WHITE

WHITE
Janji di bayar lunas.



...Happy Reading all......


...Ending di bab selanjutnya, nih....


...Jangan lupa selalu dukung WHITE dan karya-karya Vi's yang lainnya ya......


...Thank you....



WHITE by: VizcaVida


Dua hari kemudian...


Eaden yang masih dirawat di rumah sakit harus pasrah duduk diam di atas brankar yang disetel setengah duduk. Manik matanya tak lepas dari riuhnya pemberitaan tentang keluarga Bruddy. Air matanya kembali menetes, pupil matanya menatap nanar foto Vero yang muncul pada display televisi 32 inchi yang menempel di dinding.


PUTRA TUNGGAL KELUARGA BRUDDY—VEROUS BRYAN BRUDDY— MENJADI SATU-SATUNYA KORBAN MENINGGAL ATAS KERUSUHAN YANG TERJADI DI PARADISE CASINO.


Korban tewas karena luka tembak tepat di dada, yang mengakibatkan korban mengalami pendarahan cukup hebat hingga tidak bisa bertahan. Sejak berita ini dimuat, kami...


Suara sayup-sayup dari sound televisi itu terdengar cukup jelas meskipun Eaden tidak menambah volume melebihi angka 4. Namun derit pintu terbuka mengejutkan Eaden yang sedang gamang. Ia segera meraih remote dan mengakhiri berita menyedihkan yang membuat maniknya berkabut tebal, nyaris tumpah.


“How's your day, Ed?”


Eaden segera menyeka air matanya, dan Segeran menekan tombol off agar berita itu tidak membuat mood White menjadi buruk seperti dirinya.


“Good.” sahutnya lantas mengubah ekspresi sebisa mungkin. Matanya yang merah mungkin tidak bisa ia sembunyikan, tapi dia bisa mencari alasan. “Lebih baik dari yang kamu duga.”


White meletakkan satu kantong berisi roti dan beberapa buah-buahan.


Selama dirawat, Eaden juga White masih dalam pengawasan polisi. Mengingat mereka berdua terlibat, atau bahkan saksi kunci dari kejadian tersebut. Dan lebih tepatnya, mungkin Eaden lah yang merupakan pemilik ide gila hingga menewaskan temannya sendiri. Ya, Eaden sempat menjadi titik pusat masalah dan polisi bersiap menjadikan Eaden tersangka. Namun keterangan dari Rottey membuat Eaden ditangguhkan dan dapat menikmati kebebasan, meskipun berikat.


“Berita—”


“Aku tau. Aku sudah melihat dan mendengarnya sejak kemarin malam ketika kamu belum sadar, Ed.”


Eaden sedikit terkejut akan penuturan White, sebab wanita itu terlihat tenang dan bisa mengontrol emosinya dengan baik.


“Jadi, kamu sudah tau jika Vero—”


“Ya.”


Eaden menunduk. Ia tertawa miris dan matanya kembali mengembun. Ia tidak mau menyembunyikan kesedihannya didepan White. “Sorry. Aku tidak bermaksud membuat kekacauan seperti ini.”


“Ini bukan salahmu, Ed. Ini salahku. Tidak akan terjadi seperti ini jika aku tidak memulai semuanya. Tidak akan terjadi seperti ini jika aku tidak mengenal kalian semua. Maaf...”


Eaden meraih paksa tubuh White dan memeluknya. White yang merasa rapuh, akhirnya membalas pelukan Eaden begitu saja. Ia begitu kehilangan ketika tau jika Vero telah tiada. Baginya, selama ini Vero begitu baik memperlakukan dirinya. Bahkan Vero bersedia memberinya tempat tinggal yang layak dan juga menghidupinya.


“Tidak. Aku tidak ingin kamu meminta maaf, E.” tegur Eaden dengan suara serak karena ia kini tengah menangis. Hatinya begitu terluka, dan tentu saja ia merasa sangat bersalah.


Berniat tak menggubris Eaden, White menyalakan televisi. Namun sesuatu begitu mengejutkan keduanya. Disana, didalam monitor luas itu, Rottey sedang duduk sendirian menghadap kamera dengan lengan diperban dan didampingi oleh seorang polisi. Laki-laki tua itu mengenakan rompi oranye dengan wajah kusut seperti tidak terawat dan kurang tidur.


Keduanya bergeming, menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut si lelaki tua itu.


Selamat, siang.


White menatap lekat pada layar televisi, begitu juga dengan Eaden yang sesekali menoleh ke arah White untuk memastikan jika wanita hamil itu baik-baik saja.


Salam sejahtera untuk kita semua. Saya, berdiri disini ingin mengklarifikasi sesuatu. Mungkin, ada banyak orang yang bertanya-tanya mengapa saya bisa seperti ini., dan juga, terima kasih untuk ucapan bela sungkawa dari masyarakat yang peduli kepada putra saya.


Eaden menarik sudut bibirnya tajam. “Masih bisa membual. Anaknya? Memuakkan!”


Di tempatnya berdiri, Rottey tertunduk dalam. Ia memperhatikan kedua tangannya yang diborgol, dan bahunya terlihat bergetar. Laki-laki itu menangis. Tapi, apa tangisan itu tulus?


Saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang mungkin selama ini saya sakiti, pernah saya hina, ataupun pernah saya buat kecewa.


Setelah Vero meninggalkan saya sendirian, saya merasa kosong. Dan saya jugalah yang menyebabkan putra saya itu terbunuh dalam insiden dua hari yang lalu.


Saya bersalah karena sudah membuat kekacauan yang berujung kematian putra saya sendiri. Saya bersalah karena tanpa berfikir panjang membuat skenario balas dendam, dan saya bersalah karena...


Laki-laki tua itu mengambil jeda cukup panjang. Bersamaan kilat cahaya lampu kamera, Rottey kembali menunduk. Kali ini terlihat tulus dan begitu terluka.


“...karena saya sudah melakukan pelecehan sek*sual kepada seorang gadis hingga gadis itu kini tengah mengandung karena kebejatan moral saya.


Kilat lampu flash semakin runtun berbarengan dengan suara riuh berbagai macam pertanyaan yang disodorkan. Dan Eaden dapat merasakan sentilan keras dan menyakitkan di hatinya. Rottey menepati janji.


Saya berharap, hukum akan berlaku adil kepada saya, karena saya tau kesalahan saya sudah terlalu fatal. Intinya, saya siap dihukum sesuai kesalahan yang saya perbuat.


Setelah itu, Rottey mundur dan memberi ruang kepada polisi yang mendampinginya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pemburu berita.


White menoleh, ia mencoba mencari tau dari balik manik Eaden yang terlihat kuyu. Ia tau, mungkin berita ini tak hanya membuat gaduh dunia luar, tapi juga menghancurkan perasaan beberapa orang yang pernah terlibat dengan keluarga Bruddy.


“Dia menepati janji.” tutur White sambil tersenyum dan air wajah sendu juga manik mata yang memerah.


Dengan gerakan cepat, Eaden menarik White kembali kedalam pelukannya, membisikkan kata-kata yang membuat White merasa tenang.


Hingga akhirnya,


“Hiduplah bersamaku, E. Aku akan menyayangi dirimu, dan juga bayi yang ada didalam perutmu seperti menyayangi anakku sendiri.” bisik Eaden parau.


White mengeratkan pelukan. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada Eaden, mencoba tegar dan tidak mengisi karena permintaan Eaden.


“Aku akan menjadi wanita paling beruntung jika bersedia menerima kebaikan darimu, Ed. Tapi ini tidak pantas untukku. Aku baik-baik saja.”


“Aku yang paling beruntung jika kamu bersedia menerima diriku yang seperti ini, E.”


White mendongak, menatap fitur tegas wajah Eaden. “Apa kamu tidak menyesal?”


Eaden menggeleng. “Kita mulai semuanya dari awal.”


White masih tak mau melewatkan bagaimana dagu bercambang tipis itu mengulas senyuman. “Aku akan berhenti dari pekerjaanku yang sekarang, dan mencari pekerjaan lain yang lebih baik.”


White kembali menyamankan diri didada Eaden. Jadi, sebesar itukah rasa yang dimiliki Eaden untuknya hingga laki-laki itu rela melepas dan mengubah dirinya demi hubungan baru yang hendak mereka bangun bersama?


“Aku akan membeli rumah sederhana untuk kita, membuka usaha yang bisa kita handle bersama, lalu membesarkan bayi kita dengan penuh kasih sayang.”


White meneteskan airmata entah untuk yang keberapa kali. Ia terharu. Masa depan yang dirancang Eaden begitu menyentuh hatinya yang memang rapuh.


“Jadi, kamu mau pensiun jadi pembangkang negara?”


Eaden terkekeh hingga White turut bergerak-gerak diatas dadanya. “Hei, aku tidak seburuk itu. Aku hanya berusaha mencari sesuap nasi.”


Benar. Tidak ada yang gampang dalam menjalani kehidupan fana dunia. Orang lain bisa menilai bagaimana kita bahagia karena bergelimang harta. Tapi dibalik semua itu, mereka tidak akan pernah tau, bagaimana hidup sesungguhnya seseorang, selain orang itu sendiri.


Intinya, mereka tidak bisa menjadi hakim untuk hidup orang lain.


“Lalu?”


“Tidak ada jawaban lain. Aku hanya butuh mengisi perut dan membalas jasa kepada orang yang membantuku dalam merintis semua itu.”


White bangkit, lantas menatap wajah Eaden dan mengusap pipi yang sedikit kasar karena ditumbuhi bakal jenggot di wajahnya. “Kamu orang baik.” ucap White memotivasi. Dan detik itu juga, Eaden menarik tengkuk leher White dan menyematkan kecupan dibibir sewarna Cherry itu. Lantas dengan gerakan pelan, White membalas ciuman itu, hingga satu decapan menjadi tanda mengakhiri ciuman yang sedang membuat mereka seperti di atas nirwana.


“I Love You, White.”


“I Love You too, Ed. Terima kasih untuk semuanya.”


White kembali mempertemukan bibir mereka dengan penuh kasih. Keduanya bersiap menjalani kehidupan dan suasana baru yang sudah mereka buat.


White dan Eaden memilih menerima perasaan masing-masing. Membaur dan membawa ke dalam ikatan suci dan sakral. Yakni, pernikahan. []