
...Selamat pagi Pembaca White yang baik hatinya......
...Jangan lupa bahagia ya,...
...Happy reading All......
...•...
WHITE by: VizcaVida
“Apa yang sedang kau rencanakan untuk papaku, Ed?”
Eaden terhenti di tempatnya berdiri. Telapak tangannya yang hendak ia masukkan ke dalam saku jaket sampai terhenti dan menggantung di udara. Wajahnya turut membeku dengan tatapan lurus penuh kejut. Ia tidak menyangka Vero ada disini.
Perlahan, Eaden menegakkan tubuh, berdiri sedikit angkuh, lantas memasukkan kedua telapak tangan kedalam saku celana Jeans hitam yang melekat erat pada kaki jenjangnya. “Apa?” tanya Eaden dengan nada menurun, ia yakin Vero sedang ingin tau dan berusaha mengulik sesuatu darinya. Mata itu tidak bisa berbohong, ada rasa benci dan khawatir yang membaur menjadi satu. “Aku hanya ingin mengajak papa mu meluangkan waktu untuk bersenang-senang.”
“Bersenang-senang seperti apa yang kamu maksud, Hm?”
Eaden berusaha tak menggubris dan berniat pergi. Tapi Vero menahan pertengahan lengannya dengan genggaman kuat hingga tubuh Eaden terpaksa berhenti. Ia menahan geram, Eaden tidak suka Vero menyentuhnya barang segores samar di kulitnya. Dengan gerakan keras dan kasar, Eaden menarik diri. Suasan berubah tegang ketika Vero mulai terpatik emosi.
“Jangan bermain api, Ed. Kalau kamu memiliki dendam padaku, kita selesaikan berdua. Jangan membawa-bawa papa sebagai sasaran.” ucap Vero dengan rahang yang sudah mencetak garis tegas.
“Kamu bicara omong kosong, Ve. Aku hanya ingin mengajak papamu bersenang-senang. Tidak untuk melesatkan peluru di kepala ataupun dadanya.” jawab Eaden kelewat santai disemati sebuah senyuman sinis di ujung bibir. “Sudah? Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi denganku, aku harus pergi.”
Sekali lagi Vero mencekal lengan Eaden yang kali ini reflek membuat gerakan penolakan yang sedikit kasar dan ekstrim hingga membuat Vero terhuyung ke belakang.
“Jangan pernah menyentuh kulitku dengan tangan kotor penuh dosa milikmu.”
Vero menyemburkan tawa. Apa Eaden sekarang sedang Amnesia? Ucapan sok suci yang keluar dari mulutnya itu membuat Vero ingin kembali mengingatkan jika Eaden adalah seorang pendosa yang tak jauh beda dengan dirinya. “Aku? Pendosa? Hei, apa kamu lupa siapa dirimu?” jawab Vero dengan nada suara menantang. Ia tidak terima dikatakan sebagai manusia pendosa, sedangkan Eaden sendiri tidak lebih baik dari dirinya. “Asal kamu tau. Aku tidak akan tinggal diam jika kamu ingin menyakiti papa.”
“Terserah. Aku melakukan ini karena memiliki alasan, For your information!” Eaden menekan kalimat terakhirnya, membuat Vero menghapus semua pikiran baik yang sempat hinggap di dalam kepalanya. Dia berharap bisa berdamai atau apapun itu, tapi nyatanya alot, Eaden sama sekali tidak berniat menunjukkan sebuah perdamaian padanya.
“Ingat, Ed. Jika sampai terjadi sesuatu dengan papa, aku tidak akan segan membuat hidupmu lebih merana dari pada—”
“Lalu, bagaimana dengan wanita yang masa depannya sudah dihancurkan oleh orang kesayanganmu itu, Ve?” tanya Eaden dengan raut wajah semakin geram dan manik yang menyorot tajam ke arah tatapan mata Vero yang ditujukan untuknya. “Jika kamu takut aku menyakiti papamu, itu tidak akan pernah terjadi jika dia mau memenuhi satu permintaan yang akan aku berikan kepadanya. Tapi, aku sudah lega sekarang. Setidaknya, aku sudah berkata jujur pada diri dan perasaanku sendiri. Jadi, kehilangan nyawa pun, aku tidak akan menyesal.”
***
Vero menatap ruangan tengah rumah mewahnya. Ia mengedarkan pandangan pada beberapa sudut ruangan yang meninggalkan beberapa kenangan, termasuk ketika dirinya masih bersama Kelly, dan tentu saja White.
Ia sadar jika papanya tidak lebih dari seorang bajingan yang menutupi dan mengkamuflase semua tindakan buruknya dengan kebajikan. Tapi, dia juga tidak ingin kehilangan orang itu karena hanya Rottey yang ia miliki satu-satunya di dunia ini.
Vero kecewa, bukan pada White, tapi pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga dan juga menepati janji kepada wanita itu untuk melindunginya. Vero meraih ponsel, mencari kontak White dan berniat menghubungi wanita itu untuk memastikan keberadaan dan berharap dia baik-baik saja.
Pada nada hubung ke tiga, White menyapa di seberang, membuat hati Vero lega seketika. “Kamu dimana? Kenapa tidak ada dirumah?” tanya Vero lembut tanpa tuntutan dan kalimat memaksa seperti sebelum-sebelumnya. Ia seolah pasrah jika memang Eaden yang akan memberikan kebahagiaan untuk White. “Kopermu, juga tidak ada.” lanjutnya, masih dengan suara datar dan pelan.
“A-aku di rumah madam Jo.”
Ternyata dugaan Vero yang mengira White ada dirumah Eaden, salah. Wanita hamil itu sedang ada dirumah madam Joanna, sipemilik kasino tempat White bekerja dahulu. “Untuk apa?”
“Ada...hal yang harus aku urus beberapa hari kedepan. Aku tidak ingin menyulitkan kamu.”
Bersamaan dengan itu, panggilan dari Rottey masuk ke ponsel Vero. “Ada panggilan lain. Nanti aku hubungi lagi.” kata Vero tanpa menunggu jawaban dari White, ia langsung menjawab panggilan papanya. “Ada apa, pa?”
Rottey bergeming untuk beberapa saat. Ia lantas mengembuskan nafas besar dan mulai berbicara. “Papa akan bermain poker bersama Eaden lusa, di Kasino milik Joanna.”
Sebenarnya, bukan berita baru, tapi Vero ingin menanggapi apa yang dikatakan ayahnya itu dengan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. “Lalu, papa meng-iyakan?”
“Yaeh. Apa salahnya?”
Vero mengepalkan tangan. Apa papanya itu lupa jika Eaden adalah orang yang penuh dengan kejutan dan juga misteri. Laki-laki itu lebih berbahaya dibandingkan seekor predator jika memiliki dendam. “Pa, aku mohon batalkan. Demi keselamatan papa.” pinta Vero, tulus.
“No, kamu tidak perlu khawatir Son. Papa berada dalam perlindungan orang kepercayaan papa. Selain Dua pengawal pribadi papa, papa juga akan meminta tim Rider menyamar, lalu menyebar untuk berjaga-jaga.”
“Pa, tolong. Batalkan saja,”
“Tidak. Papa memiliki sebuah rencana untuk Eaden. ”
Vero terkejut bukan main. Ternyata mereka sama-sama gila. Atau...
Tidak menutup kemungkinan jika ayahnya itu sudah tau perihal kehamilan White? Apa memang seperti itu?
“Pa,”
“Papa akan meminta Eaden untuk memilih. Pergi dari sini, atau...pergi dari dunia ini.” []
White akan tamat dalam beberapa part kedepan. Jadi jangan lupa untuk terus memberi membaca dan dukungan kepada White ya...
Seeyou...