WHITE

WHITE
POLLINATOR (1)



...Adegan dewasa dan mengandung unsur kekerasan....


...21+...


...Protect your self....


...•...


...•...


...Sudah siap dengan bab ini? Ingat, bab ini tidak bertujuan untuk memberi pengaruh buruk kepada siapapun. Jadilah pembaca bijak, jangan mengabaikan peringatan yang ditulis di bagian teratas....


...Jangan lupa like, komentar, hadiah, Vote, serta tambahkan White kedalam list favorit agar tidak ketinggalan saat update chapter terbaru....


...Terima kasih....


...Happy Reading......


...•...



WHITE by: VizcaVida


Yang benar saja?


Vero bilang jika Eaden menginginkan balasan dari semua kebaikannya saat ini. Tidak menutup kemungkinan hal itu benar, tapi White tidak bisa mempercayainya begitu saja. Kedua-duanya tidak pernah menampakkan sosok mereka yang sebenarnya. Kedua-duanya menyembunyikan kepribadian mereka tanpa mau menunjukkan siapa diantara mereka yang memiliki tujuan lain di balik kedekatan yang mereka ciptakan.


Mungkin White akan merasa tersakiti jika terbukti salah satu dari mereka menggunakan White sebagai alat untuk membalas dendam, tapi White merasa akan sangat bermanfaat jika dirinya mampu membuka semua kebencian dalam diri mereka, lalu mengembalikan hubungan mereka yang sempat hancur, dan kembali utuh sebagai sepasang teman.


“Aku sudah agak mendingan, Ed.” jawab White ketika Eaden menanyakan keadaannya.


Hari ini, Eaden memang menghubungi White dan meminta bertemu. White yang merasa ber'hutang budi'pun tidak bisa menolak permintaan Eaden, dan menyanggupi laki-laki itu untuk bertemu di sebuah cafe yang lumayan terkenal.


White sedikit awas, mengingat ucapan Vero tempo hari yang mengatakan jika Eaden tidak sebaik yang ia kira.


“Sebenarnya aku ada jadwal mencuci pakaian hari ini, Ed. Tapi kamu menelepon agar datang, aku tidak sampai hati.” kelakar Snow, diikuti raut serius yang dibuat-buat.


“Kenapa tidak diselesaikan dulu muncucinya?” jawab Eaden dengan tawa dan kekehan kecil di bibirnya.


White tertawa lantang. Tidak ada yang perlu ia sembunyikan, atau bahkan ia tahan didepan Eaden. Laki-laki itu sudah seperti teman dekat, atau bahkan saudara bagi White.


“Aku tidak mau mengecewakan dirimu, tuan Eaden yang baik hatinya.”


Kini giliran Eaden yang tertawa. Ia selalu terhibur jika White yang membuat lelucon. “Jadi, apa tujuan anda mengajak seorang E bertemu dengan nada?”


Kelakar White lagi dan lagi membuat Eaden tertawa tanpa sebab.


“Aku ingin bertanya, apa Vero mengatakan sesuatu padamu?”


***


Tidak masalah dia di cap sebagai wanita tidak tau diri karena dia menerima kebaikan dua orang sekaligus. Anjing menggonggong kafilah berlalu, hanya itu yang menjadi pondasi dasar dalam benak White ketika seseorang memberi julukan baru untuknya. Dia tidak peduli, toh semuanya akan berlalu bagai tertiup angin, terombang-ambing, kemudian menghilang tanpa jejak.


Sebenarnya, White juga sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri ketika mendapat sebutan yang tidak pantas didengar oleh telinganya yang suci itu. Apa semuanya itu sebanding dengan pengorbanan dan perjalanan berat hidupnya selama ini? Sebutan itu, apa orang-orang itu pernah memikirkan perasaannya? Apa orang-orang itu pernah menjalani hidup seperti dirinya?


Semua olokan, ancaman, bahkan kebencian yang ditujukan kepadanya, ia simpan rapat-rapat, ia pendam agar tidak ada orang lain yang tau dan melihat betapa menyedihkannya dia. White tidak ingin dikasihani, untuk itulah dia berusaha tetap berdiri tegak diatas kedua kakinya yang bahkan terasa letih. Ia berusaha, tetap hidup, tetap menjadi manusia sebagaimana mestinya, sebagai White yang dibenci orang karena statusnya yang begitu hina dimata orang-orang.


Lamunan White akan hidupnya sendiri buyar ketika mendengar suara pintu utama rumah Vero dibuka. Ia melirik jam dinding, ini bukan waktunya Vero pulang, jam masih menunjuk angka empat sore. Seharusnya, paling tidak, Vero masih dalam perjalanan pulang. Dan masih sekitar satu jam lagi dia akan menyentuh lantai rumah. Atau, dia pulang lebih cepat?


White melompat dari atas tempat duduknya. Dia bahkan berlari dengan sebuah senyuman mengembang, berharap Vero benar-benar datang atau pulang lebih cepat. Namun semuanya kandas, bukan Vero. Melainkan Rottey.


White lupa jika pria lewat paruh baya itu juga menghafal kombinasi password rumah Vero yang sengaja tidak diubah karena pria itu mengancam akan melaporkan White kepada pihak berwajib dengan tuduhan tidak masuk akal jika Vero bersikukuh mengganti kombinasi angka pada interkom rumahnya.


Vero memutuskan untuk tidak mengganti nomor password, dan menyarankan White untuk mengunci pintu kamarnya jika dia sedang beristirahat.


“Tuan Rottey? Pak Vero belum pulang.”


“Tidak masalah.” jawabnya santai, berjalan melewati White begitu saja. Rottey bahkan terlihat aneh. White melihat sekilas pria itu seolah sedang menahan sesuatu. Wajahnya terlihat gusar dan tidak tenang.


Tanpa menaruh curiga atas kedatangan Rottey seorang diri kerumah Vero, bahkan laki-laki itu biasanya datang bersama seorang pengawal pribadi yang biasa mengekor, kini tidak ada siapapun dibalik punggungnya. White menutup pintu, menguncinya agar tidak ada orang lain yang masuk tanpa izin. Lalu dia berjalan masuk, lantas mendapati Rottey yang duduk bersandar pada punggung sofa dengan posisi terlentang dan merentangkan kedua lengan di bahu sofa. Wajah pria itu terlihat begitu aneh. White yang tidak berfikiran buruk sedikitpun, menawari Rottey minuman dingin, dan laki-laki itu mengiyakan.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” ucap Rottey ketika White sudah duduk di sofa seberang, tepat didepan Rottey yang kini menatap tajam.


Mengapa hari ini ada banyak orang yang ingin bertanya kepadaku? gumam Snow sedikit berkelakar dalam hati untuk mengusir rasa tidak nyaman yang timbul.


“Apa hubunganmu dengan Eaden?”


Bahkan Rottey pun tau tentang Eaden. Otak White langsung bisa menebak jika hubungan Vero dan Eaden benar-benar buruk dimasa lalu.


“Kami, teman.” jawab White singkat, namun nada suaranya sedikit bergetar takut karena Rottey menggeram dengan suara berat secara tiba-tiba.


“Kamu bertemu dengan laki-laki itu hari ini, bukan?”


White terbelalak. Dia tidak menduga jika Rottey datang kemari untuk membahas hal ini.


“Darimana anda tau i—”


“Jangan mempermainkan Vero.” sahut Rottey cepat sebelum White menyelesaikan kalimatnya.


White menggeleng.


“Sudah aku katakan, jangan pernah merayu, menggoda, atau mengganggu putraku. Atau kamu akan mendapatkan balasan setimpal untuk itu.”


“Sa—”


White menggantung ucapannya ketika melihat Rottey menenggak minumannya hingga tandas. Pria itu seperti orang yang sedang kepanasan, keringatnya membasahi kening setengah berkerutnya, bahkan wajahnya terlihat sedang... bergairah?


White ketakutan. Ia berniat lari kedalam kamar, takut sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi. Sesuatu yang buruk, yang tidak akan bisa mengembalikan hidupnya jika sudah direnggut.


Nahas, pergerakan White terbaca. Rottey bergerak gesit merengkuh pergelangan tangan White, menariknya paksa menuju kamar tamu dimana White menempatinya beberapa hari terakhir. Rottey melempar kasar tubuh White diatas ranjang hingga tersungkur, lantas berjalan cepat dan menindih White, mencekik leher gadis itu hingga kesulitan bernafas. White memukul-mukul telapak tangan yang mengekang jalan nafasnya, sekuat tenaga, namun sia-sia karena Rottey terlihat diselimuti kabut yang White sendiri tidak tau apa itu. Gairah kah?


“Sudah aku katakan, jangan pernah kembali kesini. Tapi kamu tetap nekad.” gumam Rottey diatas wajah White. “Lalu, kamu mencintai putraku, dan itu menyakiti hatiku.”


Tunggu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


White masih mencoba melepaskan diri karena dia hampir kehilangan kesadaran jika terus membiarkan telapak tangan Rottey menekan nadi dilehernya.


“Vero tidak pantas untukmu.”


White tau. Untuk itu dia tidak terlalu membesarkan celah hatinya bagi Vero. Karena dia tau, jika dia, tidak pantas untuk Vero. “Kamu bahkan tidak menghiraukan pesan-pesan yang aku kirim padamu.”


Apa? Jadi selama ini,


“Dasar gadis tidak tau diuntung. Sebagai balasannya, kamu akan menjadi milikku selamanya.”


Rottey mulai menarik paksa pakaian yang dikenakan White. Lantas mencumbu gadis itu dengan paksa.


“Biadab!” teriak White yang tentu saja percuma. Tidak ada orang lain, sedangkan untuk berlari, White seperti sudah kehilangan harapan. “Jangan sentuh aku—”


Kata itu terhenti tanpa makna ketika Rottey membungkam mulut White dengan mulutnya. White berusaha menghindar dan menolak, akan tetapi Rottey berhasil membuka satu celah dimana titik sensitif itu berada. White akan hancur hari ini.


“Sekarang, beri kepuasan kepadaku. Pria yang mencintaimu tanpa pernah kamu lihat. Pria yang selalu menatap dan memujamu meskipun kamu tidak peduli.”


White menendang udara kosong. Ia berusaha mati-matian melepaskan diri. Namun semua harapannya kandas ketika kalimat yang begitu menjijikkan ditelinga White, terucap dari birai Rottey, sekali lagi. “Berikan tubuhmu untukku, sebelum Vero mendapatkannya.”[]



...🌼🌼🌼...


Jangan lupa mampir juga ke cerita Vi's yang lainnya. Antara lain:


—Vienna (Fiksi Modern)


—Another Winter (Fiksi Modern)


—Adagio (Fiksi Modern)


—Dark Autumn (Romansa Fantasi)


—Ivory (Romansa Istana)


—Green (Romansa Istana)


—Wedding Maze (Fiksi modern)


Atas perhatian dan dukungannya, Vi's ucapkan banyak terima kasih.


...See You 💕...