
...Happy Reading......
...Maaf lama Updatenya, dikarenakan kondisi yang akhir-akhir ini sedikit kurang bersahabat....
...Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan kepada White ya,...
...Terima kasih....
...•...
WHITE by: VizcaVida
“Aku...mau membagi satu rahasia kepadamu, Ed.”
Eaden menatap lekat wajah cantik White dengan sorot hangat. Lengan Eaden kembali menyisipkan anakan rambut White yang terbawa angin dan menghalangi pandangannya untuk menatap wajah cantik itu. “Bagi saja. Aku akan mendengar.”
White mengangkat pandangan. Ia menatap dengan sorot sendu. “Aku...” White tercekat salivanya yang tiba-tiba meluncur melewati tenggorokan. “Aku, hamil.”
Mata Eaden membola. Raganya seperti dihantam dan di tindih beton yang beratnya ribuan ton sampai ia susah bernafas, dan juga, hatinya serasa dicabik dan ditarik keluar secara paksa dari tubuhnya. Nyeri, sakit, hingga tanpa sadar telapak tangannya terkepal sempurna yang membuat buku jarinya memutih. Ini sungguh menyakitkan.
Setelah mengatakan itu, White menunduk dalam. Maniknya bergetar dan ingin sekali menangis karena kini bukan hanya dia yang harus menanggung beban malu, tapi nanti, anaknya juga harus merasakan hal yang sama. “Memalukan, tapi kenyataannya harus begini.”
“Rottey?” tanya Eaden, masih dengan tatapan lurus tak terbaca oleh White. Dan sebuah anggukan menjadi jawaban. “Kamu membencinya?” lanjutnya, dengan suara parau juga rendah.
“Ya, sampai-sampai aku ingin membunuhnya.”
Eaden menutup mata, memejam seolah tidak suka dengan satu rahasia yang baru saja dibagikan White pada dirinya. Lalu, pada detik selanjutnya, Eaden kembali menatap fitur wajah White yang terlihat mengeras.
“Kamu hanya perlu mengatakan ‘habisi dia’ kepadaku. Aku akan mewujudkannya untukmu.”
Seketika itu White menoleh. Bukankah ini sebuah peluang? Dia bisa membuat Rottey hancur dan juga...mati.
Namun hati tidak sejalan dengan bibir. “Tidak, Ed. Itu sama saja aku mendorongmu menuju jurang kehancuran.”
“Aku tidak peduli.” sentaknya keras hingga membuat White berjengit kaget. Tatapan manik berkabut itu sepenuhnya merangkum Eaden, laki-laki yang begitu di benci banyak orang, tapi tidak untuk White. Baginya, laki-laki itu masih tetap sosok yang baik. “Sejak dulu, aku menginginkan dia musnah.” ucapnya lagi, dengan kata-kata yang sedikit kasar, menurut White.
“Aku—”
“Kau tau? Kelly bahkan menyusun rencana jahat untukmu.”
Kelly? White memicing mendengar nama itu disebut oleh Eaden. Bukan karena kisah masa lalu yang pernah tercipta pada sirkel pertemanannya dengan Vero, dahulu. Tapi, tentang tujuan wanita itu ingin ikut campur menghancurkan dirinya.
“Kelly?” setau White, dia tidak pernah terlibat apapun dengan wanita itu. Bahkan menyebut namanya saja tidak pernah, lalu mengapa dia ingin melihat White menderita juga?
“Dia sangat licik, E. Jika kamu—”
“Ternyata uang bukan segalanya, Ed.” gumam White disunggingi tawa miris.
“Aku bisa mengurus masalah Kelly. Dan aku menunggu kamu menetapkan apa yang harus aku lakukan pada si tua Rottey.” tekan Eaden, memaksa White untuk mengambil satu kesimpulan dan keputusan secara bersamaan.
Seluruh atensi kini terpatri pada sosok Eaden. White mengepal kuat diatas kedua pahanya yang menyatu, bibirnya ia lipat kedalam, dan manik matanya mulai bergetar. Ia merasa takut sekarang. Pasalnya, Eaden bukanlah sosok yang bisa abai begitu saja. Sejauh itukan Eaden akan memperjuangkan dirinya? Mengapa dia terlihat marah sekali setelah mendengarnya hamil? Apa dia—
“Jelaskan! Beri aku alasan mengapa kamu harus melakukan itu. Mengapa kamu begitu keras meyakinkan aku, agar aku memintamu untuk menyakiti Rottey?”
Eaden menatap dalam. Kepalan di tangannya terbuka. Perlahan, ia meraih telapak White, mengusap punggung tangan wanita itu penuh perhatian. “Karena aku, ingin muak melihat Rottey bisa bebas tanpa beban apapun.” terang Eaden mencoba mengibuli perasaannya sendiri. Dia tidak ingin White menjauh darinya hanya karena dia menyatakan perasaannya yang sesungguhnya. Dia ingin White terus mengandalkannya, meskipun dia harus berkorban, nyawa sekalipun dia rela. “Sedangkan kamu? Kamu harus menanggung semua beban berat ini seorang diri.” lanjutnya berapi-api. Dia tidak sedang membual. Dia memang ingin menuntaskan semua rasa bencinya kepada keluarga Bruddy, terutama Rottey yang sudah menjadikan dirinya sebagai laki-laki bejad dimata siapapun yang mengenalnya. Sialan sekali bukan?
“White. Aku tidak bisa terima akan perlakuan Rottey padamu. Sejak awal aku sudah berusaha melenyapkan laki-laki itu, tapi aku gagal. Dan aku tidak akan menyerah sekarang. Aku memiliki alasan untuk kembali membuatnya lenyap dari muka bumi.”
“Stop, Ed. Aku tidak ingin kamu kembali terjerat hukum yang mungkin akan lebih parah dari sebelumnya. Aku mohon, jangan pernah melakukan apapun.”
Eaden tertawa sinis, tidak, dia sedang tertawa getir. “Maaf. Aku tidak akan berhenti kali ini, E.” katanya, kemudian menundukkan kepala sejenak, lantas mengulas senyum hangat yang begitu menyentuh di relung hati White yang paling dalam. Eaden tetaplah Eaden. Dia sangat keras kepala. “Aku—akan menjadi manusia seperti yang Rottey inginkan.” tuturnya serius, lantas menarik sudut bibirnya penuh sarkastik dan berkata. “Menjadi seorang bajingan.” []