah dari tatapan lekatnya pada sosok Eaden.
“Sirkel kehidupanku tidak jauh lebih baik dari pada dirimu, E. Aku ada di dalam gelap dan kelamnya dunia. Bahkan aku bisa saja menjadikan diriku sendiri sebagai korbannya. Tapi inilah hidup, mau bagaimanapun menghindar, jika takdir sudah demikian, aku yang hanya manusia biasa tidak mungkin bisa melenggang pergi melawannya dengan mudah. Melawan kehendak Tuhan, sama saja menjadi manusia hina.”
White sedikit tersengat oleh kalimat itu. Ya, Eaden dan dirinya sama-sama tenggelam dalam gelapnya dunia fana yang tidak bisa dihindari begitu saja. Semua sudah tertulis, terpatri hingga mati
Okey, Skip satu bagian yang tidak di sebut oleh Eaden. Mungkin Eaden belum mau mengatakannya.
Seperti di rengkuh, sekali lagi White sadar jika dirinya nyaman bersama Eaden. Tidak ada sedikitpun rasa was-was apalagi takut, meskipun hampir semua orang menganggap Eaden orang yang tidak patut dihargai.
“Aku...mau membagi satu rahasia kepadamu, Ed.”
Eaden menatap lekat wajah cantik White dengan sorot hangat. Lengan Eaden kembali menyisipkan anakan rambut White yang terbawa angin dan menghalangi pandangannya untuk menatap wajah cantik itu. “Bagi saja. Aku akan mendengar.”
White mengangkat pandangan. Ia menatap dengan sorot sendu. “Aku...” White tercekat salivanya yang tiba-tiba meluncur melewati tenggorokan. “Aku, hamil.” []