
...Jangan lupa dukungannya untuk White ya...🥰...
...Happy Reading......
...•...
WHITE by: VizcaVida
West Park Kondominium.
Vero menghentikan laju mobilnya di depan sebuah bangunan tinggi yang terlihat mewah. Bagaimana bisa seorang ibu hidup di tempat senyaman ini saat putri semata wayangnya hidup terlunta, bahkan sekarang sudah hancur tak bersisa?
Mobil hitam legam itu menyusuri area paling bawah gedung, Vero menemukan area parkir dengan mudah, karena sistem keamanan disini tidak seketat di kompleks tempatnya tinggal, jadi tidak sulit bagi Vero untuk kini berada didalam area menengah atas tersebut. Ia mematikan mesin mobil, menarik tuas rem tangan, lantas melepas seatbelt dan bersiap untuk turun.
Suasana parkir cukup sepi. Hanya ada beberapa mobil terparkir yang diyakini Vero adalah milik penghuni kondo. Vero mengeluarkan ponsel dari saku celana dan membuka catatan di google. Ya, dia mencatat informasi yang diberikan ayahnya tempo hari di laman google keep nya.
Sebelum dia membawa White ke tempat ini, Vero ingin memastikan terlebih dahulu jika Jessy memang tinggal ditempat yang di beritahukan oleh sang ayah. Dia tidak ingin serta Merta memberikan alamat itu kepada White jika nanti ujungnya White harus kembali menerima sebuah perlakuan tidak pantas karena jebakan yang dibuat Rottey.
Vero turun dari mobil, berjalan menuju lift dan langsung menekan lantai 4 sesuai tulisan alamat yang tertera pada layar ponselnya. Sesampainya di lantai tujuan, Vero berjalan menyusuri lorong yang cukup gelap dan sedikit pengab. Hingga angka 405 menyapa penglihatan. Ia berhenti, menetap lekat dan berusaha mengumpulkan keberanian untuk menekan bel. Ia hanya berharap jika Jessy tidak menganggapnya seorang penguntit dan melaporkan ke pihak berwajib atas perbuatannya saat ini. Dia hanya orang asing, tapi dia punya tujuan baik yang tulus, yakni agar White bisa benar-benar bertemu ibu yang dia rindukan.
Dengan gerakan ragu-ragu, jari telunjuk Vero terulur pada tombol yang tertanam pada dinding yang letaknya berada pada sisi pintu besi mengkilat yang terlihat kokoh dan kuat. Ia tekan, lantas selanjutnya samar-samar terdengar bunyi dentingan dari dalam unit—suara bel. Ia menunggu dengan perasaan cemas, dan juga gugup. Apa yang akan dia katakan nanti? Seolah semua kalimat yang ia susun saat menempuh perjalanan selama empat jam penuh tadi menghilang begitu saja.
Jantungnya bertalu saat mendengar suara kunci diputar dari arah dalam. Ia berharap, wajah yang muncul adalah wajah yang ia kenal sebagai wanita bernama Jessy Coric. Dan semua rasa cemasnya berubah menjadi sebuah embusan nafas lega, karena ayahnya tidak berbohong. Sosok wanita yang berdiri dihadapannya itu adalah wanita yang memiliki wajah sama persis dengan wanita yang beberapa jam lalu ia lihat melalui sebuah portal berita beberapa tahun lalu yang diunggah di internet. Berita mengenai perusahaan Frederick yang saat itu sedang sukses besar hingga menembus pasar dunia.
Wanita itu memicing, menatap Vero dengan wajah penuh tanya, lantas berubah antusias dan terkejut secara bersamaan.
“Vero Bruddy, benar?” tanyanya, dengan wajah dipenuhi rasa kejut hingga kedua bola matanya membulat, dan satu telapak tangannya yang bebas, ia pergunakan untuk menutup mulutnya yang sedang menganga.
Vero tersenyum, ia menarik turun ujung bawah jas nya, lantas mengulurkan tangan kearah Jessy dengan satu lengan lainnya bersarang didepan perut bawah. “Ya, ini saya, nyonya Jessy. Tidak pernah saling kenal, ternyata anda cukup tau tentang siapa saya?”
Jessy melepas telapak tangannya dari pintu, kemudian menyambut uluran tangan Vero. “Tentu, siapa yang tidak kenal denganmu, nak?” ucapnya, kemudian bersiap mempersilahkan Vero untuk masuk kedalam unit Kondominium yang ia tempati bersama suami barunya.
“Ah, saya cuma sebentar disini, nyonya.” tutur Vero sebelum Jessy berhasil mempersilahkan dirinya masuk. “Saya hanya ingin memastikan sesuatu.”
Kening Jessy berkerut sejenak, ia menatap ekspresi wajah Vero yang masih sama dengan yang ia lihat ketika pertama datang tadi. “Memastikan? Apa?”
Vero kembali mengulum senyum, ia tak lantas memutus tatapan matanya pada Jessy yang terlihat sehat dan bahagia. “Memastikan, jika papa tidak membodohi saya.”
Jessy kembali mengerutkan kening. Ia tidak mengerti maksud ucapan Laki-laki tampan yang berdiri didepannya itu. “White, apa anda masih mengingatnya?”
Kedua mata Jessy yang sempat menyipit menelisik, kini kembali melebar. Satu pertanyaan muncul dalam kepalanya, untuk apa putra tunggal Rottey Bruddy ini datang dan membawa White sebagai topik?
“Tentu saja. Dia putriku bersama suami pertamaku.”
“Dan apa anda tau, jika tuan Frederick sudah tiada?”
Sekilas, tersirat ekspresi terkejut di wajah si wanita yang berusia paruh baya itu. Ia seperti menahan sebuah keterkejutan lain yang memukul raganya. “Meninggal?”
“Oh my God, aku turut berduka atas itu.”
“Dan sekarang, putri anda sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.”
Lagi-lagi, terlihat kilat penyesalan pada mimik wajah Jessy ketika mendengar nama anak gadisnya itu disebut. Ia merasa bersalah tentu saja. Ia bahkan membiarkan anak semata wayangnya itu begitu saja tanpa memberi kabar.
“Oh, katakan saja?”
“White ingin bertemu anda. Dia sangat merindukan anda. Jadi, apa anda berniat menemuinya jika saya mengatakan bahwa White ingin bertemu? Meskipun hanya sekali, dia berharap bisa melihat dan memastikan keadaan anda, nyonya Jessy Coric.”
“Untuk apa?” tanyanya meskipun maniknya dipenuhi sendu dan rindu.
***
Paling tidak, Eaden akan mengatakan inti dari perjanjiannya bersama Kelly, memberi tahu Vero agar waspada, jadi Vero sendiri bisa mengira-ngira kalau nanti wanita sekaligus mantan wanita yang pernah menduduki hati keduanya itu mulai melakukan pergerakan.
Baik Eaden maupun Vero, tidak lagi ingin menyakiti White. Terlebih Vero yang tau keadaan White saat ini. Wanita itu sedang lemah karena membawa kehidupan baru di dalam rahimnya.
Eaden dan Vero sudah membuat janji bertemu hari ini.
Bertemu teman lama? Menggelikan.
Eaden tertawa sengaja ketika melihat Vero berjalan di kejauhan. Dia sudah menduga, jika Vero tidak akan melepas White begitu saja untuknya.
Setelah keduanya saling berhadapan, Eaden dan Vero saling tatap dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak satu sama lain. Bahkan keduanya menjadi pusat perhatian karena aura yang menguar dari diri masing-masing. Eaden dengan seringai khas nya yang tajam, dan Vero dengan muka datar dan dingin seperti tak tersentuh.
“Duduk dulu. Apa kamu ingin menjadi patung selamat datang di sini?”
Vero tersenyum miring. Kelakar Eaden sama sekali tidak menarik. “Nggak lucu.” sahut Vero datar, wajahnya kaku seperti terendam es kutub. Akan tetapi dibalas dengan tawa lebar oleh Eaden. Tanpa sadar interaksi mereka seperti hubungan pertemanan wajar—jika itu dilihat dari sudut pandang orang lain.
Tapi, jangan berharap banyak. Karena selanjutnya, Vero dan Eaden kembali diam dan saling melempar tatapan jengah setengah mati. “Katakan saja sekarang, Ed. Aku harus segera pulang.” pinta Vero kepada Eaden.
“Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, aku akan memberimu sedikit bocoran rencana yang disusun Kelly untuk White.”
Vero berdecak malas sambil membuang muka. Ia tidak ingin berurusan, tapi ini menyangkut White. Jadi, mau tidak mau dia harus bertemu Eaden dan menanggalkan ego serta harga dirinya.
Mungkin sekarang, keduanya merasa, jika mereka adalah pecundang yang membicarakan keburukan orang lain dibelakang. Tapi percayalah, Kelly tidak pernah main-main dengan keinginannya. Dia akan mengejar dan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Termasuk menyingkirkan White, dan mendapatkan Vero kembali padanya.
“Apa itu?”
Eaden menyunggingkan seringai di sudut bibir. “Dia ingin—
[]